Beranda > Kesehatan > Penyakit TB pada Anak

Penyakit TB pada Anak


Penyakit TB pada Anak

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Definisi

Tuberculosis adalah infeksi langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.

Ciri-ciri dari kuman ini adalah:

  1. Bentuk batang
  2. Tahan pada pewarnaan asam
  3. Cepat mati pada sinar matahari langsung
  4. Tumbuh di tempat lembab dan gelap
  5. Bisa “Dorman” bertahun-tahun

Gambar: Kuman Mycobacterium tbc  (BTA) dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Tampak batang berwarna merah muda.

Etiologi

Infeksi mycobacterium tbc dimulai dari inhalasi kuman ini melalui udara pernapasan dari orang yang menderita TB paru. Ini diistilahkan dengan ‘droplet infection’.

Setelah basil mencapai alveolus, ia akan dibawa melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe pada hillus paru. Kemudian ia bisa mencapai melalui aliran darah melalui ductus thorasicus

Pathogenesis.

Pada paru basil yang berkembang biak menimbulkan suatu daerah radang yang disebut afek/fokus primer dari Ghon. Basil akan menjalar melalui saluran limfe dan terjadi limfangitis dan akan terjadi limfadenitis regional.

Pembentukan radang adalah melalui Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV (Delayed Type Hypersensitivity). Di mana akan terbentuk tuberkel-tuberkel atau disebut granuloma.

Gambar: Pembentukan granuloma pada TB primer

Bentuk khas dari granuloma adalah adanya nekrosis caseosa di tengah-tengahnya yang dikelilingi oleh giant cell.

Gambar: granuloma, pada tengahnya terdapat nekrosis susu (necrosis caseosa) yang dikelilingi oleh giant cell tipe Langhan. (courtesy: Robin).

Perjalanan penyakit TB yang tidak diobati adalah:

  1. 50% penderita meninggal
  2. 25% penderita sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi
  3. 25% menetap menjadi kasus kronik

Sedangkan terjadinya TB sekunder adalah melalui 3 kemungkinan:

  1. Dari TB primer berkembang menjadi TB sekunder
  2. Sembuh dari TB primer kemudian terinfeksi kedua kali
  3. Lesi primer dorman yang menyembuh kemudian aktif lagi

Perbedaan TB pada anak dengan TB dewasa

  1. TB anak lokasinya pada setiap bagian paru, sedangkan pada dewasa di daerah apeks dan infra klavikuler
  2. Terjadi pembesaran kelenjar limfe regional sedangkan pada dewasa tanpa pembesaran kelenjar limfe regional
  3. Penyembuhan dengan perkapuran sedangkan pada dewasa dengan fibrosis
  4. Lebih banyak terjadi penyebaran hematogen, pada dewasa jarang

Manifestasi TB pada Anak

Penyakit TB pada anak memiliki beberapa manifestasi klinis. Di antaranya:

  • TB paru

TB paru merupakan manifestasi klinis yang umum dijumpai pada anak. Dari yang paling ringan sampai yang paling berat dapat dijumpai pada anak.

Bentuk yang paling ringan adalah pembesaran kelenjar hilus atau munculnya Ghon kompleks.

Gambar: adanya kalsifikasi parahiler kanan (Ghon kompleks) disertai pembesaran kelenjar hillus kanan. (Courtesy: Andrea T Cruz).

Sedangkan salah satu bentuk TB paru berat adalah TB milier.

Gambar: TB milier dengan gambaran badai salju.

  • TB kulit (Scrofuloderma)

TB anak juga memiliki manifestasi TB kulit.

  • TB kelenjar

Di antara manifestasi ekstrathoracal adalah TB kelenjar.

Gambar: TB kelenjar disertai scrofuloderma. (Courtesy: Andrea T Cruz)

  • TB tulang

Di antara manifestasi TB ekstratoracal adalah TB tulang.

Gambar: TB pada tulang vertebara atau disebut Gibbus.

Gejala Klinis

Penyakit ini memiliki beberapa gejala.

Gejala umum:

  1. Berat badan menurun berturut-turut selama 3 bulan tanpa sebab jelas atau tidak naik selama 1 bulan meskipun dengan intervensi gizi
  2. Anoreksia dan gagal tumbuh (failure to thrive)
  3. Demam lama/berulang tanpa sebab jelas
  4. Pembesaran KGB superfisial seperti: KGB leher, inguinal dan sebagainya
  5. Gejala saluran napas seperti batuk lama lebih dari 30 hari
  6. Gejala GI tract seperti diare lama/berulang, masa di abdomen dan sebagainya.

Gejala spesifik:

  1. TB kulit (scrofuloderma)
  2. TB tulang seperti: gibbus (spondilitis), coccitis, pincang, bengkak
  3. TB otak dan syaraf: meningitis TB, ensefalitis TB
  4. TB mata: konjungtifitis fliktenuaris, tubercle choroid
  5. Dan lain-lain

Pemeriksaan Laboratorium

  • Uji mantoux atau Tuberkulin

Ada 2 macam tuberkulin yaitu Old tuberkulin dan Purified Protein Derivat (PPD). Caranya adalah dengan menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD intrakutan di volar lengan bawah.  Hasilnya dapat dilihat 48 – 72 jam setelah penyuntikan. Berniai positif jika indurasi lebih dari 10 mm pada anak dengan gizi baik atau lebih dari 5 mm pada anak dengan gizi buruk.

  • Reaksi cepat BCG

Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemerahan lebih dari 5 mm, maka anak dicurigai terinfeksi Mycobaterium tbc.

  • Laju Endap Darah

Pada TB, terdapat kenaikan Laju Endap Darah (LED).

  • Pemeriksaan mikrobiologis

Pemeriksaan BTA pada anak dilakukan dari bilasan lambung karena sulitnya menggunakan hasil dahak.

Pemeriksaan BTA cara baru seperti: PCR (Polymerase Chain Reaction), Bactec, ELISA, PAP dan Mycodots masih belum banyak dipakai dalam klinis praktis.

Pemeriksaan Radiologis

  1. Gambaran x-foto dada pada TB paru tidak khas
  2. Paling mungkin kalau ditemukan pembesaran kljr hilus dan klj paratrakeal
  3. Foto lain: milier, atelektasis, infiltrat, bronkiektasis, kavitas, kalsifikasi, efusi pleura, konsolidasi, destroyed lung dan lain-lain.

Diagnosis TB pada Anak

Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor.

Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.

Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.

Tabel: Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB (Pedoman Nasional Penanggulangan TB edisi pertama tahun 2007).

Catatan :

• Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.

• Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma, Sinusitis, dan lain-lain.

• Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis.

• Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).–> lampirkan tabel badan badan.

• Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak

• Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.

• Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6, (skor maksimal 14)

• Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.

Terapi

Diberikan OAT (Obat Anti TB) dengan ketentuan sebagai berikut:

Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.

  • Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)

Artinya:

  1. Tahap intensif selama 2 bulan diberikan INH (H), Rifampicin (R), Pirazinamid (Z) masing-masing tiap hari.
  2. Tahap lanjutan selama 4 bulan diberikan INH (H) dan Rifampicin (R) masing-masing tiap hari.
  • Jenis dan Dosis Obat TB pada Anak

Table: dosis OAT Kombipak pada anak (Pedoman Nasional Penanggulangan TB edisi pertama tahun 2007).

Table: dosis OAT KDT pada anak. (Pedoman Nasional Penanggulangan TB edisi pertama tahun 2007).

Keterangan:

• Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit

• Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.

• Anak dengan BB ≥33 kg , dirujuk ke rumah sakit.

• Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah

• OAT KDT dapat diberikan dengan cara: ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum.

Terapi Profilaksis

Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan  menggunakan sistem skoring. Bila hasil evaluasi dengan skoring system didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.

Monitoring

Pemantauan kemajuan anak dengan terapi TB dapat dilihat dengan:

  1. Peningkatan berat badan
  2. Anak lebih aktif
  3. Ada perbaikan klinis seperti penurunan panas dan keluhan batuk

Pencegahan

BCG diberikan pada usia 0-3 bulan secara intrakutan. Imunisasi BCG tidak bisa mencegah dari penyakit TB, akan tetapi bisa mencegah dari penyakit TB berat seperti TB milier dan meningitis TB.

Demikian tulisan ini. Semoga bermanfaat. Amien.

About these ads
  1. Jumadihasim
    Mei 6, 2010 pukul 8:12 pm | #1

    BRAVO BUAI PAK FAIG

  2. alpramana
    Mei 6, 2011 pukul 9:44 pm | #2

    anak saya usia 11 bulan di indetifikasi mengidap tb karena berat badan yang tidak sesuai dengan usia.tapi anak saya sangat lincah batuk jarang,nafsu makan juga makn juga gak malas.dokter menyaran buat rontgen tapi saya ragu apakah tidak terlalu berbahaya buat rontgen?apakh ada alternatif lain?terus terang saya sgt kawatir dengan kondisi anak saya.terimaksih

    • Mei 6, 2011 pukul 10:20 pm | #3

      Untuk anak biasanya dilakukan Mantoux (Tuberkulin) test. Rontgent kurang bisa menggambarkan tb anak. Penjelasannya bisa dibaca pada artikel ini.

  3. November 7, 2011 pukul 3:07 pm | #4

    anak saya sekarang brumur 4 tahun dan pernah menderita penyakit tb yang mau saya tanyakan apakah kemungkinan penyakit tb pada anak bisa menular kepada anak lain dan apakah ada kemungkinan juga penyakit itu kambuh pada anak saya dan apakah ciri-ciri penderita tb pada anak salah satunya sering berkeringat pada malam hari meski memakai ac ataupun kipas.trimakasih

    • November 9, 2011 pukul 2:58 pm | #5

      Benar, bu. TB bisa kambuh dan menular. Kuman TB akan mati dengan sinar matahari dan bisa berkembang dan menyebar jika udara lembab. Akhir-akhir ini TB meningkat, penyebabnya adalah AC di mall, kantor ataupun rumah. Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter spsialis anak di kota ibu.

  4. jenni
    Desember 3, 2011 pukul 9:55 pm | #6

    Anak saya usia
    2,9 thn kena tb primer. Apa aja”pantangan makan nya?

    • Desember 7, 2011 pukul 1:57 pm | #7

      tidak ada pantangan, justru harus banyak makan makanan bergizi biar BB naik karena pdrt TB cndrung BBnya turun

  5. Faiq Falah
    Januari 9, 2012 pukul 1:06 am | #8

    terimakasih dokter atas artikelnya, cukup memberi pencerahan ttg penyakit anak saya. Anak saya 3 thn 8 bln didiagnosis TB meski hasil tes Mantoux negatif, kontak TB nilai nol (ortu dan pengasuh rontgen negatif, suspect lain blm ada), dan batuk sembuh stlh 10 hari. 2 DSA menyatakan TB positif, smntr dokter paru mengatakan negatif. Akhrnya sy putuskan ttp memberi RHZ (Rimcure Paed) dan sdh berlangsung 16 hari. DSA yg satu memberi dosis 1 tablet, yg kedua 2 tablet (BB anak sy 14 kg). Tdnya saya berikan 1 tablet (resep DSA 1), stlh 2 mgg dan kontrol ke DSA kedua jd 2 tablet. Dosis mana yg benar?
    Saya baca bhw pemberian RHZ berefek samping pada liver. Bagaimana cara mencegah atau mengurangi efek sampingnya? DSA memberi multivitamin anak. Apakah itu cukup untuk mencegah efek samping RHZ?

    Terima kasih tanggapannya.

    • Januari 9, 2012 pukul 8:13 pm | #9

      Kalau masih waswas, dicek aja LFT (Liver Function Test) atau SGPT/SGOT. Kalau hasilnya meningkat 3xlipat (> 200 an), maka RHZ harus dihentikan smntra waktu…

  6. rismaya
    Februari 17, 2012 pukul 6:27 am | #10

    saya mau nanya dok, saya pernah baca artikel tentang tb, klo pada dewasa itu sering menyerang kebanyakan bagian apeks paru, tetapi tb pada anak itu sering menyerang seluruh bagian paru maksudnya apa ya ? knp bisa begitu ? apa yang membedakannya ??

  7. fy
    Februari 24, 2012 pukul 12:29 pm | #11

    haduh penyakit ini memang menyebalkan. selalu bikin was-was orang tua. dulu anakku sempet juga di vonis flek paru. pada usia 10 bln. setelah pengobatan selama 6 bulan, anakku dinyatakan sembuh. bb memang naik. sekarang usianya sudah 4 tahun. 2 minggu yang lalu kena batuk pilek, sampai muntah-muntah. setelah diobati dengan AB dan obat batuk, batuknya mulai menghilang, tapi masih ada pileknya (hidungnya masih meler), dan yang menggelisahkan nafsu makannya turun, dan sejak konsumsi AB, dia jadi sering keluar keringat dingin, meskipun siang hari. dan bb nya yang semula 18 kg sekarang jadi 17 kg. ya merosot 1 kilo.
    sempet kepikiran yang jelek2, apa mungkin flek parunya kambuh.
    sebenarnya bagaimana ciri-ciri kalau tb nya aktif lagi sih dok?, saya khwatir sekali.
    agar meminimalisir kekhatiwaran saya, apa yang harus saya lakukan untuk memastikan kalau anak saya baik-baik saja dan mudah-mudahan TB nya tidak aktif.

  8. mirza arkana
    Maret 6, 2012 pukul 3:51 pm | #12

    anak saya kena TB pengobatan br berjalan 2 bulan, obat yang diminum 3 macam, sirup dan 2 lg berbentuk puyer.. dokter bilang diminum hrs 2jam sebelum mkn, apakah memang hrs 2 jam sblm mkn? kshn anakny kan klo dah laper..

  9. nita
    April 11, 2012 pukul 10:29 pm | #13

    anak saya 18 bln ada pembesaran kelnjar d bagian leher kt dsa nya kemungkinan tb..tp stlh PPD hasilnya negatif..skrg ank sy d saranin untuk rontgent dan tes darah yg jadi pertanyaan saya apakah kedua tes tersebut dapat memberikan gambaran pasti ank sy TB atau tidak..klo hsl ke dua tes tersebut ttp negatif apakah perlu di lakukan biopsi?

    • April 12, 2012 pukul 4:36 pm | #14

      Tdk pasti, qta tetap mengacu pada alur penegakan diagnosis TB anak IDAI. PP IDAI telah menyusun Pedoman Nasional TB Anak dengan menggunakan sistem scoring (pembobotan). Klo negatif tidak perlu biopsi.

  10. nita
    April 18, 2012 pukul 3:45 pm | #15

    dok..anak saya sdh menjalani rontgent n tes darah hasilnya LEDnya 20/45 dan foto toraknya kt dsanya ada flek..tp ank sy tidak ada gejala klinis TB..BBnya bagus 11,2kg,jarang demam,nafsu makannya baik..jg tidak ada org dewasa yg terkena TB d rmh..dsa menyarankan biopsi unt kepastiannya..apakah dr hsl yg sy jelaskan menurut dr anak sy bnr2 positif TB..terimakasih

  11. September 3, 2012 pukul 11:51 pm | #16

    I am sure this post has touched all the internet people, its really really good post on
    building up new blog.

  12. indri
    September 4, 2012 pukul 3:48 pm | #17

    dok, anak saya 22 bulan 10.5KG, BB tdk naek sudah 8 bulan. anak aktif, makan cukup. gejala klinis lymphadenopathy. hasil lab LED naek, limfosit naek, Hb rendah. Hasil Xray suspect TB. mantoux test negatif.
    Diresepkan untuk treatment TB. boleh memberikan 2nd opini dok. terima ksih

  13. Oktober 19, 2012 pukul 9:29 am | #18

    ada nggak lp tentang tb millier selengkap lenkapnya

  14. sucianita
    November 24, 2012 pukul 7:20 pm | #19

    dok saya mau tanya anak saya umurnya 2,5 thn,sudah perna Mantoux hasilya negatip tp dites dara hasilnya mendukung /tinggi,jd dok apa yg hrus saya lakukan?

  15. Februari 13, 2013 pukul 8:37 pm | #20

    Ijin Copas yah

  16. Maret 25, 2013 pukul 5:21 am | #21

    Wonderful article! We will be linking to this great article on our site.

    Keep up the good writing.

  17. indri
    Mei 28, 2013 pukul 10:55 am | #22

    dok anak saya 2,5th BB 12 kg, diresepkan rimcure paed 1 tablet per hari. Kalau dari tabel diatas seharusnya 2 tablet. Apakah ada pengecualian sehingga dokter meresepkan beda ya dok?

  18. wulan
    Oktober 31, 2013 pukul 1:55 pm | #23

    dok anak saya 2,5th terkena tb dan minum rimcure paed 2 tablet/hr. tp sekarang anak saya baru batuk berdahak,yg mau saya tanyakan apakah boleh anak saya inhalasi utk mengirangi dahaknya? obat yg biasanya dipakai buat inhalasi adalah bisolvon,antrovent dan berotec (resep dr dokter).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: