Beranda > Aqidah > Perdukunan dan Astrologi, Bolehkah?

Perdukunan dan Astrologi, Bolehkah?


Perdukunan dan Astrologi, Bolehkah?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Sesuatu yang menyedihkan adalah tersebarnya praktik perdukunan dan perbintangan di kalangan masyarakat yang katanya adalah termasuk kaum muslimin. Dalam berbagai media cetak ataupun elektronik perdukunan menyebar dan merata. Di media ponsel tawaran untuk konsultasi dengan dukun semisal Ketik: REG…. Dsb. Bahkan ada yang berkedok pengobatan alternatif.

Pengertian Dukun

Di dalam praktik perdukunan dikenal beberapa istilah. Yaitu kahin atau dukun, arraf atau paranormal dan munajjim (ahli nujum atau astrolog).

Kahin dan arraf adalah orang yang mengaku-aku memiliki pengetahuan tentang perkara gaib. Sedangkan perbedaannya -menurut Al-Hafizh As-Suyuthi- adalah bahwa kahin mengaku mengetahui kejadian-kejadian di masa yang akan datang dan mengaku mengetahui rahasia sesuatu sedangkan arraf mengaku mengetahui barang yang dicuri, tempat hilangnya sesuatu dan lain sebagainya (dari perkara masa lalu). (Ad-Dibaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj: 4/173).

Sedangkan munajjim (ahli nujum) adalah orang yang menggunakan ilmu perbintangan (astrologi) dan pengaruh bintang dan menyatakan bahwa kalau terbit bintang ini dan bertemu dengan zodiac ini maka artinya akan ada kejadian demikian atau kalau si fulan terlahir pada zodiac ini maka ia akan ditimpa kejadian-kejadian seperti kaya, miskin, beruntung atau celaka. Maka ahli nujum berdalil dengan pergerakan bintang di atas bumi untuk menentukan keadaan (baca: nasib) manusia dan sebagainya. Demikian penjelasan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh. (At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid: 1/456).

Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi menyatakan: “Lafazh ‘kahin’ itu meliputi semua orang mengaku-aku megetahui perkara gaib, meliputi munajjim (ahli nujum) dan orang yang disebut arraf. Yaitu sebuah profesi yang dibangun di atas dajal (kebohongan) dan penyesatan dalam rangka mengambil harta manusia (dengan cara batil, pen).” (Ta’sisul Ahkam Syarh Umdatul Ahkam: 4/28)

Termasuk dalam pengertian kahin (dukun) adalah rammal (peramal). Rammal berasal dari kata’raml’ yang artinya pasir yaitu orang yang membuat garis-garis di pasir dan meramal kejadian dengan bantuan garis-garis tersebut. (At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid: 1/456).

Tercelanya perdukunan

Agama islam sangat memusuhi praktik perdukunan. Dari Imran bin Hushain t bahwa Rasulullah r bersabda:

ليس منا من تطير أو تطير له أو تكهن أو تكهن له أو سحر أو سحر له

“Bukan termasuk dari (golongan) kami orang yang menyatakan sial dengan burung tertentu atau  dinyatakan sial oleh burung tertentu untuknya atau berpraktik perdukunan atau diramalkan nasibnya atau berpraktek sihir atau disihirkan untuknya.” (HR Al-Bazzar. Al-Haitsami berkata: “Rijalnya adalah para perawi Ash-Shahih kecuali Ishaq bin Ar-Rabi’, ia adalah tsiqat.” Al-Mundziri berkata: “Isnadnya Ath-Thabrani adalah hasan sedangkan isnadnya Al-Bazzar adalah jayyid (bagus).” Dan dishahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani. Lihat Majma’uz Zawa’id: 5/201, Faidlul Qadir: 5/490 dan Silsilah Shahihah hadits: 2195).

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata: “Yang demikian karena ia (perdukunan, sihir dan percaya nasib sial dengan burung, pen) adalah termasuk perbuatan orang-orang jahiliyah.” (Faidlul Qadir: 5/490).

Para Dukun Bekerjasama dengan Syetan

Para dukun itu memiliki pembantu (baca: perewangan) dari kalangan syetan-syetan yang dimurkai Allah U. Allah U berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ () تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ () يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. Asy-Syu’ara’: 221-223).

Al-Imam Qatadah berkata: “Makna  “ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ “ (tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa) adalah para dukun. Jin mencuri dengar berita (dari langit) kemudian ia berikan kepada para pembantunya dari kalangan manusia (yaitu dukun tersebut, pen).” (HR. Abdur Razzaq dengan sanad shahih. Lihat Ash-Shahihul Masbur fit Tafsiril Ma’tsur: 4/22).

Dari Aisyah t, bahwa Rasulullah r bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْعَنَانِ وَهُوَ السَّحَابُ فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ فَتُوحِيهِ إِلَى الْكُهَّانِ فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya malaikat turun di kolong langit yaitu awan. Kemudian ia menyebutkan perkara yang telah diputuskan di langit. Maka syetan mencuri dengar (berita itu) kemudian ia bisikkan kepada para dukun. Kemudian mereka (para dukun) mencampur berita itu dengan 100 kebohongan dari diri mereka sendiri.” (HR. Bukhari: 2971).

Dalam riwayat lain para sahabat y bertanya:

يا رَسُولَ اللهِ إنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أحْيَاناً بِشَيءٍ، فَيَكُونُ حَقّاً ؟ فقالَ رسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : تِلْكَ الكَلِمَةُ مِنَ الحَقِّ يَخْطَفُهَا الجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ ، فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مئَةَ كَذْبَةٍ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para dukun itu) kadang-kadang memberitakan perkara yang benar?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Kalimat yang benar itu dicuri dengar oleh jin (dari langit) kemudian ia bisikkan di telinga para pembantunya (yaitu dukun). Maka para dukun itu mencampurnya dengan 100 kebohongan.” (HR. Bukhari: 5745, 7006, Muslim: 4134, 4135, Ahmad: 24570).

Sebelum Rasulullah r diutus, para syetan dan jin dapat leluasa mondar-mandir ke kolong langit untuk mencuri berita kemudian mereka bisikkan kepada para dukun. Tetapi setelah Rasulullah r diutus, para jin kesulitan mencuri berita karena langit dijaga dengan adanya bintang-bintang dan meteor-meteor yang dilemparkan kepada mereka yang mencoba menerobos ke kolong langit. Allah U berfirman:

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا () وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

“Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS Al-Jinn: 8-9).

Sehingga dukun sebelum Rasulullah r diutus itu lebih sakti dari pada dukun-dukun era modern.

Yang tetap bisa dikuasai oleh dukun sampai sekarang adalah bukan berita langit tetapi berita gaib yang ada di bumi seperti barang hilang, pencurian dan sebagainya. Para dukun menjalin kerjasama yang saling menguntungkan (baca: simbiosis mutualisme) dengan jin. Para dukun memberikan fasilitas kepada jin dan jin juga memberikan keuntungan duniawi bagi dukun itu. Allah U berfirman:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 128).

Di antara sebagian tafsir dari fasilitas  manusia untuk jin adalah bahwa manusia membenarkan berita gaib yang batil yang diberikan oleh jin. Sedangkan fasilitas dari jin untuk manusia adalah bahwa manusia bersenang-senang dengan berita itu untuk mendapat kesenangan duniawi seperti para dukun. Demikian penjelasan Al-Imam Asy-Syaukani. (Fathul Qadir: 2/476).

Hukum Mendatangi Dukun

Ada 2 kategori orang yang mendatangi dukun. Orang yang mendatanginya untuk bertanya kemudian membenarkannya dan orang yang hanya sekedar bertanya-tanya saja.

Untuk orang yang membenarkan saran dan ucapan dukun, Rasulullah r bersabda:

من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه فيما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه و سلم

“Barangsiapa mendatangi paranormal atau dukun kemudian ia membenarkan ucapannya maka ia telah kafir dari wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud: 3405, Ibnu Majah: 631, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 16938 (8/135) dan Al-Hakim dalam Mustadrak: 15 (147) dari Abu Hurairah t dan dishahihkan olehnya menurut criteria Al-Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Al-Allamah Al-Albani men-shahih-kan hadits ini dalam Silsilah Ash-Shahihah hadits: 3387).

Kata “kafir” dalam hadits di atas adalah kafir kecil yang merupakan dosa besar tetapi masih belum menyebabkan pelakunya murtad atau keluar dari islam. Demikian penjelasan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy-Syaikh. (At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid: 1/452).

Adapun orang yang hanya sekedar bertanya, maka Rasulullah r bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi paranormal kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim: 4137, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 16287 (8/138) dan Ahmad: 16041).

Al-Allamah Al-Mubarakfuri berkata: “Makna “tidak diterima shalatnya” adalah makna hakiki. Ini karena kadang-kadang ada suatu amalan yang sah (dari sisi rukun dan syaratnya, pen) akan tetapi ditunda penerimaannya (oleh Allah) karena adanya penghalang (seperti bertanya kepada dukun, pen). Oleh karena itu sebagian salaf menyatakan: “Diterimanya satu kali sholat untukku itu lebih aku sukai dari pada dunia seisinya.” Demikian ucapan Ibnu Umar t. Ia berkata: “Karena Allah berfirman bahwa Ia hanyalah menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa saja.” (Tuhfatul Ahwadzi: 1/209).

Hukum Belajar Astrologi

Al-Imam Qatadah berkata: “Sesungguhnya Allah U menciptakan bintang-bintang di langit untuk 3 tujuan: sebagai hiasan untuk langit, sebagai petunjuk (arah) dalam kegelapan darat dan laut dan sebagai pelempar syetan. Barangsiapa menggunakan bintang untuk selain tujuan demikian maka dia telah berbicara dengan semata-mata rasionya, telah keliru bagiannya, telah sia-sia nasibnya, dan telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak ada ilmunya. Dan sesungguhnya orang-orang yang bodoh terhadap perkara Allah telah mengada-adakan perdukunan melalui bintang-bintang ini. Barangsiapa menikah pada saat bintang ini dan itu, dan bepergian pada saat bintang ini dan itu (maka akan terjadi demikian, pen)….dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim: 11/186 dan sanadnya di-hasan-kan oleh Syaikh Dr. Hikmat bin Basyir dalam Ash-Shahihul Masbur: 3/178).

Allah U berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-An’am: 97).

Allah U juga berfirman:

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ () وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ () لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ () دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ () إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.” (QS. Ash-Shaffat: 6-10).

Mempelajari astrologi bukan termasuk dari 3 perkara di atas dan termasuk perkara yang dilarang dalam agama ini.

Syaikh Shalih Fauzan menyatakan: “Ilmu nujum (astrologi dan  bukan astronomi, pen) yang dimaksud dengannya adalah kayakinan bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh dalam kejadian dan perjalanan keadaan (seseorang, pen). Dan terkadang yang dimaksud adalah pengertian lain (yaitu astronomi, pen) yang akan dibahas secara terperinci. Perkara ini (astrologi) adalah keyakinan lama yang dianut oleh kaum Namrud yang mana Nabi Ibrahim u diutus kepada mereka. Mereka adalah orang shabi’ah yang menyembah bintang-bintang. Mereka mendirikan kuil-kuil dan rumah ibadah untuk memuja bintang-bintang itu. Mereka meyakini bahwa bintang-bintang itu bisa mengatur alam raya ini. Dan kejelekan ini (ajaran kaum Namrud) akan selalu muncul  di alam ini.” (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid: 2/16).

Dari Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r bersabda:

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu dari perbintangan (astrologi) maka ia telah mengambil (mempelajari) satu cabang dari ilmu sihir sesuai banyaknya.” (HR. Abu Dawud: 3406, Ibnu Majah: 3716 dan sanadnya di-shahih-kan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dalam Takhrijul Ihya’: 5/489).

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad menyatakan: “Ilmu Nujum (astrologi) adalah haram. Dan bisa jadi kafir dan syirik jika pelakunya meyakini bahwa bintang-bintang dapat mempengaruhi dan berbuat terhadap makhluk-makhluk Allah.” (Syarh Sunan Abi Dawud: 20/247).

Adapun mempelajari ilmu astronomi untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat maka ini diperbolehkan dan tidak dilarang. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahuyah dan kebanyakan para ulama. Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad juga menguatkan pendapat ini. (I’anatul Mustafid: 2/19 dan Syarh Sunan Abi Dawud: 20/247).

Upah yang Diterima oleh Dukun

Kita juga dilarang memakan upah dari praktik perdukunan.

Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda:

لَا يَحِلُّ ثَمَنُ الْكَلْبِ وَلَا حُلْوَانُ الْكَاهِنِ وَلَا مَهْرُ الْبَغِيِّ

“Tidak halal harga (penjualan) anjing, upah yang diterima dukun dan mahar seorang pelacur.” (HR. Abu Dawud: 3023, An-Nasa’i: 4219, Ad-Darimi: 2568, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 10792 (6/6) dan Ibnu Hibban: 5157 (11/562). Sanadnya di-hasan-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 6/442. Al-Allamah Al-Albani juga men-shahih-kannya dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 6951).

Al-Allamah Ash-Shan’ani berkata: “Para ulama telah ijma’ atas haramnya upah bagi dukun.” (Subulus Salam: 3/7).

Bentuk-bentuk Perdukunan

Termasuk bentuk perdukunan adalah meramal dengan menggunakan telapak tangan, cawan atau cangkir. (Akhtha’ul Mar’ah Al-Muta’alliqah bil Aqidah: 18).

Termasuk perdukunan adalah menulis huruf ABAJADUN HAWAZUN….dst (Alif, Ba’, Jim, Dal, Ha’, Wawu, Za’ …dst). Setiap huruf memiliki bilangan tertentu (semisal Alif= 1, Jim=3, Ya’=10 dst) kemudian jumlah angka tersebut digunakan untuk menghitung waktu, tempat dan nama seseorang kemudian dihukumi bahgia ataukah celaka. Ketika Ibnu Abbas t bertemu dengan orang yang mempelajari ABAJADUN dan perbintangan maka beliau berkomentar: “Aku tidak melihat orang yang demikian ini memiliki bagian pahala (sedikit pun) di sisi Allah.” (Ushulul Iman fii Dlau’il Kitab was Sunnah: 94).

Termasuk perdukunan adalah menghadirkan roh (baca: syetan) yang disangka sebagi roh orang mati kemudian ditanya-tanya tentang keadaan orang-orang  yang sudah mati apakah senang atau susah. (Ushulul Iman fii Dlau’il Kitab was Sunnah: 94). Di Indonesia ini dikenal dengan permainan jelangkung makan kangkung.

Termasuk dalam hal ini menyandarkan nasib sial pada burung. (Ushulul Iman fii Dlau’il Kitab was Sunnah: 94). Kalau ada burung hantu maka pertanda sial, kalau ada kupu-kupu berarti ada tamu…dst.

Dan perdukunan sekarang telah meliputi berbagai media baik cetak maupun elektronik. Semoga Allah melindungi kita dari bahaya perdukunan ini. Amin.

About these ads
  1. Oktober 8, 2012 pukul 1:07 am

    permisi…, mohon izin mengkopi. terimakasih seoga bermanfat

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: