<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>http://sulaifi.wordpress.com</title>
	<atom:link href="http://sulaifi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sulaifi.wordpress.com</link>
	<description>.....:::::  kumpulan artikel dr. M Faiq Sulaifi  :::::.....</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 00:24:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sulaifi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>http://sulaifi.wordpress.com</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sulaifi.wordpress.com/osd.xml" title="http://sulaifi.wordpress.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sulaifi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah?</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/26/gigi-emas-untuk-laki-laki-bolehkah/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/26/gigi-emas-untuk-laki-laki-bolehkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 00:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Bujairami]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qalyubi]]></category>
		<category><![CDATA[Darurat]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[Gigi]]></category>
		<category><![CDATA[Hajat]]></category>
		<category><![CDATA[hidung]]></category>
		<category><![CDATA[kawat]]></category>
		<category><![CDATA[khamer]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[pelengkap]]></category>
		<category><![CDATA[ring]]></category>
		<category><![CDATA[sutra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah? Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Hukum asal menggunakan perhiasan emas bagi kaum laki-laki adalah haram atau dilarang. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –radliyallahu anhu- berkata: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=454&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah?</strong></p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Hukum asal menggunakan perhiasan emas bagi kaum laki-laki adalah haram atau dilarang. <span id="more-454"></span>Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –radliyallahu anhu- berkata:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي</p>
<p>“Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- pernah mengambil sutra kemudian beliau meletakkannya pada tangan kanan beliau. Beliau juga mengambil emas kemudian beliau meletakkannya pada tangan kiri beliau. Kemudian beliau bersabda: <strong><em>“Sesungguhnya kedua benda ini (emas dan sutra) diharamkan untuk laki-laki dari umatku.”</em></strong> (HR. An-Nasa’i: 5053, Abu Dawud: 3535, Ibnu Majah: 3585 dan Ahmad: 891. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil peng-hasan-an hadits ini dari Ibnu Madini dalam Talkhishul Habir: 1/212 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 2274).</p>
<p>Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi Asy-Syafi’i berkata:</p>
<p dir="RTL">وفيه حجة لقول الجمهور إن الذهب والحرير محرمان على الرجال دون النساء</p>
<p><strong><em>“Di dalam hadits ini terdapat dalil bagi mayoritas ulama bahwa emas dan sutra itu diharamkan atas kaum laki-laki bukan perempuan.”</em></strong> (Faidlul Qadir: 3/502).</p>
<p align="center"><strong>Antara Darurat dan Hajat (Kebutuhan)</strong></p>
<p>Tingkat kebutuhan (urgenisitas) manusia terhadap suatu perkara itu bertingkat-tingkat. Al-Allamah As-Suyuthi –rahimahullah- berkata –mengutip ucapan Al-Ala’i-:</p>
<p dir="RTL">إن المصالح المعتبرة إما في محل الضرورات أو في محل الحاجات أو في محل التتمات وإما مستغنى عنها</p>
<p>“Sesungguhnya kemaslahatan yang dianggap itu bisa jadi menempati <strong><em>kedudukan darurat</em></strong>, bisa jadi hanya merupakan <strong><em>hajat (kebutuhan)</em></strong>, bisa jadi merupakan <strong><em>pelengkap</em></strong> atau bisa jadi merupakan <strong><em>sesuatu yang tidak dibutuhkan</em></strong>.” (Al-Asybah wan Nazhair lis Suyuthi: 386).</p>
<p>Jadi urutan urgenisitas tersebut adalah: darurat (terpaksa), kemudian hajat (kebutuhan), kemudian pelengkap dan kemudian sesuatu yang tidak dibutuhkan.</p>
<p>Kemudian perlu diketahui bahwa <strong><em>semua perkara haram dapat menjadi halal karena adanya keadaan darurat</em></strong>. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ</p>
<p><em>“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian, kecuali apa yang terpaksa kalian memakannya.”</em> (QS. Al-An’am: 119).</p>
<p>Al-Allamah Asy-Syinqithi –rahimahullah- menjelaskan batasan darurat (terpaksa):</p>
<p dir="RTL">الضرورة عند العلماء بالمصطلح الخاص: هي خوف فوات النفس، فإذا خاف الإنسان أنه إذا لم يفعل هذا الشيء فإنه سيموت، فهو مضطر، مثل من جاع ولم يجد طعاماً إلا ميتاً، فإنه إذا بقي على حكم الشرع بالتحريم فإنه سيموت، وحينئذٍ يرخص له بأكل الميتة اضطراراً لا اختياراً؛ لأنه لو لم يأكلها لهلكت نفسه.</p>
<p>“Batasan darurat (keadaan terpaksa) menurut ulama dengan istilah khusus adalah <strong><em>takut kehilangan nyawa</em></strong>. Jika seorang manusia merasa takut –jika ia tidak melakukan sesuatu, maka ia akan mati- maka ia dalam keadaan terpaksa. Seperti seseorang yang lapar dan tidak menemukan makanan kecuali bangkai. Maka jika ia terus-menerus di atas hukum pengharaman bangkai, maka ia akan binasa. Maka ketika itu ia diberi keringanan untuk memakan bangkai karena terpaksa bukan karena sukarela. Karena jika ia tidak makan maka nyawanya akan binasa.” (Syarh Zadil Mustaqni’: 352/20).</p>
<p>Adapun <strong><em>perkara berobat</em></strong>, maka sudah <strong><span style="text-decoration:underline;">tidak</span></strong> termasuk dalam perkara darurat tetapi hanya <strong><em><span style="text-decoration:underline;">perkara hajat</span></em></strong>. Sehingga seseorang diharamkan berobat dengan bangkai dan khamer.</p>
<p>Wa’il Al-Hadlrami –radliyallahu anhu- berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهَا فَقَالَ إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ</p>
<p>“Bahwa Thariq bin Suwaid Al-Ju’fi –radliyallahu anhu- bertanya kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- tentang khamer. Maka beliau melarangnya dan membeci pembuatannya. Thariq bertanya: “Aku membuatnya hanya untuk pengobatan.” Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- menjawab: <strong><em>“Sesungguhnya ia (khamer) bukanlah obat, tetapi penyakit.”</em></strong> (HR. Muslim: 3670, Ahmad: 18107).</p>
<p align="center"><strong>Perbedaan antara Khamer dan Sutra</strong></p>
<p>Dari sisi syariat, pengharaman khamer lebih berat daripada pengharaman sutra dan emas bagi kaum laki-laki. Khamer hanya dihalalkan oleh keadaan darurat (terpaksa) sedangkan sutra dapat dihalalkan bagi kaum laki-laki dalam keadaan hajat seperti pengobatan. Ini karena khamer diharamkan secara dzatnya sedangkan sutra diharamkan dengan pengharaman wasilah.</p>
<p>Al-Allamah Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">إذ القاعدة المعروفة عند أهل العلم أن ما حرم تحريم الوسائل أباحته الحاجة وما حرم تحريماً ذاتياً تحريم المقاصد فإنه لا يبيحه إلا الضرورة</p>
<p>“Karena terdapat kaedah yang sudah dikenal di kalangan para ulama bahwa <strong><span style="text-decoration:underline;">segala perkara yang diharamkan dengan <em>pengharaman wasilah</em>, maka ia dapat dihalalkan oleh keadaan hajat.”</span></strong> Sedangkan <strong><em>sesuatu yang diharamkan secara dzatnya sebagi tujuan, maka ia tidak dapat dihalalkan kecuali oleh perkara darurat</em></strong>.” (Fatawa Nur alad Darb: 194/14).</p>
<p>Contoh pengharaman wasilah adalah pengharaman sutra dan emas bagi laki-laki. Contoh pengharaman secara dzatnya adalah pengharaman khamer, bangkai dan darah. Khamer, bangkai dan darah diharamkan karena mereka termasuk <strong><em>perkara khaba’its dan rijs (kotor)</em></strong>. Adapun emas dan sutra, maka secara asal keduanya bukan perkara khaba’its dan rijs. Keduanya diharamkan karena dapat menjadi wasilah kepada gaya hidup mewah dan tasyabbuh dengan kaum wanita yang keduanya dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Oleh karena itu Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memberikan keringanan memakai sutra dan emas bagi laki-laki dalam keadaan hajat (membutuhkan). Anas bin Malik –radliyallahu anhu- berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصٍ مِنْ حَرِيرٍ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَ</p>
<p><strong><em>“Bahwa Nabi –shallallahu alaihi wasallam- memberikan rukhsah (keringanan) kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-Awwam untuk memakai gamis dari sutra karena penyakit gatal (semacam kudis) yang menimpa mereka.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 2703, Muslim: 3869, Abu Dawud: 3534 dan An-Nasa’i: 5215).</p>
<p>Dan sudah diketahui bahwa penyakit gatal atau kudis tidak termasuk keadaan darurat -karena tidak ditakutkan dapat menyebabkan hilangnya nyawa-, tetapi hanya perkara hajat saja. Wallahu a’lam.</p>
<p>Al-Allamah Hamd bin Abdullah Al-Hamd berkata:</p>
<p dir="RTL">ولبس الحرير للحكة من الحاجات وليس الضروريات</p>
<p>“Dan memakai sutra karena penyakit gatal adalah termasuk urusan hajat bukan darurat.” (Syarh Zadul Mustaqni’ lil Hamd: 4/75).</p>
<p align="center"><strong>Memakai Gigi Emas adalah Hajat</strong></p>
<p>Demikian pula memasang gigi emas pada laki-laki, ia tidak termasuk darurat tetapi hanya hajat saja yaitu sebagai <strong><em>terapi dan pengobatan</em></strong>. Oleh karena itu Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memperbolehkannya. Arfajah bin As’ad –radliyallahu anhu- berkata:</p>
<p dir="RTL">أُصِيبَ أَنْفِي يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاتَّخَذْتُ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيَّ فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ</p>
<p>“Hidungku terluka (patah tulang) ketika perang Kulab pada masa jahiliyah. Maka aku memasang hidung buatan (prostese) dari perak kemudian hidungku membusuk. <strong><em>Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memerintahkanku untuk memasang hidung dari emas.”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 1692 dan di-<strong><em>hasan</em></strong>-kan olehnya, An-Nasa’i: 5070, Abu Dawud: 3696 dan Ahmad: 18235. Hadits ini di-<strong><em>hasan</em></strong>-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 4232).</p>
<p>Abdullah bin Abdullah bin Ubay –radliyallahu anhu- berkata:</p>
<p dir="RTL">اندقت ثنيتي  يوم أحد، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم  فأمرني أن أتخذ ثنية من ذهب</p>
<p>“<strong><em>Gigi seriku pecah ketika perang Uhud. Kemudian aku mendatangi Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-. Maka beliau memerintahkanku untuk memasang gigi seri dari emas.”</em></strong> (HR. Ibnu Qani’ dalam Mu’jamush Shahabah: 881 (3/461), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatis Shahabah: 3765 (12/106). Al-Haitsami berkata: “HR. Al-Bazzar dan perawinya adalah perawi Ash-Shahih selain Bisyr bin Mu’adz, ia adalah tsiqat tetapi Urwah bin Az-Zubair <strong><em>belum pernah bertemu</em></strong> Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Lihat Majma’uz Zawaid: 8713 (5/267)).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis berkata:</span></strong> Yang demikian karena Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul (seorang sahabat kibar putra tokoh munafikin)  –radliyallahu anhu- mati syahid pada perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq –radliyallahu anhu- sedangkan Urwah bin Az-Zubair lahir pada masa Khalifah Utsman bin Affan –radliyallahu anhu-. (Lihat Siyar A’lamin Nubala’: 1/322).</p>
<p>Dan apa yang dinyatakan oleh Al-Haitsami bahwa sanad hadits ini terputus –karena Urwah bin Az-Zubair tidak bertemu dengan Abdullah bin Abdullah bin Ubay- adalah sebuah ketergelinciran seorang ulama –semoga Allah merahmati beliau. Ini karena dalam sanad Abu Nu’aim, Urwah bin Az-Zubair meriwayatkannya dari Aisyah Ummul Mukminin dari Abdullah bin Abdullah bin Ubay –radliyallahu anhuma-.</p>
<p>Oleh karena itu Al-Imam Adz-Dzahabi –rahimahullah- menegaskan:</p>
<p dir="RTL">والاشبه في ذلك ما روي عن عائشة، عن عبد الله بن عبد الله بن أبي أنه قال: ندرت ثنيتي فأمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتخذ ثنية من ذهب</p>
<p>“Yang lebih mendekati kebenaran dalam periwayatan ini adalah kisah yang diriwayatkan (oleh Urwah bin Az-Zubair, pen) dari Aisyah dari Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Beliau berkata: <strong><em>“Gigi seriku copot maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memerintahkanku untuk memasang gigi seri dari emas.”</em></strong> (Siyar A’lamin Nubala: 1/322). Sehingga hadits ini benar adanya walhamdulillah.</p>
<p>Thu’mah bin Amr Al-Ja’fari –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">رَأَيْتُ مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ قَدْ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِالذَّهَبِ.</p>
<p><strong><em>“Aku melihat Al-Imam Musa bin Thalhah bin Ubaidillah (ulama tabi’in) –rahimahullah- mengencangkan gigi-gigi beliau dengan emas.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25769 (8/310) dari Waki’ bin Al-Jarrah dari Thu’mah Al-Ja’fari. Mereka semua orang-orang tsiqat)</p>
<p>Tsabit bin Qais Maula Al-Ghifari –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">رَأَيْتُ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ مَرْبُوطَةً أَسْنَانُهُ بِخُرْصَانِ الذَهَب.</p>
<p><strong><em>“Aku melihat Al-Imam Nafi’ bin Jubair (ulama tabi’in) gigi-gigi beliau diikat dengan ring (kawat) dari emas.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25770 (8/310) dari Ma’an bin Isa dari Tsabit bin Qais. Mereka semua orang-orang tsiqat)</p>
<p>Hammad bin Abi Sulaiman Al-Kufi –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">رَأَيْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَدْ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِالذَّهَبِ فَذُكِرَ مِثْلَ ذَلِكَ لِإِبْرَاهِيمَ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ</p>
<p><strong><em>“Aku melihat Al-Mughirah bin Abdillah (seorang tabi’in) mengikat gigi-giginya dengan emas. Maka perkara ini diceritakan kepada Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i (seorang ulama tabi’in), maka beliau berkata: “Tidak apa-apa.”</em></strong> (Atsar riwayat Ahmad: 19395 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25772 (8/311). Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih.” Lihat Majma’uz Zawaid: 8716 (5/267) dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Tahqiq Al-Musnad: 5/23).</p>
<p>Humaid bin Hilal –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ الْحَسَنَ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِذَهَبٍ</p>
<p><strong><em>“Bahwa Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri (ulama tabiin) mengikat gigi-gigi beliau dengan emas.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25771 (8/311), para perawinya orang-orang tsiqat).</p>
<p>Akhirnya Al-Imam At-Tirmidzi –rahimahullah- menyimpulkan:</p>
<p dir="RTL">وَقَدْ رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ شَدُّوا أَسْنَانَهُمْ بِالذَّهَبِ وَفِي الْحَدِيثِ حُجَّةٌ لَهُمْ</p>
<p><strong><em>“Dan banyak ulama yang meriwayatkan bahwa mereka mengikat gigi-gigi mereka dengan emas. Dan di dalam hadits ini terdapat hujjah bagi mereka.”</em></strong> (Sunan At-Tirmidzi: 6/404).</p>
<p>Dan pendapat inilah yang mendekati kebenaran dan menjadi pendapat mayoritas ulama As-Salaf. Dan pendapat ini pula yang dipilih oleh para ulama Asy-Syafi’iyyah yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia.</p>
<p>Al-Allamah Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata:</p>
<p dir="RTL">(لَا أَنْفٌ وَأُنْمُلَةٌ) بِتَثْلِيثِ الْهَمْزَةِ وَالْمِيمِ (وَسِنٌّ) أَيْ لَا يَحْرُمُ اتِّخَاذُهَا مِنْ ذَهَبٍ عَلَى مَقْطُوعِهَا وَإِنْ أَمْكَنَ اتِّخَاذُهَا مِنْ الْفِضَّةِ الْجَائِزَةِ لِذَلِكَ بِالْأَوْلَى لِأَنَّهُ يَصْدَأُ غَالِبًا وَلَا يَفْسُدُ الْمَنْبَتُ وَلِأَنَّ {عَرْفَجَةَ بْنَ أَسْعَدَ قُطِعَ أَنْفُهُ يَوْمَ الْكُلَابِ&#8230;الخ</p>
<p>“Tidak (diharamkan bagi laki-laki) hidung, ruas-ruas jari (dengan tatslits huruf hamzah dan mim) dan juga gigi. Maksudnya adalah bahwa tidak haram menjadikan mereka (hidung, ruas jari dan gigi, pen) dari emas jika mereka terpotong. Walaupun masih dimungkinkan untuk menjadikan mereka dari perak yang lebih pantas untuk dibolehkan. Oleh karena emas dapat membersihkan karat dan tidak merusak tempat tumbuhnya organ dan juga karena Arfajah bin As’ad –radliyallahu anhu- terputus hidungnya ketika perang Kulab (kemudian Al-Bujairami membawakan hadits tentang kisah Arfajah)…dst.”  (Hasyiyah Al-Bujairami alal Minhaj: 5/207).</p>
<p>Dan yang senada dengan Al-Bujairami adalah Al-Allamah Syihabuddin Al-Qalyubi Asy-Syafi’i –rahimahullah-. Beliau membawakan keterangan yang sama dalam Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah: 5/123.</p>
<p>Demikianlah tulisan ini semoga memberikan tambahan ilmu dan pencerahan. Amien. Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/454/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=454&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/26/gigi-emas-untuk-laki-laki-bolehkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIKMAH DALAM DAKWAH</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/06/hikmah-dalam-dakwah/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/06/hikmah-dalam-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 03:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Islam]]></category>
		<category><![CDATA[bil hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[citra]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i. Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah. menyinggung]]></category>
		<category><![CDATA[menjinakkan]]></category>
		<category><![CDATA[menta'lif]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[HIKMAH DALAM DAKWAH Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Dakwah Salafiyyah adalah Dakwah Al-Islam itu sendiri. Ia memiliki banyak keutamaan dan keindahan. Namun keindahan dan keutamaannya akan tercoreng jika para juru dakwahnya tidak memiliki hikmah dalam mendakwahkannya. Ada seseorang yang dicitrakan negatif oleh masyarakatnya karena akhlaknya yang buruk kemudian memaksakan dirinya untuk berdakwah sehingga mereka mengesankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=447&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>HIKMAH DALAM DAKWAH</strong></p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Dakwah Salafiyyah adalah Dakwah Al-Islam itu sendiri. Ia memiliki banyak keutamaan dan keindahan. Namun keindahan dan keutamaannya akan tercoreng jika para juru dakwahnya tidak memiliki hikmah dalam mendakwahkannya.<span id="more-447"></span></p>
<p>Ada seseorang yang dicitrakan negatif oleh masyarakatnya karena akhlaknya yang buruk kemudian memaksakan dirinya untuk berdakwah sehingga mereka mengesankan dakwah salafiyyah dengan kesan buruk, seburuk akhlaknya.</p>
<p>Ada orang yang belum memahami prioritas dakwah tetapi memaksakan diri untuk berdakwah. Ketika di tengah-tengah masyarakat yang awam ia mendakwahkan untuk meninggalkan upacara bendera, alat musik dan memerintahkan mereka untuk memakai cadar dan lain-lainnya. Sehingga ia mendapatkan kesan jelek dari masyarakatnya yang masih awam tentang masalah tauhid dan As-Sunnah.</p>
<p>Kedua contoh di atas adalah sedikit contoh dakwah dengan tanpa hikmah.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk memulai dakwah dengan cara hikmah. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL">ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
<p><em>“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”</em> (QS. An-Nahl: 125).</p>
<p>Dan seorang dai akan mendapatkan kebaikan yang banyak ketika ia diberikan hikmah oleh Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا</p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.”</em> (QS. Al-Baqarah: 269).</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa pengertian <strong><em>dakwah bil-hikmah</em></strong> menurut ulama As-Salaf.</p>
<ul>
<li><strong>Hikmah adalah Citra Positif dan Akhlak Mulia pada Sang Da’i</strong></li>
</ul>
<p>Maksudnya adalah bahwa seorang da’i haruslah membuktikan dalam amal perbuatan atau akhlaknya sebelum ia memerintah atau melarang orang lain. Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">هي الإصابة في القول والفعل</p>
<p><strong><em>“Al-Hikmah adalah ketepatan dalam ucapan dan perbuatan.”</em></strong> (Tafsir Al-Qurthubi: 3/330).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وَأَمَّا الْحِكْمَةُ فِي الْقُرْآنِ : فَهِيَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ وَقَوْلُهُ وَالْعَمَلُ بِهِ</p>
<p>“Adapun pengertian <strong><em>‘Al-Hikmah’</em></strong> di dalam Al-Quran maka maksudnya adalah <strong><em>mengetahui Al-Haqq, berpendapat dengannya serta mengamalkannya</em></strong>.” (Majmu’ul Fatawa: 2/45).</p>
<p>Sehingga ketika seorang da’i ingin mendakwahi masyarakatnya maka hendaknya ia terlebih dahulu mengamalkan Al-Haqq tersebut serta berakhlak dengannya sehingga masyarakatnya mengenalnya sebagai orang yang bercitra positif. Seorang PNS yang bercitra negatif seperti sering membolos, tidak disiplin, sering absen rapat dll tidak dianjurkan mendakwahi rekan-rekan kerjanya sebelum memperbaiki citranya. Begitu pula seorang mantan <strong><em>‘bromocorah’</em></strong> yang bertaubat dan mengenal manhaj As-Salaf, tidak dianjurkan mendakwahi masyarakatnya sampai masyarakatnya mengenalnya sebagai orang berakhlak mulia dan bercitra positif. Jika kedua orang ini tetap ngotot berdakwah maka masyarakat akan menolak dakwah mereka dan akan mencitrakan Al-Islam dengan citra negatif.</p>
<p>Begitu pula para nabi alahimussalam, mereka sebelum berdakwah sudah dikenal oleh kaum mereka dengan kebaikan dan kemuliaan akhlak. Di antara mereka adalah Nabi Shaleh alaihissalam.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا</p>
<p><em>“Kaum Tsamud berkata: &#8220;Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan.”</em> (QS. Hud: 62).</p>
<p>Al-Allamah Al-Qurthubi rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">أي كنا نرجو أن تكون فينا سيدا قبل هذا؛ أي قبل دعوتك النبوة.</p>
<p>“Maksudnya adalah bahwa kami (kaum Tsamud) telah berharap agar kamu (Shaleh) menjadi pemimpin kami sebelum ini; sebelum pengakuanmu sebagai nabi.” (Tafsir Al-Qurthubi: 9/59).</p>
<p>Allamah As-Sa’di rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وهذا شهادة منهم، لنبيهم صالح، أنه ما زال معروفا بمكارم الأخلاق ومحاسن الشيم، وأنه من خيار قومه.</p>
<p>“Ini adalah persaksian dari mereka (kaum Tsamud) atas nabi mereka, yaitu Shaleh bahwa <strong><em>beliau selalu dikenal dengan kemuliaan akhlak dan kebaikan sifat.</em></strong> Dan bahwa beliau termasuk orang yang terbaik di kaumnya.” (Taisir Karimir Rahman: 384).</p>
<p>Begitu pula nabi-nabi lainnya alahimussalam, mereka adalah orang-orang yang berakhlak mulia dan memiliki citra positif di kalangan kaum mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ</p>
<p><em>“Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.”</em> (QS. Al-An’am: 85).</p>
<p>Al-Allamah As-Sa’di rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">{مِنَ الصَّالِحِينَ} في أخلاقهم وأعمالهم وعلومهم، بل هم سادة الصالحين وقادتهم وأئمتهم.</p>
<p>“Mereka (para nabi) adalah termasuk orang-orang yang shaleh dalam akhlak, perbuatan dan ilmu mereka. Bahkan mereka adalah pemimpin dan penghulu orang-orang yang shaleh.” (Taisir Karimir Rahman: 263).</p>
<p>Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menganjurkan umat beliau untuk ber-akhlak dengan akhlak para nabi alaihimus salam. Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">السَّمْتُ الْحَسَنُ وَالتُّؤَدَةُ وَالِاقْتِصَادُ جُزْءٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ</p>
<p><strong><em>“Kelakuan yang bagus, tidak tergesa-gesa dan sikap tengah-tengah (tidak ifrath dan tafrith) adalah 1 bagian dari dari 24 bagian kenabian.”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 1933 dan di-hasan-kan olehnya dari Abdullah bin Sarjis radliyallahu anhu dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 3010).</p>
<p>Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">أي هذه الخصال من شمائل أهل النبوة وجزء من أجزاء فضائلهم فاقتدوا بهم فيها وتابعوهم عليها</p>
<p><strong><em>“Maksudnya adalah perkara-perkara ini adalah termasuk kepribadian para nabi dan 1 bagian dari beberapa bagian keutamaan mereka maka teladanilah mereka dalam hal ini dan ikutilah mereka!”</em></strong> (Faidlul Qadir: 4/191).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan tidak ada seorang nabi pun didustakan dan dimusuhi oleh kaum mereka hanya semata-mata karena keburukan akhlak dan citra negatif mereka. Mereka dimusuhi karena keimanan dan dakwah mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ</p>
<p><em>“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”</em> (QS. Al-Buruj: 8).</p>
<ul>
<li><strong>Hikmah adalah Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya</strong></li>
</ul>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وأصح ما قيل في الحكمة انها وضع الشيء في محله</p>
<p>“Makna yang paling benar dari Al-Hikmah adalah bahwa <strong><em>Al-Hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.”</em></strong> (Fathul Bari: 7/205).</p>
<p>Termasuk dalam <strong><em>makna ini</em></strong> adalah bahwa seorang da’i harus memperhatikan berikut ini:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></strong>: <strong>Prioritas dakwah</strong></p>
<p>Hendaknya yang menjadikan prioritas pertama para da’i adalah berdakwah kepada tauhid dan aqidah yang benar. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu ke Yaman, beliau berpesan:</p>
<p dir="RTL">إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlul Kitab. Maka jadikanlah awal dakwahmu adalah mengajak mereka untuk men-tauhid-kan Allah!&#8230;”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 6824, Muslim: 28 dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma).</p>
<p>Demikian pula prioritas dakwah para rasul alahimussalam. Mereka juga mengutamakan dakwah tauhid. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ</p>
<p><em>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8221;.”</em> (QS. Al-Anbiya’: 25).</p>
<p>Demikian pula dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">أَخَذَ عَلَى هَذَا عَشْرَ سِنِينَ يَدْعُو إِلَى التَّوْحِيدِ، وَبَعْدَ الْعَشْرِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَفُرِضَتْ عَلَيْهِ الصَّلَواتُ الْخَمْسُ، وَصَلَّى فِي مَكَّةَ ثَلاثَ سِنِينَ، وَبَعْدَهَا أُمِرَ بالْهِجْرَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ،</p>
<p>“(Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) melakukan dakwah kepada tauhid selama 10 tahun (di Makkah). Setelah 10 tahun, beliau diangkat ke langit dan diwajibkan shalat 5 waktu atas beliau. Setelah itu beliau diperintahkan hijrah ke Madinah.” (Al-Utsuluts Tsalatsah: 11).</p>
<p>Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah menjelaskan:</p>
<p dir="RTL">أي : اخذ على الدعوة إلى التوحيد عشر سنين ، لم يأمر أحدا بصلاة ، ولا صوم ، ولا زكاة ، ولا شيء إذًا أن هذه الأشياء إنما فرضت بعد الهجرة ، إلا الصلاة فإنها فرضت قبل الهجرة بثلاث سنوات .</p>
<p>“Maksudnya bahwa beliau berdakwah kepada tauhid selama 10 tahun. Beliau tidak memerintahkan seorang pun untuk shalat, puasa, zakat dan tidak pula perintah yang lainnya. Karena ini semua hanyalah diwajibkan setelah hijrah, kecuali shalat yang diwajibkan 3 tahun sebelum hijrah.” (At-Ta’liqat ala Al-Utsuluts Tsalatsah: 45).</p>
<p>Demikian pula perintah lainnya seperti hijab, memelihara jenggot serta larangan-larangan seperti larangan riba, khamer dan sebagainya. Perintah dan larangan tersebut disyariatkan setelah hijrah setelah kuatnya fondasi tauhid dan aqidah.</p>
<p>Jika kaum muslimin generasi pertama saja menerima perintah dan larangan syariat ini secara bertahap setelah kokohnya aqidah mereka, maka apalagi masyarakat sekarang, maka lebih pantas untuk didakwahi secara bertahap.</p>
<p>Sehingga kita tidak pantas mengingkari<strong><em> seorang muslim yang baru mengenal manhaj As-Salaf –apalagi orang awam- </em></strong>karena mencukur jenggot, memanjangkan celana melebihi mata kaki, mengikuti upacara bendera, bermain musik dan lain-lain.<strong><em> Karena cara ini tidak sesuai dengan dakwah bil-Hikmah.</em></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua:</span></strong><strong> Tingkat pemahaman orang yang didakwahi</strong></p>
<p>Seorang da’i hendaknya mempertimbangkan tingkat pemahaman masyarakatnya. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ</p>
<p>“Ajarkan hadits kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka! Senangkah kalian jika Allah dan rasul-Nya didustakan?” (HR. Al-Bukhari: 124).</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً</p>
<p>“Kamu tidaklah menyampaikan hadits kepada suatu kaum dengan suatu hadits yang mana akal mereka belum menjangkaunya kecuali itu akan menjadi fitnah untuk sebagian mereka.” (HR. Muslim: 1/21).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وضابط ذلك أن يكون ظاهر الحديث يقوي البدعة وظاهره في الأصل غير مراد فالامساك عنه عند من يخشى عليه الأخذ بظاهره مطلوب</p>
<p>“Batasannya adalah jika zhahir hadits yang akan disampaikan itu akan memperkuat bid’ah (atau kesesatan, pen) sedangkan maksud sebenarnya adalah tidak demikian, maka sangat dianjurkan untuk tidak menyampaikan hadits kepada orang yang ditakutkan (baca: dicurigai) akan membawa hadits tersebut ke arah kesesatan.” (Fathul Bari: 1/45).</p>
<p>Sebagai contoh, kita tidak dianjurkan menyampaikan hadits tentang dosanya penguasa yang zhalim kepada para khawarij dan demonstran karena hadits itu akan digunakan oleh mereka untuk melegalkan aksi anarkis terhadap pemerintah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Ketiga:</span></strong><strong> Keadaan negara dan masyarakat dari kegiatan dakwah</strong></p>
<p>Termasuk hikmah dalam dakwah jika seorang da’i memperhatikan kebiasaan dan seluk beluk yang terjadi di daerah dakwah. Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">لَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الرُّومِ قِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَنْ يَقْرَءُوا كِتَابَكَ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَخْتُومًا فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ وَنَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَكَأَنَّمَا أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي يَدِهِ</p>
<p>“Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam ingin menulis surat ke Romawi (untuk mendakwahi pembesarnya, pen), maka dikatakan kepada beliau bahwa orang-orang Romawi tidak akan membaca surat beliau jika belum dibubuhi stempel (cap). Maka beliau menjadikan stempel (cincin) dari perak yang berukiran <strong><em>“Muhammad Rasul Allah”.</em></strong> Seolah-olah aku melihat pada putihnya cincin itu pada tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari: 5426, Muslim: 3902, An-Nasa’i: 5106).</p>
<p>Sebenarnya memberi stempel dan tidak memberi stempel merupakan urusan mubah. Tetapi karena masyarakat Romawi menganggap stempel sebagai urusan penting, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membubuhkan stempel pada surat dakwah beliau.</p>
<p>Demikian pula membangun yayasan dan tidak membangun yayasan merupakan urusan mubah. Tetapi karena pemerintah Indonesia mengharuskan adanya yayasan bagi siapapun yang melakukan aktivitas dakwah di negeri ini, maka kita harus mengikuti aturan tersebut.</p>
<p>Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">فالتنظيم أمر جاء به الشرع ولكنه مطلق، ومعنى: كلمة مطلق، أنه يخضع لما تقتضيه المصلحة في كل زمان ومكان، قد يكون تنظيمنا هنا في البلد مناسباً وصالحاً، ولكنه في بلد آخر لا يكون مناسباً ولا صالحاً، ولهم أنظمة خاصة بهم، فكل يراعي ما تحصل به المصلحة، وليس ذلك شيئاً محدثاً أو محرماً في الشرع، فإنه من الأمور التي جاءت السنة بمثله.</p>
<p><strong><em>“Pengorganisasian (dalam dakwah) adalah perkara yang dibawa oleh syariat, tetapi bersifat mutlak.</em></strong> Makna “mutlak” adalah bahwa perkara tersebut harus disesuaikan dengan kemaslahatan di setiap masa dan tempat. Kadang-kadang pengorganisasian kita di negeri ini adalah sesuai dan cocok. Tetapi di negeri lain tidak sesuai dan tidak cocok, dan mereka memiliki undang-undang sendiri yang khusus (seperti UU tentang yayasan, pen). Masing-masing harus menjaga maslahat di negerinya. Maka ini bukanlah perkara bid’ah atau diharamkan dalam syara’, karena As-Sunnah telah datang dengannya.” (Liqa’ul Babil Maftuh: pertemuan ke-51 halaman 19).</p>
<p>Termasuk dalam bab ini adalah memperhatikan masalah pakaian dan makanan. Maka  hendaknya si da’i tidak mencolok dan tampil beda di kalangan masyarakat negeri itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّحَابَةَ لَمَّا فَتَحُوا الْأَمْصَارَ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمْ يَأْكُلُ مِنْ قُوتِ بَلَدِهِ، وَيَلْبَسُ مِنْ لِبَاسِ بَلَدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقْصِدَ أَقْوَاتَ الْمَدِينَةِ وَلِبَاسَهَا،</p>
<p>“Dalil atas demikian adalah bahwa ketika para sahabat radliyallahu anhum menaklukkan berbagai negeri, maka masing-masing mereka memakan dengan makanan pokok negeri itu dan memakai pakaian negeri itu tanpa ada keinginan (dari mereka) untuk mendatangkan pakaian dan makanan pokok Madinah.” (Majmu’ul Fatawa: 2/157).</p>
<p>Suatu ketika Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah melihat seseorang menggunakan baju bergaris hitam dan putih. Maka beliau berkata kepada orang itu:</p>
<p dir="RTL">ضَعْ عَنْك هَذَا وَالْبَسْ لِبَاسَ أَهْلِ بَلَدِك. وَقَالَ لَيْسَ هُوَ بِحَرَامٍ وَلَوْ كُنْت بِمَكَّةَ أَوْ بِالْمَدِينَةِ لَمْ أَعِبْ عَلَيْك</p>
<p>“Lepaskan pakaianmu itu dan pakailah pakaian penduduk negerimu! Beliau juga berkata kepadanya: “Baju itu tidaklah haram, seandainya kamu di Makkah atau Madinah aku tidak akan mencelamu.” (Al-Adabusy Syar’iyyah: 232).</p>
<p>Dari sini Al-Allamah Ibnu Aqil Al-Hanbali rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">لَا يَنْبَغِي الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاس مُرَاعَاةً لَهُمْ وَتَأْلِيفًا لِقُلُوبِهِمْ ،  إلَّا فِي الْحَرَامِ إذَا  جَرَتْ عَادَتُهُمْ بِفِعْلِهِ</p>
<p><strong><em>“Tidak dianjurkan keluar dari kebiasaan suatu masyarakat dalam rangka menjaga perasaan dan menyatukan hati mereka kecuali dalam perkara haram yang sudah dibiasakan dalam masyarakat tersebut.”</em></strong> (Mathalib Ulin Nuha: 2/367).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keempat:</span></strong><strong> Tidak menyinggung atau mencela tokoh yang diagungkan oleh masyarakat yang didakwahi.</strong></p>
<p>Termasuk hikmah dalam dakwah adalah tidak menyinggung dan mencela tokoh yang diagungkan oleh masyarakat yang didakwahi. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّواْ اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ</p>
<p><em>“Dan janganlah kalian mencaci maki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”</em> (QS. Al-An’am: 108).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">حَرَّمَ سَبَّ الْآلِهَةِ مَعَ أَنَّهُ عِبَادَةٌ لِكَوْنِهِ ذَرِيعَةً إلَى سَبِّهِمْ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّ مَصْلَحَةَ تَرْكِهِمْ سَبَّ اللَّهِ سُبْحَانَهُ رَاجِحَةٌ عَلَى مَصْلَحَةِ سَبِّنَا لِآلِهَتِهِمْ.</p>
<p><strong><em>“Allah mengharamkan mencaci maki sesembahan kaum musyrikin padahal </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">mencela sesembahan mereka adalah suatu ibadah</span></strong><strong><em>. Ini karena mencela sesembahan mereka menjadi sebab mereka mencaci maki Allah Azza wa Jalla, karena kemaslahatan mereka tidak mencaci maki Allah itu lebih kuat daripada kemaslahatan kita mencaci maki sesembahan mereka.” </em></strong>(6/174).</p>
<p>Dan diceritakan oleh Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh bahwa Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pernah mendatangi kubah Zaid bin Al-Khaththab yang dikeramatkan oleh kaum kuburiyyun. <strong><em>Beliau tidaklah menyatakan: “Ini adalah syirik.” Tetapi beliau berkata: “Allah itu lebih baik daripada Zaid (bin Al-Khaththab).”</em></strong> (Syarh Kasyfusy Syubhat: 457).</p>
<p>Demikian pula mencela dan meng-ghibah para ahlul bid’ah, dan tokoh kesesatan lainnya merupakan ibadah, karena di dalamnya terdapat nasehat untuk menjauhi kesesatan dan para tokohnya. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya:</p>
<p dir="RTL">الرجل يصوم ويعتكف أحب إليك ، أو يتكلم في أهل البدع ؟ فقال : إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه ، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل</p>
<p>“Mana yang lebih kamu cintai, seseorang berpuasa dan melakukan i’tikaf ataukah  membicarakan kesesatan ahlul bid’ah?” Beliau menjawab: “Jika ia melakukan shalat, puasa dan i’tikaf maka itu hanya bermanfaat untuk dirinya. <strong><em>Dan jika ia membicarakan kejelekan dan kesesatan ahlul bid’ah, maka itu bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan ini lebih utama.”</em></strong> (Majmu’ul Fatawa: 28/231).</p>
<p>Akan tetapi ketika ahlul bid’ah atau tokoh kesesatan tersebut merupakan tokoh yang diagungkan dan diidolakan oleh masyarakat yang kita dakwahi, maka mencela tokoh tersebut di depan mereka bukanlah termasuk dakwah bil hikmah. Karena ini akan memunculkan kerusakan yang lebih besar, yaitu larinya mereka dari dakwah As-Salaf dan mereka akan membalas dengan mencaci maki ulama ahlussunnah.</p>
<p>Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu anha berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ</p>
<p>“Ada seseorang meminta ijin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata: <strong><em>“Ijinkanlah dia masuk! Ia adalah sejelek-jelek sanak saudara.”</em></strong> Ketika orang itu masuk maka beliau melembutkan ucapan kepadanya. Ketika orang itu sudah pergi maka aku bertanya kepada beliau: <strong><em>“Wahai Rasulullah! Engkau berkata demikian (menjelek-jelekkan orang itu, pen) kemudian engkau melembutkan ucapan kepadanya?”</em></strong> Maka beliau menjawab: <strong><em>“Wahai Aisyah! Sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah seseorang yang dijauhi oleh manusia karena takut akan kejahatannya.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 5666, Muslim: 4693, At-Tirmidzi: 1919).</p>
<p>Al-Allamah Al-Mubarakfuri rahimahullah mengutip ucapan Al-Qurthubi rahimahullah:</p>
<p dir="RTL">فيه جواز غيبة المعلن بالفسق أو الفحش ونحو ذلك مع جواز مداراتهم اتقاء شرهم ما لم يؤد ذلك إلى المداهنة</p>
<p>“Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya meng-ghibah orang yang melakukan kefasikan secara terang-terangan dan sebagainya, dan bolehnya bersikap lemah lembut di depan orang itu untuk menolak bahayanya selagi tidak sampai kepada perbuatan basa-basi.” (Tuhfatul Ahwadzi: 6/113).</p>
<p>Ketika mendakwahi Abu Jahal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilnya dengan nama aslinya yaitu Abul Hakam. Al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">إنَّ أَوَّلَ يَوْمٍ عَرَفْتُ فِيهِ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي أَمْشِي مَعَ أَبِي جَهْلٍ بِمَكَّةَ ، فَلَقِينَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ لَهُ : يَا أَبَا الْحَكَمِ ، هَلُمَّ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ وَإِلَى كِتَابِهِ أَدْعُوك إِلَى اللهِ ،</p>
<p>“Sesungguhnya awal hari aku mengenal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ketika aku berjalan bersama Abu Jahal di Makkah. Kemudian kami bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata kepada Abu Jahal: <strong><em>“Wahai Abul Hakam! Marilah kepada Allah, rasul-Nya dan kibab-Nya! Aku mengajakmu kepada Allah,”</em></strong> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 36979 (14/91) dan lihat pula Shahih As-Sirah An-Nabawiyah karya Al-Albani hal: 162).</p>
<p>Abul Hakam itu ditokohkan oleh masyarakat kafir Makkah. Mereka menamainya Abul Hakam (bapak kebijaksanaan). Tetapi karena menolak dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka kaum muslimin menjulukinya dengan Abu Jahal (bapak kebodohan). Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap memanggilnya Abul Hakam di depan orang kafir Makkah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelima:</span></strong><strong> Kondisi jiwa dan fisik orang yang didakwahi</strong></p>
<p>Termasuk dakwah bil hikmah jika seorang da’i memperhatikan kondisi jiwa dan fisik kaum yang ia dakwahi. Malik bin Huwairits radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ</p>
<p>“Kami mendatangi Nabi shallahu alaihi wasallam. Kami masih berusia pemuda yang sebaya. Kemudian kami bermukim di sisi beliau selama 20 malam. Maka beliau mengira bahwa kami <strong><em>sudah rindu</em></strong> terhadap keluarga kami dan beliau menanyakan keadaan mereka yang kami tinggalkan. Maka kami menceritakan keadaan mereka kepada beliau dan adalah beliau seorang yang lembut dan penyayang. Kemudian beliau berkata: <strong><em>“Pulanglah kalian ke keluarga kalian! Perintahkan dan ajarilah mereka! Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melakukan shalat! Dan jika waktu shalat telah tiba maka hendaknya salah seorang kalian melakukan azan kemudian yang paling tua hendaknya menjadi imam untuk kalian!”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 5549, Muslim: 1080, An-Nasa’i: 631).</p>
<p>Al-Imam Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا</p>
<p><strong><em>“Adalah Rasulullah shallahu alaihi wasallam men-jarang-kan pemberian nasehat karena takut menjadikan kami bosan.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 5932, Muslim: 5048).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:</p>
<p dir="RTL">وفيه رفق النبي صلى الله عليه و سلم بأصحابه وحسن التوصل إلى تعليمهم وتفهيمهم ليأخذوا عنه بنشاط لا عن ضجر ولا ملل</p>
<p>“Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang sifat lemah lembut Nabi shallahu alaihi wasallam kepada para sahabat beliau serta bagusnya pencapaian beliau dalam mengajari dan memahamkan mereka agar mereka dapat mengambil ilmu dari beliau dengan rasa semangat bukan dengan rasa gelisah dan bosan.” (Fathul Bari: 11/228).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keenam:</span></strong><strong> Antara orang awam dan orang yang sudah berilmu</strong></p>
<p>Seorang da’i hendaknya melihat apakah orang yang didakwahinya itu adalah orang awam ataukah seorang yang sudah berilmu. Orang awam harus didakwahi dengan lemah lembut. Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ</p>
<p>“Seorang Arab baduwi datang dan kencing di pojok masjid. <strong><em>Maka orang-orang pun menghardiknya dan Rasulullah shallahu alaihi wasallam melarang mereka (dari menghardiknya, pen).</em></strong> Setelah ia menyelesaikan kencingnya, Rasulullah shallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk menyirami tempat tersebut dengan setimba besar air.” (HR. Al-Bukhari: 214, Muslim: 429).</p>
<p>Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ&#8230;الخ</p>
<p>“Suatu ketika aku melakukan shalat bersama Rasulullah shallahu alaihi wasallam. Tiba-tiba ada seseorang yang bersin. Maka aku berkata: <strong><em>“Semoga Allah merahmatimu.”</em></strong> Maka orang-orang memelototiku dengan pandangan mereka. Aku berkata: <strong><em>“Celaka ibuku, mengapa kalian memelototiku seperti ini?”</em></strong> Dan mereka mulai memukulkan tangan-tangan mereka pada paha-paha mereka. Ketika aku melihat mereka memerintahkan aku agar diam (dengan isyarat, pen) (dan aku pun murka, pen) tetapi aku diam (tidak berkata karena mereka lebih tahu dariku). Ketika Rasulullah shallahu alaihi wasallam selesai melakukan shalat, maka demi Allah! Bapak dan ibuku sebagai jaminannya, <strong><span style="text-decoration:underline;">Aku tidaklah melihat sosok pengajar yang lebih bagus daripada beliau sebelum dan sesudah beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukulku dan tidak mencaci-maki kepadaku</span></strong>. Beliau berkata: <strong><em>“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas diisi dengan pembicaraan manusia. Yang mengisinya hanyalah bacaan tasbih, takbir dan membaca Al-Quran.”</em></strong> Aku berkata: <strong><em>“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami ini masih dekat dengan masa jahiliyah dan Allah benar-benar datang dengan Al-Islam…dst</em></strong>.” (HR. Muslim: 836, An-Nasa’i: 1203).</p>
<p>Al-Allamah Ash-Shan’ani berkata:</p>
<p dir="RTL">ومنها: الرفق بالجاهل وعدم التعنيف،</p>
<p>“Termasuk dari faedah hadits ini bersikap lemah lembut dan tidak berlaku keras kepada orang bodoh (awam).” (Subulus Salam: 1/25).</p>
<p>Adapun kepada orang sudah berilmu maka Rasulullah shallahu alaihi wasallam kadang-kadang bersikap keras dan murka. Aisyah radliyallahu anha berkata:</p>
<p dir="RTL">دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ قِرَامٌ فِيهِ صُوَرٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ وَقَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ</p>
<p>“Nabi shallahu alaihi wasallam memasuki rumah. Di rumah terdapat kain tabir tipis yang di dalamnya ada gambar makhluk bernyawa. <strong>Maka beliau berubah wajahnya (karena marah) kemudian mengambil tirai dan merobek-robeknya</strong>. Beliau bersabda: <strong><em>“Sesungguhnya termasuk orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar seperti ini.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 5644, Muslim: 3936).</p>
<p>Abu Mas’ud Uqbah bim Amr Al-Anshari radliyallahu anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا قَالَ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ أَشَدَّ غَضَبًا فِي مَوْعِظَةٍ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ قَالَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ فِيهِمْ الْمَرِيضَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ</p>
<p>“Seseorang mendatangi Nabi shallahu alaihi wasallam dan berkata<strong><em>: “Sesungguhnya aku mengakhirkan shalat shubuh (tidak ikut berjamaah, pen) karena Si Fulan yang memanjangkan bacaannya (ketika mengimami) atas kami.”</em></strong> Abu Mas’ud berkata: <strong><em>“Maka aku belum pernah melihat Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam keadaan sangat murka dalam memberikan nasihat yang melebihi murka beliau pada hari itu.”</em></strong> Beliau bersabda<strong><em>: “Wahai manusia! Sesungguhnya di antara kalian ada yang suka membuat lari orang. Maka jika salah seorang  dari kalian mengimami shalat manusia, maka hendaknya dipercepat (jangan lama-lama, pen)! Karena di antara mereka ada orang sakit, orang tua dan orang yang mempunyai keperluan</em></strong>.” (HR. Al-Bukhari: 5645, Muslim: 713, Ibnu Majah: 974 dan Ad-Darimi: 1259).</p>
<p>Aisyah dan Si Fulan -sang imam- radliyallahu anhuma pantas mendapatkan murka dari Nabi shallahu alaihi wasallam karena keduanya adalah orang yang berilmu sehingga tidak pantas melakukan kesalahan tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Ketujuh:</span></strong><strong> Antara pemerintah dan masyarakatnya</strong></p>
<p>Seorang dai hendaknya bisa membedakan antara berdakwah kepada pemerintah dan kepada masyarakat biasa. Pemerintah memiliki hak yang tidak dimiliki oleh rakyat biasa, yaitu hak untuk didengar dan ditaati oleh rakyatnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.”</em> (QS. An-Nisa’: 59).</p>
<p>Di antara hak pemerintah adalah <strong><em>ia berhak dinasehati dengan lemah lembut</em></strong>. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p dir="RTL">فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى</p>
<p><em>“Maka berbicaralah kamu berdua (wahai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”</em> (QS. Thaha: 44).</p>
<p>Di antara hak pemerintah adalah <strong><em>ia berhak dinasehati secara sembunyi-sembunyi</em></strong>. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ</p>
<p><strong><em>“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan nasehatnya secara terang-terangan! Tetapi hendaknya ia mengambil tangannya dan bersendirian dengannya. Kalau penguasa tersebut menerima nasehatnya maka sudah sepantasnya dan kalau ia menolak maka si penasehat sudah menyampaikan tugasnya.”</em></strong> (HR. Ahmad: 14792, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah: 909 (3/101) dari Iyadl bin Ghanm radliyallahu anhu dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096).</p>
<p>Maka orang mendakwahi pemerintahnya secara terang-terangan dan dengan kata-kata kasar seperti mampus, ganyang, sikat dsb berarti <strong><em>tidak berdakwah bil hikmah</em></strong>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedelapan:</span></strong><strong> menjinakkan (menta’lif) hati masyarakat jika mereka ingin yang ringan-ringan</strong></p>
<p>Adakalanya seorang dai menempuh suatu cara untuk melunakkan hati masyarakat agar mudah menerima dakwah. Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وقد كان أحيانا يتآلف على الإسلام من يريد أن يسامح بترك بعض حقوق الإسلام ، فيقبل منهم الإسلام ، فإذا دخلوا فيه رغبوا في الإسلام فقاموا بحقوقه وواجباته كلها</p>
<p>“Dan kadang-kadang Rasulullah shallahu alaihi wasallam berusaha menta’lif (baca: melunakkan hati) orang yang ingin diberi keringanan untuk tidak melaksanakan sebagian kewajiban Al-Islam agar menerima Al-Islam dulu. Baru setelah ia menerimanya dan masuk ke dalamnya serta mencintai Al-Islam maka ia akan melaksanakan segala kewajiban dalam Al-Islam semuanya.” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 3/32).</p>
<p>Dari Abdullah bin Fadlalah dari ayahnya radliyallahu anhuma, ia berkata:</p>
<p dir="RTL">عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ فِيمَا عَلَّمَنِي وَحَافِظْ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ قَالَ قُلْتُ إِنَّ هَذِهِ سَاعَاتٌ لِي فِيهَا أَشْغَالٌ فَمُرْنِي بِأَمْرٍ جَامِعٍ إِذَا أَنَا فَعَلْتُهُ أَجْزَأَ عَنِّي فَقَالَ حَافِظْ عَلَى الْعَصْرَيْنِ وَمَا كَانَتْ مِنْ لُغَتِنَا فَقُلْتُ وَمَا الْعَصْرَانِ فَقَالَ صَلَاةُ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَصَلَاةُ قَبْلَ غُرُوبِهَا</p>
<p>“Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah mengajariku. Dan termasuk yang diajarkan oleh beliau adalah: <strong><em>“Jagalah shalat 5 waktu.”</em></strong> Fadlalah berkata: <strong><em>“Ini adalah waktu-waktu yang mana aku dalam kesibukan. Perintahkanlah aku dengan perkara yang ringkas dan menyeluruh, yang mana jika aku melakukannya maka itu sudah mencukupkanku (dari shalat 5 waktu)!”</em></strong> Beliau bersabda: <strong><em>“Jagalah 2 ashar –dan itu bukanlah dari bahasa kami-!”</em></strong> Aku bertanya: <strong><em>“Apakah 2 ashar itu?”</em></strong> Beliau menjawab: <strong><em>“Shalat sebelum terbitnya matahari (shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya (ashar).”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 364 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam  Shahih wa Dlaif Sunan Abi Dawud: 428).</p>
<p>Dalam sebuah riwayat Nashr bin Ashim:</p>
<p dir="RTL">أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاتَيْنِ فَقَبِلَ مِنْهُ</p>
<p>“Ia akhirnya mendatangi Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan masuk Islam dengan diberi beban shalat 2 waktu. Dan beliau menerima Islamnya.” (HR. Ahmad: 22001, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Musnadnya: 997 (3/280)).</p>
<p>Al-Imam Ahmad berkata:</p>
<p dir="RTL">إذا أسلم على أن يصلي صلاتين يقبل منه، فإذا دخل يؤمر بالصلوات الخمس، وذكر حديث قتادة عن نصر بن عاصم الذي تقدم.</p>
<p>“Jika ia mau masuk Islam dengan syarat hanya melakukan shalat 2 waktu maka diterima Islamnya. Jika ia sudah masuk Islam maka ia diperintahkan melakukan shalat 5 waktu. Kemudian beliau membawakan hadits di atas…” (Fathul Bari li Ibni Rajab: 3/33).</p>
<p>Termasuk upaya ta’lif adalah kisah kaum Tsaqif. Mereka mau berbaiat masuk Islam dengan syarat tanpa kewajiban zakat dan jihad. Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">سَأَلْتُ جَابِرًا عَنْ شَأْنِ ثَقِيفٍ إِذْ بَايَعَتْ قَالَ اشْتَرَطَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا صَدَقَةَ عَلَيْهَا وَلَا جِهَادَ وَأَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ يَقُولُ سَيَتَصَدَّقُونَ وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا</p>
<p>“Aku bertanya kepada Jabir radliyallahu anhu tentang keadaan Tsaqif ketika berbaiat. Jabir berkata: <strong><em>“Mereka mempersyaratkan  kepada Nabi shallahu alaihi wasallam untuk masuk Al-Islam tanpa kewajiban zakat dan jihad.”</em></strong> Kemudian Jabir mendengar Nabi shallahu alaihi wasallam berkata setelahnya: <strong><em>“Mereka akan mau membayar zakat dan ikut berjihad jika telah masuk Islam.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 2630 dan Ahmad: 14146 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 1888).</p>
<p>Termasuk upaya ta’lif adalah kisah Hakim bin Hizam radliyallahu anhu. Ia berkata:</p>
<p dir="RTL">بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا أَخِرَّ إِلَّا قَائِمًا</p>
<p><strong><em>“Aku berbaiat  kepada Rasulullah shallahu alaihi wasallam (untuk masuk Islam) dengan syarat tidaklah bersujud kecuali dengan berdiri.”</em></strong> (HR. An-Nasa’i: 1074 dan Ahmad: 14773 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih wa Dlaif Sunan An-Nasa’i: 1084).</p>
<p>Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">مَعْنَى حَدِيثِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ: {بَايَعْت النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنْ لَا أَخِرَّ إلَّا قَائِمًا}أَنَّهُ لَا يَرْكَعُ فِي الصَّلَاةِ ، بَلْ يَقْرَأُ ثُمَّ يَسْجُدُ مِنْ غَيْرِ رُكُوعٍ .</p>
<p>“Makna hadits Hakim bin Hizam di atas adalah bahwa <strong><em>ia tidak melakukan ruku’ dalam shalat, tetapi membaca Al-Quran kemudian bersujud tanpa melakukan ruku’.”</em></strong> (Al-Mughni: 21/282).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وأخذ الإمام أحمد بهذه الأحاديث وقال يصح الإسلام على الشرط الفاسد ثم يلزم بشرائع الإسلام كلها</p>
<p><strong><em>“Al-Imam Ahmad menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran dan berkata: “Al-Islam tetap sah di atas persyaratan yang rusak kemudian (setelah masuk Islam) ia diwajibkan melaksanakan segala syariat Islam.”</em></strong> (Jami’ul Ulum wal Hikam: 84).</p>
<p>Lalu bagaimanakah dengan orang yang mau menjadi seorang Salafi atau mengikuti kajian Ahlussunnah dengan syarat tetap diperbolehkan mencukur jenggot atau merokok? Maka lebih pantas untuk diterima dengan syarat diajari dengan manhaj yang benar setelah itu. Tetapi jika ia memilih manhaj As-Salaf dengan kemantapan hati dan semangat mencari Al-Haqq, maka <strong><em>tidak perlu dita’lif</em></strong>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kesembilan:</span></strong> <strong>Rela meninggalkan sesuatu yang lebih afdlal dalam rangka melunakkan hati masyarakat dan menjaga persatuan mereka. </strong></p>
<p>Ini dilakukan dengan syarat bahwa perkara yang ia tinggalkan bukanlah perkara wajib tetapi anjuran biasa.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وَلِذَلِكَ اسْتَحَبَّ الْأَئِمَّةُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ أَنْ يَدَعَ الْإِمَامُ مَا هُوَ عِنْدَهُ أَفْضَلُ، إذَا كَانَ فِيهِ تَأْلِيفُ الْمَأْمُومِينَ، مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ فَصْلُ الْوِتْرِ أَفْضَلَ، بِأَنْ يُسَلِّمَ فِي الشَّفْعِ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةَ الْوِتْرِ، وَهُوَ يَؤُمُّ قَوْمًا لَا يَرَوْنَ إلَّا وَصْلَ الْوِتْرِ، فَإِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ إلَى الْأَفْضَلِ كَانَتْ الْمَصْلَحَةُ الْحَاصِلَةُ بِمُوَافَقَتِهِ لَهُمْ بِوَصْلِ الْوِتْرِ أَرْجَحَ مِنْ مَصْلَحَةِ فَصْلِهِ مَعَ كَرَاهَتِهِمْ لِلصَّلَاةِ خَلْفَهُ، وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ مِمَّنْ يَرَى الْمُخَافَتَةَ بِالْبَسْمَلَةِ أَفْضَلُ، أَوْ الْجَهْرُ بِهَا، وَكَانَ الْمَأْمُومُونَ عَلَى خِلَافِ رَأْيِهِ، فَفِعْلُ الْمَفْضُولِ عِنْدَهُ لِمَصْلَحَةِ الْمُوَافَقَةِ وَالتَّأْلِيفِ الَّتِي هِيَ رَاجِحَةٌ عَلَى مَصْلَحَةِ تِلْكَ الْفَضِيلَةِ كَانَ جَائِزًا حَسَنًا.</p>
<p>“Oleh karena itu para imam seperti Al-Imam Ahmad dan lainnya menganjurkan agar seorang imam tidak melakukan amalan yang itu lebih utama menurut dirinya (tetapi kurang utama menurut makmum), jika di dalamnya ada maslahat menyatukan hati makmum. Seperti jika menurutnya melakukan salam dalam 2 rakaat kemudian menambah 1 rakaat witir kemudian salam itu lebih utama, maka ia dapat menyambung witir 3 rakaat dengan sekali salam jika ia sedang meng-imami makmum yang tidak berpendapat kecuali menyambung witir dengan sekali salam. Kalau ia tidak mampu maju kepada hal yang lebih utama, maka mencocoki makmum dengan menyambung witir itu lebih utama daripada maslahat memisah witir tersebut dalam keadaan makmum tidak suka diimami oleh orang itu. Demikian pula jika sang imam berpendapat bahwa men-sirri-kan (memelankan) bacaan basmalah itu lebih utama, maka mengeraskan bacaan basmalah di depan makmum yang berpendapat lebih utamanya men-jahr-kan basmalah untuk maslahat mencocoki dan melunakkan hati makmum adalah diperbolehkan dan baik.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 2/355).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menunda membangun Ka’bah sesuai dengan bangunan Nabi Ibrahim alaihissalam dan berkata kepada Aisyah radliyallahu anha:</p>
<p dir="RTL">لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ</p>
<p><strong><em>“Seandainya kaummu tidak baru masuk Islam maka aku akan membongkar Ka’bah dan aku akan menjadikannya di atas fondasi Ibrahim.”</em></strong> (HR. Muslim: 2367, An-Nasa’i: 2852, Ad-Darimi: 1868 dari Aisyah  radliyallahu anha).</p>
<p>Itulah sekelumit penjabaran dari Al-Hikmah dalam dakwah. Kalau tidak takut menghabiskan waktu tentulah Penulis akan memperpanjang lagi Insya Allah.</p>
<p><strong>Penutup </strong></p>
<p>Ilmu yang dikuasai seorang dai tidak sebatas pada perkara yang ia dakwahkan, halal, wajib ataukah haram. Ia juga harus berilmu tentang dakwah itu sendiri agar Al-Islam semakin tampak indah di tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=447&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2012/01/06/hikmah-dalam-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menukil Kebenaran dari Ahlul Bid’ah, Bolehkah?</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2011/11/04/menukil-kebenaran-dari-ahlul-bid%e2%80%99ah-bolehkah/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2011/11/04/menukil-kebenaran-dari-ahlul-bid%e2%80%99ah-bolehkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 00:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Ghirbani]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Halabi]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hilali]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[hujjah]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[Menukil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tarikh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[(Menyingkap Syubhat Kebatilan Saudara Abu Muawiyah Hammad) Oleh: dr. M Faiq Sulaifi الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد Alhamdulillah, penulis sudah menghentikan penyebaran beberapa edisi (beberapa bulan) dari Majalah Akhwat di kalangan Salafiyyin Tuban dan Lamongan. Beberapa sebabnya adalah karena syubhat-syubhat yang dimuat dalam majalah ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=442&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">(Menyingkap Syubhat Kebatilan Saudara Abu Muawiyah Hammad)</p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p align="center">الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد</p>
<p>Alhamdulillah, penulis sudah menghentikan penyebaran beberapa edisi (beberapa bulan) dari Majalah Akhwat di kalangan Salafiyyin Tuban dan Lamongan. Beberapa sebabnya adalah karena syubhat-syubhat yang dimuat dalam majalah ini. Syubhat terakhir adalah kerancuan dan kebatilan yang dikandung oleh Saudara Abu Muawiah dalam tulisannya yang dimuat oleh situs <strong><em>Al-Atsariyyah.com</em></strong> yang berjudul <strong>Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah. </strong></p>
<p>Saudara Abu Muawiah menyimpulkan dalam tulisan tersebut: <em></em></p>
<p><em>&#8220;Adapun dari sisi hukum syar’i keagamaan, maka jawabannya sebenarnya juga sudah jelas, <strong>yakni boleh menukil ucapan selain ahlussunnah selama itu merupakan kebenaran</strong> dan itu tidak menunjukkan ahlussunnah tersebut mentazkiyah (merekomendasi) selain ahlussunnah tersebut.&#8221;<span id="more-442"></span></em><em></em></p>
<p>Ucapan Saudara Abu Muawiah di atas adalah sesuatu yang besar di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ</p>
<p><strong><em> “(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”</em></strong> (QS. An-Nur: 15).</p>
<p>Untuk itu perlu dibedah dan diterangkan kepada ummat tentang bahayanya .</p>
<p align="center"><strong></strong><strong>ANTARA MENERIMA KEBENARAN &amp; MENCARI KEBENARAN </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Mengambil kebenaran haruslah dari ahlinya yaitu para ulama rabbani yang lurus manhajnya. Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ</p>
<p><strong><em>“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada kalian; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em></strong> (QS. Yasin: 21).</p>
<p>Allah U juga berfirman:</p>
<p dir="RTL">أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ</p>
<p><strong><em> </em></strong><strong><em>“Mereka (para nabi) itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.”</em></strong> (QS. Al-An’am: 90).</p>
<p>Rasulullah e juga memberitakan tanda-tanda hari kiamat, yang di antaranya adalah banyaknya orang mengambil (baca: copas/copy paste) ilmu agama dari ahlul bid’ah. Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">إن من أشراط الساعة ثلاثة إحداهن أن يلتمس العلم عند الأصاغر</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya termasuk tanda hari kiamat ada 3, salah satunya adalah diambilnya ilmu dari orang-orang kecil.”</em></strong> (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 18760 (22/361), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah: 6077 (19/392) dan lain-lain. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 695).</p>
<p>Al-Imam Ibnul Mubarak ? ditanya:</p>
<p dir="RTL">من الأصاغر؟ قال: أهل البدع</p>
<p><strong><em>“Siapakah orang-orang kecil itu?”</em></strong> Beliau menjawab: <strong><em>“Ahlul bid’ah.”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Khathib dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’: 161 (1/180)).</p>
<p>Dan masih banyak teks dalam Al-Quran maupun As-Sunnah yang sejenis. Semuanya membawa kepada satu kesimpulan yaitu <strong><em>wajibnya pilih-pilih di dalam mencari kebenaran</em></strong>. Kebenaran hanyalah dicari dan diteladani dari mereka yang mengikuti manhaj para nabi dan salafush shalih baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah dan sebagainya. Kita dilarang mencari kebenaran dari semua orang yang kita kenal.</p>
<p>Oleh karena itu Al-Imam Ibnu Sirin ? berkata:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka hendaknya kalian melihat dari siapa kalian mengambil ilmu agama kalian.”</em></strong> (Atsar riwayat Muslim dalam Shahihnya: 1/33 dan Ad-Darimi dalam Sunannya: 419).</p>
<p><strong><em>Dan menukil keterangan atau kebenaran dari pengusung hawa nafsu adalah termasuk dalam Bab mengambil kebenaran dari mereka. </em></strong></p>
<p>Oleh karena itu para ulama melarang kita membaca dan melihat-lihat isi kitab-kitab ahlul bid’ah apalagi menukilnya dan menjadikannya sebagai sumber rujukan.</p>
<p>Sa’id bin Amr Al-Bardza’i ? berkata:</p>
<p dir="RTL">شهدت أبا زرعة وسئل عن الحارث المحاسبي وكتبه فقال للسائل إياك وهذه الكتب هذه كتب بدع وضلالات عليك بالأثر فإنك تجد فيه ما يغنيك عن هذه الكتب</p>
<p>“Aku menyaksikan Al-Imam Abu Zur’ah dan beliau ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasibi (tokoh sufi) dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya: <strong><em>“Jauhilah kitab-kitab ini! Ini adalah kitab-kitab bid’ah dan kesesatan. Wajib atasmu berpegang pada atsar (As-Salaf)! Karena kamu akan mendapatkan sesuatu yang mencukupi dari kitab-kitab tersebut.”</em></strong> (Tarikh Baghdad: 8/215, Siyar A’lamin Nubala’: 12/112).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi ? berkata:</p>
<p dir="RTL">ومن السنة: هجران أهل البدع ومباينتهم، وترك الجدال والخصومات في الدين، وترك النظر في كتب المبتدعة، والإصغاء إلى كلامهم، وكل محدثة في الدين بدعة</p>
<p>“Dan termasuk dari As-Sunnah adalah memboikot dan menjauhi ahlul bid’ah, tidak mengadakan perdebatan dalam Ad-Dien, <strong><em>tidak melihat (apalagi menukil, pen) dalam kitab-kitab ahlul bid’ah, dan tidak mendengarkan ucapan mereka.</em></strong> Setiap perkara baru dalam Ad-Dien adalah bid’ah.” (Lum’atul I’tiqad: 32).</p>
<p>Jika melihat dan membaca-baca kitab tokoh-tokoh sesat saja terlarang, maka menukil dan menjadikannya sebagai rujukan adalah lebih terlarang lagi.</p>
<p>Dan inilah yang tampak dari maksud <strong><em>“menukil”</em></strong> dalam artikel Saudara Abu Muawiah. Yaitu meng-copas tulisan <strong><em>“orang-orang yang bermasalah”</em></strong> kemudian disejajarkan dengan keterangan ulama As-Sunnah dalam suatu bab pembahasan kebenaran.</p>
<p>Sebagai contoh adalah penukilan Saudara Abu Muawiah terhadap keterangan Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi Al-Murji’i dalam situs Kullal Salafiyyin<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> dalam Bab ini. Begitu juga <strong><em>majalah Akhwat</em></strong> yang menjadi binaannya juga menukil keterangan Salim Al-Hilali <em>hadahullah </em>tetapi dengar “gelar”<em> </em>kemuliaan<em> hafizhahullah</em>.</p>
<p>Khusus untuk Ali Hasan Al-Halabi, Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ dalam fatwanya nomor: 21517 yang ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh (ketua), Abdullah Ghudayyan (anggota), Shalih Fauzan (anggota) dan Bakar Abu Zaid (anggota) menyatakan:</p>
<p dir="RTL">لهذا فإن اللجنة الدائمة ترى أن هذين الكتابين لا يجوز طبعهما ولا نشرهما ولا تداولهما ؛ لما فيهما من الباطل والتحريف ، وننصح كاتبهما أن يتقي الله في نفسه وفي المسلمين ، وبخاصة شبابهم ، وأن يجتهد في تحصيل العلم الشرعي على أيدي العلماء الموثوق بعلمهم وحسن معتقدهم ،</p>
<p>“Oleh karena itu (alasan berisi pemahaman Murjiah, pemutarbalikan ucapan ulama, dsb, pen), Al-Lajnah Ad-Daimah berpendapat bahwa kedua kitab tersebut  (Shaihatu Nadzir dan At-Tahdzir min Fitnatit Takfir tulisan Ali Hasan Al-Halabi, pen) tidak boleh dicetak, tidak boleh disebarkan dan diedarkan, karena di dalamnya terkandung kebatilan dan pemutarbalikan (dalil). Dan kami menasehati penulisnya (Ali Al-Halabi) untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, khususnya para pemuda mereka. Dan hendaknya ia (Ali Al-Halabi) bersungguh-sungguh untuk belajar ilmu syar’i melalui tangan para ulama yang tsiqat keilmuannya dan bagus aqidahnya…” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’ah Ats-Tsaniyah nomor: 21517 (2/137)).</p>
<p>Ternyata peringatan dari Al-Lajnah Ad-Daimah ini tidak membuat Ali Hasan bertaubat dari bid’ah murji’ahnya. Ia justru menggalang dukungan dari Markiz Al-Albani untuk membantah Al-Lajnah Ad-Daimah. Akhirnya Markiz Al-Albani menerbitkan buku yang berjudul “Mujmal Masa’il Al-Iman” yang disusun secara patungan oleh Masyayikh Yordania seperti: Muhammad Musa Nashr, Ali Hasan, Salim Al-Hilali, Masyhur Hasan Salman, Husain Al-Awaisyah, dll.</p>
<p>Oleh karena itu ketika Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi ? (Mufti Negara Saudi Arabia bagian Selatan) ditanya tentang bolehnya mengambil ilmu dari Masyayikh Yordania (Markiz Al-Albani), maka beliau ? menjawab:</p>
<p dir="RTL">لا يؤخذ منهم العلم لمخالفتهم منهج السلف</p>
<p><strong><em>“Tidak boleh mengambil ilmu dari mereka karena mereka menyelisihi manhaj As-Salaf!”</em></strong>(Hiwar ma’a Ali Al-Halabi: 8).</p>
<p align="center"> <strong>MENERIMA KEBENARAN </strong><strong></strong></p>
<p>Adapun menerima kebenaran, maka kita menerima kebenaran dari manapun datangnya. Apakah yang membawanya itu syetan, orang kafir dan sebagainya. Jika ada yang menasihati kesalahan kita maka kita harus menerimanya jika memang isinya sesuai dengan kebenaran.</p>
<p>Thufail saudara Aisyah t berkata:</p>
<p dir="RTL">قال رجل من المشركين لرجل من المسلمين نعم القوم أنتم لولا انكم تقولون ما شاء الله وشاء محمد فسمع النبي صلى الله عليه و سلم فقال لا تقولوا ما شاء الله وشاء محمد ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء محمد</p>
<p>“Seseorang dari kaum musyrikin berkata kepada seseorang dari kaum muslimin: “Kalian adalah sebaik-baik kaum seandainya kalian tidak mengucapkan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.” Maka Nabi e bersabda: <strong><em>“Janganlah kalian mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad” tapi katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendak Muhammad.”</em></strong> (HR. Ad-Darimi: 2699, Ibnu Majah: 2109 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1721).</p>
<p>Begitu pula ketika Abu Hurairah t menerima keutamaan ayat kursi (yang bisa mengusir syetan) dari seorang syetan. Ia langsung mengkroscek kebenaran nasehat syetan ini kepada Rasulullah r. Rasulullah e menjawab:</p>
<p dir="RTL">أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ لَا قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ</p>
<p><strong><em>“Kali ini ia benar (tentang ayat Kursi yang bisa mengusir syetan, pen). Akan tetapi ia adalah seorang pendusta. Tahukah kamu orang yang kamu ajak berbicara selama 3 malam itu, wahai Abu Hurairah?” Ia adalah syetan.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 3033 dan 8/102 dan At-Tirmidzi: 2805).</p>
<p>Kedua hadits di atas memberikan pelajaran bahwa siapa pun yang memberikan nasehat kepada kita baik itu orang kafir, syetan dsb maka nasehat tersebut harus kita terima jika sesuai dengan kebenaran.</p>
<p>Dan bab <strong><em>‘menukil kebenaran’</em></strong> tidak sama dengan bab <strong><em>‘menerima kebenaran’</em></strong>. Seandainya sama, tentulah Rasulullah e akan menukil ucapan orang kafir tersebut untuk disampaikan di dalam majelis beliau. Akan tetapi beliau e hanyalah berkata: <strong><em>“Janganlah kalian mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad” tapi katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendak Muhammad.”</em></strong> Beliau tidaklah berkata: <strong><em>“Seorang kafir berkata: “Kalian adalah sebaik-baik kaum seandainya kalian tidak mengucapkan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.”</em></strong></p>
<p>Begitu pula Abu Hurairah t, ketika menjelaskan keutamaan ayat kursi. <strong>Beliau </strong>t<strong> hanyalah menisbatkan ilmu tentang keutamaan ayat kursi kepada Rasulullah </strong>e<strong> saja</strong>. Beliau tidak berkata dalam majelis beliau: <strong><em>“Syetan Al-Kadzdab berkata…..”</em></strong> Wallahu a’lam.</p>
<p>Begitu pula seandainya Saudara Abu Muawiah dinasehati oleh seorang dukun agar tetap beristiqamah di atas As-Sunnah, maka Saudara Abu Muawiah tidak akan menukil ucapan dukun tadi baik dalam majelis ataupun tulisan. Ini karena bab <strong><em>‘menukil nasehat’</em></strong> dan bab <strong><em>‘menerima nasehat’</em></strong> adalah berbeda.</p>
<p>Maka jika Rasulullah e bersabda bahwa sombong adalah menolak Al-Haq dan meremehkan manusia (HR. Muslim: 131, Abu Dawud: 3569, At-Tirmidzi: 1922),  sebaliknya bahwa <strong><em>tawadlu’ adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya</em></strong>.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam bab <strong><em>‘menerima kebenaran’</em></strong> berlaku pepatah:</p>
<p dir="RTL">اُنْظُرْ إِلَى مَا قَالَ وَلَا تَنْظُر إِلَى مَنْ قَالَ</p>
<p><strong><em>“Lihatlah kepada apa yang diucapkan dan janganlah melihat siapa yang mengucapkan!”</em></strong> (Hasyiah As-Sindi ala Ibni Majah: 8/26).</p>
<p>Sedangkan dalam bab <strong><em>‘penukilan’</em></strong>, <strong><em>‘periwayatan’</em></strong>, <strong><em>‘talaqqi (pengambilan atau pencarian ilmu)</em></strong>’ berlaku ucapan Al-Imam Al-Barbahari ?:</p>
<p dir="RTL">إن هذا العلم دين فانظروا ممن تأخذون دينكم ولا تقبلوا الحديث الا ممن تقبلون شهادته فانظر إن كان صاحب سنة له معرفة صدوق كتبت عنه وإلا تركته</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka hendaknya kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian. Janganlah kalian menerima hadits kecuali dari orang yang kalian terima persaksiannya! Maka lihatlah, jika ia adalah ahlus sunnah yang mempunyai ilmu yang benar maka tulislah (baca: nukillah) darinya. Dan jika tidak, maka tinggalkanlah!”</em></strong> (Syarhus Sunnah lil Barbahari: 118 (55)).</p>
<p align="center"><strong>MENUKIL UNTUK MENEGAKKAN HUJJAH</strong><strong> </strong><strong><br />
</strong></p>
<p>Ketika Saudara Abu Muawiah mencari pembenaran untuk artikelnya dari penjelasan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh <strong>حفظه الله</strong>, Saudara Abu Muawiah melakukan 2 kesalahan:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Menukilkan ucapan Asy-Syaikh Shalih  melalui perantaraan situs Kullal Salafiyeen milik Ali Hasan Al-Halabi, salah seorang yang bermasalah.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Memotong tulisan Asy-Syaikh Shalih  sehingga maksud dan tujuan penjelasan beliau tidak diketahui oleh Saudara Abu Muawiah (dan tentu saja tidak diketahui oleh pembaca artikel “Pembelaan Diri”nya). Semoga ini bukan sebuah kesengajaan untuk memalingkan dan menipu umat dari penjelasan -yang sebenarnya- seorang ulama besar Ahlussunnah.</p>
<p>Untuk bagian pertama sudah jelas bahwa kita harus berhati-hati dari orang yang dituduh suka memutarbalikkan ucapan ulama seperti Ali Hasan ini sebagaimana tahdzir dari Al-Lajnah Ad-Daimah di atas.</p>
<p>Untuk yang kedua, Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh menjelaskan tujuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ? menukil ucapan banyak tokoh dari sekte-sekte bid’ah tentang asma’ wash shifat dalam Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra. Asy-Syaikh Shalih berkata:</p>
<p dir="RTL">&#8230;..وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير، شائع، بيِّن.</p>
<p>“….Lagipula, memperbanyak penukilan (sebuah kebenaran, pent.) dari orang-orang bersamaan dengan berbeda-bedanya mazhab dan pemikiran mereka, hal ini menunjukkan bahwa kebenaran (yang dinukil) itu bukanlah hal yang tersembunyi, namun kebenaran tersebut sudah banyak tersebar luas.” (Syarh Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 263).</p>
<p><strong><em>(Sampai di sini Saudara Abu Muawiah memotong ucapan Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh) </em></strong></p>
<p>Padahal Asy-Syaikh Shalih belum menyelesaikan penjelasan beliau. Beliau berkata pada halaman berikutnya:</p>
<p dir="RTL">فإذن فهذه النقول الكبيرة من مخالفين في العقيدة، ومن متكلمين، ومن أشاعرة فيما نقل شيخ الإسلام في هذه العقيدة الحموية تدلُّ على أن النقل لإقامة الحجة وللتكثير والإفادة منه عن من عليه نزعة اعتقاد باطل أنه لا بأس به إذا كانت الحاجة للنقل عنه قائمةً: إما في إقامة الحجة أو في تكثير من قال بهذا القول أو لغرض شرعي صحيح.</p>
<p>“Kalau begitu, penukilan yang besar (banyak) dari orang-orang yang menyelisihi dalam aqidah, dari para ahlil kalam dan juga dari orang-orang Asy’ariyyah di dalam penukilan yang dilakukan oleh Syaikhul Islam di dalam kitab Al-Aqidah Al-Hamawiyah ini, menunjukkan bahwa tujuan penukilan tersebut adalah untuk menegakkan hujjah, dan juga untuk memperbanyak pendapat. Mengambil faidah dari penukilan dari orang-orang yang mempunyai sebagian aqidah yang batil adalah <strong>tidak apa-apa jika kebutuhan atasnya telah tegak</strong>: yaitu <strong><em>untuk menegakkan hujjah atau untuk memperbanyak orang yang berpendapat dengan kebenaran tersebut atau karena tujuan syar’i yang benar.”</em></strong> (Syarh Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 265).</p>
<p>Sebagai contohnya adalah penukilan Syaikhul Islam ? atas ucapan Abu Sulaiman Al-Khaththabi yang membenarkan pendapat As-Salaf dalam Al-Asma’ wash Shifat dalam kitabnya <strong><em>“Al-Ghunyah anil Kalam wa Ahlih”</em></strong>. (Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 42). Al-Khaththabi adalah ulama pensyarah hadits yang bermadzhab Syafi’i dan beraqidah Asy’ari. Ucapannya dinukil oleh Syaikhul Islam  agar menjadi hujjah bagi para pengikut Asy’ariyyah Syafi’iyyah.</p>
<p>Syaikhul Islam  juga menukil ucapan Al-Arif billah Mu’ammar bin Ahmad Al-Ashbahani, Syaikh kaum Sufiyyah abad ke 4 di negerinya. Al-Ashbahani ini memberikan wasiat kepada para sahabatnya agar meyakini keyakinan Ahlul hadits yaitu mengimani sifat-sifat Allah dengan tanpa membahas kaifiyatnya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menakwilnya (memalingkan makna sebenarnya). (Al-Aqidah Al-Hamawiyah Al-Kubra: 44). Ucapan ini dinukil agar menjadi hujjah bagi kaum Shufiyyah.</p>
<p>Dan masih banyak tokoh yang dinukil oleh Syaikhul Islam  seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dengan tujuan menegakkan hujjah bagi kaum Shufiyyah. <strong><em>Cara atau manhaj yang ditempuh oleh Syaikhul Islam ini telah dibenarkan dalam agama Islam</em></strong>.</p>
<p>Allah U menegakkan hujjah kepada orang kafir ahlul kitab dengan ucapan ulama ahlul kitab yang beriman. Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ</p>
<p><strong><em>“Berkatalah orang-orang kafir: &#8220;Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul&#8221;. Katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.”</em></strong> (QS. Ar-Ra’d: 43).</p>
<p>Contoh yang lainnya adalah dijadikannya Sa’ad bin Mu’adz t sebagai hakim dan hujjah bagi Yahudi Bani Quraizhah karena mereka sangat menghormati Sa’ad. Ketika Sa’ad memutuskan agar Bani Quraizhah dibunuh dan anak-anak serta wanita mereka ditawan maka Rasulullah e bersabda:</p>
<p dir="RTL">قَضَيْتَ بِحُكْمِ اللَّهِ</p>
<p>“Engkau telah memutuskan perkara dengan hukum Allah.” (HR. Al-Bukhari: 3812, Muslim: 3314, At-Tirmidzi: 1508).</p>
<p>Demikian pula yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Rabi’ <strong>حفظه الله</strong>  dalam Manhajul Anbiya’ fid Da’wati ilallah. Beliau mengutip ucapan At-Tilmisani dan Sayyid Quthb dalam rangka menegakkan hujjah. Kitab Manhajul Anbiya’ ditulis oleh beliau untuk mengobati kaum muslimin secara umum serta para da’i dan pemuda yang terjangkiti virus harakah –seperti gerakan Ikhwanul Muslimin dan sejenisnya- secara khusus. Dan kebanyakan mereka itu menggandrungi Sayyid Quthb dan pemikirannya. Sehingga hujjah perlu ditegakkan melalui ucapan tokoh yang mereka gandrungi itu.</p>
<p>Adapun apa yang dilakukan oleh Saudara Abu Muawiah dengan menukil situs Kullal Salafiyeen binaan Ali Al-Halabi tentang bolehnya menukil kebenaran dari selain Ahlussunnah maka tujuannya bukanlah untuk menegakkan hujjah, akan tetapi hanya untuk mencari pembenaran atas pendapat Saudara Abu Muawiah yang batil. Wallahu a’lam.</p>
<p align="center"><strong></strong><strong>MENUKIL UNTUK MEMPERBANYAK PENDAPAT </strong></p>
<p align="center"><strong>YANG SESUAI DENGAN KEBENARAN</strong><strong> </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Adapun menukil pendapat ahlul batil dengan tujuan <strong><em>memperbanyak pendapat yang mendukung kebenaran</em></strong>, maka ini seperti yang dicontohkan oleh Al-Imam Al-Bukhari ? –dalam Shahihnya- ketika membawakan kisah Heraklius, pembesar Romawi yang berdialog dengan Abu Sufyan tentang perihal Rasulullah e. Dalam kisah tersebut terdapat ucapan Ibnun Nazhur:</p>
<p dir="RTL">وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ</p>
<p>“Heraklius adalah seorang peramal (paranormal) yang percaya dengan astrologi (ilmu nujum). Ketika ditanya (tentang perihal Rasulullah e), ia berkata: “Sesungguhnya ketika meramal dengan astrologi, tadi malam aku telah melihat  bahwa seorang raja yang berkhitan (yakni Rasulullah e, pen) telah muncul. Siapakah yang berkhitan di kalangan umat ini?” (HR. Al-Bukhari: 6).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar ? berkata:</p>
<p dir="RTL">فإن قيل كيف ساغ للبخاري إيراد هذا الخبر المشعر بتقوية أمر المنجمين والاعتماد على ما تدل عليه احكامهم فالجواب أنه لم يقصد ذلك بل قصد أن يبين أن الإشارات بالنبي صلى الله عليه و سلم جاءت من كل طريق وعلى لسان كل فريق من كاهن أو منجم محق أو مبطل أنسى أو جنى وهذا من أبدع ما يشير إليه عالم أو يجنح إليه محتج</p>
<p>“Jika ditanyakan tentang apa alasan Al-Bukhari membawakan kisah yang memperkuat (mendukung) urusan ahli nujum (paranormal) dan memakai hukum-hukum astrologi? Maka jawabannya adalah bahwa beliau tidak bermaksud demikian tetapi bermaksud menjelaskan bahwa isyarat diutusnya Nabi e itu telah datang dari segala jalan dan dari segala lesan (pendapat) dari segala golongan baik itu dukun, paranormal yang benar atau yang salah, baik dari bangsa jin ataupun manusia. Dan ini adalah isyarat yang paling indah yang dipaparkan oleh seorang alim (semisal Al-Bukhari, pen) atau yang menjadi kecenderungan orang yang berhujjah.” (Fathul Bari: 1/41).</p>
<p>Adapun apa yang dilakukan oleh Saudara Abu Muawiah dengan menukil Kullal Salafiyeen, maka yang jelas bukanlah untuk memperbanyak pendapat yang mendukung kebenaran melainkan hanya sekedar mencari pembenaran atas pendapatnya yang batil.</p>
<p align="center"> <strong>MENUKIL PENDAPAT SELAIN AHLUS SUNNAH </strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK MEMBANTAHNYA </strong><strong></strong></p>
<p>Seorang ulama yang ilmunya sudah mumpuni  diperbolehkan menukil pendapat Ahlul Bid’ah dengan tujuan untuk membantah dan mentahdzirnya.</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Fauzan –hafizhahullah- ditanya:</p>
<p dir="RTL">س 48 : ما هو القول الحق في قراءة كتب المبتدعة، وسماع أشرطتهم ؟ .</p>
<p dir="RTL">جـ/ لا يجوز قراءة كتب المبتدعة، ولا سماع أشرطتهم؛ إلا لمن يريدأن يَرُدَّ عليهم ويُبيِّن ضلالهم .أما الإنسان المبتدئ، وطالب العلم، أو العامي، أو الذي لا يقرأ إلا لأجل الاطلاع فقط، لا لأجل الرَّد وبيان حالها؛ فهذا لا يجوز له قراءتها؛ لأنها قد تؤثر في قلبه وتُشَبِّه عليه فيصاب بشرها. فلا يجوز قراءة كتب أهل الضلال؛ إلا لأهل الاختصاص من أهل العلم، للرَّد عليها، والتحذير منها.</p>
<p>“Bagaimana pendapat yang benar tentang membaca buku-buku ahlul bid’ah dan mendengarkan kaset-kasetnya?”</p>
<p>Beliau menjawab: <strong><em>“Tidak boleh membaca buku-buku ahlul bid’ah dan tidak boleh mendengarkan kaset-kaset mereka, kecuali bagi orang yang ingin membantahnya dan menjelaskan kesesatan mereka.</em></strong> Adapun manusia yang masih pemula, penuntut ilmu, orang awam, atau orang yang sekedar membaca saja, tidak untuk membantahnya dan menjelaskan keadaannya, maka orang-orang seperti ini tidak boleh membacanya. Karena buku-buku tersebut kadang-kadang memberikan pengaruh dan syubhat pada hati mereka sehingga tertimpa kejelekannya. Maka tidak boleh membaca buku-buku ahlul bid’ah, kecuali bagi para ulama yang memiliki kekhususan untuk membantah dan mentahdzir darinya.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manahijil Jadidah: 73-74).</p>
<p>Sehingga jika seorang ulama akan membantah suatu pendapat sesat dalam suatu kitab, maka ia harus membaca pendapat sesat tersebut dengan teliti, kemudian ia <strong><em>menukil pendapat tersebut </em></strong>dalam kitab bantahannya, baru kemudian ia membantahnya.</p>
<p>Allah U juga pernah menukil ucapan kaum Yahudi dan Nashara yang sesat dengan tujuan untuk dibantah. Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ</p>
<p><strong><em>“Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Uzair itu putera Allah&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata: &#8220;Al Masih itu putera Allah&#8221;. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”</em></strong> (QS. At-Taubah: 30).</p>
<p>Sehingga perbuatan Saudara Abu Muawiah yang menukil <strong><em>situs Kulal Salafiyeen</em></strong> tanpa tujuan untuk menegakkan hujjah, memperbanyak pendapat yang benar atau membantah pendapat yang dinukil adalah termasuk <strong><em>bentuk kejahilan yang nyata</em></strong>. Apalagi situs ini ternyata juga telah diperingatkan bahayanya oleh <strong><em>Asy Syaikh Shaleh As Suhaimi hafizhahullah</em></strong>. Tentu saja bagi orang yang sudah terlanjur memiliki keyakinan bahwa <strong>tahdziran</strong> yang disebarkan di situs-situs Ahlussunnah tersebut <strong>kurang bermanfaat</strong> maka wajar jika dia tidak lagi peduli dengan tahdziran dan peringatan ulama sehingga situs-situs bermasalah malah dijadikannya sebagai rujukan dalam beragama, seorang pencuri dimuliakan dengan do’a <strong><em>hafizhahullah</em></strong> (bukannya malah dido’akan <strong><em>hadahullah</em></strong> agar dia mendapatkan hidayahNya) dan seorang penyusup, mata-mata Ikhwanul Muslimin sekaligus pendusta Haddadi-pun diberi baju kepalsuan sebagai <strong><em>Al-Fadhil Hafizhahullah</em></strong>. Ini adalah mushibah yang sangat mengerikan, sesat dan menyesatkan. Wallahul musta’an.</p>
<p align="center"><strong></strong> <strong>MENUKIL PENDAPAT TOKOH YANG SUDAH MATI</strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Adapun menukil pendapat selain Ahlussunnah yang telah meninggal maka hukumnya <strong><em>lebih aman</em></strong> daripada menukil dari mereka ketika mereka masih hidup. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud t berkata:</p>
<p dir="RTL">أَلاَ لاَ يُقَلِّدَنَّ رَجُلٌ رَجُلاً دِينَهُ فَإِنْ آمَنَ آمَنَ وَإِنْ كَفَرَ كَفَرَ فَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيُقَلِّدِ الْمَيِّتَ وَيَتْرُكِ الْحَىَّ فَإِنَّ الْحَىَّ لاَ تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ.</p>
<p><strong><em>“Ingatlah! Janganlah seseorang bertaqlid kepada orang lain dalam agamanya! Jika orang itu beriman maka ia ikut beriman dan jika orang itu kafir maka ia akan ikut kafir. Jika memang ia harus bertaqlid, maka bertaqlidlah kepada orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidak aman fitnah atasnya.”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 20846 (10/116), Abu Dawud dalam Az-Zuhud: 132 (1/144). Perawi Abu Dawud adalah orang-orang tsiqat kecuali Abu Shalih Al-Anthaqi. Menurut Ibnu Hajar, ia adalah shaduq. Sehingga isnad atsar ini hasan).</p>
<p>Al-Allamah Ibnu Utsaimin ? berkata:</p>
<p dir="RTL">(ولا تفتنا بعده) يعني لا تضلنا عن ديننا بعده لأن الحي لا تؤمن عليه الفتنة مادام الإنسان لم يخرج روحه فإنه عرضة لأن يفتن في دينه والعياذ بالله</p>
<p>“Sabda Nabi e (Janganlah Engkau menimpakan fitnah kepada kami sepeninggal mayit) maksudnya: “Janganlah Engkau menyesatkan kami dari agama kami sepeninggalnya, karena orang yang masih hidup rentan tertimpa fitnah dalam agamanya. Kita berlindung kepada Allah darinya.” (Syarh Riyadlush Shalihin: 1065).</p>
<p>Oleh karena itu, ketika seorang ahlul bid’ah meninggal, maka para ulama yang sejaman dengannya merasa lega atas kematiannya karena dampak fitnah syubhat dari orang itu mereda.</p>
<p>Al-Khathib Al-Baghdadi dan Ad-Dailami berkata:</p>
<p dir="RTL">إذا مات صاحب بدعة فقد فتح في الإسلام فتح</p>
<p><strong><em>“Jika seorang ahlul bid’ah telah mati, maka terbukalah bagi Al-Islam sebuah pintu pembuka.”</em></strong> (Ash-Shawa’iq al Muhriqah ala Ahlir Rafdli wadl Dlalal waz Zandaqah: 1/9).</p>
<p>Al-Allamah Al-Munawi mengomentari ucapan Al-Khathib:</p>
<p dir="RTL">أي أغلق باب الضرر عن الناس سيما إن كان داعية ، وفتح باب النفع ،</p>
<p>“Maksudnya (dengan kematian ahlul bid’ah) maka tertutuplah pintu bahaya atas manusia apalagi jika ia adalah seorang  orang yang mengajak kepada bid’ahnya dan juga terbukalah pintu manfaat.” (Faidlul Qadir: /1563).</p>
<p>Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi ? berkata:</p>
<p dir="RTL">جاء موت هذا الذي يقال له المريسي وأنا في السوق فلولا أن الموضع ليس موضع سجود لسجدت شكرا الحمد لله الذي أماته</p>
<p>“Telah datang kepadaku berita kematian seseorang yang disebut dengan (Bisyr) Al-Marisi ketika aku masih berada di pasar. Seandainya tempatku (pasar) itu adalah tempat sujud, maka aku akan melakukan sujud karena bersyukur. Segala puji bagi Allah yang telah mematikannya.” (Talbis Iblis: 16).</p>
<p>Untuk <strong><em>menyikapi tokoh-tokoh yang masih hidup</em></strong> yang dulunya berjalan di atas As-Sunnah kemudian menyimpang, Al-Allamah Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya:</p>
<p dir="RTL">الذين كانوا يعتبرون على المنهج الصحيح ثم زاغوا عنه هل يجوز لنا الاستماع إلى أشرطتهم أو قراءة كتبهم المؤلفة قديمًا وكذا محاضراتهم؟</p>
<p>“Orang-orang yang dianggap berjalan di atas manhaj yang benar kemudian menyimpang dari manhaj tersebut, bolehkah kita mendengar kaset-kaset mereka atau membaca buku-buku mereka yang ditulis sebelum mereka menyimpang atau menghadiri muhadharah mereka?</p>
<p>Beliau -rahimahullah-  menjawab:</p>
<p dir="RTL">أنا لا أنصح بقراءة كتبهم ولا سماع أشرطتهم، وتعجبني كلمة عظيمة لشيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله يقول فيها: لو أن الله ما أوجد البخاري ومسلمًا ما ضيع دينه.فالله سبحانه وتعالى قد حفظ الدين&#8230;الخ</p>
<p>“<strong><em>Aku tidak menasehatkan untuk membaca buku-buku mereka dan juga kaset-kaset mereka.</em></strong> Dan aku kagum dengan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- dalam masalah ini. Beliau berkata: “Seandainya Allah tidak menciptakan Al-Bukhari dan Muslim, maka Allah tidaklah menyia-siakan agama-Nya. Maka Allah U sudah menjaga agama ini…dst.” (Tuhfatul Mujib: 168).</p>
<p>Sebagai contoh adalah kasus yang menimpa Al-Imam Abu Hanifah. Ketika ia menampakkan penyimpangan dengan pendapat murji’ahnya yaitu bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang dan bahwa amal itu tidak termasuk bagian dari iman, maka para ulama yang sejaman dengannya langsung memboikotnya.</p>
<p>Salam bin Abi Muthi’ berkata:</p>
<p dir="RTL">كنت مع أيوب السختياني في المسجد الحرام فرآه أبو حنيفة فاقبل نحوه فلما رأه أيوب قال لأصحابه قوموا لا يعدنا بجربه قوموا لا يعدنا بجربه</p>
<p>“Aku bersama Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani di Masjidil Haram. Kemudian Abu Hanifah melihat beliau, lalu mendatangi beliau. Ketika Al-Imam Ayyub melihatnya maka beliau berkata kepada para sahabatnya: “Ayo kita bangkit (untuk pergi, pen)! Jangan sampai ia (Abu Hanifah) menulari kita dengan penyakit kudisnya! Ayo kita pergi! Jangan sampai ia menulari kita dengan penyakit kudisnya!” (Atsar riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah: 253 (1/188-189) dan rijalnya di-tsiqat-kan oleh pentahqiq kitab).</p>
<p>Sa’id bin Salam rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">سألت أبا يوسف وهو بجرجان عن أبي حنيفة فقال وما تصنع به مات جهميا</p>
<p>“Aku bertanya kepada Al-Imam Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) –saat beliau di Jurjan- tentang Abu Hanifah, maka beliau berkata: <strong><em>“Apa yang kamu perbuat dengannya? Ia telah mati sebagai Jahmiyyah.”</em></strong> (Atsar riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah: 231 (1/181)).</p>
<p>Al-Muqri’  rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">حدثنا أبو حنيفة، وكان مرجئا ودعانى إلى الارجاء فأبيت عليه</p>
<p><strong><em>“Abu Hanifah telah memberitakan (hadits) kepada kami. Ia adalah seorang murji’ah dan mengajakku kepada pemahaman murji’ahnya maka aku menolaknya</em></strong>.” (Atsar riwayat Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin: 3/72).</p>
<p>Sebelum menyimpang, Al-Imam Abu Hanifah  mendapat pujian dari Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah. Beliau  berkata:</p>
<p dir="RTL">أبو حنيفة أفقه الناس.</p>
<p><strong><em>“Abu Hanifah adalah manusia yang paling faqih.”</em></strong> (Siyar A’lamin Nubala’: 6/403).</p>
<p>Dan setelah melakukan penyimpangan, Abu Hanifah ditinggalkan oleh Al-Imam Ibnul Mubarak ?. Al-Imam Ibnu Abi Hatim ? berkata:</p>
<p dir="RTL">ثم تركه ابن المبارك بأخرة سمعت ابى يقول ذلك</p>
<p><strong><em>“Ia (Abu Hanifah) ditinggalkan oleh Ibnul Mubarak di akhir hidupnya. Aku mendengarkan ayahku (Abu Hatim Ar-Razi) menyatakan demikian.”</em></strong> (Al-Jarh wat Ta’dil: 8/449).</p>
<p>Ketika Al-Imam Abu Hanifah  sudah meninggal, maka pendapat-pendapatnya dapat dipilah-pilah mana yang sesat dan mana yang benar sehingga fitnahnya pun menjadi lebih aman sepeninggalnya. Sehingga komentar para ulama yang hidup setelahnya akan berbeda dengan komentar ulama yang semasa dengannya. Para ulama sesudahnya tetap memakai fikih dan fatwanya tetapi meninggalkan hadits dan aqidah murji’ahnya.</p>
<p>Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">الناس عيال في الفقه على أبي حنيفة</p>
<p><strong><em>“Manusia dalam bidang fikih menjadi keluarga yang ditanggung oleh Abu Hanifah.”</em></strong> (Tahdzibut Tahdzib: 10/402).</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">الامامة في الفقه ودقائقه مسلمة إلى هذا الامام.</p>
<p><strong><em>“Kepemimpinan dalam bidang fikih dan segala kerumitannya diserahkan kepada Imam ini (yakni Abu Hanifah).”</em></strong> (Siyar A’lamin Nubala’: 6/403).</p>
<p>Sehingga <strong><em>secara umum</em></strong>  di dalam menukil ucapan para ulama yang sudah meninggal dan mempunyai pendapat menyimpang atau bid’ah, Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan kaidah dengan ucapannya:</p>
<p dir="RTL">وما وقع في فتاويهم من المسائل التي خفي عليهم فيها ما جاء به الرسول، فقالوا بمبلغ علمهم والحق في خلافها، لا يوجب اطراح أقوالهم جملة، وتنقصهم، والوقيعة فيهم؛</p>
<p><strong><em>“Dan fatwa-fatwa mereka yang berisi permasalahan (yang menyimpang) karena tersamarnya sunnah Nabi atas mereka, sehingga mereka berfatwa sesuai dengan keilmuan mereka padahal kebenaran telah menyelisihi fatwa tersebut, maka ini tidak menyebabkan ditolaknya semua ucapan mereka, (tidak pula menyebabkan) bolehnya mencela dan menelanjangi mereka.” </em></strong>(I’lamul Muwaqqi’in: 3/283).</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">ولو أن كل من أخطأ في اجتهاده مع صحة إيمانه، وتوخيه لاتباع الحق أهدرناه، وبدعناه، لقل من يسلم من الائمة معنا</p>
<p><strong><em>“Seandainya setiap orang yang keliru dalam ijtihadnya dalam keadaan memiliki keimanan yang benar dan usahanya untuk mengikuti kebenaran, kita batalkan dan kita bid’ahkan maka akan sedikit para imam yang selamat bersama kita.”</em></strong> (Siyar A’lamin Nubala’: 14/376).</p>
<p>Demikianlah, bahwa menukil ucapan para ulama terdahulu yang memiliki pemahaman menyimpang itu lebih aman daripada menukil para tokoh masa kini yang telah menyimpang. <strong><em>Sehingga tindakan Saudara Abu Muawiyah dan juga majalah Akhwat di dalam menukil ucapan Salim Al-Hilali, Khalid Al Ghirbani,<a title="" href="#_ftn1"><strong>[2]</strong></a> Ali Hasan dan semisal mereka adalah menyelisihi manhaj yang benar</em></strong>. Wallahu a’lam.</p>
<p>Kemudian untuk menjadi perhatian kita, sebelum menukil ucapan tokoh-tokoh yang telah mati  yang menyimpang tersebut, hendaknya kita menimbang dulu tingkat kesalahan tokoh tersebut.</p>
<p>Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih Fauzan <strong>حفظه الله</strong> berkata:</p>
<p dir="RTL">وأما أن هذا الخطأ إذا صح صدوره من الشخص يضيع وسط خيره الكثير؛ فهذا فيه تفصيل : إن كان هذا الخطأ في الاعتقاد بأن يكون شركًا أكبر؛ فهذا يضيع معه كل خير ولا يبقى معه عمل صالح، وإن كان الخطأ دون ذلك من مسائل الاعتقاد ولا يصل إلى حد الكفر والشرك؛ فهذا نرجو أن يغفره الله لصاحبه وأن يرجح به حسناته، وإن كان الخطأ في مسائل الاجتهاد -؛ والشخص من أهل الاجتهاد -؛ فهذا خطأ مغفور ولصاحبه الأجر على اجتهاده.</p>
<p>“Adapun jika kesalahan ini muncul dari seorang tokoh yang bisa menyia-siakan kebaikannya yang banyak, maka ini perlu perincian. Jika kesalahan tersebut ada dalam aqidah seperti syirik besar, maka kesalahan ini dapat melenyapkan segala kebaikan miliknya dan amal shalihnya tidak akan tersisa. Jika kesalahan tersebut lebih ringan dalam masalah aqidah dan tidak sampai kepada batas kufur dan syirik, maka kita berharap semoga Allah mengampuni tokoh tersebut dan lebih memberatkan kebaikannya. Jika kesalahan tersebut dalam maslah ijtihad –dan tokoh itu termasuk ahlul ijtihad- , maka ini adalah kesalahan yang diampuni dan pemiliknya akan diberi pahala sesuai dengan ijtihadnya.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan: 26/8).</p>
<p>Contoh tokoh yang mempunyai kesalahan berat adalah seperti Ibnu Sina, Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Alwi Al-Maliki dan sebagainya yang memiliki kesalahan yang membatalkan kabaikannya. Maka kita tidak boleh sedikit pun menukil ucapannya kecuali untuk membantahnya.</p>
<p>Contoh tokoh yang memiliki kesalahan ijtihad dalam bidang aqidah tetapi tetap diampuni karena ia memiliki kebaikan dalam Islam dan As-Sunnah adalah seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani, An-Nawawi, Al-Qurthubi, Ibnu Hazm dan sebagainya. Maka kita boleh menukil ucapan mereka yang sesuai dengan kebenaran.</p>
<p>Maka bedakanlah penjelasan Penulis di atas dengan pendapat Saudara Abu Muawiah yang melakukan gebyah uyah dengan membolehkan <strong><em>‘mengutip’</em></strong> ucapan selain Ahlussunnah dengan tanpa batasan dan perincian dengan alasan wajibnya <strong><em>‘menerima kebenaran’</em></strong> dari segala pihak.</p>
<p align="center"><strong></strong> <strong>MENUKIL UNTUK TARIKH ATAU SEJARAH</strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Kemudian Saudara Abu  Muawiah berhujjah -untuk membolehkan  menukil kebenaran dari selain ahlussunnah- dengan perbuatan Al-Allamah Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri yang menjadikan Fiqhus Sirah karya Muhammad Ghazali dan Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb sebagai rujukan dalam buku Rakhiqul Makhtum (buku tentang sejarah Nabi).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis katakan</span></strong>: <strong><em>Menukil keterangan dalam bidang tarikh, hari-hari manusia, nasab-nasab adalah lebih longgar dan lebih ringan daripada menukil dalam bidang aqidah, hadits dan ibadah lainnya</em></strong>.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ</p>
<p><strong><em>“Dan tanyakanlah (Wahai Muhammad) kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu</em></strong>, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf: 163).</p>
<p>Dalam ayat di atas Rasulullah e diperintahkan untuk bertanya kepada Bani Israil tentang kisah Ashabus Sabti. Dan <strong><em>Bani Israil itu meliputi orang shalih dan orang fasiq dari kalangan mereka</em></strong>. Ini menunjukkan bahwa menukil keterangan untuk sejarah itu lebih longgar daripada menukil keterangan untuk aqidah, manhaj dan sebagainya yang harus melalui proses tabayyun.</p>
<p>Allah U juga mengutip ucapan saudara-saudara Yusuf u:</p>
<p dir="RTL">وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ</p>
<p><strong><em>“Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar&#8221;.”</em></strong> (QS. Yusuf: 82).</p>
<p>Menurut Al-Allamah Abu Hafsh Ad-Dimasyqi, negeri yang dimaksud adalah Mesir dan kafilah yang dimaksud adalah suatu kaum dari Kan’an tetangga Ya’qub u. (Al-Lubab fi Ulumil Kitab: 11/186). Dan penduduk negeri Mesir dan kafilah dari kaum Kan’an tidak semuanya orang-orang yang shalih yang ucapannya pantas dijadikan hujjah.</p>
<p>Demikian juga keadaan para ahli sejarah dan ahli tarikh di kalangan umat ini, tidak semua dari mereka itu orang-orang shaleh, jujur dan mengerti ilmu sanad. Ahli sejarah yang paling baik adalah ahli sejarah yang juga ahlul hadits.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ? berkata:</p>
<p dir="RTL">فكتب المؤرخين الذين لا يقصدون الكلام على الآراء والديانات فيها ما يشتمل على الصدق والكذب وهي أكثر التواريخ التي لم توزن بتمييز أهل المعرفة بالمنقولات وكذلك الكتب التي يذكر فيها مقالات الناس وآراؤهم ودياناتهم فيها ما يشتمل على الصدق والكذب وهي ما لم توزن بنقد من يخبر المقالات وكذلك تعمد الكذب قليل في أهل العقول والديانات المصنفين لتواريخ السير</p>
<p>“Maka kitab-kitab ahli sejarah (tarikh) yang tidak ingin membicarakan perbedaan pendapat dan aliran keagamaan, di dalamnya terdapat berita yang benar dan berita yang dusta. Dan ini adalah kebanyakan kitab tarikh yang tidak ditimbang dengan timbangan ahlul hadits yang mengerti seluk beluk periwayatan. Demikian pula kitab-kitab yang membahas pendapat dan aliran keagamaan manusia (semisal Al-Milal wan Nihal, Al-Farqu bainal Firaq, pen), di dalamnya terdapat keterangan yang benar dan keterangan yang dusta. Dan ini adalah kitab-kitab maqalat yang tidak ditimbang dengan kritik para ahlul maqalat. Demikian pula, menyengaja berdusta adalah sangat sedikit di kalangan para ahlul maqalat yang menyusun kitab-kitab sirah.” (Ar-Raddu alal Bakri: 181).</p>
<p>Salah satu contoh ahli tarikh adalah <strong><em>Muhammad bin Umar Al-Waqidi penulis kitab Al-Maghazi</em></strong>. Ia dinilai <strong><em>matrukul hadits</em></strong> (orang yang ditinggalkan haditsnya) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Taqibut Tahdzib: 882) dan Al-Hafizh Adz-Dzahabi (Mizanul I’tidal: 3/662-3).</p>
<p>Sehingga  dalam periwayatan hadits, Al-Waqidi adalah sangat lemah tidak bisa dijadikan penguat riwayat (mutaba’ah). Tetapi untuk bidang tarikh dan hari-hari manusia, Syaikhul Islam rahimahullah  mempunyai komentar lain. Beliau berkata:</p>
<p dir="RTL">وَقَدْ عُلِمَ كَلَامُ النَّاسِ فِي الواقدي فَإِنَّ مَا يَذْكُرُهُ هُوَ وَأَمْثَالُهُ إنَّمَا يُعْتَضَدُ بِهِ وَيُسْتَأْنَسُ بِهِ وَأَمَّا الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ بِمُجَرَّدِهِ فِي الْعِلْمِ فَهَذَا لَا يَصْلُحُ</p>
<p>“Dan telah diketahui pendapat manusia tentang Al-Waqidi. Maka perkara yang disebutkan oleh Al-Waqidi dan semisalnya hanyalah untuk dijadikan penguat (berita) dan penghibur saja. Adapun jika hanya bersandar pada riwayat Al-Waqidi saja dalam masalah ilmu (yakni Al-Quran dan As-Sunnah, pen), maka ini tidaklah pantas.” (Majmu’ul Fatawa: 27/469).</p>
<p>Oleh karena itu Syaikhul Islam rahimahullah juga beberapa kali membawakan riwayat Al-Waqidi dalam beberapa kitab beliau. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga banyak membawakan riwayat Al-Waqidi dalam Al-Bidayah wan Nihayah. Demikian pula Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, beliau juga banyak membawakan riwayat Al-Waqidi dalam Siyar A’lamin Nubala’.</p>
<p>Dan ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui oleh Saudara Abu Muawiah, bahwa <strong><em>Al-Allamah Shafiyyur Rahman hanyalah mengutip berita dan khabar dari Sayyid Quthub dan Muhammad Ghazali</em></strong> sebagaimana Ibnu Katsir dan Adz-Dzahabi menukil periwayatan dari Al-Waqidi<strong><em>. Beliau tidaklah mengutip opini dan pendapat kedua orang tersebut</em></strong>. Wallahu a’lam.</p>
<p align="center"><strong></strong> <strong>ANTARA MENUKIL DAN REKOMENDASI </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Seseorang yang menukil pendapat <strong><em>ahlul bid’ah yang masih hidup</em></strong> tanpa tujuan yang syar’i dapat dianggap telah memberikan <strong><em>rekomendasi</em></strong> dan <strong><em>pengagungan</em></strong> kepada ahlul bid’ah tersebut. Ini karena di dalam hati si penukil tersebut terdapat kecenderungan dan keterpautan kepada Ahlul bid’ah yang dinukil pendapatnya.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ</p>
<p><strong><em>“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.”</em></strong> (QS. Hud: 113).</p>
<p>Al-Imam Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">من أتاه رجل فشاوره فدله على مبتدع  فقد غش الإسلام ،</p>
<p>“Barangsiapa yang diajak bermusyawarah (dimintai nasehat, pen) oleh seseorang, kemudian ia tunjukkan orang tersebut kepada ahlul bid’ah, maka ia telah menipu agama Islam.” (Atsar riwayat Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah: 229 (1/254).</p>
<p>Sehingga kebiasaan dari Saudara Abu Muawiah dan Majalah Akhwat di dalam menukil pendapat ahlul batil semacam Salim Al-Hilali atau Ali Hasan menunjukkan bahwa di dalam hatinya terdapat kecenderungan dan kecintaan kepada ahlul batil.</p>
<p>Dan di antara do’a Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah adalah:</p>
<p dir="RTL">اللهم لا تجعل لصاحب بدعة عندي يدا فيحبه قلبي</p>
<p>“Ya Allah! Janganlah Engkau menjadikan seorang ahlul bid’ah pun untuk mempunyai budi baik kepadaku, sehingga hatiku mencintainya.” (Atsar riwayat Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah: 242 (1/267).</p>
<p align="center"><strong> </strong><strong>ANTARA MENUKIL, TA’AWUN &amp; MEMBERIKAN HUKUMAN </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Jika ada seseorang yang masih menukil kebenaran dari tokoh yang semasa padahal ia telah mengetahui bahwa tokoh tersebut kini telah menyimpang, maka ini menunjukkan bahwa ia telah melakukan <strong><em>ta’awun dalam kebid’ahan dan penyimpangan</em></strong>.</p>
<p>Al-Imam Rafi’ bin Asyras rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">من عقوبة الفاسق المبتدع أن لا تذكر محاسنه</p>
<p><strong><em>“Termasuk hukuman bagi orang fasik yang ahlil bid’ah adalah tidak menyebutkan segala kebaikannya.”</em></strong> (Syarh Ilal At-Tirmidzi li Ibni Rajab: 121).</p>
<p>Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih Fauzan <strong>حفظه الله</strong> berkata:</p>
<p dir="RTL">فإذا رَوَّجت لهذا الضال المبتدع ومدحته فقد غرَّرت بالناس، وهذا فتح باب لقبول أفكار المضللين</p>
<p><strong><em>“Jika kamu melariskan pendapat-pendapat dari ahlil bid’ah yang sesat ini dan memujinya, maka kamu telah menipu umat manusia. Dan ini akan membuka pintu diterimanya pemikiran orang-orang sesat.”</em></strong> (Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manahijil Jadidah: 30).</p>
<p>Di sini ada contoh kasus. Al-Allamah Abul Walid Al-Baji Al-Maliki rahimahullah berkata tentang Al-Qadli Abu Bakar Al-Baqilani Asy-Syafi’i (seorang pemuka aliran Asy’ariyah):</p>
<p dir="RTL">لقد أخبرني أبو ذر وكان يميل إلى مذهبه فسألته: من أين لك هذا؟ قال: كنت ماشيًا مع الدارقطني فلقينا القاضي أبا بكر فالتزمه الدارقطني وقبَّل وجهه وعينيه, فلما افترقا قلت: من هذا؟ قال: هذا إمام المسلمين والذابّ عن الدين, القاضي أبو بكر بن الطيب. فمن ذلك الوقت تكررت إليه. (وفي رواية) واقتديت بمذهبه</p>
<p>“Abu Dzarr Al-Harawi Al-Hanbali –dan ia sekarang lebih condong kepada madzhab Al-Baqilani (Asy’ariyah)- telah menceritakan kepadaku tentang madzhabnya. Maka aku bertanya kepadanya: “Dari mana kamu membawa madzhab ini?” Ia menjawab: “Aku jalan-jalan bersama-sama Al-Imam Ad-Darquthni (seorang ahlul hadits yang bermanhaj salaf). Kemudian kami bertemu dengan Al-Qadli Al-Baqilani, lalu Ad-Darquthni menyambutnya, mencium wajah dan kedua matanya. Ketika keduanya berpisah, aku bertanya kepada Ad-Darquthni: “Siapa orang ini?” Ia menjawab: “Ini adalah imam kaum muslimin, pembela agama, Al-Qadli Abu Bakar bin Ath-Thayyib Al-Baqilani.” Sejak saat itu aku sering mondar-mandir kepadanya (Al-Baqilani) dan meniru madzhabnya.” (Tadzkiratul Huffazh: 3/202). <strong><em>Dan ini termasuk ketergelinciran Ad-Darquthni. Meskipun ia sendiri bermanhaj salaf, ia punya andil untuk menyesatkan Abu Dzarr Al-Harawi. </em></strong></p>
<p>Maka perbuatan Saudara Abu Muawiah dan juga Majalahnya dalam menukil kebenaran dari ahlul batil semisal Ali Hasan, “Al Fadhil” Khalid Ghirbani “hafizhahullah” dan Salim Al-Hilali “hafizhahullah” adalah termasuk kategori ta’awun dalam kebatilan. Dan Saudara Abu Muawiah juga telah memberi contoh dan rekomendasi kepada manusia untuk mengikuti kebatilan. Wal iyadzu billah.</p>
<p>Dan khusus bagi orang yang membacakan salam, mengatakan <strong><em>“hafizhahullah</em></strong>” atau <strong><em>“Al-Fadlil”</em></strong> kepada ahlul bid’ah –seperti perbuatan Saudara Abu Muawiah dan Majalahnya- terdapat peringatan dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau memperingatkan:</p>
<p dir="RTL">إذا سلَّم الرجل على المبتدع فهو يُحبُّه , قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم : ألا أدلكم على ما إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم</p>
<p><strong><em>“Jika seseorang membacakan salam kepada ahlul bid’ah maka ia sedang mencintai ahlul bid’ah tersebut.</em></strong> Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang mana jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!” (Thabaqat Al-Hanabilah: 1/196).</p>
<p align="center"><strong> </strong><strong>Antara Al-Imam Ibnu Qudamah</strong> <strong>rahimahullah</strong> <strong>dan Abu Hamid Al-Ghazali </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p>Kemudian Saudara Abu Muawiah membolehkan <strong><em>‘penukilan kebenaran’</em></strong> dari selain ahlussunnah dengan berhujjah kepada perbuatan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi ? yang menyusun kitab Minhajul Qashidin dimana Ibnu Qudamah menukil kebenaran dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali. Saudara Abu Muawiah menyatakan:</p>
<p><em>“Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdasi rahimahullah mengumpulkan hal-hal yang baik dari kitab Ihya` Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah lalu menyusunnya menjadi kitab Minhaj Al-Qashidin. Dan para ulama menyatakan bahwa Al-Ghazali rahimahullah tidak pernah menulis karya apapun setelah dia bertaubat. Sementara status kitab Al-Ihya` ini saya rasa sudah cukup jelas di kalangan para penuntut ilmu, mengenai banyaknya kekeliruan dan kesalahan yang tersebut di dalamnya, dan kitab itu jelas ditulis oleh Al-Ghazali rahimahullah sebelum dia bertaubat. Maka amalan Ibnu Qudamah ini jelas menunjukkan bolehnya menukil kebenaran dari buku yang ditulis oleh selain ahlissunnah.”</em></p>
<p><strong>Penulis katakan</strong>: Di sini terdapat <strong><span style="text-decoration:underline;">beberapa kekeliruan</span></strong> Saudara Abu Muawiah:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama:</span></strong> Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah tidaklah meneliti langsung kitab Ihya’ karya Al-Ghazali –sebagaimana persangkaan Saudara Abu Muawiah-. Tetapi beliau hanyalah meringkas Minhajul Qashidin karya Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan:</p>
<p dir="RTL">وبعد: فاني كنت وقفت مرة على كتاب منهاج القاصدين للشيخ الامام العالم الأوحد جمال الدين ابن الجوزي رحمه الله فرأيته من أجل الكتب وأنفعها وأكثرها فوائد فحصل عندي بموقع ورغبت في تحصيله ومطالعته فلما تأملته ثانيا وجدته فوق ما كان في نفسي لكن رأيته كتابا مبسوطا فأحببت أن أعلق منه هذا المختصر الذي قد احتوى على أكثر مقاصده وأجل مهماته &#8230;الخ</p>
<p>“Dan setelahnya: Maka aku telah mempelajari –dalam sekali waktu- Kitab Minhajul Qashidin karya Asy-Syaikh Al-Imam yang alim, yang jarang tandingannya, Jamaluddin Ibnul Jauzi rahimahullah. Maka aku melihatnya sebagai kitab yang paling agung, yang paling bermanfaat, yang paling banyak faidahnya. Maka terbersit dalam diriku untuk mengulanginya dan aku senang untuk mempelajari dan menelaahnya. Ketika aku memperhatikannya –kedua kali- maka aku mendapatkannya lebih daripada apa yang terbersit dalam diriku. Akan tetapi aku melihatnya sebagai kitab yang luas, maka <strong><em>aku senang untuk menyusun dari kitab tersebut ringkasan ini yang telah mengandung kebanyakan tujuannya dan perkara yang terpenting dari kitab tersebut</em></strong>…” (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 9-10).</p>
<p>Adapun Ulama  yang meneliti secara langsung kitab Ihya’ adalah Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah. Oleh karena itu beliau  menyatakan:</p>
<p dir="RTL">فاعلم أن في كتاب الاحياء آفات لا يعلمها الا العلماء وأقلها الاحاديث الباطلة الموضوعة والموقوفة&#8230;الخ</p>
<p><strong><em>“Ketahuilah bahwa di dalam kitab Ihya’ terdapat bahaya yang tidak dapat diketahui kecuali oleh para ulama. Bahaya yang paling kecil adalah hadits-hadits batil yang palsu dan mauquf…dst.”</em></strong> (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 11).</p>
<p>Kekeliruan seperti ini tidaklah pantas muncul dari seseorang semisal Saudara Abu Muawiah yang dianggap ustadz oleh para pengikutnya. Ia menyangka Ibnu Qudamah  telah menukil kitab Ihya’ padahal yang menukil langsung adalah Ibnul Jauzi , sedangkan Ibnu Qudamah  hanya meringkas karya Ibnul Jauzi  saja. Jangan-jangan Saudara Abu Muawiah juga akan menyatakan bahwa Abu Hayyan At-Tauhidi telah menulis Tafsir Al-Bahrul Muhith, padahal yang menulisnya adalah Al-Allamah Al-Qari’ Abu Hayyan An-Nahwi Al-Andalusi. Sedangkan Abu Hayyan At-Tauhidi adalah orang zindiq abad ke-4 teman Ibnu Rawandi. Atau jangan-jangan Saudara Abu Muawiah akan menyatakan juga bahwa pemilik matan kitab Nailul Authar adalah Ibnu Taimiyyah Syaikhul Islam, padahal yang menulisnya adalah Majduddin Ibnu Taimiyyah kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Kita berlindung kepada Allah U dari kedangkalan ilmu seperti ini.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua:</span></strong> Sikap para ulama terhadap Abu Hamid Al-Ghazali dan karya-karyanya adalah sama dengan sikap mereka terhadap Abu Hanifah dan karya-karyanya. Para ulama yang hidup sejaman dengan Al-Ghazali telah memperingatkan kaum muslimin darinya serta karya-karyanya. Setelah meninggalnya Al-Ghazali, para ulama bisa memilah-milah karyanya.</p>
<p>Di antara ulama yang hidup semasa dengan Al-Ghazali adalah <strong><em>Al-Imam Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi Al-Maliki  </em></strong>rahimahullah, beliau berkata dalam suratnya kepada Ibnul Muzhaffar:</p>
<p dir="RTL">فأما ما ذكرت من أبي حامد، فقد رأيته، وكلمته، فرأيته جليلا من أهل العلم، واجتمع فيه العقل والفهم، ومارس العلوم طول عمره، وكان على ذلك معظم زمانه، ثم بدا له عن طريق العلماء، ودخل في غمار العمال، ثم تصوف، وهجر العلوم وأهلها، ودخل في علوم الخواطر، وأرباب القلوب، ووساوس الشيطان، ثم شابها بآراء الفلاسفة، ورموز الحلاج، وجعل يطعن على الفقهاء والمتكلمين، ولقد كاد أن ينسلخ من الدين،</p>
<p>“Adapun apa yang aku sebutkan dari Abu Hamid (Al-Ghazali), maka aku telah melihatnya dan berbicara dengannya. Aku lihat ia adalah seorang yang besar dari kalangan ahlul ilmi. Terkumpul padanya akal dan pemahaman. Ia  mendalami ilmu sepanjang umurnya dan ia seperti ini pada sebagian besar masanya. Kemudian ia menyimpang dari jalan para ulama dan masuk pada kelompok pengamal tarekat (suluk). Kemudian ia mendalami tasawwuf, menjauhi ilmu dan ulamanya, masuk ke dalam ilmu gerakan hati (semacam intuisi dan ilmu kasyaf yang bisa menyingkap hal gaib, pen), dan juga masuk dalam was-was syetan. Kemudian ia mencampuri ilmu-ilmu tersebut dengan pendapat para filosof dan rumus-rumus Al-Hallaj (tokoh manunggaling kawula gusti, pen). Dan ia mulai mencela para fuqaha dan ahlul kalam dan ia hampir keluar (terlepas) dari agama ini…” (Siyar A’lamin Nubala’: 19/339).</p>
<p>Begitu pula <strong><em>Al-Imam Al-Qadli Iyadl Al-Yahshubi</em></strong> rahimahullah –ulama negeri Maghrib yang hidup semasa dengan Al-Ghazali-, beliau memerintahkan untuk membakar kitab-kitab Al-Ghazali. Al-Allamah Ibnul Imad Al-Hanbali rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وبالجملة فإنه كان عديم النظير حسنة من حسنات الأيام شديد التعصب للسنة والتمسك بها حتى أمر بإحراق كتب الغزالي لأمر توهمه منها</p>
<p>“Secara global, beliau (Al-Qadli Iyadl) adalah tiada tandingannya, sebuah kebaikan dari kebaikan jaman, sangat keras dalam berta’ashub dan memegang As-Sunnah, bahkan sampai memerintahkan untuk membakar kitab-kitab Al-Ghazali karena suatu perkara yang menjadikannya cemas atasnya…” (Syadzaratudz Dzahab fi Akhbar Man Dzahab: 4/138).</p>
<p><strong><em>Bahkan karena begitu berbahayanya pemikiran Al-Ghazali yang masih hidup, pemikirannya sampai mempengaruhi </em></strong><strong>Al-Allamah Abul Wafa’ Ibnu Aqil Al-Hanbali</strong><strong><em> dan </em></strong>Abul Khaththab Mahfuzh bin Ahmad Al-Kalwadzani<strong><em> yang dulunya bermanhaj salaf menjadi mu’tazilah dan sufiyah</em></strong>. Al-Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">ولما ورد الغزالي إلى بغداد ودرس بالنظامية حضره ابن عقيل وأبو الخطاب وجمع</p>
<p>“Ketika Al-Ghazali tiba di Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah, pelajarannya dihadiri oleh Ibnu Aqil, Abul Khaththab dan sekelompok orang.” (Al-Maqshidul Arsyad: 2/247).</p>
<p>Dan akhirnya Ibnu Aqil bertaubat dari pemikiran Al-Ghazali. Ibnu Muflih  berkata:</p>
<p dir="RTL">وكان يعظمهم ويترحم على الحلاج ثم بعد ذلك أظهر التوبة وكتب خطه وأن الحلاج قتل بإجماع علماء عصره وأصابوا في ذلك وأخطأ هو مع ذلك فإني أستغفر الله تعالى وأتوب إليه من مخالطة المعتزلة والمبتدعة</p>
<p>“Adalah Ibnu Aqil sangat mengagungkan tokoh-tokoh sufi dan membacakan rahimahullah untuk Al-Hallaj (tokoh manunggaling kawula gusti, pen). Setelah itu ia menampakkan taubatnya dan menulis dengan tulisannya (tentang taubatnya), dan menyatakan bahwa Al-Hallaj itu dibunuh atas kesepakatan para ulama di masanya. Mereka (para ulama) telah benar dalam perkara itu dan ia (Al-Hallaj) telah salah. Maka aku meminta ampun kepada Allah U dan bertaubat kepadanya dari perbuatan bergaul dengan orang-orang mu’tazilah dan ahlul bid’ah.” (Al-Maqshidul Arsyad: 2/246).</p>
<p>Adapun para ulama yang hidup <strong><em>setelah meninggalnya Al-Ghazali</em></strong>, maka <strong><em>mereka bisa memilah-milah mana pendapat Al-Ghazali yang dapat dipakai dan mana yang harus dibuang</em></strong>.</p>
<p>Di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau  berkata:</p>
<p dir="RTL">وَالْإِحْيَاءُ فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ، لَكِنَّ فِيهِ مَوَادَّ مَذْمُومَةً، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ تَتَعَلَّقُ بِالتَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ &#8211; فَإِذَا ذُكِرَتْ مَعَارِفُ الصُّوفِيَّةِ كَانَ بِمَنْزِلَةِ مَنْ أَخَذَ عَدُوًّا لِلْمُسْلِمِينَ أَلْبَسَهُ ثِيَابَ الْمُسْلِمِينَ وَقَدْ أَنْكَرَ أَئِمَّةُ الدِّينِ عَلَى أَبِي حَامِدٍ هَذَا فِي كُتُبِهِ وَقَالُوا: أَمْرَضَهُ الشِّفَاءُ يَعْنِي شِفَاءَ ابْنِ سِينَا فِي الْفَلْسَفَةِ &#8211; وَفِيهِ أَحَادِيثُ وَآثَارٌ ضَعِيفَةٌ، بَلْ مَوْضُوعَةٌ كَثِيرَةٌ وَفِيهِ أَشْيَاءُ مِنْ أَغَالِيطِ الصُّوفِيَّةِ وَتُرَّهَاتِهِمْ، وَفِيهِ مَعَ ذَلِكَ مِنْ كَلَامِ الْمَشَايِخِ الصُّوفِيَّةِ الْعَارِفِينَ الْمُسْتَقِيمِينَ فِي أَعْمَالِ الْقُلُوبِ الْمُوَافِقِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمِنْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْعِبَادَاتِ وَالْأَدَبِ مَا هُوَ مُوَافِقٌ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا هُوَ أَكْثَرُ مِمَّا يَرِدُ مِنْهُ فَلِهَذَا اخْتَلَفَ فِيهِ اجْتِهَادُ النَّاسِ وَتَنَازَعُوا فِيهِ.</p>
<p>“Dan kitab Ihya’ Ulumiddin di dalamnya terdapat banyak faedah. Tetapi di dalamnya terdapat banyak materi yang tercela. Ini karena di dalamnya terdapat materi yang rusak yang berupa pendapat filosof tentang tauhid, kenabian dan hari akhir. Jika disebutkan wajah-wajah kaum sufiyah, maka ia (Al-Ghazali) adalah seperti orang yang memakaikan baju musuh kaum muslimin dengan baju kaum muslimin. Dan para pembesar agama ini telah mengingkari Abu Hamid (Al-Ghazali) ini dalam kitab-kitabnya dan menyatakan bahwa Al-Ghazali telah dibuat sakit oleh Asy-Syifa’, yakni kitab Asy-Syifa’ karya Ibnu Sina dalam filsafat. Di dalamnya terdapat hadits dan atsar yang dhaif bahkan maudlu’ (palsu) yang banyak. Di dalamnya juga terdapat kesalahan dan ocehan kaum sufiyah. Di dalamnya terdapat ucapan tokoh sufi yang masih beristiqamah dalam amalan hati yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan lainnya yang berupa ibadah dan adab yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam jumlah banyak. Oleh karena itu ijtihad para manusia berbeda-beda menyikapi kitab tersebut.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 5/86).</p>
<p>Demikian pula, apa yang dilakukan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah yang hidup setelah Al-Ghazali dalam Minhajul Qashidin adalah dengan memilah-milah kitab Ihya’. Dan sebelum menulis Minhajul Qashidin, Ibnul Jauzi  juga telah menerangkan kesalahan-kesalahan yang dikandung oleh kitab Al-Ihya’. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">وقد صنف ابن الجوزي كتابا على الاحياء وسماه علوم الاحيا بأغاليط الاحيا</p>
<p>“Dan Ibnul Jauzi telah menulis kitab komentar terhadap kitab Al-Ihya’ dan ia menamainya dengan <strong><em>‘Ulumul Ahya bi Aghalithil Ihya’</em></strong> <strong><em>(Ilmu Orang-orang yang Masih Hidup atas Kesalahan-kesalahan kitab Al-Ihya’)</em></strong>.” (Al-Bidayah wan Nihayah: 12/214).</p>
<p><strong><em>Sehingga jika Ibnu Aqil dan Abul Khaththab yang merupakan ulama besar saja bisa terpengaruh oleh pemikiran Al-Ghazali yang masih hidup, maka apalagi Saudara Abu Muawiah yang merupakan ustadz “kecil”, maka ia lebih bisa dan lebih mungkin terpengaruh oleh pemikiran Ali Hasan, Khalid Ghirbani dan Salim Al-Hilali yang masih hidup!!!!</em></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Ketiga:</span></strong> Apa yang dilakukan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi  dan Al-Imam Ibnu Qudamah  dalam Minhajul Qashidin dan Mukhtasharnya adalah <strong><em>menukil apa yang dinukil oleh Al-Ghazali</em></strong>, bukan menukil ucapan Al-Ghazali secara langsung. Sehingga kita tidak akan menjumpai satu tempat pun dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin kata-kata <strong><em>“Al-Ghazali berkata demikian”</em></strong> atau <strong><em>“Abu Hamid (kunyah Al-Ghazali) berkata demikian”</em></strong> atau <strong><em>“Hujjatul Islam (julukan Al-Ghazali) berkata demikian”</em></strong>.</p>
<p>Di dalam Minhajul Qashidin hanyalah terdapat firman Allah U, sabda Nabi r serta ucapan As-Salaf yang tsabit. Adapun ucapan pribadi Al-Ghazali, para filosof, tokoh-tokoh sesat dan hadits palsu maka itu semua tidak dinukil oleh Ibnul Jauzi . Beliau  menyatakan:</p>
<p dir="RTL">وسأكتب لك كتابا يخلو عن مفاسده ولا يخلو بفوائده أعتمد فيه من النقول الأصح والأشهر ومن المعنى الأثبت والأجود وأحذف ما يصلح حذفه وأزيد ما يصلح أن يزاد</p>
<p>“Dan aku akan menuliskan untukmu sebuah kitab yang bersih dari kerusakan kitab Al-Ihya’ dan tidak sunyi dari faidah-faidahnya. Aku -dalam kitab ini- hanya bersandar pada penukilan-penukilan yang paling valid dan paling masyhur, dan makna yang paling tsabit dan paling bagus. Dan aku membuang yang pantas dibuang dan menambahkan apa yang pantas ditambahkan.” (Muqaddimah Mukhtashar Minhajil Qashidin: 11).</p>
<p>Sehingga dalam masalah ini Al-Imam Ibnul Jauzi  sudah berbuat obyektif dalam penukilan yaitu mengikuti wasiat Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau ? berwasiat:</p>
<p dir="RTL">لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا</p>
<p>“Janganlah bertaqlid kepadaku, jangan pula bertaqlid kepada Malik, jangan pula kepada Asy-Syafi’i, jangan pula kepada Al-Auza’i, jangan pula kepada Ats-Tsauri! <strong><em>Ambillah (baca: nukillah, pen) darimana mereka mengambil (baca: menukil, pen)!”</em></strong> (Shifat Shalat Nabi lil Albani: 53).</p>
<p>Dari keterangan di atas tampaklah bahwa perbuatan Saudara Abu Muawiah yang berhujjah dengan perbuatan Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah untuk membolehkan <strong><em>‘menukil kebenaran dari selain ahlussunnah’ </em></strong>adalah bukan pada tempatnya dan hanya isapan jempol belaka.</p>
<p align="center"><strong> </strong><strong>KESIMPULAN </strong><strong></strong><strong></strong></p>
<ul>
<li>Mencari kebenaran haruslah dari Ahlussunnah</li>
<li>Menerima kebenaran boleh dari bermacam-macam orang</li>
<li>Menukil kebenaran termasuk dalam bab mengambil kebenaran</li>
<li>Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang sudah mati lebih ringan daripada menukilnya ketika masih hidup</li>
<li>Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang masih hidup adalah salah satu bentuk tazkiyah dan pengagungan terhadap orang tersebut</li>
<li>Menukil kebenaran dari ahlul bid’ah yang masih hidup adalah salah satu bentuk ta’awun di atas kebatilan</li>
<li>Bolehnya menukil keterangan dari ahlul bid’ah dengan tujuan syar’i seperti untuk menegakkan hujjah, memperbanyak pendapat yang sesuai dengan kebenaran dan membantah pendapat ahlul bid’ah</li>
</ul>
<p>Demikian tulisan ini semoga menjadi pelajaran bagi kita. Amien.</p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p>[1]  Sebagai bentuk amanat ilmiyah maka kami sampaikan keterangan penting di sini bahwa <strong>situs kullal salafiyeen</strong> yang diterjemahkan oleh saudara Abu Muawiah Hammad sebagai bahan penguat artikel “Pembelaan Diri”nya tersebut <strong>telah ditahdzir oleh Asy Syaikh Shalih As Suhaimi hafizhahullah</strong>. Berikut bukti suaranya (perhatikan pada menit ke-9 dst):</p>
<p><strong><a href="http://www.4shared.com/audio/SBgrvFkO/_____.html">http://www.4shared.com/audio/SBgrvFkO/_____.html</a></strong></p>
<p>[2]  Berikut Fatwa Asy Syaikh Rabi’ terhadap pembesar situs fitnah aloloom ini:</p>
<p><em>”Al-Ghirbani menyingkap kondisi dirinya sendiri. <strong>Dia itu Haddadi, Ikhwani, Penyusup</strong>. dia ini kadzdzab (pendusta)</em> <em><strong>Si Al-Ghirbani ini, si penyusup ini, dialah yang menyimpangkan makna ucapanku dan menghilangkan/membuang ucapanku  dan mempermainkannya”</strong></em></p>
<p><em>Link suara beliau: </em><a href="http://www.4shared.com/audio/CQhaz0O_/rabe_jarh_ghirbaniAloloom.html">http://www.4shared.com/audio/CQhaz0O_/rabe_jarh_ghirbaniAloloom.html</a><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=442&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2011/11/04/menukil-kebenaran-dari-ahlul-bid%e2%80%99ah-bolehkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Kaya, Siapa Takut?</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2011/10/14/menjadi-kaya-siapa-takut/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2011/10/14/menjadi-kaya-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 14:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Kaya]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman]]></category>
		<category><![CDATA[ahli waris]]></category>
		<category><![CDATA[Auf]]></category>
		<category><![CDATA[dinar]]></category>
		<category><![CDATA[dirham]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[Hizam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaya. Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Musayyib]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang]]></category>
		<category><![CDATA[Quraisy]]></category>
		<category><![CDATA[shadaqah]]></category>
		<category><![CDATA[Sufyan]]></category>
		<category><![CDATA[Takut]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[uqiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[  (Motivasi Islami untuk Menjadi Kaya) Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Pendahuluan Menjadi seorang salafy atau ahlus Sunnah yang kaya raya adalah sah-sah saja. Apalagi jika dengan niat yang benar, para Sahabat Nabi r pun ingin  dan iri terhadap orang kaya yang demikian. Dari Abu Dzar  Al-Ghifari t: أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=431&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>(Motivasi Islami untuk Menjadi Kaya)</strong></p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p align="center"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Menjadi seorang salafy atau ahlus Sunnah yang kaya raya adalah sah-sah saja. Apalagi jika dengan niat yang benar, para Sahabat Nabi r pun ingin  dan iri terhadap orang kaya yang demikian.</p>
<p>Dari Abu Dzar  Al-Ghifari t:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ</p>
<p><strong><em>“Bahwa sebagian orang dari kalangan sahabat Nabi </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em> berkata kepada Nabi </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em>: “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya itu berangkat dengan membawa banyak pahala. Mereka melakukan shalat sebagaimana kami melakukan shalat. Mereka pun berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka mampu bersedekah dengan kelebihan harta mereka….dst.”</em></strong> (HR. Muslim: 1674, Abu Dawud: 1286, Ahmad: 20500).</p>
<p>Menjadi kaya juga memerlukan motivasi dari generasi terdahulu yang menjadi teladan dalam kebaikan.<span id="more-431"></span> Dengan mencontoh mereka, kita berharap agar mempunyai tujuan yang benar di dalam mencari  kekayaan yang halal seperti menegakkan agama Islam, menyambung silaturrahim, menyantuni kaum fakir miskin, dan sebagainya.</p>
<p align="center"><strong>Pengertian Kaya dan Batasannya</strong></p>
<p>Secara bahasa, menurut Al-Allamah Murtadla Az-Zubaidi <strong><em>“Al-Ghina”</em></strong> (kaya) adalah lawan kata faqir. Beliau berkata:</p>
<p dir="RTL">وهو على ضربين أحدهما ارتفاع الحاجات وليس ذلك الا الله تعالى والثانى قلة الحاجات وهو المشار إليه بقوله تعالى ووجدك عائلا فاغنى</p>
<p>“Kata <strong><em>‘kaya’</em></strong> ada 2 macam arti: <strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></strong> adalah hilangnya hajat (kebutuhan). Dan ini adalah hanyalah Allah U. <strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span></strong> adalah sedikitnya hajat (kebutuhan). Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah U: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (kekayaan).” (QS. Adl-Dluha: 8).” (Tajul Arus: 8527).</p>
<p>Secara syariat, kaya memiliki 2 pengertian: <strong><span style="text-decoration:underline;">pertama</span></strong> adalah kaya secara jiwa (batin) dan <strong><span style="text-decoration:underline;">kedua</span></strong> adalah kaya secara ekonomi (lahir).</p>
<p>Tentang <strong><em>kaya secara jiwa</em></strong>, Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ</p>
<p><strong><em>“Bukannya kaya itu dari sebab banyaknya materi duniawi. Tetapi kaya adalah kayanya jiwa.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 5965, Muslim: 1741, At-Tirmidzi: 2295 dan Ibnu Majah: 4127 dari Abu Hurairah t).</p>
<p>Sedangkan <strong><em>kaya secara ekonomi</em></strong>, Al-Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali berkata:</p>
<p dir="RTL">فَالْغَنِيُّ فِي بَابِ الزَّكَاةِ نَوْعَانِ: نَوْعٌ يُوجِبُهَا، وَنَوْعٌ يَمْنَعُهَا؛ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمْ يُنْكِرْ عَلَى السُّؤَالِ إذَا كَانُوا مِنْ أَهْلِهَا، وَلِكَثْرَةِ التَّأَذِّي بِتَكْرَارِ السُّؤَالِ.</p>
<p>“Maka orang kaya dalam Bab Zakat ada 2 macam:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">pertama</span></strong> adalah kaya yang mewajibkan dipungut zakat dan,</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">kedua</span></strong> adalah kaya yang menghalangi dari menerima zakat. Karena Rasulullah r tidak mengingkari orang yang meminta-minta jika memang mereka termasuk orang-orang yang berhak (menerima zakat) dan karena rasa risih sebab berulangnya meminta-minta.” (Al-Furu’: 4/310).</p>
<p><strong><em>Orang kaya yang diwajibkan membayar zakat</em></strong> adalah orang yang jumlah kekayaannya sudah sampai nishab zakat (seperti 20 dinar atau 200 dirham atau 40 ekor kambing dll).</p>
<p>Rasulullah r berpesan kepada Mu’adz bin Jabal t:</p>
<p dir="RTL">فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ</p>
<p>“Jika mereka menaatimu dalam urusan shalat, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka <strong><em>zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang faqir mereka.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 1308, Muslim: 27, At-Tirmidzi: 567, An-Nasa’i: 2392, Abu Dawud: 1351 dan Ibnu Majah: 1773 dari Ibnu Abbas y).</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib t bahwa Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ</p>
<p><strong><em>“Jika kamu mempunyai uang 200 dirham dan mengendap 1 tahun maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 5 dirham. Dan tidak wajib atasmu mengeluarkan zakat emas sehingga uangmu mencapai 20 dinar dan mengendap 1 tahun, maka keluarkan zakatnya sebesar ½ dinar.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1342 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 7783 (4/137). Hadits ini di-hasan-kan oleh Az-Zaila’i dalam Nashbur Rayah: 2/328 dan isnadnya di-jayyid-kan oleh Al-Allamah Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib Syarh Raudlatuth Thalib: 5/73).</p>
<p>Adapun <strong><em>orang kaya yang dilarang meminta-minta atau menerima zakat</em></strong>, maka terdapat beberapa nishab yang diterangkan oleh syariat.</p>
<p>Dari Sahl bin Al-Hanzhaliah t bahwa Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْغِنَى الَّذِي لَا تَنْبَغِي مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ</p>
<p>“Barangsiapa meminta-minta, padahal ia masih mempunyai kekayaan yang mencukupinya, maka ia hanyalah memperbanyak api neraka.” Mereka bertanya: <strong><em>“Wahai Rasulullah! Berapakah kekayaan yang mencukupi dari meminta-minta?” </em></strong>Beliau menjawab: <strong><em>“Sekedar uang (atau makanan) untuk sarapan pagi dan makan sore baginya.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1388 dan Ahmad: 16967. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1441).</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri t bahwa Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ سَأَلَ وَلَهُ قِيمَةُ أُوقِيَّةٍ فَقَدْ أَلْحَفَ</p>
<p>“Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia masih mempunyai <strong><em>harta seharga 1 uqiyyah</em></strong>, maka ia telah meminta-minta dengan memaksa.” (HR. Abu Dawud: 1387, An-Nasa’i: 2548 dan Ahmad: 10622. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6027).</p>
<p>Dalam riwayat Abu Dawud:</p>
<p dir="RTL">زَادَ هِشَامٌ فِي حَدِيثِهِ وَكَانَتْ الْأُوقِيَّةُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا</p>
<p>“Hisyam (bin Ammar) menambahkan dalam haditsnya: <strong><em>“1 uqiyyah di masa Rasulullah </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em> adalah 40 dirham.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1387).</p>
<p><strong><em>Mana di antara ukuran nishab di atas yang bisa dipakai?</em></strong></p>
<p>Al-Imam Al-Baghawi berkata:</p>
<p dir="RTL">وذهب الأكثرون إلى أن حده أن يكون عنده ما يكفيه وعياله، وهو قول مالك والشافعي، قال الشافعي: وقد يكون الرجل غنيا بالدرهم مع كسب، ولا يكون غنيا بألف لضعفه في نفسه، وكثرة عياله،</p>
<p>“Kebanyakan ulama berpendapat bahwa batasan kaya (yang diharamkan meminta-minta) adalah jika ia memiliki harta yang mencukupi dirinya dan keluarga yang ditanggungnya. Ini adalah pendapat Malik dan Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i berkata: “Kadang-kadang seseorang menjadi kaya dengan uang 1 dirham dengan usaha yang ia miliki. Dan kadang-kadang seseorang belum dianggap kaya dengan uang 1000 dirham, karena ia tidak mempunyai usaha dan memiliki banyak tanggungan.” (Syarhus Sunnah: 6/86).</p>
<p>Dan untuk perlu diketahui bahwa pada tanggal 01 Oktober 2011 (3 Dzulqa’dah 1432 H), 1 dinar (mata uang emas) setara dengan Rp. 2.177.000,-. Sedangkan 1 dirham (mata uang perak) setara dengan Rp. 53.000,-.</p>
<p>Sehingga nishab orang kaya yang diharamkan meminta-minta atau menerima zakat adalah 40 dirham yang setara dengan Rp. 2.120.000,-. Dan nishab orang kaya yang wajib zakat adalah 200 dirham (Rp. 10.600.000,-) atau 20 dinar (Rp. 43.540.000,-).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Rasulullah </strong><strong>r</strong><strong></strong></p>
<p>Seorang muslim diperbolehkan <strong>bercita-cita menjadi orang kaya</strong> dengan niat untuk memperkuat agamanya.</p>
<p>Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ</p>
<p><strong><em>“Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Kesehatan itu lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Dan jiwa yang bagus merupakan kenikmatan.”</em></strong> (HR. Ibnu Majah: 2132, Ahmad: 22076 dari Ubaid bin Mu’adz t, di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak: 2131 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 174).</p>
<p>Rasulullah r juga pernah berkata kepada Amr bin Al-Ash t:</p>
<p dir="RTL">يَا عَمْرُو نَعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ</p>
<p><strong><em>“Wahai Amr! Alangkah beruntungnya jika harta yang baik dipunyai oleh orang yang shalih.”</em></strong> (HR. Ahmad: 17134, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22627 (7/18) dan di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 2130 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan di-shahih-kan pula oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykat: 3756 (2/355)).</p>
<p>Dan orang yang paling beruntung adalah orang bisa mengumpulkan ilmu dan kekayaan. Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ&#8230;الخ</p>
<p><strong><em>“Dunia hanyalah untuk 4 kelompok orang; yaitu seorang hamba yang diberikan rejeki harta dan ilmu oleh Allah kemudian ia menggunakannya untuk bertaqwa kepada Rabbnya, menyambung sanak saudaranya dan ia mengetahui hak-hak Allah yang harus ditunaikan dari harta itu. Orang ini berada pada kedudukan yang paling tinggi; dan seorang hamba…..dst.”</em></strong> (Ahmad: 17339, At-Tirmidzi: 2247 dan di-shahih-kan olehnya dari Abu Kabsyah Al-Anmari t. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 3024).</p>
<p>Dan Rasulullah r berpesan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash t:</p>
<p dir="RTL">إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, maka itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dengan meminta-minta belas kasihan manusia.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 1213, Muslim: 3076, At-Tirmidzi: 2042, Ibnu Majah: 2699).</p>
<p align="center"><strong>Do’a agar Menjadi Kaya</strong></p>
<p>Di antara do’a-do’a agar menjadi kaya adalah hadits Abu Hurairah t, ia berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ</p>
<p>“Bahwa Nabi e berdo’a:<strong><em> “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefaqiran, sedikit harta benda, dan kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada menzhalimi orang lain atau dizhalimi.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1320, An-Nasa’i: 5365, Ahmad: 7708 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1287).</p>
<p>Al-Allamah Abdur Ra’uf Al-Munawi berkata:</p>
<p>“Makna (<strong><span style="text-decoration:underline;">sedikit harta</span></strong>) dengan kasrahnya huruf qaf, yaitu <strong><em>sedikitnya harta yang ditakutkan dapat menyebabkan terjadinya sedikit rasa sabar atas kekurangan dan penguasaan syetan dengan mengingatkan akan kenikmatan orang kaya atau sedikitnya jumlah dan bilangan harta.”</em></strong> (At-Taisir bi Syarhil Jami’ish Shaghir: 1/449).</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud t bahwa Rasulullah e berdo’a:</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</p>
<p><strong><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (menjaga diri dari perkara haram), dan kekayaan</em></strong>.” (HR. Muslim: 4898, At-Tirmidzi: 3411 dan Ibnu Majah: 3822).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah  pengganti Rasulullah r di dalam kepemimpinan umat dan orang kedua setelah Rasulullah r dalam keutamaan. Beliau juga adalah pedagang yang paling mahir di kalangan kaum Quraisy.</p>
<p>Aisyah Ummul Mukminin t berkata:</p>
<p dir="RTL">كَانَ أَبُو بَكْرٍ أَتْجَرَ قُرَيْشٍ</p>
<p><strong><em>“Abu Bakar adalah orang Quraisy yang paling ahli berdagang.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22621 (7/16) dari Waki’ bin Jarrah dari Muhammad bin Syarik dari Abdullah bin Abi Mulaikah dari Aisyah. Mereka semua adalah orang-orang tsiqat).</p>
<p>Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq t berkata:</p>
<p dir="RTL">دينك لمعادك و درهمك لمعاشك و لا خير في أمر بلا درهم</p>
<p><strong><em>“Agamamu adalah untuk akhiratmu dan uang dirhammu adalah untuk penghidupanmu. Dan tidak ada kebaikan di dalam suatu perkara tanpa uang dirham.”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1254 (2/93) dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan: 1648 (8/441)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab</strong></p>
<p>Beliau adalah  pengganti Abu Bakar t di dalam kepemimpinan umat dan orang kedua setelah Abu Bakar t  dalam keutamaan. Beliau juga adalah pedagang yang dermawan.</p>
<p>Al-Harits bin Rabi’ Al-Adawi berkata:</p>
<p dir="RTL">سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: كُتِبَتْ عَلَيْكُمْ ثَلاَثَةُ أَسْفَارٍ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالرَّجُلُ يَسْعَى بِمَالِهِ فِي وَجْهٍ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ، أَبْتَغِي بِمَالِي مِنْ فَضْلِ اللهِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ أَمُوتَ عَلَى فِرَاشِي، وَلَوْ قُلْتُ: إنَّهَا شَهَادَةٌ، لَرَأَيْت أَنَّهَا شَهَادَةٌ</p>
<p>“Aku telah mendengar Umar Ibnul Khaththab berkata: <strong><em>“Diwajibkan 3 safar (bepergian) atas kalian: (pertama adalah) haji dan umrah, (kedua adalah) jihad dan (ketiga adalah) seseorang (yang bepergian) untuk mencari harta dalam rangka melaksanakan salah satu dari ketiga di atas (haji, umrah dan jihad, pen). Dan jika aku mati dalam keadaan mencari keutamaan rejeki dari Allah, maka itu lebih aku sukai daripada aku mati di atas tempat tidurku. Dan  andaikan aku katakan bahwa mati dalam safar tersebut adalah mati syahid maka menurutku itu merupakan mati syahid.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22626 (7/17) dari Waki’ bin Al-Jarrah dari Abu Na’amah Amr bin Isa dari Al-Harits bin Rabi’, dan juga diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 61 (62). Para perawi Ibnu Abi Syaibah adalah orang-orang tsiqat).</p>
<p>Umar bin Al-Khaththab t juga pernah berkata:</p>
<p dir="RTL">ما جاءني أجلي في مكان ما عدا في سبيل الله عز و جل أحب إلي من أن يأتيني و أنا بين شعبتي رحلي أطلب من فضل الله</p>
<p>“Tidaklah kedatangan ajalku di suatu tempat selain medan perang di jalan Allah U, lebih aku cintai daripada kedatangan ajalku ketika aku sedang di antara kedua kaki untaku (bermusafir, pen) untuk mencari keutamaan Allah (dari berdagang, pen).” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1256 (2/93). Dan juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannafnya: 21018 (11/464) dari Ma’mar bin Rasyid dari Az-Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar. Sedangkan Ubaidullah belum pernah bertemu dengan kakeknya).</p>
<p>Qurrah bin Khalid berkata:</p>
<p dir="RTL">سألنا الحسن: أوصى عمر بن الخطاب بثلث ماله أربعين ألفا؟ قال: لا والله لماله كان أيسر من أن يكون ثلثه أربعين ألفا، ولكنه لعله أوصى بأربعين ألفا فأجازوها.</p>
<p>“Kami bertanya kepada Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri: “Benarkah Umar Ibnul Khaththab mewasiatkan 1/3 hartanya sebanyak 40.000 (dinar atau dirham)?” Beliau menjawab: “Tidak, demi Allah. Sungguh, 1/3 hartanya lebih banyak daripada 40.000. Tetapi mungkin beliau mewasiatkan 40.000 kemudian dilaksanakan oleh mereka (ahli waris beliau, pen).” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 679 (2/31)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Utsman bin Affan </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah khalifah ketiga setelah Umar Ibnul Khaththab t. Beliau juga seorang saudagar yang dermawan.</p>
<p>Amirul Mukminin Utsman bin Affan t berkata kepada para Khawarij yang mengepung rumah beliau:</p>
<p dir="RTL">أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ وَالْإِسْلَامِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ يُسْتَعْذَبُ غَيْرَ بِئْرِ رُومَةَ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَأَنْتُمْ الْيَوْمَ تَمْنَعُونِي أَنْ أَشْرَبَ حَتَّى أَشْرَبَ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ</p>
<p>“Aku sumpah kalian dengan nama Allah dan Islam! Tahukah kalian bahwa Rasulullah r tiba di Madinah dan di Madinah tidak ada sumur yang berair tawar selain sumur Rumah. Beliau bersabda: “<strong><em>Siapa yang mau membeli sumur Rumah kemudian ia menjadikan timbanya bersama timba kaum muslimin (ia wakafkan, pen) dengan baik maka ia akan mendapat bagiannya di surga?”</em></strong> Maka aku (Utsman) membelinya dengan uangku sendiri dan kalian (Khawarij) hari ini menghalangiku untuk meminum airnya sehingga aku minum air laut.” (HR. At-Tirmidzi: 3636 dan di-hasan-kan olehnya, An-Nasa’i: 3551, Ahmad: 524 dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: 2921).</p>
<p>Ibrahim Al-Harbi berkata:</p>
<p dir="RTL">واشترى بئر رومة بعشرين ألف درهم</p>
<p><strong><em>“Utsman membeli sumur Rumah seharga 20.000 dirham.”</em></strong> (Tarikh Damsyiq: 39/20, Tahdzibul Asma’ wal Lughat: 454).</p>
<p>Abdurrahman bin Samurah t berkata:</p>
<p dir="RTL">جاء عثمان بن عفان رضي الله عنه إلى النبي صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك، وفي كمه ألف دينار، فصبها في حجر النبي صلى الله عليه وسلم ثم ولى قال عبد الرحمن: فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقلبها بيده في حجره ويقول: « ما ضر عثمان ما فعل بعدها أبدا»</p>
<p>“Ketika perang Tabuk, Utsman bin Affan t datang kepada Nabi r. <strong><em>Di lengan bajunya terdapat uang 1.000 dinar. </em></strong>Kemudian ia menuangkannya di pangkuan Nabi r dan berpaling (pulang).” Abdurrahman berkata: “Maka aku melihat Rasulullah r menerima uang tersebut di pangkuan beliau dengan tangan beliau sendiri dan berkata: <strong><em>“Tidak akan berbahaya apa yang dilakukan oleh Utsman setelah ini.”</em></strong> (HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syariah: 1371 (4/55) dan ini adalah redaksinya, At-Tirmidzi: 3634 dan ia berkata: “Hadits hasan gharib.” Di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 4553 (3/110) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).</p>
<p>Ubaidullah bin Utbah berkata:</p>
<p dir="RTL">كان لعثمان عند خازنه يوم قتل، ثلاثون ألف ألف درهم وخمسمائة ألف درهم، ومائة ألف دينار ، فانتهبت وذهبت، وترك ألف بعير بالربذة، وترك صدقات كان تصدق بها، بئر أريس، وخيبر، ووادي القرى، فيه مائتا ألف دينار.</p>
<p>“Ketika terbunuh, Utsman masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: uang 30.500.000 dirham, uang 100.000 dinar. Kemudian uang tersebut dirampas (oleh para khawarij, pen) dan hilang. Beliau juga meninggalkan 1.000 unta di Rabadzh. Beliau juga meninggalkan beberapa shadaqah yang mana beliau bersedekah dengannya; sumur Aris, Khaibar, Wadil Qura yang di dalamnya terdapat uang 200.000 dinar.” (Al-Bidayah wan Nihayah: 7/214).</p>
<p>Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain berkata:</p>
<p dir="RTL">ما قتل ابن عفان حتى بلغت غلة نخله علي مائة ألف</p>
<p>“Tidaklah Utsman bin Affan terbunuh kecuali hasil panen kebun kurmanya sudah sampai 100.000 (dinar).” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 47 (48) dan Yahya bin Adam dalam Al-Kharaj: 255 (233)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Thalhah bin Ubaidillah </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah seorang shahabat Nabi r yang kaya dan dermawan selain berilmu dan menjadi 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau adalah contoh seorang manager yang berhasil mengelola kekayaannya untuk jalan Allah.</p>
<p>Amr bin Dinar berkata:</p>
<p dir="RTL">أخبرني مولى لطلحة قال: كانت غلة طلحة كل يوم ألف واف</p>
<p>“Telah menceritakan kepadaku Maula Thalhah bahwa penghasilan Thalhah tiap hari adalah 1000 (dinar) tepat.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).</p>
<p>Ibrahim At-Taimi berkata:</p>
<p dir="RTL">كان طلحة يغل بالعراق أربع مائة ألف، ويغل بالسراة عشرة آلاف دينار أو  أقل أو  أكثر،  وبالاعراض  له غلات وكان لا يدع أحدا من بني تيم عائلا إلا كفاه، وقضى دينه، ولقد كان يرسل إلى عائشة  إذا جاءت غلته  كل سنة بعشرة آلاف، ولقد قضى عن فلان  التيمي ثلاثين ألفا</p>
<p>“Adalah Thalhah mendapatkan penghasilan di Iraq 400.000 (dinar), mendapatkan penghasilan di Sarah 10.000 dinar atau kurang atau lebih, di A’radl juga mendapatkan penghasilan. Dan beliau tidaklah meninggalkan orang miskin dari Bani Taim pun kecuali beliau telah mencukupinya dan membayarkan hutangnya. Dan beliau –ketika penghasilannya datang- mengirimkan setiap tahun 10.000 (dinar) untuk Ibunda Aisyah. Dan beliau telah membayarkan hutang Fulan At-Taimi 30.000 (dinar).” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).</p>
<p>Musa bin Thalhah berkata:</p>
<p dir="RTL">ترك ألفي ألف درهم ومئتي ألف درهم، ومن الذهب مئتي ألف دينار،</p>
<p>“Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan 2.200.000 dirham dan uang emas sebanyak 200.000 dinar.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33).</p>
<p>Lihatlah! Beliau tidaklah mengumpulkan kekayaan untuk diri-sendiri tetapi untuk menyantuni orang-orang faqir miskin.</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Abdurrahman bin Auf </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah seorang shahabat Nabi r yang kaya dan dermawan selain berilmu dan menjadi 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau adalah contoh seorang manager yang berhasil mengelola kekayaannya untuk jalan Allah.</p>
<p>Beliau memulai hidup di Madinah dalam keadaan faqir dan mencari kekayaan dari nol. Beliau juga tidak mau menjadi beban kaum muslimin yang lainnya.</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi berkata:</p>
<p dir="RTL">ولما هاجر إلى المدينة كان فقيرا لا شئ له،</p>
<p>“Ketika berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf menjadi orang faqir yang tidak mempunyai apa-apa.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/91).</p>
<p>Anas bin Malik t berkata:</p>
<p dir="RTL">قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فَآخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ وَعِنْدَ الْأَنْصَارِيِّ امْرَأَتَانِ فَعَرَضَ عَلَيْهِ أَنْ يُنَاصِفَهُ أَهْلَهُ وَمَالَهُ فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ فَأَتَى السُّوقَ فَرَبِحَ شَيْئًا مِنْ أَقِطٍ وَشَيْئًا مِنْ سَمْنٍ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَيَّامٍ وَعَلَيْهِ وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ فَقَالَ مَهْيَمْ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَقَالَ تَزَوَّجْتُ أَنْصَارِيَّةً قَالَ فَمَا سُقْتَ إِلَيْهَا قَالَ وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ</p>
<p>“Abdurrahman bin Auf tiba di Madinah dan dipersaudarakan oleh Rasulullah r dengan Sa’id bin Rabi’ Al-Anshari. Sa’id memiliki 2 istri dan menawarkan kepada Abdurrahman untuk membagi 2 harta dan istrinya. Abdurrahman berkata: “Semoga Allah memberikan barakah kepadamu pada istri dan hartamu. Tunjukkan aku kepada pasar!” Kemudian Abdurrahman berangkat ke pasar (dan berdagang). Kemudian ia mendapatkan laba berupa sedikit aqith (sejenis bubur) dan minyak samin. Beberapa hari kemudian Rasulullah r melihat padanya bekas minyak wangi berwarna kuning (yang digunakan pada hari pernikahan, pen). Beliau berkata: “Bagaimana kabarmu, Wahai Abdurrahman?” Maka Abdurrahman menjawab: “Aku telah menikah dengan seorang wanita Anshar.” Beliau bertanya: “Berapa mahar yang kamu berikan untuknya?” Abdurrahman menjawab: “Emas seberat koin 5 dirham.” Maka beliau berkata: “Adakan walimah meskipun dengan seekor kambing.” (HR. Al-Bukhari: 3644, At-Tirmidzi: 1856).</p>
<p>Al-Imam Az-Zuhri berkata:</p>
<p dir="RTL">تصدق عبد الرحمن بن عوف على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم بشطر ماله ثم تصدق بعد بأربعين ألف دينار ثم حمل على خمسمائة فرس في سبيل الله وخمسمائة راحلة وكان أكثر ماله من التجارة</p>
<p>“Abdurrahman bin Auf mengeluarkan shadaqah pada masa Rasulullah r dari setengah hartanya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 40.000 dinar setelahnya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 500 ekor kuda dan 500 ekor unta di jalan Allah. Dan kebanyakan hartanya berasal dari perdagangan.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/347).</p>
<p>Ummu Bakar bintu Miswar berkata:</p>
<p dir="RTL">ان عبد الرحمن باع أرضا له من عثمان بأربعين ألف دينار، فقسمه في فقراء بني زهرة، وفي المهاجرين، وأمهات المؤمنين.</p>
<p>“Bahwa Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dari Utsman seharga 40.000 dinar. Kemudian  beliau membagi-bagikan tanah tersebut untuk orang-orang faqir dari Bani Zuhrah, kaum Muhajirin, dan istri-istri Rasulullah r.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/86).</p>
<p>Dari Abu Salmah bin Abdurrahman bin Auf bahwa Aisyah Ummul Mukminin t berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِنَّ أَمْرَكُنَّ مِمَّا يُهِمُّنِي بَعْدِي وَلَنْ يَصْبِرَ عَلَيْكُنَّ إِلَّا الصَّابِرُونَ قَالَ ثُمَّ تَقُولُ عَائِشَةُ فَسَقَى اللَّهُ أَبَاكَ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ تُرِيدُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَكَانَ قَدْ وَصَلَ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَالٍ يُقَالُ بِيعَتْ بِأَرْبَعِينَ أَلْفًا</p>
<p>“Sesungguhnya Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya urusan kalian (istri-istri Nabi) termasuk menjadi perhatianku setelahku. Dan tidak akan bersabar mengurusi kalian kecuali orang-orang yang bersabar.” Kemudian Aisyah berkata: “Semoga Allah memberikan minuman untuk ayahmu dari mata air Salsabil di surga, yakni Abdurrahman bin Auf. Ia telah menyambung (baca: menyantuni, pen) istri-istri Nabi r dengan harta yang dapat dijual senilai 40.000 dinar.” (HR. At-Tirmidzi: 3682 dan di-shahih-kan olehnya dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: 2948).</p>
<p>Thalhah bin Abdirrahman bin Auf berkata:</p>
<p dir="RTL">كان أهل المدينة عيالا على عبد الرحمن بن عوف: ثلث يقرضهم ماله، وثلث يقضي دينهم، ويصل ثلثا.</p>
<p>“Adalah penduduk Madinah menjadi tanggungan atas Abdurrahman bin Auf; sepertiga dari mereka diberi pinjaman oleh Abdurrahman dari hartanya, sepertiga dari mereka dibayarkan hutang mereka olehnya dan sepertiganya disambung olehnya.” (Siyar A’lamin Nubala’:  1/88).</p>
<p>Al-Imam Az-Zuhri berkata:</p>
<p dir="RTL">أوصى عبد الرحمن بن عوف لكل من شهد بدرا بأربعمائة دينار فكانوا مائة رجل</p>
<p>“Abdurrahman bin Auf pernah berwasiat untuk (untuk membagikan dari hartanya sepeninggalnya, pen) kepada setiap orang yang ikut perang Badar dengan 400 dinar. Mereka berjumlah 100 orang.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/349).</p>
<p>Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin):</p>
<p dir="RTL">أن عبد الرحمن بن عوف توفي وكان فيما ترك ذهب قطع بالفؤوس حتى مجلت أيدي الرجال منه وترك أربع نسوة فأخرجت امرأة من ثمنها بثلاثين ألفا</p>
<p>“Bahwa Abdurrahman bin Auf wafat. Di antara harta yang ditinggalkannya adalah emas yang dipotong-potong dengan kapak yang menyebabkan tangan-tangan orang yang memotongnya bengkak karenanya. Beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan dari 1/8 warisan sebesar 30.000 (dinar).” (Shifatush Shafwah: 1/355, Usudul Ghabah: 1/711).</p>
<p>Lihatlah! Beliau  tidaklah mengumpulkan kekayaan untuk diri-sendiri tetapi untuk menyantuni orang-orang faqir miskin, berjihad di jalan Allah, menghidupi istri-istri Nabi r dan menyambung silaturahim.</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Az-Zubair bin Al-Awwam </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p dir="RTL">كان الزبير تاجراً مجدوداً في التجارة، فقيل: بما أدركت في التجارة؟ قال: لأني لم أشتر معيبا، ولم أرد ربحا والله يبارك لمن يشاء.</p>
<p>“Adalah Az-Zubair <strong><span style="text-decoration:underline;">seorang pedagang yang sukses (dermawan) dalam perniagaannya</span></strong>. Ditanyakan kepadanya: <strong><em>“Dengan sebab apa kamu mendapati (kesuksesan) dalam perdagangan?”</em></strong> Ia menjawab: <strong><em>“Karena aku tidak pernah membeli (menjual) barang yang cacat. Aku tidak menolak keuntungan. Dan Allahlah yang memberikan barakah kepada orang yang dikehendaki oleh-Nya.”</em></strong> (Ar-Riyadlun Nadlrah fii Manaqibil Asyrah: 310, Al-Isti’ab: 152).</p>
<p>Ummu Durrah berkata:</p>
<p dir="RTL">بعث الزبير إلى عائشة بغرارتين تبلغ ثمانين ومائة ألف درهم.</p>
<p>“Az-Zubair pernah mengirimkan 2 karung untuk Aisyah (Ummul Mukminin) yang mencapai 180.000 dirham.” (Ar-Riyadlun Nadlrah fii Manaqibil Asyrah: 310).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Sa’ad bin Abi Waqqash </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau termasuk 10 shahabat yang dijamin masuk surga. Beliau termasuk sahabat Nabi r yang menjauhi fitnah semenjak terbunuhnya Utsman t. Beliau juga tidak mengikuti pertempuran Jamal dan juga Shiffin. Untuk menghindari fitnah tersebut, beliau menyibukkan diri dengan berternak unta dan kambing.</p>
<p>Amir putra Sa’ad bin Abi Waqqash berkata:</p>
<p dir="RTL">كَانَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي إِبِلِهِ فَجَاءَهُ ابْنُهُ عُمَرُ فَلَمَّا رَآهُ سَعْدٌ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الرَّاكِبِ فَنَزَلَ فَقَالَ لَهُ أَنَزَلْتَ فِي إِبِلِكَ وَغَنَمِكَ وَتَرَكْتَ النَّاسَ يَتَنَازَعُونَ الْمُلْكَ بَيْنَهُمْ فَضَرَبَ سَعْدٌ فِي صَدْرِهِ فَقَالَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ</p>
<p>“Adalah Sa’ad bin Abi Waqqash sedang sibuk mengurusi untanya. Kemudian Umar, salah satu putranya mendatanginya. Ketika Sa’ad melihatnya maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan penunggang ini.” Kemudian ia turun dan berkata kepadanya: “Engkau (wahai Sa’ad) sibuk mengurusi untamu dan kambingmu dan engkau tinggalkan manusia berselisih tentang kekuasaan di antara mereka?” Maka Sa’ad memukul dadanya dan berkata: “Diamlah (wahai Anakku)! Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda: <strong><em>“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya dan yang menyendiri.”</em></strong> (HR. Muslim: 5266, Ahmad: 1364).</p>
<p>Aisyah bintu Sa’ad bin Abi Waqqash berkata:</p>
<p dir="RTL">أرسل أبي إلى مروان بزكاته خمسة آلاف، وترك يوم مات مائتي ألف وخمسين ألف درهم</p>
<p>“Ayahku mengirimkan zakat mal-nya kepada Khalifah Marwan sebesar 5.000 dirham. Dan beliau ketika wafat meninggalkan harta sebesar 250.000 dirham.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/123).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Qais bin Ashim </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah Qais bin Ashim bin Sinan At-Tamimi t, salah seorang sahabat Nabi r. Beliau datang kepada Rasulullah r bersama utusan Bani Tamim pada tahun 9 H. (Al-Isti’ab: 400).</p>
<p>Di antara wasiat beliau kepada anak-anak beliau adalah:</p>
<p dir="RTL">وعَليْكُم بالمَال واصطِنَاعِه فَإنَّهُ مَنبَهَةٌ للكَرِيم ويُستَغنَى بِه عَن اللئِيم ، وإِياكُم ومَسأَلة النَّاس فَإنَّها مِن آخر كَسبِ الرَّجُل</p>
<p><strong><em>“Wajib bagi kalian untuk memiliki harta dan mata pencahariannya! Karena ia (harta dan mata pencahariannya) adalah kemuliaan bagi orang yang mulia dan bisa melindungi diri dari orang-orang yang curang. Hindarilah meminta-minta manusia! Karena ia adalah pekerjaan terakhir seseorang.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 381 (132) dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad: 277).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Abdullah bin Umar bin Al-Khathathab </strong><strong>y</strong><strong></strong></p>
<p>Al-Imam Abdullah bin Umar y berkata:</p>
<p dir="RTL">مَا أُبَالِي لَوْ كَانَ لِي أُحُدٌ ذَهَبًا أَعْلَمُ عَدَدَهُ وَأُزَكِّيهِ وَأَعْمَلُ فِيهِ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p><strong><em>“Aku tidak peduli, seandainya aku mempunyai segunung Uhud emas yang mana aku mengetahui jumlahnya dan aku mengeluarkan zakatnya dan aku menggunakannya untuk menaati Allah </em></strong><strong><em>U</em></strong><strong><em>.”</em></strong> (Atsar riwayat Ibnu Majah: 1777, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 7021 (4/82) dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1446).</p>
<p>Al-Imam Nafi’ berkata:</p>
<p dir="RTL">ان ابنا لعمر باع ميراثه من ابن عمر بمائة ألف درهم</p>
<p>“Bahwa salah seorang putra Umar menjual harta warisnya kepada Ibnu Umar seharga 100.000 dirham.” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 677 (2/30)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Abdullah bin Mas’ud </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Al-Imam Abdullah bin Mas’ud berkata:</p>
<p dir="RTL">والله الذي لا اله غيره ما يضر عبدا يصبح على الاسلام ويمسى عليه ما أصابه من الدنيا</p>
<p><strong><em>“Demi Allah yang mana tiada ilah yang berhak disembah dengan haq selain-Nya, tidak akan membahayakan seorang hamba yang telah berada di atas Al-Islam di waktu pagi dan sore, seberapa pun harta dunia yang ia peroleh.”</em></strong> (Atsar riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd: 159, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 35676 (13/291) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1257 (2/94)).</p>
<p>Al-Imam Zurr bin Hubaisy Al-Kufi (ulama tabi’in) berkata:</p>
<p dir="RTL">مات عبد الله بن مسعود وترك سبعين ألف درهم</p>
<p>“Abdullah bin Mas’ud t meninggal dunia dan meninggalkan uang 70.000 dirham (uang perak).” (Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih: 679 (2/31)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid </strong><strong>t</strong><strong></strong></p>
<p>Beliau adalah sahabat Nabi r yang masuk Islam ketika tahun Fathu Makkah dan islamnya menjadi baik. (Siyar A’lamin Nubala’: 3/44).</p>
<p>Hakim bin Hizam t berkata:</p>
<p dir="RTL">كنت تاجرا أخرج إلى اليمن وآتي الشام، فكنت أربح أرباحا كثيرة، فأعود على فقراء قومي. وابتعت بسوق عكاظ زيد بن حارثة لعمتي بست مائة درهم، فلما تزوج بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهبته زيدا، فأعتقه.</p>
<p>“Aku adalah pedagang yang keluar ke Yaman dan datang ke Syam. Dan aku mendapatkan laba yang banyak. Kemudian aku menjenguk orang-orang fakir dari kalangan kaumku. Dan aku membelikan untuk bibiku (Khadijah bintu Khuwailid t) di pasar Ukkazh seorang budak yaitu Zaid bin Haritsah. Ketika bibiku dinikahi oleh Rasulullah r maka aku hibahkan Zaid kepada beliau, kemudian beliau memerdekakannya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/47).</p>
<p>Dan Hakim bin Hizam t adalah seorang pedagang yang dermawan baik ketika masih kafir maupun sesudah menjadi muslim.</p>
<p>Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah r:</p>
<p dir="RTL">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ أَوْ أَتَحَنَّتُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ هَلْ لِي فِيهَا أَجْرٌ قَالَ حَكِيمٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ</p>
<p>“Wahai Rasulullah! Bagaimana menurutmu, perbuatanku yang aku lakukan ketika masih jahiliyyah dengan niat ibadah yang berupa shadaqah, memerdekakan budak, silaturrahim, apakah ada pahala untukku di dalamnya?”  Rasulullah r menjawab: <strong><em>“Kamu masuk Islam dengan membawa (pahala) kebaikan yang telah kamu lakukan pada masa lampau (jahiliyyah).”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 1346, Muslim: 175 dan Ahmad: 14779).</p>
<p>Urwah bin Az-Zubair berkata:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَعْتَقَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَة</p>
<p>“Bahwa ketika masih jahiliyyah Hakim bin Hizam t telah memerdekakan 100 budak dan menyedekahkan 100 unta. Ketika setelah masuk Islam, ia masih menyedekahkan 100 unta dan memerdekakan 100 budak.” (HR. Al-Bukhari: 2353, Muslim: 177).</p>
<p>Abu Hazim berkata:</p>
<p dir="RTL">ما بلغنا أنه كان بالمدينة أكثر حملا في سبيل الله من حكيم.</p>
<p>“Menurut berita yang sampai kepada kami, tidak ada seseorang yang paling banyak shadaqahnya untuk jalan Allah selain Hakim bin Hizam.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/50).</p>
<p>Said dan Urwah berkata: “Adalah Hakim bin Hizam t tidak mau menerima pemberian uang dari siapa pun sampai ia meninggal. Bahkan Umar t berkata -ketika Hakim bin Hizam menolak pemberian jatah uang dari baitul mal-:</p>
<p dir="RTL">اللهم إني أشهدك على حكيم أني أدعوه لحقه وهو يأبى.</p>
<p>“Ya Allah! Aku jadikan Engkau saksi atas Hakim (bin Hizam). Sesungguhnya aku telah menyerunya agar menerima haknya tetapi ia menolaknya.”</p>
<p>Said dan Urwah berkata:</p>
<p dir="RTL">فمات حين مات، وإنه لمن أكثر قريش مالا.</p>
<p>“Maka Hakim wafat di hari wafatnya dalam keadaan ia menjadi orang Quraisy yang paling banyak hartanya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 3/48).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p dir="RTL">وكان عاقلا سريا فاضلا تقيا سيدا بماله غنيا</p>
<p>“Adalah Hakim bin Hizam seorang yang berakal, dermawan, mulia, bertakwa, menjadi manajer atas hartanya dan kaya.” (Al-Isti’ab: 107).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib</strong></p>
<p>Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib (ulama tabi’in) berkata:</p>
<p dir="RTL">لا خير فيمن لا يجمع المال، فيكف به وجهه، ويؤدي به أمانته، ويصل به رحمه.</p>
<p><strong><em>“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mengumpulkan harta, kemudian ia menahan wajahnya dengan harta itu (dari perkara haram dan syubhat, pen), ia juga menunaikan amanatnya dengan harta itu dan ia juga bisa menyambung sanak saudaranya dengan harta itu.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Bakar Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah: 2211 (5/336), Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 51 (52) dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).</p>
<p>Yahya bin Sa’id Al-Anshari berkata:</p>
<p dir="RTL">عن سعيد بن المسيب، أنه ترك أربعمائة دينار. وقال: إني والله ما تركتها إلا لأصون بها عرضي أو وجهي</p>
<p>“Dari Al-Imam Sa’id bin Al-Musayyib, bahwa ketika mendekati ajal, beliau meninggalkan uang 400 dinar (mata uang emas) dan berkata: “Demi Allah, sesungguhnya saya tidaklah meninggalkan harta itu kecuali hanya untuk menjaga kehormatanku atau wajahku.” (Atsar riwayat Abu Bakar Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah: 2211 (5/336), Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 51 (52) dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri</strong></p>
<p>Seseorang bertanya kepada Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri:</p>
<p dir="RTL">يا أبا سعيد أفتح مصحفي فاقرأه حتى أمسي قال الحسن :  اقرأه بالغداة و اقرأه بالعشي وكن سائر نهارك في منفعتك و ما يصلحك</p>
<p>“Wahai Aba Sa’id (Al-Hasan Al-Bashri)! <strong><em>Apakah aku harus membuka mush-hafku kemudian aku membacanya sampai sore?”</em></strong> Maka beliau menjawab: <strong><em>“Bacalah mush-hafmu pada waktu pagi dan bacalah pada waktu sore! Jadikan sepanjang siangmu untuk mencari manfaatmu (baca: rejeki, pen) dan untuk perkara yang memperbaikimu (dalam duniamu, pen)!”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1259 (2/94)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri</strong></p>
<p>Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:</p>
<p dir="RTL">كان المال فيما مضى يكره، فأما اليوم، فهو ترس المؤمن، وقال: لولا هذه الدنانير لتمندل بنا هؤلاء الملوك.وقال: من كان في يده من هذه شيء، فليصلحه، فإنه زمان إن احتاج، كان أول من يبذل دينه، وقال: الحلال لا يحتمل السرف.</p>
<p><strong><em>“Adalah harta pada masa lalu merupakan perkara yang dibenci. Adapun hari ini, maka ia merupakan perisai seorang mukmin.”</em></strong> Beliau berkata: <strong><em>“Seandainya tidak ada dinar-dinar ini (uang emas), maka para raja akan menjadikan kami seperti handuk (sapu tangan).”</em></strong> Beliau juga berkata: <strong><em>“Barangsiapa yang  memiliki sedikit perkara ini (dinar, pen), maka hendaknya ia memperbaiki cara mencarinya. Karena sekarang adalah jaman yang mana jika seseorang membutuhkan (harta) manusia, maka pertama kali yang ia serahkan adalah agamanya.”</em></strong> Beliau juga berkata: <strong><em>“Harta yang halal tidak untuk dihambur-hamburkan.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’: 6/381 dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah: 14/291).</p>
<p>Al-Allamah Mulla Ali Al-Qari berkata: “Makna <strong><em>“menjadikan kami seperti handuk (sapu tangan)”</em></strong> adalah menjadikan kami sebagai obyek pembersih kotoran mereka dengan pemberian hadiah dan sadaqah dari para raja.” (Mirqatul Mafatih: 15/202).</p>
<p>Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:</p>
<p dir="RTL">إذا أردت أن تتعبد فانظر فإن كان في البيت بر فتعبد و إلا فاطلب البر أولا ثم تعبد</p>
<p>“Jika kamu hendak beribadah maka lihatlah dulu! Jika di rumahmu terdapat gandum burr maka silakan beribadah! Jika tidak ada, maka carilah gandum burr dulu kemudian silakan beribadah.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1269 (2/96)).</p>
<p>Al-Imam Muhammad bin Tsaur berkata:</p>
<p dir="RTL">كان سفيان الثوري يمر بنا ونحن جلوس في المسجد الحرام، فيقول «ما يجلسكم؟» فنقول: فما نصنع؟ قال: « اطلبوا من فضل الله، ولا تكونوا عيالا على المسلمين»</p>
<p>“Adalah Sufyan Ats-Tsauri melewati kami yang sedang duduk-duduk di Masjidil Haram. Beliau berkata: “Untuk apa kalian duduk-duduk?” Maka kami bertanya: “(Kalau begitu) kami harus berbuat apa?” Maka beliau berkata: <strong><em>“Carilah dari rejeki Allah dan janganlah kalian menjadi beban bagi kaum muslimin.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 22 (23)).</p>
<p>Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:</p>
<p dir="RTL">لان أخلف عشرة آلاف درهم، يحاسبني الله عليها أحب إلي من أن أحتاج إلى الناس.</p>
<p><strong><em>“Jika aku mati meninggalkan uang 10.000 dirham yang akan dihisab oleh Allah atasnya, maka itu lebih aku sukai daripada aku membutuhkan manusia</em></strong>.” (Siyar A’lamin Nubala’: 7/241, Hilyatul Auliya’: 6/381).</p>
<p>Yusuf bin Asbath berkata:</p>
<p dir="RTL">مات سفيان الثوري وخلف مائتي دينار</p>
<p>“Sufyan Ats-Tsauri meninggal dunia dengan meninggalkan uang 200 dinar.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 18 (19)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Sufyan bin Uyainah</strong></p>
<p>Abul Hasan Az-Zahid berkata:</p>
<p dir="RTL">قال رجل لسفيان بن عيينة : يكون الرجل زاهدا وعنده مئة دينار؟ قال: « نعم » ، قال : وكيف ذلك ؟ قال: «إن نقصت لم يغتم، وإن زادت لم يفرح، ولا يكره الموت لفراقها»</p>
<p>“Seseorang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah<strong><em>: “Apakah seseorang disebut zuhud padahal ia mempunyai uang 100 dinar?” </em></strong>Beliau menjawab: <strong><em>“Ya.”</em></strong> Ia bertanya: <strong><em>“Bagaimana bisa?”</em></strong> Beliau menjelaskan: <strong><em>“Jika uang tersebut berkurang maka ia tidak merasa sedih, jika bertambah maka ia tidak merasa senang dan ia tidak membenci kematian karena takut berpisah dengan uang itu.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash-Shina’ah: 19 (20)).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak</strong></p>
<p>Al-Abbas bin Mush’ab berkata:</p>
<p dir="RTL">جمع عبد الله الحديث، والفقه، والعربية، وأيام الناس، والشجاعة، والسخاء، والتجارة، والمحبة عند الفرق.</p>
<p>“Abdullah (bin Al-Mubarak) telah mengumpulkan Al-Hadits, ilmu fikih, bahasa Arab, hari-hari manusia (ilmu sejarah, pen), keberanian, sifat dermawan, perdagangan dan rasa cinta ketika berpisah.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/383).</p>
<p>Al-Imam Fudlail bin Iyadl bertanya kepada guru beliau yaitu Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak:</p>
<p dir="RTL">أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟ قال: يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.</p>
<p><strong><em>“Engkau memerintahkan kami untuk berzuhud, mempersedikit harta dan bekal. Tetapi kami melihatmu datang dengan membawa banyak barang dagangan, bagaimana ini?”</em></strong> Abdullah bin Al-Mubarak berkata: <strong><em>“Wahai Abu Ali (Fudlail)! Saya melakukan seperti ini dalam rangka menjaga wajahku, memuliakan kehormatanku dan memperkuat diriku dengannya untuk menaati Rabbku.”</em></strong> (Siyar A’lamin Nubala’: 8/287).</p>
<p>Muhammad bin Ali bin Hasan bin Syaqiq berkata:</p>
<p dir="RTL">قال أبي وبلغنا أنه قال للفضيل بن عياض لولاك وأصحابك ما اتجرت قال أبي وكان ينفق على الفقراء في كل سنة مائة ألف درهم</p>
<p>“Ayahku berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Abdullah bin Al-Mubarak berkata kepada Fudlail bin Iyadl: <strong><em>“Seandainya tidak ada kamu dan teman-temanmu (para penuntut ilmu, pen), niscaya saya tidak akan berdagang.”</em></strong> Ayahku juga berkata: <strong><em>“Adalah Abdullah bin Al-Mubarak ber-infaq kepada orang-orang faqir setiap tahun 100.000 dirham.”</em></strong> (Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal: 16/22, Siyar A’lamin Nubala’: 8/386).</p>
<p>Hibban bin Musa berkata:</p>
<p dir="RTL">عوتب ابن المبارك فيما يفرق من المال في البلدان دون بلده، قال: إني أعرف مكان قوم لهم فضل وصدق، طلبوا الحديث، فأحسنوا طلبه لحاجة الناس إليهم، احتاجوا، فإن تركناهم، ضاع علمهم، وإن أغناهم، بثوا العلم لامة محمد صلى الله عليه وسلم، لا أعلم بعد النبوة أفضل من بث العلم</p>
<p>“Ibnul Mubarak pernah dicela karena hartanya yang dibagi-bagikan olehnya di negeri-negeri lain selain negerinya. Beliau berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui tempat kaum yang mempunyai keutamaan dan kejujuran (yakni para ulama dan penuntut ilmu, pen). Mereka mencari hadits dan telah berbuat baik dalam mencarinya karena manusia sangat membutuhkan mereka. Mereka sangat membutuhkan (bantuan nafkah, pen). Apabila kita membiarkan mereka maka hilanglah ilmu mereka. Dan jika kita menjadikan mereka kaya (dengan nafkah tersebut, pen), mereka akan mampu menyebarkan ilmu untuk ummat Muhammad r. Aku tidak mengetahui ada keutamaan setelah kenabian yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/387).</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi berkata:</p>
<p dir="RTL">وكان عبد الله غنيا شاكرا، رأس ماله نحو الاربع مئة ألف.</p>
<p>“Abdullah bin Al-Mubarak adalah seorang kaya yang bersyukur. Adalah jumlah modalnya sekitar 400-an ribu (dinar atau dirham).” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/409).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al-Jurmi</strong></p>
<p>Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani berkata:</p>
<p dir="RTL">بعث إلي أبو قلابة بكتاب فيه الزم سوقك واعلم أن الغنى معافاة</p>
<p>“Al-Imam Abu Qilabah mengirimkan surat kepadaku. Di antara isinya adalah: <strong><em>“Tetaplah berada di pasarmu! Dan ketahuilah bahwa kekayaan itu keselamatan.”</em></strong> (Atsar riwayat Abdurrazzaq dalam Mushannafnya: 21021 (11/465), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1261 (2/95)).</p>
<p>Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani berkata:</p>
<p dir="RTL">الزم سوقك فإن فيه غنى عن الناس و صلاحا في الدين</p>
<p><strong><em>“Tetaplah berada di pasarmu! Karena di dalamnya terdapat kekayaan dari (bergantung kepada) manusia dan kebaikan dalam urusan agama.”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 1260 (2/94)).</p>
<p>Al-Imam Abu Qilabah berkata:</p>
<p dir="RTL">أي رجل أعظم أجرا من رجل ينفق على عيال له صغار يعفهم الله به ويغنيهم</p>
<p>“Lelaki mana yang lebih besar pahalanya daripada seorang laki-laki yang ber-infaq untuk keluarganya yang masih kecil-kecil yang dengannya Allah menjadikan mereka menjaga diri (dari meminta-minta) dan menjadikan mereka kaya?” (Shifatus Shafwah: 3/238).</p>
<p align="center"><strong>Motivasi Kaya dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal</strong></p>
<p>Abu Bakar Al-Khallal berkata:</p>
<p dir="RTL">سمعت رجلا ، يقول لأبي عبد الله رحمه الله : إني في كفاية ، فقال : « الزم السوق تصل به الرحم وتعود به »</p>
<p>“Aku pernah mendengar seseorang berkata kepada Al-Imam Ahmad: “Sesungguhnya aku sudah dalam kecukupan hidup.” Maka beliau berkata: <strong><em>“Tetaplah berada di pasar (berdagang, pen)! Kamu bisa menyambung kerabatmu dan menjenguk orang sakit dengan hasil itu.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 1 (2)).</p>
<p>Abu Bakar Al-Khallal berkata:</p>
<p dir="RTL">قال رجل لأبي عبد الله رحمه الله من أصحاب ابن أسلم: ترى أن أعمل؟ قال : نعم، وتصدق بالفضل على قرابتك</p>
<p>“Seseorang dari sahabat Ibnu Aslam bertanya kepada Al-Imam Ahmad: “Apakah menurutmu aku harus bekerja?” Beliau menjawab: “Ya, dan sedekahkanlah kelebihan hasilnya kepada kerabatmu!” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 2 (3)).</p>
<p>Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:</p>
<p dir="RTL">قد أمرتهم يعني لولده أن يختلفوا إلى السوق، وأن يتعرضوا للتجارة</p>
<p>“Aku memerintahkan mereka (yaitu: anak-anak beliau) untuk mondar-mandir ke pasar dan melakukan perdagangan.” (Atsar riwayat Abu Bakar Al-Khallal dalam Al-Hatstsu alat Tijarah wash Shina’ah: 3 (4)).</p>
<p align="center"><strong>Penutup</strong></p>
<p>Demikian motivasi dari mereka agar kita dapat meneladaninya sehingga Allah menjadikan kita orang kaya yang bersyukur. Amien.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/431/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=431&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2011/10/14/menjadi-kaya-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2011/09/22/berlebaran-bersama-pemerintah-syiar-persatuan-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2011/09/22/berlebaran-bersama-pemerintah-syiar-persatuan-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 15:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[14]]></category>
		<category><![CDATA[abad]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qadli]]></category>
		<category><![CDATA[Diakui]]></category>
		<category><![CDATA[Ditolak]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtihat]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[persaksian]]></category>
		<category><![CDATA[politis]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[Syarik]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>
		<category><![CDATA[Waliyyul Amr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Setiap kali memasuki bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah, kita selalu dihantui dengan kegelisahan dan keresahan dengan perbedaan puasa dan lebaran. Ini disebabkan karena sebagian masyarakat merasa tidak puas dengan penentuan dan isbat hari raya yang dilakukan oleh Pemerintah. Ijtihad Penguasa Mereka yang berpuasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=425&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin</p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Setiap kali memasuki bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah, kita selalu dihantui dengan kegelisahan dan keresahan dengan perbedaan puasa dan lebaran. Ini disebabkan karena sebagian masyarakat merasa tidak puas dengan penentuan dan isbat hari raya yang dilakukan oleh Pemerintah.<span id="more-425"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Ijtihad Penguasa</strong></p>
<p>Mereka yang berpuasa dan berlebaran dengan keadaan menyelisihi pemerintah dan mayoritas masyarakat rata-rata berdalilkan bahwa masing-masing kaum muslimin yang sudah memiliki ilmu Ad-Dien yang cukup matang <strong><em>diperbolehkan untuk melakukan ijtihad</em></strong> meskipun harus berbeda dengan ijtihad penguasa.</p>
<p>Akan tetapi yang patut disayangkan adalah mereka juga masih belum mengerti tentang wilayah ijtihad.  <strong><em>Mana  yang menjadi hak ijtihad pemerintah dan negara, dan mana yang menjadi  hak ijtihad individu atau golongan</em></strong>.</p>
<p>Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri (ulama generasi tabi’in) menjelaskan hak-hak ijtihad pemerintah:</p>
<p dir="RTL">هم يلون من أمورنا خمسا الجمعة والجماعة والعيد والثغور والحدود والله ما يستقيم الدين إلا بهم وإن جاروا أو ظلموا</p>
<p>“Mereka mengurusi dari urusan kita 5 perkara: shalat Jum’at, shalat jamaah, hari raya, perbatasan negara, dan hukum hadd. Demi Allah! Agama ini tidak akan tegak kecuali dengan mereka walaupun mereka itu melampaui batas atau berbuat zalim.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 262).</p>
<p>Al-Allamah Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata:</p>
<p dir="RTL">ولذا أدار الفقهاء حكم ثبوت الهلال على قضاء القاضي ، وأما ما يذكر في كتب الفقه من أن القضاء لا يجري إلا في المعاملات ولا يدخل في العبادات فأقول : لا أجده كلية فإنا نجد قضاء القاضي دخيلة في العبادات فإن الجمعة والعيدين والكسوف موكولة إلى الإمام ، وأما الصلاة الخمسة فكان نصب الإمام في السلف من جانب أمير المؤمنين والخليفة، وفي الزكاة أن الإمام جبر الناس على أن يرفعوا الزكاة إلى بيت المال، وأما في الحج فكان أمير الموسم مقتدى الناس، وكذلك الصيام موكول إلى رأي القاضي فإنه إن حكم القاضي بالصوم على رؤية رجل يوم الغيم يجب الصوم، الخ</p>
<p>“Oleh karena itu para fuqaha’ mengkaitkan hukum tetapnya Hilal berdasarkan keputusan (baca: ijtihad) seorang qadhi (hakim negara). Adapun yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih bahwa keputusan qadhi hanyalah berlaku dalam urusan Mu’amalah dan tidak berlaku dalam urusan Ibadah, maka saya katakan: “Tidak semuanya demikian. Kami mendapati keputusan qadhi bisa berlaku dalam urusan Ibadah. Maka perkara Jum’at, 2 hari raya dan shalat gerhana diserahkan pada ijtihad penguasa. Adapun shalat 5 waktu, maka penetapan imam rawatib pada masa As-Salaf adalah berdasar ijtihad Amirul Mukminin dan para khalifah. Dalam urusan zakat, penguasa berhak memaksa rakyatnya untuk menyerahkan zakat mereka ke baitul mal. Adapun dalam urusan haji, maka Amirul Hajj menjadi panutan manusia. Demikian pula, urusan puasa diserahkan kepada ijtihad qadhi. Sehingga ketika qadhi menetapkan berlakunya puasa berdasarkan rukyat seseorang pada hari mendung maka wajiblah berpuasa (bagi masyarakatnya, pen)…dst.” (Al-Urfusy Syadzi: 2/225).</p>
<p>Maka ucapan sebagian tokoh masyarakat bahwa pemerintah tidak usah mengatur urusan puasa, lebaran dan kurban dsb adalah ucapan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Penetapan  Hari Raya adalah Ijitihad Penguasa bukan Ijtihad Individu atau Golongan</strong></p>
<p>Tentang hak pemerintah untuk menentukan hari raya dalam rangka menyatukan umatnya, Rasulullah r bersabda:</p>
<p align="right">الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ</p>
<p><strong><em>“Hari Idul Fitri adalah pada hari orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul Adlha adalah pada hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).”</em></strong> (HR. Tirmidzi: 731 dari Aisyah RA, beliau berkata: hadits shahih gharib. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Munawi dalam At-Taisir: 2/351. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4287).</p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda:</p>
<p dir="RTL">الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ</p>
<p><strong><em>“Puasa adalah pada hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah pada hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah pada hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).”</em></strong> (HR. Tirmidzi: 633, Ibnu Majah: 1650 dari Abu Hurairah RA dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 224)</p>
<p>Al-Imam At-Tirmidzi berkata:</p>
<p dir="RTL">وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس</p>
<p>“Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin) dan mayoritas manusia.” (Tuhfatul Ahwadzi: 2/235).</p>
<p>Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:</p>
<p dir="RTL">أي الفطر هو اليوم الذي يجمعون على الفطر فيه ، هبه صادف الصحة أو لا ويوم الأضحى هو الذي يجمعون على التضحية فيه</p>
<p>“Maksudnya bahwa Idul Fitri adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk berbuka padanya, baik dengan ijtihad yang benar maupun ijtihad yang salah. Dan Idul Adha adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk menyembelih kurban padanya.” (Faidlul Qadir: 4/608).</p>
<p>Al-Allamah Al-Amir Ash-Shan’ani berkata:</p>
<p dir="RTL">فيه دليل على أنه يعتبر في ثبوت العيد الموافقة للناس وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية.</p>
<p>“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa yang dianggap dalam penetapan hari raya adalah kesesuaiannya dengan masyarakat banyak. Dan orang yang bersendirian dalam mengetahui hari raya wajib untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat banyak. Wajib baginya melaksanakan hukum yang berlaku dalam masyarakat tentang shalat (ied), lebaran dan kurban.” (Subulus Salam: 3/432).</p>
<p>Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi Al-Hindi berkata:</p>
<p dir="RTL">وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ</p>
<p>“Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. Dan dengan dasar ini jika ada seseorang melihat hilal sendirian dan kemudian penguasa menolak persaksiannya maka seyogyanya ia tidak meng-itsbat (menetapkan puasa atau lebaran) untuk dirinya. Tetapi wajib baginya untuk mengikuti masyarakat dan pemerintahnya dalam perkara tersebut.” (Hasyiyah Ibni Majah As-Sindi:3/431).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Teladan dari Generasi As-Salaf</strong></p>
<p>Keteladanan mereka telah mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah r. Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</p>
<p><strong><em>“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (Sahabat), kemudian generasi setelahnya (Tabi’in), kemudian generasi setelahnya (Tabi’ut Tabi’in).”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 3377, Muslim: 4003, At-Tirmidzi: 2147, An-Nasa’i: 3749 dari Imran bin Hushain t).</p>
<p>Mereka adalah teladan kita dalam menjaga kekompakan dan kebersamaan lebaran dan puasa bersama pemerintah.</p>
<p><strong>Contoh pertama:</strong> Teladan dari Khalifah Umar bin Al-Khaththab t. Al-Imam Abu Qilabah (seorang ulama tabi’in) bercerita:</p>
<p dir="RTL">أن رجلين رأيا الهلال، وهما بطريق مكة، فتعجلا، فقدما المدينة، فإذا الناس صيام، فأتيا عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، فأخبراه أنهما قد رأيا الهلال، فقال لأحدهما: « أصائم أنت أم مفطر؟ »، فقال: مفطر، قال: «وما حملك على ذلك ؟» ، قال : إني لم أكن لأصوم وقد رأيت الهلال ، فسأل الآخر فقال : أنا صائم ، قال : « ولم ؟ » ، قال: رأيت الناس صياما، فلم أكن لأخالف عليهم ، فقال عمر: «لولا هذا لأوجعت لك رأسك»، ثم أمر الناس، فخرجوا بعدما ارتفع الضحى</p>
<p>“Bahwa ada 2 orang telah melihat hilal (Syawwal). Keduanya melalui jalan Makkah kemudian bercepat-cepat menuju Madinah. Sesampainya di Madinah keduanya menjumpai manusia sedang berpuasa. Maka keduanya mendatangi Khalifah Umar bin Al-Khaththab t dan melaporkan kepada beliau bahwa keduanya telah melihat hilal Syawwal. Maka beliau bertanya kepada salah seorang pelapor: “Kamu berpuasa ataukah berbuka (berlebaran)?” Ia menjawab: “Saya berbuka.” Beliau bertanya lagi: “Apakah alasanmu atas demikian?” Ia menjawab: “Saya tidaklah berpuasa dalam keadaan sudah melihat hilal Syawwal.” Kemudian beliau bertanya kepada pelapor yang lain dengan pertanyaan yang sama maka si pelapor menjawab: “Saya masih berpuasa dan aku tidak akan menyelisihi manusia yang sedang berpuasa.” Maka Umar berkata kepada pelapor yang sudah berbuka: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal Syawwal maka kepalamu akan aku keplaki (baca: pukuli).” Maka beliau memerintahkan kaum muslimin agar membatalkan puasa mereka. Maka mereka keluar menuju shalat ied setelah matahari dzuha meninggi.” (Atsar riwayat Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 7338, Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar: 2319, isnadnya shahih hanya saja Abu Qilabah tidak pernah bertemu Umar).</p>
<p>Bahkan Umar berbicara dengan tegas kepada rakyatnya:</p>
<p dir="RTL">لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا مِنْ شَعْبَانَ، أَوْ يُفْطِرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ، فإِنْ تَقَدَّمَ قَبْلَ النَّاسِ، فَلْيُفْطِرْ إذَا أَفْطَرَ النَّاسُ.</p>
<p>“Hendaknya salah seorang di antara kalian merasa takut untuk berpuasa sehari dari bulan Sya’ban atau berbuka sehari dari bulan Ramadlan! Kalau ia mendahului (melihat hilal Syawal) sebelum manusia maka hendaknya ia berlebaran ketika manusia berlebaran!” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Musnadnya: 9600 (3/73) dan isnadnya adalah shahih. Lihat tahqiq kitab Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 30).</p>
<p><strong>Contoh kedua:</strong> Teladan dari Aisyah t. Al-Imam Masruq (ulama tabi’in) bercerita:</p>
<p dir="RTL">دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَقَالَتِ اسْقُوا مَسْرُوقًا سَوِيقًا وَأَكْثِرُوا حَلْوَاهُ. قَالَ فَقُلْتُ : إِنِّى لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَصُومَ الْيَوْمَ إِلاَّ أَنِّى خِفْتُ أَنْ يَكُونَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ : النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ</p>
<p>“Aku memasuki rumah Ibunda Aisyah t (istri Rasulullah r) pada hari Arafah. Aisyah berkata (kepada pelayannya): “Berilah Masruq minuman As-Sawiq (sejenis bubur gandum) dan perbanyak manisannya!” Masruq berkata: “Tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini kecuali aku khawatir bahwa hari ini adalah hari Iedul Adha.” Maka Aisyah berkata: “Hari Iedul Adha adalah pada hari yang mana masyarakat menyembelih kurban dan hari Iedul Fitri adalah pada hari yang mana masyarakat berbuka.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 8468 (4/525) dan Abu Yusuf dalam Al-Atsar: 809 (2/339). Isnadnya di-jayyid-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 224).</p>
<p>Kekhawatiran Masruq ditolak oleh Ibunda Aisyah karena ia menyelisihi masyarakat Madinah yang sedang berpuasa Arafah.</p>
<p><strong>Contoh ketiga:</strong> Teladan dari Anas bin Malik t Pelayan Rasulullah r. Yahya bin Abi Ishaq bercerita:</p>
<p dir="RTL">رأيت هلال الفطر إما عند الظهر أو قريبا منها، فأفطر ناس من الناس، فأتينا أنس بن مالك، فأخبرناه برؤية الهلال وبإفطار من أفطر من الناس فقال: هذا اليوم يكمل لي أحد وثلاثين يوما وذاك أن الحكم بن أيوب أرسل إلي قبل صيام الناس: إني صائم غدا، فكرهت الخلاف عليه فصمت، وأنا متم يومي هذا إلى الليل</p>
<p>“Aku melihat hilal Idul Fitri pada waktu dhuhur atau mendekatinya. Maka sebagian orang membatalkan puasanya. Kemudian kami mendatangi Anas bin Malik t (sahabat Nabi r) dan mengabarkan kepadanya tentang terlihatnya hilal Syawwal dan berbukanya sebagian orang. Maka beliau berkata: “Pada hari ini saya telah sempurna berpuasa 31 hari. Ini karena Al-Hakam bin Ayyub Ats-Tsaqafi (Gubernur Bashrah) telah berkirim surat kepadaku sebelum manusia berpuasa bahwa beliau berpuasa (duluan, pen) besok hari. Maka aku tidak suka menyelisihinya sehingga aku tetap berpuasa. Dan aku tetap menyempurnakan puasa hari ini (hari ke-31) sampai nanti malam.” (Atsar riwayat Abu Bakar Asy-Syafi’i dalam Al-Ghailaniyyat: 187 (1/190), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 9542 (3/65) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 5/15).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Qudamah menyikapi perbuatan Umar dan Aisyah y di atas dalam ucapannya:</p>
<p dir="RTL">وَلَمْ يُعْرَفْ لَهُمَا مُخَالِفٌ فِي عَصْرِهِمَا، فَكَانَ إجْمَاعًا</p>
<p><strong><em>“Dan tidak diketahui ada sahabat Nabi yang menyelisihi pendapat beliau berdua di masa keduanya (generasi Sahabat) maka jadilah ini sebuah ijma’ (shahabat).”</em></strong> (Al-Mughni: 6/171).</p>
<p>Itulah teladan dari para Shahabat Nabi r dan diikuti oleh generasi Tabi’in. Di antara para tabi’in yang mencontoh mereka adalah Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i. Abul Aizar berkata:</p>
<p dir="RTL">أَتَيْتُ إبْرَاهِيمَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ، فَقَالَ: لَعَلَّك صَائِمٌ، لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ الْجَمَاعَةِ.</p>
<p>“Aku mendatangi Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i pada hari Syakk (tanggal 30 Sya’ban).” Maka beliau berkata: “Mungkin kamu sedang berpuasa. Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama Al-Jamaah (kaum muslimin dan pemerintahnya, pen).” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9591 (3/72)).</p>
<p>Begitu pula Al-Imam Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi juga berkata:</p>
<p dir="RTL">لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ جَمَاعَةِ النَّاسِ</p>
<p>“Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama masyarakat.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9588 (3/71)).</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p dir="RTL">لاَ تَصُومَنَّ إِلاَّ مَعَ الإِمَامِ ، فَإِنَّمَا كَانَتْ أَوَّلُ الْفُرْقَةِ فِي مِثْلِ هَذَا.</p>
<p>“Janganlah berpuasa kecuali bersama pemerintah! Karena awal perpecahan adalah di dalam perkara seperti ini.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9588 (3/72)).</p>
<p>Demikianlah beberapa contoh dari As-Salaf yang mengharuskan kita berpuasa dan berlebaran sesuai dengan penetapan pemerintah dan masyarakatnya.</p>
<p>Atas dasar inilah Al-Imam Ahmad bin Hanbal membuat <strong>kaidah umum</strong> dengan pernyataannya:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ النَّاسَ تَبَعٌ لِلْإِمَامِ، فَإِنْ صَامَ صَامُوا، وَإِنْ أَفْطَرَ أَفْطَرُوا.</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya masyarakat itu mengikuti pemerintah. Jika pemerintah berpuasa maka mereka ikut berpuasa dan jika mereka berlebaran maka mereka pun ikut berlebaran.”</em></strong> (Al-Mughni: 6/37).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Siapakah Waliyyul Amr itu?</strong></p>
<p>Waliyyul Amr yang berhak ditaati dan menetapkan hari raya dan puasa adalah waliyyul amr yang maujud, yang nyata, yang dikenal, yang memiliki kekuasaan (seperti perangkat kekuasaan dan aparatnya, pen) dan kekuatan untuk mengurusi kemaslahatan rakyatnya.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p dir="RTL">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59).</p>
<p>Rasulullah r bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي</p>
<p>“Barangsiapa menaatiku maka ia telah menaati Allah. Barangsiapa berbuat durhaka kepadaku maka ia telah berbuat durhaka kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin maka ia telah menaatiku dan barangsiapa berbuat durhaka kepada pemimpin maka ia telah berbuat durhaka kepadaku.” (HR. Al-Bukhari: 2737, Muslim: 3417 dari Abu Hurairah t).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p dir="RTL">أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بطاعة الأئمة الموجودين المعلومين الذين لهم سلطان يقدرون به على سياسة الناس لا بطاعة معدوم ولا مجهول ولا من ليس له سلطان ولا قدرة على شيء أصلا</p>
<p>“Sesungguhnya Nabi r memerintahkan untuk menaati para pemerintah atau pemimpin yang nyata, yang dikenal, yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur kemaslahatan manusia. Nabi r tidaklah memerintahkan untuk menaati pemimpin yang tidak nyata, atau tidak dikenal dan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan sedikit pun.” (Minhajus Sunnah: 1/61).</p>
<p>Yang dimaksud pemimpin yang nyata adalah Pemerintah Republik Indonesia ini yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengatur kemaslahatan rakyatnya. Sedangkan pemimpin yang tidak nyata seperti pemimpin gerakan bawah tanah semisal NII dan JI, pemimpin ormas Islam, pemimpin gerakan dakwah seperti HTI, pemimpin parpol, guru atau mursyid thareqat, kyai dan pemimpin abstrak lainnya. Maka yang kedua ini tidak boleh menetapkan hari lebaran, puasa dan sebagainya.</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Allamah Abdus Salam Barjis berkata: “Argumentasi pendapat ini adalah bahwa tujuan kepemimpinan yang dibawa oleh syariat ini –yang berupa keadilan di antara manusia, menampakkan syiar-syiar Allah (puasa, hari raya, haji dan jihad) , menegakkan hukum hadd bagi para pelanggar pidana dan sebagainya- tidak akan tegak dengan pemimpin yang tidak nyata (abstrak) atau yang tidak dikenal.</p>
<p>Yang dapat menegakkannya hanyalah pemimpin yang nyata, yang diakui, baik oleh ulama mereka, ataupun orang awam mereka, diakui oleh pemuda ataupun  orang tua mereka, diakui oleh laki-laki ataupun wanita mereka, pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk melaksanakan tujuan kepemimpinan….dst.” (Mu’amalatul Hukkam fi Dlau’il Kitab was Sunnah: 39).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Hari Raya yang Diakui oleh Syariat</strong></p>
<p>Ketika muncul beberapa kelompok kecil masyarakat yang merayakan lebaran dengan hari yang berbeda dengan hari lebaran mayoritas masyarakat dan pemerintah dalam lingkup suatu negara, seringkali timbul pertanyaan; hari lebaran manakah yang diakui oleh syariat ini? Hari lebaran versi pemerintah dan mayoritas masyarakat ataukah lebaran versi sebagian ormas atau kelompok kecil masyarakat lainnya?</p>
<p><strong>Jawabannya</strong> adalah bahwa <strong><em>hari lebaran versi pemerintah dan mayoritas masyarakat inilah yang diakui oleh syariat</em></strong>, dengan alasan:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Sabda Rasulullah r sebagaimana dalam khutbah Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t:</p>
<p dir="RTL">هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْيَوْمُ الْآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ</p>
<p>“Ini adalah 2 hari yang dilarang oleh Rasulullah r untuk berpuasa pada keduanya. Pertama; adalah hari berbukanya kalian dari puasa kalian, Hari yang lainnya; adalah hari dimana kalian memakan sebagian daging kurban kalian.” (HR. Al-Bukhari: 1854, Muslim: 1920).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p dir="RTL">فَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ هُوَ الْيَوْمَ الَّذِي يُفْطِرُهُ الْمُسْلِمُونَ وَيَنْسُكُ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ. وَهَذَا يَظْهَرُ بِالْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ فَإِنَّهُ لَوْ انْفَرَدَ بِرُؤْيَةِ ذِي الْحِجَّةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَقِفَ قَبْلَ النَّاسِ فِي الْيَوْمِ الَّذِي هُوَ فِي الظَّاهِرِ الثَّامِنُ وَإِنْ كَانَ بِحَسَبِ رُؤْيَتِهِ هُوَ التَّاسِعَ</p>
<p>“Maka hari yang dilarang oleh Rasulullah r untuk berpuasa padanya adalah hari yang mana kaum muslimin berbuka padanya dan hari yang mana kaum muslimin berkurban padanya. Dan ini menjadi jelas dengan permasalahan yang kedua. Maka jika ada seseorang berhasil melihat hilal Dzulhijjah sendirian, maka tidak diperbolehkan baginya untuk melakukan wukuf sendirian sebelum manusia yang lainnya pada hari yang secara dhahir (nyata) adalah tanggal 8 Dzulhijjah meskipun menurut rukyatnya itu adalah 9 Dzulhijjah.” (Majmu’ul Fatawa: 25/205).</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Merujuk pengertian kata <strong>‘Hilal’</strong> dan <strong>‘Syahr’</strong> (bulan hijriyah) secara bahasa Arab.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p dir="RTL">وَالْهِلَالُ اسْمٌ لِمَا يُسْتَهَلُّ بِهِ : أَيْ يُعْلَنُ بِهِ وَيُجْهَرُ بِهِ فَإِذَا طَلَعَ فِي السَّمَاءِ وَلَمْ يَعْرِفْهُ النَّاسُ وَيَسْتَهِلُّوا لَمْ يَكُنْ هِلَالًا . وَكَذَا الشَّهْرُ مَأْخُوذٌ مِنْ الشُّهْرَةِ فَإِنْ لَمْ يَشْتَهِرْ بَيْنَ النَّاسِ لَمْ يَكُنْ الشَّهْرُ قَدْ دَخَلَ وَإِنَّمَا يَغْلَطُ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ؟ لِظَنِّهِمْ أَنَّهُ إذَا طَلَعَ فِي السَّمَاءِ كَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةُ أَوَّلَ الشَّهْرِ سَوَاءٌ ظَهَرَ ذَلِكَ لِلنَّاسِ وَاسْتَهَلُّوا بِهِ أَوْ لَا. وَلَيْسَ كَذَلِكَ؛ بَلْ ظُهُورُهُ لِلنَّاسِ وَاسْتِهْلَالُهُمْ بِهِ لَا بُدَّ مِنْهُ؛ وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْم تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْم تُضَحُّونَ} أَيْ هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَعْلَمُونَ أَنَّهُ وَقْتُ الصَّوْمِ وَالْفِطْرِ وَالْأَضْحَى . فَإِذَا لَمْ تَعْلَمُوهُ لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ حُكْمٌ .</p>
<p>“<strong>Hilal</strong> adalah sebuah nama untuk sesuatu yang di-istihlalkan, yaitu sesuatu yang diumumkan dan dikeraskan suara dengannya. Jika bulan baru telah terbit di langit tetapi belum diketahui dan belum diumumkan oleh masyarakat maka belum (boleh) disebut <strong>‘Hilal’</strong>. Demikian pula kata <strong>‘Asy-Syahr’</strong> diambil dari kata <strong>‘syuhrah’</strong> (yang berarti terkenal, pen). Maka jika awal bulan belum terkenal di kalangan masyarakat maka berarti bulan baru Hijriyah belum masuk. Kebanyakan manusia telah salah dalam permasalahan ini karena persangkaan mereka bahwa jika anak bulan telah wujud di langit maka malam itu adalah awal bulan hijriyah, tidak dibedakan apakah sudah jelas dan diumumkan untuk masyarakat ataupun belum. Dan tidaklah demikian, <strong><em>bahkan tampaknya anak bulan dan diumumkannya di kalangan masyarakat adalah suatu keharusan</em></strong>. Oleh karena itu Rasulullah r bersabda: <strong><em>“Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa dan idul fitri kalian adalah hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha kalian adalah hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).”</em></strong> Maksud sabda beliau adalah bahwa hari-hari tersebut adalah hari yang kalian semua mengetahuinya sebagai waktu puasa, berbuka dan berkurban. Maka jika kalian tidak mengetahuinya (meskipun sudah terbit di langit, pen), maka tidak berlaku hukum-hukum tersebut.” (Majmu’ul Fatawa: 25/203).</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Dimaafkannya kesalahan mayoritas masyarakat  ketika mereka salah menentukan puasa, lebaran dan haji. <strong><em>Karena yang dinilai oleh Allah adalah kekompakan mereka dalam berlebaran meskipun keliru, bukan ijtihad perorangan atau sebagian kelompok meskipun benar.</em></strong></p>
<p>Al-Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata:</p>
<p dir="RTL">قد أجمعوا على أن الجماعة لو أخطأت الهلال في ذي الحجة فوقفت بعرفة في اليوم العاشر إن ذلك يجزئها فكذلك الفطر والأضحى والله أعلم</p>
<p>“Para ulama telah ber-ijma’ (bersepakat) bahwa Al-Jamaah (pemerintah dan masyarakatnya) jika salah dalam menetapkan hilal Dzulhijjah sehingga mereka mengadakan wuquf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka sesungguhnya perkara itu telah mencukupi mereka. Demikian pula kesalahan dalam penentuan Iedul Fitri dan Iedul Adha. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 14/356).</p>
<p>Demikian pula Al-Allamah Abu Bakar Al-Kasani Al-Hanafi berkata:</p>
<p dir="RTL">وَلَوْ اشْتَبَهَ عَلَى النَّاسِ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَوَقَفُوا بِعَرَفَةَ بَعْدَ أَنْ أَكْمَلُوا عِدَّةَ ذِي الْقَعْدَةِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ شَهِدَ الشُّهُودُ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ يَوْمَ كَذَا، وَتَبَيَّنَ أَنَّ ذَلِكَ الْيَوْمَ كَانَ يَوْمَ النَّحْرِ فَوُقُوفُهُمْ صَحِيحٌ،</p>
<p>“Dan seandainya masyarakat merasa samar terhadap hilal Dzulhijjah sehingga mereka melakukan wukuf di Arafah setelah menggenapkan bulan Dzulqa’dah 30 hari kemudian ternyata ada beberapa saksi yang bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal (Dzulqa’dah) pada hari demikian dan jelaslah bahwa ternyata hari wukufnya mereka adalah hari Iedul Adha, maka <strong><em>wukuf mereka adalah sah (menurut syariat, pen).”</em></strong> (Bada’iush Shana’i: 4/374).</p>
<p>Kemudian meskipun wukufnya pemerintah dan mayoritas manusia diterima secara syar’i, apakah wukufnya mereka itu jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah ataukah 10 Dzulhijjah menurut syariat?</p>
<p>Jawabannya adalah bahwa hari itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah menurut syariat meskipun hari itu merupakan tanggal 10 Dzulhijjah menurut persaksian atau menurut ilmu astronomi.</p>
<p>Al-Allamah Ibnul Hammam Al-Hanafi berkata:</p>
<p dir="RTL">ثَانِيَهَا: أَنَّ شَهَادَتَهُمْ مَقْبُولَةٌ لِمَا ذَكَرْنَا، لَكِنْ لَا يَسْتَلْزِمُ عَدَمَ صِحَّةِ الْوُقُوفِ لِعَدَمِ وُقُوعِهِ فِي وَقْتِهِ بَلْ قَدْ وَقَعَ فِي وَقْتِهِ شَرْعًا، وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي وَقَفَ فِيهِ النَّاسُ عَلَى اعْتِقَادِهِمْ أَنَّهُ التَّاسِعُ لِمَا رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ {صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَعَرَفَتُكُمْ يَوْمَ تَعْرِفُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ} أَيْ أَنَّ وَقْتَ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى الْيَوْمُ الَّذِي يَقِفُ فِيهِ النَّاسُ عَنْ اجْتِهَادٍ وَرَأَى أَنَّهُ يَوْمُ عَرَفَةَ .</p>
<p>“Arah kedua (dari istihsan) adalah bahwa persaksian mereka (orang-orang adil) tetap diterima dengan alasan yang telah kami sebutkan. Tetapi persaksian tersebut tidaklah menyebabkan tidak sahnya wukuf karena tidak dilakukan pada waktunya. Tetapi  itulah waktu yang syar’i yaitu waktu wukufnya masyarakat dan pemerintahnya secara kompak dengan keyakinan itulah tanggal 9 Dzulhijjah. Ini karena ada hadits dari Rasulullah r: <strong><em>“Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, Fitri kalian adalah pada hari kalian berlebaran dan Adha kalian adalah pada hari kalian menyembelih kurban.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1979, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 6519 (3/317) dan Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 7304 (4/156) dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 2013). Maksudnya adalah bahwa waktu wukuf di Arafah menurut Allah adalah pada hari masyarakat melakukan wukuf berdasar ijtihad dan keyakinan bahwa itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah.” (Fathul Qadir: 6/209).</p>
<p>Dan yang paling aneh adalah apa yang dilakukan oleh Al-Imam Salim bin Abdullah bin Umar –salah seorang dari 7 fuqaha tabi’in kota Madinah- dan ini termasuk ketergelinciran ulama. Umar bin Muhammad berkata:</p>
<p dir="RTL">شهد نفر أنهم رأوا هلال ذي الحجة فذهب بهم سالم إلى والي الحاج هو ابن هشام ، فأبى أن يجيز شهادتهم ، فوقف سالم بعرفة لوقت شهادتهم ، فلما كان اليوم الثاني وقف مع الناس.</p>
<p>“Sebagian orang bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal Dzulhijjah. Maka Salim membawa mereka ke Waliyyul Haji (semacam menteri urusan haji, pen) yaitu Ibnu Hisyam. Ibnu Hisyam menolak persaksian mereka. Maka Salim melakukan wukuf di Arafah di hari versi persaksian dan besoknya ia melakukan wukuf lagi bersama masyarakat.” (Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 33).</p>
<p><strong>Penulis berkata:</strong> Apa yang dilakukan oleh Al-Imam Salim di atas tidak boleh kita ikuti karena beberapa alasan”</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Menyelisihi petunjuk Rasulullah r yang melarang seseorang menyendiri dalam berpuasa, berlebaran dan berhaji sebagaimana telah lalu keterangannya.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Menyelisihi kesepakatan para Sahabat Nabi r sebelumnya, sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Ibnu Qudamah.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Banyak ulama tabi’in yang menyelisihi pendapat beliau sebagaimana telah lalu.</p>
<p><strong>Keempat:</strong> Tidak adanya contoh dari Rasulullah r dan para Sahabat beliau yang melakukan wukuf 2 kali. Bahkan Al-Imam Atha’ –seorang ulama tabi’in- pernah ditanya oleh Al-Imam Ibnu Juraij:</p>
<p dir="RTL">رَجُلٌ حَجَّ أَوَّلَ مَا حَجَّ فَأَخْطَأَ النَّاسُ بِيَوْمِ النَّحْرِ أَيَجْزِئُ عَنْهُ قَالَ: نَعَمْ إِى لَعَمْرِى إِنَّهَا لَتَجْزِئُ عَنْهُ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ ». وَأُرَاهُ قَالَ:« وَعَرَفَةُ يَوْمَ تَعَرِّفُونَ »</p>
<p>“Seseorang naik haji pada awalnya. Kemudian masyarakat keliru menentukan (hari Arafah) dengan hari Idul Adha apakah hajinya (yang dilakukan bersama masyarakat itu) sah?” Maka beliau (Atha’) menjawab: “Ya, demi Allah. Hajinya sah.” Ibnu Juraij berkata: “Aku kira Atha’ berkata: “Rasulullah r bersabda: <strong><em>“Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, Fitri kalian adalah pada hari kalian berlebaran dan Adha kalian adalah pada hari kalian menyembelih kurban.”</em></strong> Aku kira beliau menambahkan: <strong><em>“Dan hari Arafah adalah pada hari kalian melakukan wukuf.”</em></strong> (HR. Al-Baihaqi: 10113 (5/176)).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dialog antara Al-Imam Abu Yusuf dengan Al-Imam Al-Qadli Syarik</strong></p>
<p>Muhammad bin Ibrahim Maula Bani Hasyim berkata:</p>
<p dir="RTL">دخل شريك على هارون الرشيد في يوم الشك، والفقهاء عنده، فلم يزالوا جلوساً إِلَى أن زالت الشمس فرفع الخبر إِلَى هارون إن الهلال لم يره أحد وبين يديه تفاح فطرح إِلَى كل رجل منهم تفاحة فأكلوا، وطرح إِلَى شريك فلم يأكل، فَقَالَ أَبُو يوسف: يا أمير المؤمنين، إنه يخالفك وقد أبى أن يأكل، قال: يا أمير المؤمنين هو والله خالفك و أصحابه، إنما أنت إمام ونحن رعية، وإذا أفطرت أنت أفطرنا، وليس لنا أن نتقدمك، قال: صدق شريك ثم أكل هارون وأكل شريك.</p>
<p>“Syarik (Al-Qadli) memasuki tempat Raja Harun Ar-Rasyid pada hari Syakk (tanggal 30 Sya’ban). Para ulama ahli fiqih ada di sisi raja. Mereka terus-menerus duduk di tempat tersebut hingga tergelincirnya matahari. Kemudian dilaporkan kepada beliau bahwa <strong><em>tidak ada seorang pun yang berhasil melihat hilal Ramadlan</em></strong>. Di hadapan beliau terdapat beberapa buah apel. Kemudian beliau melemparkan apel-apel itu kepada masing-masing orang yang hadir. Maka mereka memakannya. Beliau juga melemparkan apel kepada Qadli Syarik dan ia belum memakannya. Maka Abu Yusuf (Sahabat Abu Hanifah) berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya ia (Syarik) menyelisihimu dan ia enggan memakan apel tersebut.” Maka Qadli Syarik berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Justru ia (Abu Yusuf) –demi Allah- yang menyelisihimu dan para sahabatnya (ulama madzhab Hanafi, pen). <strong><em>Engkau adalah pemimpin (raja) dan kami adalah rakyat. Jika engkau berbuka maka kami pun ikut berbuka dan kami tidak akan mendahuluimu.”</em></strong> Raja berkata: “Benarlah ucapan Syarik.” Kemudian Raja Harun Ar-Rasyid memakan apel dan Syarik juga ikut memakan apel.” (Akhbarul Qudlah: 3/174).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Persaksian yang Ditolak oleh Penguasa</strong></p>
<p>Jika ada seseorang mengaku melihat hilal sendirian kemudian persaksiannya ditolak oleh penguasa maka Syaikhul Islam membawakan 3 pendapat ulama:</p>
<p><strong>Pendapat pertama:</strong> Ia berpuasa secara sembunyi-sembunyi dan berbuka secara sembunyi-sembunyi. Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i.</p>
<p><strong>Pendapat kedua:</strong> Ia berpuasa secara sembunyi-sembunyi jika telah melihat hilal Ramadhan sendirian. Untuk hilal Syawal, ia harus berlebaran bersama pemerintah dan masyarakatnya. Ini pendapat yang terkenal dari Al-Imam Ahmad, Al-Imam Malik dan Al-Imam Abu Hanifah.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga:</strong> Ia berpuasa dan berlebaran bersama pemerintah dan masyarakatnya. Ini adalah pendapat para ulama tabi’in seperti Al-Imam Hasan Al-Bashri, Al-Imam Atha’  dan Al-Imam Ibnu Sirin.</p>
<p><strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menguatkan pendapat ketiga karena pendapat tersebut bersesuaian dengan dalil-dalil yang telah dipaparkan oleh beliau sendiri di atas.</em></strong> (Al-Fatawa Al-Kubra: 2/458).</p>
<p>Dan ketiga pendapat di atas bersepakat dan bersatu pada <strong><em>larangan mengumumkan dan menyebarluaskan rukyat yang telah ditolak oleh pemerintah</em></strong>. (Ad-Durarus Sunniyyah: 6/335).</p>
<p><strong>Yang mana di antara ketiga pendapat di atas yang paling kuat?</strong></p>
<p><strong><em>Dalil-dalil pendapat ketiga ini sangatlah kuat</em></strong>, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Hadits-hadits tentang perintah berpuasa dan berlebaran bersama pemerintah dan mayoritas masyarakat sebagaimana telah dibahas oleh Penulis di atas. Dan di dalam teks-teks hadits tersebut tidaklah dibedakan antara Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Contoh-contoh dari As-Salaf seperti Umar bin Al-Khaththab, Aisyah dan Anas bin Malik radliyallahu anhum.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Pengertian kata <strong>‘hilal’</strong> dan <strong>‘syahr’</strong> secara bahasa Arab.</p>
<p><strong>Keempat:</strong> Tidak dijumpainya pendapat Sahabat Nabi yang menyelisihi Umar, Aisyah dan Anas bin Malik. Dan ini disebut <strong><em>ijma’ Sahabat secara implisit</em></strong> sebagaimana penjelasan Al-Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: 6/171 dan juga penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafatih: 6/429.</p>
<p><strong>Bantahan bagi Pendapat Pertama</strong></p>
<p><strong>Alasan pendapat pertama</strong> yang memperbolehkan perukyat (yang ditolak oleh pemerintah, pen) tersebut berpuasa dan berlebaran sendirian secara sembunyi-sembunyi adalah karena ia berpuasa dan berbuka secara yaqin menurut rukyatnya meskipun tidak diakui oleh negara. (Al-Mughni: 6/171).</p>
<p><strong>Bantahan pertama:</strong> Alasan ini telah dibantah oleh Al-Imam Ibnu Qudamah bahwa keyakinan yang disangkakan oleh orang tersebut belumlah tegak karena tidak dianggap meyakinkan oleh hakim dan bisa jadi merupakan khayalan saja. Beliau membawakan riwayat dalam Al-Mughni:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ رَجُلًا فِي زَمَنِ عُمَرَ، قَالَ: لَقَدْ رَأَيْت الْهِلَالَ. فَقَالَ لَهُ: امْسَحْ عَيْنَك. فَمَسَحَهَا، ثُمَّ قَالَ لَهُ: تَرَاهُ ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: لَعَلَّ شَعْرَةً مِنْ حَاجِبِك تَقَوَّسَتْ عَلَى عَيْنِك، فَظَنَنْتهَا هِلَالًا أَوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ</p>
<p>“Bahwa seseorang di masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab berkata: “Aku telah melihat hilal.” Maka Umar berkata kepadanya: “Usaplah matamu!” Maka ia mengusap matanya. Kemudian Umar bertanya lagi: “Coba lihat lagi, apakah terlihat hilalnya?” Ia menjawab: “Tidak melihatnya.” Maka Umar berkata: “Barangkali rambut alismu membentuk busur di atas matamu sehingga kamu menyangkanya sebagai hilal.” (Al-Mughni: 6/171).</p>
<p>Sehingga ketika sebuah rukyat itu ditolak oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat dan tidak meyakinkan, maka pemerintah harus bersikap tegas di dalam menegur orang-orang yang berbuka dan berpuasa berdasar rukyat tersebut.</p>
<p>Di sini ada contoh kisah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memberikan <strong><em>surat teguran</em></strong> kepada Muhammad bin Suwaid sebagai bawahan beliau (gubernur Damaskus) yang berani menetapkan persaksian Hilal yang tidak memenuhi syarat sehingga ia berlebaran kurban sendirian mendahului mayoritas kaum muslimin. Amr bin Muhajir berkata:</p>
<p dir="RTL">عن عمر بن عبد العزيز أنه كان لا يجيز على رؤية الهلال إلا رجلين عدلين كان بلغه أن محمد بن سويد الفهري ضحى بدمشق قبل الناس بيوم فكتب إليه عمر ما حملك أن خالفت المسلمين فكتب إليه محمد بن سويد يذكر إنما فعلته من اجل حرام بن حكيم شهد عندي بذلك فكتب إليه عمر حرام بن حكيم اذو اليدين هو انكارا يعني أن تجاز شهادته وحده دون أن يكونا رجلين</p>
<p>“Dari Umar bin Abdul Aziz bahwa beliau tidak mau menerima rukyatul Hilal kecuali dengan persaksian 2 orang yang adil. Dan telah sampai kepada beliau bahwa Muhammad bin Suwaid Al-Fihri berlebaran kurban di Damaskus sebelum masyarakat berhari raya. Maka beliau berkirim surat kepadanya: “Apakah yang mendorongmu untuk menyelisihi kaum muslimin (dalam berlebaran, pen)?” Maka Muhammad bin Suwaid membalas surat beliau: “Aku berlebaran karena Haram bin Hakim bersaksi di depanku tentang rukyatul Hilal.” Maka beliau membalas suratnya: “Haram bin Hakim? Apakah ia mempunyai 2 tangan?” sebagai bentuk pengingkaran dari beliau untuk menetapkan lebaran hanya dengan seorang saksi.” (Atsar riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 12/307).</p>
<p><strong>Bantahan kedua:</strong> Alasan pendapat pertama juga telah dibantah oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan ucapannya:</p>
<p dir="RTL">وأما على المأخذ الثاني وهو الاختلاف على الإمام ، وتشتيت الكلمة ، فيتوجه الأمر بصيام هذا اليوم مع الناس ، لأن فطره يؤدي إلى أن يفطر أكثر الناس يوم عرفة مع اعتيادهم لصيامه في سائر الأعوام . وهذا فيه تفريق للكلمة، وافتيات على الإمام .</p>
<p>“Adapun pengambilan kedua: yaitu menyelisihi Pemerintah dan memecah belah barisan kaum muslimin. Maka berpuasa pada hari ini (Arafah) bersama kaum muslimin lebih dikuatkan karena berbukanya orang ini (meskipun secara sembunyi-sembunyi) akan memicu orang lain untuk ikut berbuka  dengannya padahal banyak orang yang membiasakan puasa Arafah pada tahun-tahun lain. Ini adalah memecah belah kalimat persatuan dan memberontak pemerintah.” (Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 36).</p>
<p>Maka sebagai peringatan bagi kaum muslimin, jika pendapat yang memperbolehkan berpuasa dan berbuka dengan sembunyi-sembunyi saja telah dibantah oleh para ulama maka <strong><em>berpuasa dan berlebaran secara terang-terangan dalam keadaan menyelisihi pemerintah dan mayoritas masyarakat lebih terlarang lagi</em></strong>. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Menolak Persaksian karena Alasan Politis</strong></p>
<p>Terkadang orang-orang yang menentukan lebaran sendiri beralasan bahwa Pemerintah sering menolak rukyat seorang adil karena perbedaan kriteria, perbedaan madzhab, alasan politis atau alasan permusuhan lainnya yang tidak sesuai dengan syariat. Dengan dalih ini mereka berani menetapkan hari raya dan puasa yang berbeda dengan penetapan pemerintah.</p>
<p>Alasan ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam penjelasannya:</p>
<p dir="RTL">مَا يَثْبُتُ مِنْ الْحُكْمِ لَا يَخْتَلِفُ الْحَالُ فِيهِ بَيْنَ الَّذِي يُؤْتَمُّ بِهِ فِي رُؤْيَةِ الْهِلَالِ مُجْتَهِدًا مُصِيبًا كَانَ أَوْ مُخْطِئًا أَوْ مُفَرِّطًا فَإِنَّهُ إذَا لَمْ يَظْهَرْ الْهِلَالُ وَيَشْتَهِرُ بِحَيْثُ يَتَحَرَّى النَّاسُ فِيهِ . وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فِي الْأَئِمَّةِ: {يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ}. فَخَطَؤُهُ وَتَفْرِيطُهُ عَلَيْهِ لَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ لَمْ يُفَرِّطُوا وَلَمْ يُخْطِئُوا .</p>
<p>“Hukum (puasa, lebaran dan haji) yang ditetapkan oleh Pemerintah yang menjadi pemimpin dalam rukyatul hilal tidak akan berbeda keadaannya, apakah pemerintah itu berstatus mujtahid (ahli ijtihad) yang benar, ataukah mujtahid yang keliru ataukah mujtahid yang melampaui batas. Padahal masyarakat sudah bersusah payah merukyat hilal dan ternyata tidak diakui dan tidak diumumkan oleh pemerintah. Dan telah shahih sabda Nabi r tentang para penguasa: <strong><em>”Mereka melakukan shalat untuk kalian. Jika (hasil ijtihad) mereka tepat maka pahalanya untuk kalian dan mereka. Dan jika mereka keliru maka pahalanya untuk kalian dan dosanya atas mereka.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 653, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 5113 (3/126)).</p>
<p>Maka dosa dari kesalahan dan perbuatan pemerintah yang melampaui batas akan ditimpakan kepada pemerintah itu sendiri bukan kepada kaum muslimin yang tidak berbuat salah dan tidak melampau batas.” (Majmu’ul Fatawa: 25/206).</p>
<p>Dan sebelum berprasangka buruk kepada pemerintah dengan tuduhan politis, permusuhan dan perbedaan madzhab, kaum muslimin hendaknya mempunyai pikiran positif terhadap mereka. Al-Imam Ahmad memberikan contoh kepada kita dengan pernyataan beliau:</p>
<p dir="RTL">السلطان أحوط في هذا، وأنظر للمسلمين، وأشد تفقدا، ويد الله على الجماعة .</p>
<p>“Sultan (pemerintah) itu lebih berhati-hati dalam permasalahan ini (penetapan lebaran), lebih melihat kepada kemaslahatan kaum muslimin, lebih merasa kehilangan. Dan tangan Allah bersama Al-Jamaah (yaitu kaum muslimin dan penguasanya, pen).” (Syarh Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khurqi: 1/414).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tiap Negara Bisa Berbeda</strong></p>
<p>Sunnah Rasulullah r menjelaskan bahwa rukyatul hilal dan persaksiannya di suatu daerah atau negara bisa berlaku di daerah lain, jika ditetapkan dan diakui oleh pemerintah setempat. Semisal rukyat Malaysia, Saudi, India dan sebagainya bisa berlaku di Indonesia jika pemerintah Indonesia mengakui dan menetapkannya.</p>
<p>Dari Umair bin Anas bahwa para pamannya dari kalangan Sahabat Anshar y berkata:</p>
<p dir="RTL">أُغْمِيَ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا وَأَنْ يَخْرُجُوا إِلَى عِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ</p>
<p><strong><em>“Kami (para Sahabat Nabi </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em>) terhalang (sehingga tidak bisa merukyat) Hilal Syawwal. Maka keesokan paginya kami masih berpuasa. Kemudian datanglah rombongan kafilah pada waktu sore hari dan mereka bersaksi di hadapan Nabi </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em> bahwa mereka telah melihat hilal kemarin malam. Maka Rasulullah </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em> memerintahkan mereka untuk berbuka dan keluar menuju shalat Ied pada keesokan harinya.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 977, Ibnu Majah: 1643, Ahmad: 19675, Ad-Darquthni: 14 (2/170). Hadits ini di-shahih-kan oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Sakan, Al-Khaththabi dan Ibnu Hajar sebagaimana penukilan Aunul Ma’bud: 4/14 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1340).</p>
<p>Hadits di atas memiliki <strong><span style="text-decoration:underline;">beberapa faedah</span></strong>:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Penatapan Iedul Fitri di sebuah daerah atau negara dapat merujuk rukyat daerah atau negara lain karena kata <strong><em>“Kafilah”</em></strong> digunakan untuk orang-orang yang bermusafir. Bisa jadi mereka melihat hilal ketika masih berada di luar kota Madinah seperti: Syam, Yaman, Iraq dan sebagainya kemudian rukyat mereka dijadikan acuan oleh Rasulullah r untuk menetapkan Iedul Fitri di Madinah.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Jika tanggal 1 Syawwal ditetapkan oleh pemerintah setelah dzuhur karena suatu sebab seperti keterlambatan berita dll, maka hari itu adalah tanggal 1 Syawwal dan shalat Ied dilaksanakan pada keesokan harinya (tanggal 2 Syawwal).</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Orang-orang yang bersaksi merukyat hilal Syawwal tidak diperkenankan berlebaran duluan sebelum ditetapkan oleh pemerintah. Para kafilah tersebut meskipun telah melihat hilal duluan, mereka belum berbuka dan melakukan shalat Ied sampai persaksian mereka ditetapkan oleh Rasulullah r. Demikian pula untuk Ramadlan dan Dzulhijjah, maka seseorang yang telah melihat hilal dilarang berpuasa mendahului masyarakat sebelum persaksian mereka ditetapkan oleh penguasa.</p>
<p>Hadits di atas menjadi dalil bagi Al-Imam Al-Laits dan sebagian Sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i bahwa jika seseorang di suatu negeri telah melihat hilal maka rukyatnya harus digunakan oleh negeri-negeri lain. Demikian penjelasan Al-Imam Ibnu Qudamah. (Al-Mughni: 6/35)</p>
<p>Sedangkan menurut  Ikrimah, Qasim bin Muhammad dan  Salim bin Abdillah dari kalangan ulama Tabi’in bahwa tiap-tiap negeri mempunyai rukyat sendiri-sendiri (tidak mengacu rukyat negeri lain, pen). (Al-Mughni: 6/35, Al-Istidzkar: 3/282).  Mereka berdalil pada hadits Kuraib:</p>
<p dir="RTL">أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>“Bahwa Ummul Fadhl bintul Harits mengutusnya kepada Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata: “Maka aku tiba di Syam dan menunaikan hajatnya (Ummul Fadhl) dan Hilal Ramadhan diumumkan sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat kemudian aku tiba di Madinah di akhir bulan (Ramadhan). Kemudian Ibnu Abbas bertanya kepadaku perihal hilal dan berkata: “Kapan kalian melihat hilal?” Maka aku jawab: “Kami melihatnya pada malam Jumat.” Beliau bertanya: “Kamu melihatnya?” Maka aku jawab: “Iya, dan orang-orang juga melihatnya dan berpuasa dan Mu’awiyah juga ikut berpuasa.” Maka beliau berkata: “Tetapi kami (penduduk Madinah, pen) melihatnya pada malam Sabtu maka kami berpuasa sampai menggenapkan 30 hari.” Maka aku (Kuraib) bertanya: “Tidak cukupkah kalian dengan rukyat Mu’awiyah dan puasanya?” Beliau menjawab: “Tidak cukup, demikianlah Rasulullah r memerintahkan kami.” (HR. Muslim: 1819, An-Nasa’i: 2084 dan At-Tirmidzi: 629).</p>
<p>Maka untuk mengompromikan antara hadits Umair bin Anas yang menjelaskan rukyat global dan hadits Kuraib yang menjelaskan rukyat masing-masing negara, kita perlu merujuk kepada penjelasan Al-Imam Ibnu Majisyun yang <strong><em>mengembalikan perkara penetapan puasa dan lebaran kepada keputusan pemerintah setempat</em></strong>.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Majisyun berkata:</p>
<p dir="RTL">ان الرؤية لا تلزم غير أهل البلد الذي وقعت فيه إلا أن يكون الإمام يحمل الناس على ذلك</p>
<p>“Sesungguhnya rukyat di suatu negara tidak wajib digunakan sebagai acuan untuk negara lain kecuali jika pemerintah setempat menganjurkan rakyatnya untuk melaksanakannya.” (Al-Istidzkar: 3/282).</p>
<p>Sehingga masing-masing masyarakat suatu negara harus mengikuti penetapan pemerintahnya baik pemerintahnya itu menggunakan rukyat global ataupun lokal. Maka kaum muslimin Indonesia harus berpuasa dan berlebaran sesuai dengan keputusan pemerintah Indonesia dan tidak perlu memperhatikan apakah penetapan pemerintah Indonesia itu sama ataukah berbeda dengan penetapan pemerintah Malaysia, Saudi dan sebagainya.</p>
<p>Dan perbedaan kriteria rukyat yang digunakan oleh masing-masing negara ini sudah berlangsung lama. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ Saudi Arabia –yang ditandatangani oleh Syaikh Bin Baaz (ketua), Syaikh Abdurrazzaq Afifi (wk ketua), Syaikh Abdullah Ghudayyan (anggota) dan Syaikh Abdullah Qu’ud (anggota)-  berkata:</p>
<p dir="RTL">وقد اختلف أهل العلم في هذه المسألة على قولين: فمنهم من رأى اعتبار اختلاف المطالع، ومنهم من لم ير اعتباره، واستدل كل فريق منهما بأدلة من الكتاب والسنة، وربما استدل الفريقان بالنص الواحد، كاشتراكهما في الاستدلال بقوله تعالى: { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ } وبقوله صلى الله عليه وسلم: « صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته » الحديث. وذلك لاختلاف الفهم في النص وسلوك كل منهما طريقا في الاستدلال به. ونظرا لاعتبارات رأتها الهيئة وقدرتها ونظرا إلى أن الاختلاف في هذه المسألة ليست له آثار تخشى عواقبها فقد مضى على ظهور هذا الدين أربعة عشر قرنا، لا نعلم فيها فترة جرى فيها توحيد الأمة الإسلامية على رؤية واحدة، فإن أعضاء مجلس كبار العلماء يرون بقاء الأمر على ما كان عليه، وعدم إثارة هذا الموضوع، وأن يكون لكل دولة إسلامية حق اختيار ما تراه بواسطة علمائها من الرأيين المشار إليهما في المسألة، إذ لكل منهما أدلته ومستنداته</p>
<p>“Dan para ulama telah berselisih dalam permasalahan ini atas 2 pendapat; Di antara mereka ada yang menganggap perbedaan matla’ (rukyat suatu negara tidak berlaku untuk negara lain, pen), dan di antara mereka ada yang tidak menganggapnya (yaitu rukyat dapat berlaku global, pen). Masing-masing kelompok ulama berdalil dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan bahkan bisa jadi masing-masing berdalil dengan teks-teks yang sama seperti sama-sama berdalil dengan firman Allah U: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: &#8220;Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji;” (QS. Al-Baqarah: 189). Mereka juga sama-sama berdalil dengan hadits Nabi r: “Berpuasalah karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihatnya.” (HR. Al-Bukhari: 1810, Muslim: 1081 dll). Ini terjadi karena perbedaan pemahaman mereka terhadap teks-teks (Al-Quran dan Al-Hadits) dan masing-masing mereka telah menempuh jalan untuk memahaminya. Dan atas pandangan dan kemampuan Majelis Kibar Ulama dan melihat efeknya bahwa perbedaan ini tidak perlu dikhawatirkan lagi akibatnya dan <strong><em>sudah berlangsung selama 14 abad yang lalu sejak munculnya agama Islam ini.</em></strong> Dan tidak dijumpai suatu masa pun (dari generasi Sahabat Nabi r sampai dengan masa sekarang, pen) yang mana kaum muslimin bersatu pada satu rukyat. Maka Anggota Majelis Kibar Ulama Saudi Arabia berpendapat dibiarkannya keadaan ini seperti apa adanya dan tidak memperuncing pembahasan ini. Dan masing-masing negara memiliki hak untuk menetapkan dan memilih pendapat yang sesuai dengan penjelasan ulama dan para pakarnya dalam masalah ini (rukyat, pen). Karena masing-masing mempunyai sandaran sendiri-sendiri.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’ah Al-Ula nomer: 1657 (10/109-112)).</p>
<p>Sehingga masing-masing rakyat harus mengikuti keputusan pemerintah negaranya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Para Pelancong antar Negara</strong></p>
<p>Al-Allamah Al-Faqih Ibnu Utsaimin berkata:</p>
<p dir="RTL">إذا سافر الرجل من بلد إلى بلد اختلف مطلع الهلال فيهما، فالقاعدة أن يكون صيامه وإفطاره حسب البلد الذي هو فيه حين ثبوت الشهر، لكن إن نقصت أيام صيامه عن تسعة وعشرين يوماً، وجب عليه إكمال تسعة وعشرين يوماً لأن الشهر الهلالي لا يمكن أن ينقص عن تسعة وعشرين يوماً، وهذه القاعدة مأخوذة من قول النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا» وقوله: «إنما الشهر تسع وعشرون، فلا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه». ومن حديث كريب&#8230;الخ</p>
<p>“Jika seseorang bepergian dari suatu negara ke negara lain yang tempat terbit hilalnya saling berlainan, maka kaidahnya adalah bahwa puasa dan berbukanya adalah menurut negara yang sedang ia tempati ketika tetapnya bulan Ramadhan. Tetapi jika puasanya kurang dari 29 hari, maka ia wajib  menyempurnakan 29 hari. Karena bulan qamariyyah tidak mungkin kurang dari 29 hari. Kaidah ini diambil dari hadits Nabi r: “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya maka berbukalah!” dan sabda beliau: “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari. Maka janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya!” dan juga dari hadits Kuraib (telah dijelaskan di atas)…dst.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin: 19/46).</p>
<p>Kemudian beliau membuat beberapa contoh:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> jika ia bepergian dari negara yang mulai berpuasa pada hari Ahad (semisal Indonesia) menuju negara yang memulai puasa pada hari Sabtu (semisal Saudi) dan negara tersebut berlebaran hari Ahad setelah berpuasa 29 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu dan meng-qadha’ 1 hari (setelah lebaran).</p>
<p><strong>Kedua:</strong> jika ia bepergian dari negara yang memulai puasa pada hari Ahad (semisal Saudi) menuju negara yang memulai puasa pada hari Senin (semisal Indonesia) dan negara tersebut berlebaran hari Rabu setelah berpuasa 30 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu meskipun ia telah berpuasa 31 hari.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> jika ia bepergian dari negara yang memulai puasa pada hari Ahad (semisal Saudi) menuju negara yang memulai puasa pada hari Senin (semisal Indonesia) dan negara tersebut berlebaran pada hari Selasa setelah berpuasa 29 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu. Maka puasa negara tersebut adalah 29 hari sedangkan puasanya secara pribadi adalah 30 hari.</p>
<p>Demikian kurang lebihnya fatwa beliau. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin: 19/46-47).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Penutup </strong></p>
<p>Tulisan ini disusun dengan harapan dan doa agar Allah menjadikan  negeri kita Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya dapat bersatu berpuasa dan berlebaran bersama pemerintahnya. Amien. Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/425/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=425&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2011/09/22/berlebaran-bersama-pemerintah-syiar-persatuan-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ucapan Selamat atas Masuknya Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2011/07/31/ucapan-selamat-atas-masuknya-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2011/07/31/ucapan-selamat-atas-masuknya-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 00:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qari]]></category>
		<category><![CDATA[Fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Rajab]]></category>
		<category><![CDATA[Marhaban]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat]]></category>
		<category><![CDATA[selamat datang]]></category>
		<category><![CDATA[Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[tahni'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Ya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Ucapan Selamat atas Masuknya Bulan Ramadhan Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk menyampaikan ucapan selamat datang atas masuknya bulan Ramadhan kepada kaum muslimin yang lainnya. Ucapan tersebut seperti “Marhaban Ya Ramadhan” atau “Ramadhan Bulan Barakah” atau “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa” dan sebagainya. Ucapan Selamat dari Rasulullah Shallallahu alahi wasallam Rasulullah shalallahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=422&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Ucapan Selamat atas Masuknya Bulan Ramadhan</p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk menyampaikan ucapan selamat datang atas masuknya bulan Ramadhan kepada kaum muslimin yang lainnya. Ucapan tersebut seperti “<strong>Marhaban Ya Ramadhan”</strong> atau <strong>“Ramadhan Bulan Barakah”</strong> atau <strong>“Selamat Menjalankan Ibadah Puasa”</strong> dan sebagainya.</p>
<p><strong>Ucapan Selamat dari Rasulullah Shallallahu alahi wasallam</strong></p>
<p>Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengucapkan selamat kepada para Sahabat beliau atas datangnya bulan Ramadhan. <span id="more-422"></span>Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ</p>
<p><strong><em>“Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan, Bulan yang diberkahi.</em></strong><em> Allah </em><em>U</em><em> mewajibkan kalian untuk berpuasa padanya. Di dalamnya (Ramadhan) pintu-pintu langit dibuka. Di dalamnya pintu-pintu neraka Jahim ditutup. Di dalamnya para syetan ganas dibelenggu. Di dalamnya pula terdapat suatu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Barangsiapa yang terhalangi dari kebaikannya maka sungguh ia menjadi orang yang terhalangi (kebaikan, pen).” </em>(HR. An-Nasa’i: 2079, Ahmad: 6851, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 3600 (3/301) dari Abu Hurairah t dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 55).</p>
<p>Beliau juga menukilkan ucapan selamat dari para Malaikat. Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ</p>
<p>“Dan diserukan (oleh Malaikat, pen): <strong><em>“Wahai Pencari kebaikan, selamat datang! Dan wahai para pencari kejelekan, tahanlah!”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 618, An-Nasa’i: 2080, Ibnu Majah: 1632 dari Abu Hurairah t dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 759).</p>
<p><strong>Penjelasan Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah</strong></p>
<p>Al-Imam Ibnu Rajab berkata:</p>
<p dir="RTL">قال بعض العلماء : هذا الحديث أصل في تهنئة الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان</p>
<p>“Sebagian ulama berkata: “Hadits ini adalah dasar (dalil, pen) tentang  adanya tahni’ah (ucapan selamat) dari sebagian manusia kepada sebagian lainnya (dalam rangka, pen) menyambut datangnya bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif: 158).</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p dir="RTL">و كان النبي صلى الله عليه و سلم يبشر أصحابه بقدوم رمضان</p>
<p>“Dan adalah Nabi shalallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para Sahabat beliau tentang datangnya Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif: 158).</p>
<p><strong>Penjelasan Al-Allamah Mulla Ali Al-Qari Al-Hanafi rahimahullah</strong></p>
<p>Mulla Ali Al-Qari mengomentari hadits di atas:</p>
<p dir="RTL">وهو أصل في التهنئة المتعارفة في أول الشهور بالمباركة</p>
<p>“Ia (hadits di atas, pen) adalah asal (dasar) tentang adanya tahni’ah (ucapan selamat) atas masuknya bulan-bulan yang sudah dikenal dengan diberkahinya (bulan-bulan tersebut, pen).” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/255).</p>
<p><strong>Penjelasan Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah</strong></p>
<p>Ketika Asy-Syaikh Shalih Fauzan ditanya tentang bolehnya saling mengucapkan selamat atas masuknya bulan Ramadhan, maka beliau menjawab:</p>
<p dir="RTL">التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة،&#8230;الخ</p>
<p>“Ucapan selamat atas masuknya bulan Ramadhan (hukumnya, pen) tidak apa-apa, karena Nabi shallahu alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau atas masuknya bulan Ramadhan dan mendorong mereka untuk melakukan amal shalih di dalamnya… dst.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan: 185 (51/1)).</p>
<p><strong>Penutup </strong></p>
<p>Demikian keterangan para ulama tentang bolehnya mengucapkan selamat atas datangnya bulan Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengisi bulan Ramadhan dengan amal shalih dan mengampuni segala dosa kita setelah melalui bulan Ramadhan. Amien.</p>
<p align="center"><strong><em>Marhaban Ya Ramadhan, Syahrun Mubarak.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=422&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2011/07/31/ucapan-selamat-atas-masuknya-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyampaikan Kajian dengan Seijin Pemerintah, Sebuah Manhaj As-Salaf</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2011/05/06/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2011/05/06/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 May 2011 15:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[amir]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[At-Tustari]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ijin]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[meminta]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[sahl]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Menyampaikan Kajian dengan Seijin Pemerintah, Sebuah Manhaj As-Salaf Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Termasuk manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meminta ijin pemerintah dalam mengadakan kegiatan dakwah. Ketika melakukan kegiatan dakwah, mereka membangun lembaga dakwah atau yayasan dakwah sebagaimana peraturan pemerintah di negeri mereka. Begitu pula ketika mengadakan kegiatan daurah keilmuan, mereka juga harus mendapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=417&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Menyampaikan Kajian dengan Seijin Pemerintah, Sebuah Manhaj As-Salaf</strong></p>
<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Termasuk manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah <strong><em>meminta ijin pemerintah dalam mengadakan kegiatan dakwah</em></strong>. Ketika melakukan kegiatan dakwah, mereka membangun lembaga dakwah atau yayasan dakwah sebagaimana <strong><em>peraturan pemerintah</em></strong> di negeri mereka. Begitu pula ketika mengadakan kegiatan daurah keilmuan, mereka juga harus mendapatkan ijin dari pemerintah setempat.</p>
<p>Sebaliknya, manhaj khawarij adalah melakukan dakwah tanpa seijin penguasa. Mereka berdakwah secara diam-diam tanpa mendirikan lembaga ataupun yayasan sehingga menyulitkan pemerintah untuk mengawasi mereka. Begitu pula ketika mengadakan daurah, mereka tidak meminta ijin pemerintah terlebih dahulu.</p>
<p><strong>Matan Hadits </strong></p>
<p>Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i t, ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda:</p>
<p dir="RTL">لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ</p>
<p><strong><em>“Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 3180, Ibnu Majah: 3743, Ahmad: 6374, Al-Bazzar: 2397 (7/226), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 14849 (18/76)).</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong></p>
<p>Al-Hafizh Al-Haitsami berkata tentang riwayat Ahmad: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan <strong><em>isnadnya adalah hasan</em></strong>.” (Majma’uz Zawaid: 907 (1/451)). Beliau juga berkata tentang riwayat Ath-Thabrani: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan <strong><em>isnadnya hasan</em></strong>.” (Majma’uz Zawaid: 910 (1/452)).</p>
<p>Riwayat Abu Dawud dan Ath-Thabrani di atas juga <strong><em>dinilai jayyid</em></strong> oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab beliau Tahdzirul Khawash min Akadzibil Qashshash. (Tahdzirul Khawash: 173)</p>
<p>Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albani juga berkata: “<strong><em>Hadits ini shahih tanpa keraguan</em></strong>, dengan terkumpulnya 3 jalan ini. Apalagi riwayat yang terakhir juga hasan sebagaimana keterangan terdahulu. Wallahu a’lam.” (Silsilah Ash-Shahihah: 2020 (5/19)).</p>
<p><strong>Makna Hadits</strong></p>
<p>Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:</p>
<p dir="RTL">(لا يقص على الناس) أي لا يتكلم عليهم بالقصص والإفتاء</p>
<p>“Maksud hadits (<strong><em>Tidaklah menyampaikan kisah kepada manusia</em></strong>) adalah <strong><em>tidaklah berbicara tentang kisah dan berfatwa kepada mereka</em></strong>.” (Faidlul Qadir: 6587).</p>
<p>Beliau juga menjelaskan:</p>
<p dir="RTL">(أو مأمور) أي مأذون له في ذلك من الحاكم</p>
<p>“Maksud sabda beliau (<strong><em>atau orang yang diperintah (oleh amir)</em></strong>) adalah <strong><em>orang yang diijinkan oleh penguasa untuk berfatwa atau menyampaikan kisah</em></strong>.” (Faidlul Qadir: 6587).</p>
<p>Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p dir="RTL">وفي الحديث الزجر عن الوعظ بغير إذن الإمام؛ لأنه أعرف بمصالح الرعية، فمن رأى فيه حسن العقيدة وصدق الحال يأذن له أن يعظ الناس وإلا فلا</p>
<p>“<strong><em>Di dalam hadits ini terdapat larangan yang keras dari kegiatan memberikan nasehat (ceramah) tanpa seijin imam (penguasa)</em></strong>. Karena ia lebih mengetahui terhadap kemaslahatan rakyat. Maka orang-orang yang menurut pemerintah, memiliki kebaikan aqidah dan jujurnya keadaan maka mereka dapat diberikan ijin untuk menyampaikan nasehat kepada manusia dan begitu pula sebaliknya.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 242 (1/336)).</p>
<p>Al-Imam Al-Baghawi menukilkan dari Ibnu Syuraih bahwa ia berkata:</p>
<p dir="RTL">وكان الأمراء يلون الخطبة يعظون فيها الناس. والمأمور : من يقيمه الإمام خطيبا ، والمختال : من نصب نفسه لذلك اختيالا وتكبرا ، وطلبا للرياسة من غير أن يؤمر به.</p>
<p>“Adalah pemerintah itu mengurusi masalah khutbah. Mereka berkhutbah untuk memberikan nasehat kepada manusia. Orang yang diperintah adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa menjadi khatib. Dan orang yang sombong adalah yang menunjuk dirinya untuk berkhutbah dalam rangka berbangga-bangga, sombong dan mencari kedudukan dengan <strong><em>tanpa diperintahkan atau diijinkan terlebih dahulu</em></strong>.” (Syarhus Sunnah: 1/304).</p>
<p><strong>Keterangan As-Salaf</strong></p>
<p>Al-Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari (wafat tahun 283 H) berkata:</p>
<p dir="RTL">إذا نهى السلطانُ العالمَ أن يُفتِيَ فليس له أن يُفتي، فإن أفتى فهو عاصٍ، وإنْ كان أميراً جائراً</p>
<p><strong><em>“Jika sultan (pemerintah) melarang seorang alim untuk berfatwa, maka ia tidak boleh berfatwa. Jika ia tetap berfatwa maka ia telah berbuat maksiat meskipun  sultan tersebut merupakan pemimpin yang zhalim.”</em></strong> (Tafsir Al-Qurthubi: 5/259, Tafsir Al-Bahrul Muhith: 4/174).</p>
<p>Demikian pula sikap Ammar bin Yasir y ketika menyampaikan hadits tentang tayammum kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t. Umar berkata:</p>
<p dir="RTL">اتَّقِ اللَّهَ يَا عَمَّارُ قَالَ إِنْ شِئْتَ لَمْ أُحَدِّثْ بِهِ</p>
<p><strong><em>“Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar!”</em></strong> Maka Ammar pun berkata: <strong><em>“Kalau engkau mau, maka aku tidak akan menyampaikan hadits itu lagi.”</em></strong> (HR. Muslim: 553 dan An-Nasa’i: 314).</p>
<p>Dahulu Abu Musa Al-Asy’ari t pernah berfatwa tentang <strong><em>haji tamattu’</em></strong>. Kemudian sampailah kepada beliau bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t memerintahkan <strong><em>haji ifrad</em></strong>. Maka beliau pun berkata:</p>
<p dir="RTL">يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ كُنَّا أَفْتَيْنَاهُ فُتْيَا فَلْيَتَّئِدْ فَإِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَادِمٌ عَلَيْكُمْ فَبِهِ فَأْتَمُّوا</p>
<p><strong><em>“Wahai manusia! Barangsiapa yang telah kami berikan kepadanya suatu fatwa maka hendaknya fatwa tersebut jangan dilaksanakan dulu. Karena Amirul Mukminin telah datang kepada kalian maka hanya dengannya hendaknya kalian bermakmum!”</em></strong> (HR. Muslim: 2143, Ad-Darimi: 1815, Ahmad: 18713 dan lain-lain).</p>
<p>Dari Amr bin Dinar , ia berkata:</p>
<p dir="RTL">أن تميم الداري استأذن عمر في القصص فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فقال : إن شئت وأشار بيده يعني الذبح</p>
<p><strong><em>“Bahwa Tamim Ad-Dari meminta ijin kepada Umar untuk menyampaikan kisah-kisah maka Umar tidak mau memberikan ijin kepadanya. Kemudian ia meminta ijin lagi dan Umar tidak mengijinkannya. Pada kali yang ketiga Umar berkata: “Kalau kamu mau maka kamu akan disembelih.” Sambil berisyarat dengan tangannya.”</em></strong> (Atsar riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 1250 (2/49). Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah perawi Ash-Shahih kecuali bahwa Amr bin Dinar tidak pernah mendengar Umar (Majma’uz Zawaid: 905 (1/450) dan As-Suyuthi menilai <strong><em>jayyid</em></strong> isnadnya dalam Tahdzirul Khawash: 172).</p>
<p>Abdul Jabbar Al-Khaulani berkata:</p>
<p dir="RTL">دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ مَنْ هَذَا قَالُوا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ كَعْبًا فَمَا رُئِيَ يَقُصُّ بَعْدُ</p>
<p>“Salah seorang sahabat Nabi e memasuki masjid. Ternyata di sana ada Ka’ab (Al-Ahbar) yang sedang membacakan kisah. Maka Sahabi ini bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Ia adalah Ka’ab yang sedang membacakan kisah.” Maka Sahabi ini berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda: <strong><em>“Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.”</em></strong> Maka hadits ini akhirnya sampai kepada Ka’ab. <strong><em>Kemudian </em><span style="text-decoration:underline;">ia tidak pernah terlihat lagi membacakan kisah setelah itu</span></strong>.” (HR. Ahmad: 17358 dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Haitsami: 907 (1/451)).</p>
<p><strong>Kisah Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Raja Al-Watsiq</strong></p>
<p>Sesungguhnya dalam kisah ini terdapat pelajaran bagi kita. Al-Imam Ahmad pernah <strong><em>dicekal</em></strong> oleh rezim Raja Al-Watsiq yang bermanhaj <strong><em>mu’tazilah</em></strong>. Ini karena Al-Imam Ahmad mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu <strong><em>Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk</em></strong>. Sedangkan rezim Al-Watsiq menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Dan ini menjadi sebab pencekalan Al-Imam Ahmad. Beliau tidak boleh mengadakan perkumpulan, menyampaikan ilmu dan diharuskan bersembunyi. Dan beliau menaati perintah pencekalan ini sampai berakhirnya kekuasaan Al-Watsiq.</p>
<p>Al-Imam Hanbal bin Ishaq (sepupu Al-Imam Ahmad) berkata:</p>
<p dir="RTL">فبينانحن في أيام الواثق، إذ جاء يعقوب ليلا برسالة الامير إسحاق بن إبراهيم إلى أبي عبد الله: يقول لك الامير: إن أمير المؤمنين قد ذكرك، <span style="text-decoration:underline;">فلا يجتمعن إليك أحد</span>، ولا تساكني بأرض ولا مدينة أنا فيها، فاذهب حيث شئت من أرض الله.</p>
<p dir="RTL">قال: فاختفى أبو عبد الله بقية حياة الواثق.</p>
<p dir="RTL">وكانت تلك الفتنة، وقتل أحمد بن نصر الخزاعي.</p>
<p dir="RTL">ولم يزل أبو عبد الله مختفيا في البيت لا يخرج إلى صلاة ولا إلى غيرها حتى هلك الواثق.</p>
<p>“Suatu ketika kami di masa kekuasaan Raja Al-Watsiq. Tiba-tiba Ya’qub datang pada malam hari dengan membawa sepucuk surat dari Amir (Gubernur) Ishaq bin Ibrahim kepada Al-Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal). Gubernur berkata (dalam suratnya): <strong><em>“Sesungguhnya Amirul Mukminin (Raja Al-Watsiq) telah menyebutkanmu. Maka janganlah seorang pun berkumpul (bermajelis) kepadamu dan janganlah engkau berdiam denganku di bumi ataupun kota yang mana di situ ada aku! Pergilah ke tempat sesukamu dari bumi Allah!”</em></strong></p>
<p>Hanbal bin Ishaq berkata: “Maka Al-Imam Abu Abdillah <strong><em>bersembunyi</em></strong> sampai masa sisa dari kehidupan Raja Al-Watsiq. Dan pada fitnah itu terbunuhlah Ahmad bin Nashr Al-Khuza’i. <strong><em>Dan Al-Imam Abu Abdillah senantiasa bersembunyi di rumah. Beliau tidak keluar rumah untuk menghadiri shalat jamaah tidak pula acara yang lainnya sampai Raja Al-Watsiq mati</em></strong>.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/263-264).</p>
<p><strong>Ijin Pemerintah</strong></p>
<p>Pada hakekatnya pemerintah RI telah memberikan jaminan kebebasan bagi warganya untuk berpendapat, berserikat dan berkumpul. Agar tertib administrasi dan hukum, pemerintah mengeluarkan UU no. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Peraturan Pemerintah no. 18 tahun 1986 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Untuk sekala kecil pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah no. 63 tahun 2008 tentang <strong><em>Yayasan</em></strong>. <strong><em>Sehingga orang yang berkumpul baik dalam majelis ta’lim atau apapun kegiatannya, harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah melalui lembaga yang diatur dalam peraturannya semisal organisasi kemasyarakatan atau yayasan atau lembaga dakwah</em></strong>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Maka orang-orang yang mengadakan majelis ta’lim tanpa seijin pemerintah –yaitu tanpa mendirikan <strong><em>yayasan</em></strong>- adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah. Sehingga kalau mereka konsisten dengan bid’ahnya yayasan maka hendaknya mereka tidak mengadakan majelis ta’lim dan cukup duduk-duduk di rumah mereka saja. Dan kalau mereka memaksa, maka mereka termasuk orang-orang yang sombong dan mencari kedudukan. Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=417&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2011/05/06/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Polemik Puasa Hari Sabtu</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2010/12/15/polemik-puasa-hari-sabtu/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2010/12/15/polemik-puasa-hari-sabtu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 08:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Dawud]]></category>
		<category><![CDATA[bin]]></category>
		<category><![CDATA[Busr]]></category>
		<category><![CDATA[goncang]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu]]></category>
		<category><![CDATA[idlthirab]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[kategori]]></category>
		<category><![CDATA[kegoncangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kompromi]]></category>
		<category><![CDATA[majhul]]></category>
		<category><![CDATA[maqbul]]></category>
		<category><![CDATA[Muflih]]></category>
		<category><![CDATA[perawi]]></category>
		<category><![CDATA[polemik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa. di-mansukh]]></category>
		<category><![CDATA[Qudamah]]></category>
		<category><![CDATA[sabtu]]></category>
		<category><![CDATA[Sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Polemik Puasa Hari Sabtu Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum puasa pada hari Sabtu. Dasar larangan puasa hari Sabtu adalah hadits Abdullah bin Busr t dari saudarinya -yaitu Ash-Shama’- bahwa Rasulullah e bersabda: لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=387&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Polemik Puasa Hari Sabtu</p>
<p>Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum puasa pada<em><strong> hari Sabtu</strong></em>. Dasar larangan puasa hari Sabtu adalah hadits Abdullah bin Busr t dari saudarinya -yaitu Ash-Shama’- bahwa Rasulullah e bersabda:</p>
<p>لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا لِحَاءَ عِنَبَةٍ أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ فَلْيَمْضُغْهُ</p>
<p><strong><em>“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali yang difardlukan oleh Allah atas kalian. Jika salah seorang dari kalian tidak mendapati sesuatu pun (untuk dimakan pada hari Sabtu, pen) kecuali kulit pohon anggur atau batang kayu pohon maka hendaklah ia mengunyahnya!”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 675, Abu Dawud: 2423, Ibnu Majah: 1716, Ahmad: 17026, 25828).<span id="more-387"></span></p>
<p><strong>Sikap Para Ulama</strong></p>
<p>Para ulama <strong><em>berbeda pandangan</em></strong> terhadap hadits ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وعلى هذا فيكون الحديث إما شاذا غير محفوظ وإما منسوخا وهذه طريقة قدماء أصحاب أحمد الذين صحبوه كالأثرم وأبي داود وقال أبو داود حديث منسوخ وذكر أبو داود بإسناده عن ابن شهاب أنه كان إذا ذكر له أنه نهى عن صيام السبت يقول ابن شهاب هذا حديث حمصي وعن الأوزاعي قال ما زلت له كاتما حتى رأيته انتشر بعد يعني حديث ابن بسر في صوم يوم السبت  قال أبو داود قال مالك هذا كذب وأكثر أهل العلم على عدم الكراهة</p>
<p style="text-align:right;">وأما أكثر أصحابنا ففهموا من كلام أحمد الأخذ بالحديث وحمله على الافراد فإنه سئل عن عين الحكم فأجاب بالحديث وجوابه بالحديث يقتضي اتباعه</p>
<p>“Dan atas demikian maka hadits ini bisa jadi syadz (janggal) yang tidak mahfuzh, atau bisa jadi di-mansukh (dihapus). Dan inilah jalan orang-orang terdahulu dari murid-murid Al-Imam Ahmad seperti  Al-Atsram dan  Abu Dawud.  Abu Dawud menyatakan bahwa <strong><em>hadits ini telah di-mansukh (dihapus) hukumnya</em></strong>. Abu Dawud menyebutkan dengan sanadnya dari Ibnu Syihab (Az-Zuhri) bahwa jika diingatkan kepada beliau sebuah hadits tentang larangan puasa hari Sabtu maka beliau menyatakan bahwa ini adalah hadits Himshi (isyarat kelemahannya, pen). Dan dari Al-Imam Al-Auza’i bahwa beliau berkata: <strong><em>“Aku dulu selalu menyembunyikan hadits ini (larangan puasa pada hari Sabtu) sampai akhirnya tersebar luas.”</em></strong> Abu Dawud berkata: “Al-Imam Malik berkata: <strong><em>“Hadits ini adalah dusta.”</em></strong> Dan kebanyakan ulama menyatakan <strong><em>tidak dibencinya puasa pada hari Sabtu</em></strong>.”</p>
<p>Adapun kebanyakan dari para sahabat kami (ulama Hanabilah), maka mereka memahami dari ucapan Al-Imam Ahmad tentang <strong><em>berpendapat dengan hadits ini (larangan berpuasa hari Sabtu, pen)</em></strong> dan memahaminya dengan <strong><em>pengkhususan hari Sabtu (dengan puasa)</em></strong>. Karena beliau pernah ditanya tentang ini (puasa hari Sabtu, pen) dan langsung menjawabnya dengan hadits <strong><em>Abdullah bin Busr</em></strong> ini. Jawaban beliau –dengan membawakan hadits di atas- ini menunjukkan bahwa beliau mengikuti hadits ini.” (Iqtidla’ush Shirathal Mustaqim: 263-264).</p>
<p><strong>Alasan Pendlaifan Hadits Ini</strong></p>
<p>Mereka yang melemahkan hadits ini memiliki 2 alasan. Alasan pertama adalah <strong><em>adanya idlthirab (kegoncangan) pada sanadnya</em></strong>. Alasan kedua adalah <strong><em>dimansukhnya (dihapusnya)</em></strong> hadits ini. Al-Imam An-Nasa’i berkata: <strong><em>“Hadits ini sanadnya goncang.”</em></strong> (Tuhfatul Ahwadzi: 3/373).</p>
<p>Alasan <strong><em>idlthirab (kegoncangan)</em></strong> dalam sanadnya adalah bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Busr dari saudarinya –yaitu Ash-Shama’- dari Rasulullah e. Ada sanad hadits yang menyatakan dari Abdullah bin Busr dari Rasulullah e tanpa perantaraan Ash-Shama’. Ada juga sanad yang menyebutkan dari Abdullah bin Busr dari bapaknya dari Rasulullah e. (Subulus Salam: 2/171). Ada juga yang menyebutkan dari Ash-Shama’ dari Aisyah dari Rasulullah e. (Tuhfatul Ahwadzi: 3/373). Inilah <strong><em>kegoncangan sanadnya</em></strong> sehingga dapat <strong><span style="text-decoration:underline;">melemahkan hadits ini</span></strong>.</p>
<p><strong>Alasan Penshahihan Hadits Ini</strong></p>
<p>Tuduhan <strong><em>idlthirab</em></strong> pada hadits ini telah dibantah oleh Al-Allamah Ibnul Mulaqqin Asy-Syafi’i. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قلت : وَلَك أَن تَقول وَإِن كَانَت مضطربة فَهُوَ اضْطِرَاب غير قَادِح ؛ فَإِن عبد الله ابْن بسر صَحَابِيّ، وَكَذَا وَالِده  والصماء  مِمَّن ذكرهم فِي الصَّحَابَة ابْن حبَان فِي أَوَائِل «الثِّقَات» فَتَارَة سَمعه من أَبِيه، وَتارَة من أُخْته، وَتارَة من رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَتارَة سمعته أُخْته من عَائِشَة، وسمعته من رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم</p>
<p>“Aku berkata: “Silakan Anda berpendapat. Meskipun hadits ini mudltharib maka kegoncangannya <strong><em>tidak sampai</em></strong> melemahkan hadits ini. Karena Abdullah bin Busr adalah seorang sahabat Nabi e. Demikian pula ayahnya dan As-Shama’. Mereka dimasukkan ke dalam <strong><em>kategori sahabat Nabi</em></strong> oleh Ibnu Hibban dalam permulaan Kitab Ats-Tsiqat. Maka kadang-kadang Abdullah mendengarkan dari ayahnya, kadang-kadang dari saudarinya dan kadang-kadang ia mendengarkan langsung dari Rasulullah e. As-Shama’ juga kadang-kadang mendengarkan dari Aisyah dan kadang-kadang mendengarkan langsung dari Rasulullah e. (Al-Badrul Munir: 5/762).</p>
<p>Adapun ucapan Al-Imam Malik bahwa hadits ini dusta, maka telah dibantah oleh Al-Imam An-Nawawi. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهذا القول لا يقبل فقد صححه الائمة</p>
<p><strong><em>“Pendapat Al-Imam Malik ini tidak bisa diterima karena hadits ini di-shahih-kan oleh banyak imam.”</em></strong> (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 6/439).</p>
<p>Para ulama yang menshahihkan hadits ini adalah At-Tirmidzi yang meng-hasan-kannya, Al-Hakim dan An-Nawawi. (Tuhfatul Ahwadzi: 3/373). Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi Asy-Syafi’I juga ikut men-shahih-kan hadits ini. (At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ish Shaghir: 2/956).</p>
<p>Para ulama dari kalangan Hanabilah yang men-shahih-kan hadits ini adalah Al-Imam <strong><em>Ibnu Qudamah</em></strong> Al-Maqdisi dalam Al-Kafi: 1/450 dan Al-Allamah <strong><em>Ibnu Muflih</em></strong> dalam Al-Furu’: 5/105.</p>
<p>Terakhir hadits ini juga di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 960 (4/118) dan Tamamul Minnah: 405-406.</p>
<p>Pendapat inilah yang menenangkan hati kita apalagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهؤلاء يكرهون إفراده بالصوم عملا بهذا الحديث بجودة إسناده</p>
<p>“Mereka (Hanabilah) membenci peng-khususan hari Sabtu dengan puasa dalam rangka mengamalkan hadits ini <strong><em>karena keadaan sanadnya yang jayyid (bagus).”</em></strong> (Iqtidla’: 264). Sehingga siapa pun dari orang-orang sekarang yang mau meneliti kembali sanad hadits ini, niscaya ia tidak akan ragu untuk men-shahih-kannya. Wallahu a’lam.</p>
<p><strong>Benarkah hadits ini dimansukh atau dihapus?</strong></p>
<p>Al-Imam An-Nawawi juga membantah Al-Imam Abu Dawud dengan perkataannya:</p>
<p style="text-align:right;">(وأما) قول أبى داود أنه منسوخ فغير مقبول وأى دليل علي نسخه</p>
<p><strong><em>“Adapun ucapan Abu Dawud bahwa hadits ini mansukh (dihapus), maka tidak bisa diterima. Dalil manakah yang menunjukkan mansukhnya?”</em></strong> (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 6/440).</p>
<p>Hadits yang dimaksudkan oleh Al-Imam Abu Dawud sebagai penghapus terhadap hadits ini adalah hadits Ummu Salmah t. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَكْثَرُ مَا كَانَ يَصُومُ مِنَ الأَيَّامِ يَوْمُ السَّبْتِ وَالأَحَدِ وَكَانَ يَقُولُ :« إِنَّهُمَا يَوْمَا عِيدٍ لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَهُمْ</p>
<p><strong><em>“Bahwa kebanyakan hari yang mana Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> berpuasa di dalamnya adalah hari Sabtu dan hari Ahad. Beliau berkata: “Keduanya merupakan  2 hari raya kaum musyrikin. Aku ingin menyelisihi mereka (dengan berpuasa).”</em></strong> (HR. Ahmad: 25525, An-Nasa’i dalam Al-Kubra: 2776 (2/146), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 8760 (4/303), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 1593 (1/602) dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya: 2167 (3/318)).</p>
<p>Al-Allamah Ibnul Mulaqqin berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وَأعله ابْن الْقطَّان بِأَن قَالَ : فِيهِ مَجْهُولَانِ .</p>
<p><strong><em>“Hadits Ummu Salmah ini dinilai cacat oleh Ibnu Qaththan dengan ucapannya bahwa di dalamnya terdapat 2 orang perawi yang majhul (tidak diketahui).” </em></strong>(Al-Badrul Munir: 5/761).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis berkata:</span></strong> Hadits Ummu Salmah di atas diriwayatkan oleh Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali dari bapaknya dari Kuraib dari Ummu Salmah t.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Abdullah bin Muhammad Umar bin Ali bin Abi Thalib Al-Madani Al-Alawi adalah <strong><em>perawi maqbul</em></strong>.” (Taqribut Tahdzib: 543). Haditsnya di-hasankan jika ia memiliki mutaba’ah. Jika tidak, maka haditsnya di-dlaifkan.</p>
<p>Al-Allamah Al-Albani juga <strong><em>mendlaifkan</em></strong> hadits Ummu Salmah di atas dalam Dlaif At-Targhib wat Tarhib: 639 (1/160).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis berkata:</span></strong> Hadits dlaif tidak bisa menghapus hadits yang shahih. Wallahu a’lam.</p>
<p><strong>Metode Kompromi Lebih Selamat</strong></p>
<p>Jika kedua hadits yang kelihatannya bertentangan maka hendaknya berusaha dikompromikan selagi mampu. Jika tidak mampu maka bisa menggunakan An-Nasikh dan Al-Mansukh.</p>
<p>Al-Allamah Ibnu Utsaimin berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وإن تعارضت، وأمكن الجمع وجب الجمع، وإن لم يمكن الجمع عمل بالنسخ إن تمت شروطه</p>
<p><strong><em>“Jika kedua hadits bertentangan dan mampu dikompromikan maka wajib dikompromikan. Jika tidak mungkin dikompromikan maka dilakukan An-Naskh (menghapus dan dihapus) jika syarat-syaratnya sempurna.”</em></strong> (Al-Ushul fi Ilmil Ushul: 82).</p>
<p>Maka hadits larangan puasa hari Sabtu adalah <strong><em>dipahami untuk orang yang mengkhususkan puasa hari Sabtu saja</em></strong>. Larangan itu akan hilang jika ia berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, atau hari Jumat dan Sabtu. Ini karena dikompromikan dengan hadits lain seperti hadits Aisyah t:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ الشَّهْرِ السَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَالِاثْنَيْنِ وَمِنْ الشَّهْرِ الْآخَرِ الثُّلَاثَاءَ وَالْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ</p>
<p><strong><em>“Adalah Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> berpuasa pada sebuah bulan, hari Sabtu, Ahad dan Senin. Pada bulan lainnya beliau berpuasa hari Selasa, Rabu dan Kamis.”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 677 dan dihasankan olehnya. Al-Albani men-shahih-kannya dalam Mukhtashar Asy-Syamail: 260).</p>
<p>Dan juga hadits Juwairiyyah bintul Harits t:</p>
<p style="text-align:right;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لَا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لَا قَالَ فَأَفْطِرِي</p>
<p>“Bahwa Rasulullah e memasuki rumah Juwairiyyah pada <strong>hari Jumat</strong> dalam keadaan Juwairiyyah sedang berpuasa. Maka Rasulullah e bertanya: <strong><em>“Apakah kamu berpuasa kemarin?”</em></strong> Ia jawab: <strong><em>“Tidak.” </em></strong>Beliau juga bertanya: <strong><em>“Apakah kamu juga akan berpuasa besok?”</em></strong> Ia menjawab: <strong><em>“Tidak.”</em></strong> Maka beliau bersabda: <strong><em>“Kalau begitu berbukalah (batalkan puasamu)!” </em></strong>(HR. Al-Bukhari: 1850, Abu Dawud: 2069 dan Ahmad: 25530). Dan tidak diragukan lagi bahwa <strong><span style="text-decoration:underline;">hari besoknya adalah hari Sabtu</span></strong>.</p>
<p>Dan juga hadits Aisyah t. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;">لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ</p>
<p><strong><em>“Rasulullah e belum pernah berpuasa dalam sebulan dengan puasa yang lebih banyak daripada puasa pada bulan Sya’ban. Karena beliau berpuasa pada bulan Sya’ban sebulan penuh.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 1834, Muslim: 1957, At-Tirmidzi: 668, Ibnu Majah: 1639). Dan tentulah di dalamnya terdapat hari Sabtu.</p>
<p>Sehingga larangannya terletak pada puasa pada hari Sabtu secara sendirian. Larangan tersebut akan hilang jika seseorang menggandengkan puasa hari Sabtu dengan hari sebelumnya atau sesudahnya. Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/387/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=387&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2010/12/15/polemik-puasa-hari-sabtu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara  Mengemis dan Menggalang Dana</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2010/10/31/antara-mengemis-dan-menggalang-dana/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2010/10/31/antara-mengemis-dan-menggalang-dana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 07:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Asy-Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[At-Tahridl]]></category>
		<category><![CDATA[Baitul]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantulah]]></category>
		<category><![CDATA[Beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[infaq]]></category>
		<category><![CDATA[Khidlir]]></category>
		<category><![CDATA[khumus]]></category>
		<category><![CDATA[mal]]></category>
		<category><![CDATA[meminta]]></category>
		<category><![CDATA[meminta-minta]]></category>
		<category><![CDATA[mengemis]]></category>
		<category><![CDATA[menggalang]]></category>
		<category><![CDATA[menjamu]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[penggalangan]]></category>
		<category><![CDATA[shadaqah]]></category>
		<category><![CDATA[tamu]]></category>
		<category><![CDATA[tasawwul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Antara  Mengemis dan Menggalang Dana dr. M Faiq Sulaifi Pada saat terjadinya berbagai bencana ini kita menemukan kegiatan penggalangan dana untuk para korban bencana di berbagai tempat. Selain itu kita juga mendapatkan kegiatan penggalangan dana untuk pembangunan masjid, madrasah dan untuk membantu anak-anak yatim. Kita menemukan kegiatan tersebut dengan keadaan langsung seperti di jalan-jalan, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=340&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Antara  Mengemis dan Menggalang Dana</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>dr. M Faiq Sulaifi<br />
</strong></p>
<p>Pada saat terjadinya berbagai bencana ini kita menemukan <strong><em>kegiatan penggalangan dana</em></strong> untuk para korban bencana di berbagai tempat. Selain itu kita juga mendapatkan kegiatan penggalangan dana untuk pembangunan masjid, madrasah dan untuk membantu anak-anak yatim. Kita menemukan kegiatan tersebut dengan keadaan langsung seperti di jalan-jalan, di masjid maupun tidak langsung seperti menggunakan surat dan proposal.</p>
<p>Pada saat yang lain kita juga mendapatkan sebagian orang yang melakukan <strong><em>kegiatan meminta-minta</em></strong> baik dengan cara sederhana seperti pengemis jalanan maupun menggunakan proposal.</p>
<p>Contoh pertama adalah kegiatan yang dianjurkan sedangkan contoh yang kedua adalah tercela dan dilarang. Namun yang disayangkan adalah munculnya orang-orang yang <strong><span style="text-decoration:underline;">“kurang berilmu”</span></strong> yang menyamakan antara <strong><em>mengemis</em></strong> (baca: <strong><em>tasawwul</em></strong>) dan <strong>menggalang dana</strong>.<span id="more-340"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Pengertian Tasawwul atau Mengemis</strong></p>
<p><strong>Mengemis</strong> atau <strong>meminta-minta</strong> di-istilahkan dengan bahasa Arab sebagai <strong><em>“tasawwul”</em></strong>.</p>
<p>Dalam Al-Mu’jamul Wasith disebutkan:</p>
<p style="text-align:right;">( تسول ) سول وسأل واستعطى</p>
<p>“<strong><em>Tasawwala</em></strong> (bentuk fi’il madly dari tasawwul) artinya <strong><em>meminta-minta atau meminta pemberian.”</em></strong> (Al-Mu’jamul Wasith: 1/465).</p>
<p><strong>“Tasawwul”</strong> atau <strong><em>meminta-minta</em></strong> yang dicela adalah <strong><em>meminta harta orang lain untuk kepentingan sendiri atau pribadi</em></strong>. Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">(إن المسألة) أي الطلب من الناس <span style="text-decoration:underline;">أن يعطوه</span> من أموالهم شيئا</p>
<p>“Sabda beliau e (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah <strong><em>menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka </em><span style="text-decoration:underline;">untuk dirinya</span></strong>.” (Faidlul Qadir: 2/493).</p>
<p>Demikian pula Al-Allamah Muqbil Al-Wadi’i. Beliau juga menjelaskan batasan <strong><em>tasawwul</em></strong>:</p>
<p style="text-align:right;">الثاني: قوم يتلصصون لأخذ الزكوات وليسوا مصرفا ثم يصرفونها <span style="text-decoration:underline;">في مصالحهم الشخصية</span></p>
<p>“Kelompok kedua (dari orang yang jelek dalam penggunaan harta): adalah <strong><em>kaum yang berusaha mencuri untuk mengambil harta zakat padahal mereka bukanlah golongan yang berhak menerimanya. Kemudian harta itu mereka gunakan untuk </em><span style="text-decoration:underline;">kepentingan pribadi mereka</span><em>.”</em></strong> (Dzammul Mas’alah: 31).</p>
<p><strong>Mengemis</strong> atau <strong><em>tasawwul</em></strong> juga bisa diartikan dengan upaya <strong><span style="text-decoration:underline;">meminta</span></strong> harta orang lain <strong><em>bukan untuk kemaslahatan agama</em></strong> melainkan untuk kepentingan pribadi. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قوله )باب الإستعفاف عن المسألة( أي في شيء <span style="text-decoration:underline;">من غير المصالح الدينية</span></p>
<p>“Ucapan Al-Bukhari (Bab Menjaga Diri dari Meminta-minta) maksudnya adalah <strong><em>meminta-minta  sesuatu selain untuk kemaslahatan agama</em></strong>.” (Fathul Bari: 3/336).</p>
<p>Sehingga pengertian <strong><span style="text-decoration:underline;">“tasawwul”</span></strong> atau <strong><span style="text-decoration:underline;">“mengemis”</span></strong> adalah <strong><em>meminta (harta) orang lain untuk kepentingan pribadi bukan untuk kemaslahatan agama</em></strong>.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Pengertian Menggalang Dana</strong></p>
<p>Adapun <strong><em>Penggalangan Dana</em></strong> maka meliputi 2 kegiatan:</p>
<ul>
<li>Kegiatan menganjurkan kaum muslimin      untuk shadaqah dan infaq. Ini  yang      disebut <strong><em>At-Tahridl</em></strong>.</li>
<li>Kegiatan mengumpulkan shadaqah dan      infaq kemudian menyalurkannya kepada mereka yang berhak. Ini disebut      sebagai <strong><em>Asy-Syafaat</em></strong>.</li>
</ul>
<p>Al-Allamah Zainuddin bin Al-Munayyir (sebagaimana yang dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar) berkata:</p>
<p style="text-align:right;">يجتمع <span style="text-decoration:underline;">التحريض</span> و<span style="text-decoration:underline;">الشفاعة</span> في أن كلا منهما إيصال الراحة للمحتاج ويفترقان في أن التحريض معناه الترغيب بذكر ما في الصدقة من الأجر والشفاعة فيها معنى السؤال والتقاضي للإجابة آنتهى</p>
<p>“Pengertian <strong>At-Tahridl</strong> dan <strong>Asy-Syafaat</strong> berkumpul pada <strong><em>memberikan keringanan bagi orang yang membutuhkan</em></strong> dan berpisah pada makna <strong><span style="text-decoration:underline;">At-Tahridl</span></strong> yang berarti <strong><em>menganjurkan shadaqah dengan menyebutkan pahalanya</em></strong> dan <strong><span style="text-decoration:underline;">Asy-Syafaat</span></strong> yang berarti <strong><em>meminta shadaqah dan menyampaikannya kepada yang berhak</em></strong>. Selesai.” (Fathul Bari: 3/300).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tercelanya Mengemis</strong></p>
<p>Agama Islam melarang umatnya untuk <strong>meminta-minta</strong> atau <strong>tasawwul</strong>. Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ</p>
<p><strong><em>“Meminta-minta akan senantiasa ada pada salah seorang dari kalian sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.”</em></strong> (HR. Muslim: 1724, Ahmad: 4409 dari Abdullah bin Umar t).</p>
<p>Al-Allamah Ibnu Utsaimin berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهذا وعيد شديد يدل على تحريم كثرة السؤال ولهذا قال العلماء: لا يحل لأحد أن يسأل شيئا إلا عند الضرورة إذا اضطر الإنسان فلا بأس أن يسأل، أما أن يسأل للأمور الكمالية لأجل أن يسابق الناس فيما يجعله في بيته، فإن هذا لا شك في تحريمه، ولا يحل له أن يأخذ شيئا حتى الزكاة ولو أعطيها فلا يأخذها لإنفاقها في الأمور الكمالية التي لا يريد منها إلا أن يساوق الناس ويماريهم أما الشيء الضروري فلا بأس به، والله أعلم</p>
<p>“Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya banyak meminta-minta. Oleh karena itu para ulama berkata: “<strong><span style="text-decoration:underline;">Tidak halal bagi seseorang untuk meminta sesuatu kecuali ketika terpaksa</span></strong>.” Jika seorang manusia terpaksa maka tidak apa-apa untuk meminta. <strong><em>Adapun jika meminta untuk tujuan kesempurnaan dalam rangka berlomba-lomba untuk memperbanyak isi rumahnya, maka ini tidak diragukan lagi keharamannya.</em></strong> Dan tidak halal mengambil sedikit pun (dari harta) sekalipun dari zakat. Seandainya ia diberi zakat maka janganlah ia mengambilnya untuk perkara kesempurnaan hartanya –yang mana ia berlomba-lomba dan berbangga-bangga atas manusia-. Adapun jika sesuatu yang terpaksa maka tidak apa-apa dengannya. Wallahu a’lam.” (Syarh Riyadlish Shalihin: 1/557).</p>
<p>Rasulullah e juga bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ</p>
<p><strong><em>“Harta Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan juga bagi orang yang masih mempunyai kekuatan (untuk bekerja) yang tidak cacat.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1392, Ibnu Majah: 1829, dan At-Tirmidzi: 589 dari Abu Hurairah t, di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 7/362)</p>
<p>Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ</p>
<p><strong><em>“Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka ia hanyalah sedang meminta bara api maka hendaknya ia mempersedikit ataukah memperbanyak.”</em></strong> (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah t)</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Rukhsah (Keringanan) untuk Tasawwul</strong></p>
<p>Ada bebarapa keadaan yang memperbolehkan seseorang untuk mengemis atau tasawwul. Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali t bahwa Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ فَمَا سِوَاهُنَّ مِنْ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا</p>
<p>“Wahai Qabishah! Sesungguhnya <strong><em>meminta-minta itu tidak halal</em></strong> kecuali bagi salah satu dari 3 orang. Yaitu: <strong>(pertama)</strong> orang menanggung beban maka halal baginya untuk meminta-minta sampai ia mendapatkan hartanya kembali, <strong>(kedua)</strong> orang yang tertimpa kegagalan panen dalam keadaan hartanya sudah ia habiskan untuk modal menanam, maka halal baginya meminta-minta sampai ia mendapatkan harta penegak kehidupannya. <strong>(ketiga</strong>) orang yang tertimpa kefakiran sampai disaksikan oleh 3 orang cerdas dari kaumnya bahwa ia tertimpa kefakiran, maka halal baginya meminta-minta sampai ia mendapatkan penegak bagi kehidupannya. <strong><em>Adapun selain 3 orang di atas maka itu adalah harta haram yang dimakan oleh pelakunya</em></strong>, wahai Qabishah!” (HR. Muslim: 1730, An-Nasa’i: 2533, Abu Dawud: 1397).</p>
<p>Al-Allamah Ibnul Atsir berkata:</p>
<p style="text-align:right;">رجُل تَحَمَّل حَمَالة ] الحَمَالة بالفتح : ما يتَحَمَّله الإنسان عن غيره من دِيَة أو غَرامة مثل أن يقع حَرْب بين فَرِيقين تُسْفَك فيها الدّماء فيَدْخل بينَهُم رجُل يَتَحَمَّل دِيَاتِ القَتْلَى ليُصْلح ذات البَيْن . والتَّحَمُّل : أن يَحْمِلَهَا عنهم على نَفْسه</p>
<p>“Maksud (orang yang menanggung beban) adalah orang yang menanggung diyat (denda) atau hutang orang lain seperti ketika terjadi perang di antara 2 kelompok maka ia memasukkan dirinya sebagai penengah di antara keduanya dengan cara menanggung denda untuk orang yang terbunuh dalam rangka mendamaikan kedua kelompok. Sehingga ia tanggungkan atas dirinya.” (An-Nihayah fi Gharibil Atsar: 1/1051). Sehingga ia seperti gharim (orang yang menanggung banyak hutang).</p>
<p>Dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ</p>
<p>“Sesungguhnya meminta-minta (tasawwul) tidaklah pantas kecuali bagi 3 orang: (<strong>pertama</strong>) orang yang mempunyai kefakiran yang sangat, (kedua) orang yang memiliki hutang yang mengerikan, (ketiga) orang yang memiliki tanggungan darah yang menyakitkan.” (HR. Abu Dawud: 1398, Ibnu Majah: 2189, At-Tirmidzi: 590 serta di-hasan-kan olehnya dan Ahmad: 11691. Al-Allamah Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini <strong><em>shahih lighairih</em></strong>. Shahih At-Targhib wat Tarhib hadits: 834).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p style="text-align:right;">الدم الموجع الحمالة في دم الخطأ والفقر المدقع الذي أفضى بصاحبه إلى الدقعاء وهي التراب كأنه ألصق ظهره بالأرض من الفقر وهو مثل قول الله عز وجل: {أَوْ مِسْكِيناً ذَا مَتْرَبَةٍ}</p>
<p>“Maksud (darah yang menyakitkan) adalah <strong><em>orang yang menanggung denda karena kekeliruannya sehingga menyebabkan jiwa terbunuh</em></strong>. (kefakiran yang sangat) adalah <strong><em>kefakiran yang menyebabkan orangnya menempel ke tanah</em></strong>. Seolah-olah ia menempelkan punggungnya ke tanah karena kefakiran. Ini menyerupai firman Allah: <strong><em>“Atau orang miskin yang berdebu.”</em></strong> (QS. Al-Balad: 16).” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 18/329).</p>
<p>Sehingga orang-orang yang disebutkan dalam hadits di atas <strong><em>diperbolehkan baginya untuk melakukan tasawwul (mengemis) sampai ia mendapatkan kecukupan hidupnya</em></strong>.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Menggalang Dana bukan Tasawwul</strong></p>
<p>Penggalangan dana <strong><em>tidak bisa dimasukkan</em></strong> ke dalam <strong><span style="text-decoration:underline;">tasawwul (mengemis)</span></strong>. Ini  karena isinya adalah kegiatan meminta harta shadaqah atau infaq <strong><em>bukan untuk kepentingan pribadi</em></strong> akan tetapi untuk kepentingan kaum muslimin seperti fakir miskin. Sehingga ia termasuk <strong><span style="text-decoration:underline;">kegiatan At-Tahridl</span></strong> dan <strong><span style="text-decoration:underline;">Asy-Syafaat</span></strong>.</p>
<p>Jabir bin Abdillah t berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى يَدِ بِلَالٍ وَبِلَالٌ بَاسِطٌ ثَوْبَهُ يُلْقِي فِيهِ النِّسَاءُ الصَّدَقَةَ</p>
<p>“Rasulullah e berdiri pada hari Idul Fitri. Maka beliau memulai dengan shalat kemudian berkhutbah. Setelah selesai khutbah beliau turun dan mendatangi kaum wanita. <strong><em>Kemudian beliau mengingatkan mereka dalam keadaan beliau bersendar pada tangan Bilal. Bilal membentangkan bajunya (untuk mengumpulkan harta shadaqah) sehingga kaum wanita melemparkan shadaqah ke baju Bilal.” </em></strong> (HR. Al-Bukhari: 925, Muslim: 1466, An-Nasa’i: 1557).</p>
<p>Dalam riwayat lain beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ</p>
<p><strong><em>“Wahai kaum wanita! Bershadaqahlah kalian! Karena aku melihat kalian sebagai kebanyakan penduduk neraka.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 293, Muslim: 114, At-Tirmidzi: 575, Ibnu Majah: 3993).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Bathal berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وفيه : الشفاعة للمساكين وغيرهم أن يسأل لهم . وفيه : حجة على من كره السؤال لغيره</p>
<p>“Di dalam hadits ini ada penjelasan bahwa <strong><em>Asy-Syafaat untuk kaum miskin dan lainnya adalah dengan memintakan (shadaqah atau infaq, pen) untuk mereka (bukan untuk kepentingan pribadi, pen).</em></strong> Di dalam hadits ini juga <strong><em>terdapat hujjah (bantahan) atas orang yang membenci untuk memintakan (shadaqah atau infaq, pen) untuk orang lain.”</em></strong> (Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal: 1/419).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar juga berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وفيه جواز طلب الصدقة من الأغنياء للمحتاجين ولو كان الطالب غير محتاج</p>
<p>“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang <strong><em>bolehnya meminta shadaqah dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Meskipun orang yang meminta shadaqah tidak membutuhkan shadaqah tersebut.”</em></strong> (Fathul Bari: 2/469).</p>
<p>Hadits di atas merupakan contoh kegiatan penggalangan dana yang terdiri atas kegiatan <strong>At-Tahridl</strong> dan <strong>Asy-Syafaat</strong>, sehingga tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori tasawwul.</p>
<p>Abu Musa Al-Asy’ari t berkata:</p>
<p style="text-align:right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَهُ السَّائِلُ أَوْ طُلِبَتْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ قَالَ اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ</p>
<p>“Adalah Rasulullah e jika didatangi oleh seorang yang meminta (sesuatu) atau beliau dimintai sesuatu yang dibutuhkan maka beliau bersabda: <strong><em>“Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala. Allah akan memutuskan melalui lisan Nabi-Nya </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> apa yang dikehendaki.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 1342, Muslim: 4761, An-Nasa’i: 2510, At-Tirmidzi: 2596, Abu Dawud: 4466).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قد قال صلى الله عليه وسلم:&#8221; اشفعوا تؤجروا وفيه إطلاق السؤال لغيره والله أعلم</p>
<p>“Rasulullah e bersabda: <strong><em>“Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala.”</em></strong> Di dalam hadits ini ada <strong><em>pemutlakan meminta (shadaqah dan lain-lain, pen) untuk kepentingan orang lain</em></strong>. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 4/122).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Bathal berkata:</p>
<p style="text-align:right;">الشفاعة فى الصدقة وسائر أفعال البر، مرغب فيها، مندوب إليها، ألا ترى قوله ( صلى الله عليه وسلم ) : ( اشفعوا تؤجروا )، فندب أمته إلى السعى فى حوائج الناس، وشرط الأجر على ذلك،</p>
<p>“<strong>Memberikan syafaat (bantuan) dalam perkara shadaqah (agar terkumpul dan tersalurkan, pen) dan perkara kebaikan lainnya adalah disukai dan dianjurkan.</strong> Apakah kamu tidak melihat sabda beliau e (<strong><em>“Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala.”</em></strong>). Maka beliau menganjurkan umat beliau untuk berusaha memenuhi kebutuhan manusia dan menjanjikan pahala atas perbuatan ini.” (Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal : 3/434).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Memohon Bantuan</strong></p>
<p>Memohon bantuan untuk kepentingan kaum muslimin adalah diperbolehkan dan tidak termasuk <strong><em>tasawwul</em></strong>.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا</p>
<p>“Dzulkarnain berkata: &#8220;Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, <strong><span style="text-decoration:underline;">maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat),</span></strong> agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95).</p>
<p>Al-Imam Al-Qurthubi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قال لهم ذو القرنين ما بسطه الله تعالى لي من القدرة والملك خير من خرجكم وأموالكم ولكن أعينوني بقوة الأبدان، أي برجال وعمل منكم بالأبدان، والآلة التي أبني بها الردم وهو السد</p>
<p>“Raja Dzulqarnain berkata kepada mereka: “Kerajaan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepadaku adalah lebih baik daripada harta kalian.<strong><em> Tetapi bantulah aku dengan kekuatan badan</em></strong>, yaitu dengan laki-laki dari kalian dan tenaga mereka, dan juga dengan alat-alat yang dapat aku gunakan untuk membangun bendungan.” (Tafsir Al-Qurthubi: 11/60).</p>
<p>Al-Imam Abdurrahman As-Sa’diy berkata:</p>
<p style="text-align:right;">فقال لهم: {مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ} أي: مما تبذلون لي وتعطوني، وإنما أطلب منكم أن تعينوني بقوة منكم بأيديكم</p>
<p>“Dzulqarnain berkata kepada mereka: “&#8221;Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik daripada perkara yang kalian serahkan dan kalian berikan kepadaku<strong><em>. Aku hanya meminta dari kalian agar kalian membantuku dengan kekuatan dari kalian dengan tenaga kalian.”</em></strong> (Taisir Karimir Rahman: 486).</p>
<p>Perbuatan Raja Dzulqarnain di atas adalah <strong><em>tidak termasuk tasawwul (mengemis)</em></strong> karena bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah e juga pernah meminta bantuan seorang tukang kayu untuk membuatkan beliau mimbar. Sahl bin Sa’d As-Sa’idi t berkata:</p>
<p style="text-align:right;">بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى امْرَأَةٍ مُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أَجْلِسُ عَلَيْهِنَّ</p>
<p>“Rasulullah e pernah mengutus kepada seorang wanita: <strong><em>“Perintahkan anakmu yang tukang kayu itu untuk membuatkan untukku sebuah mimbar sehingga aku bisa duduk di atasnya!”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 429, An-Nasa’i: 731 dan Ahmad: 21801).</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhari berkata:</p>
<p style="text-align:right;">بَاب الِاسْتِعَانَةِ بِالنَّجَّارِ وَالصُّنَّاعِ فِي أَعْوَادِ الْمِنْبَرِ وَالْمَسْجِدِ</p>
<p>“Bab: <strong><em>Meminta bantuan kepada tukang kayu dan ahli pertukangan lainnya untuk membuat kayu-kayu mimbar dan masjid.” </em></strong>(Shahihul Bukhari: 2/235).</p>
<p>Al-Imam Ibnu Bathal berkata:</p>
<p style="text-align:right;">فيه: الاستعانة بأهل الصناعات والمقدرة فى كل شىء يشمل المسلمين نفعه، وأن المبادر إلى ذلك مشكور له فعله.</p>
<p>“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran <strong><em>tentang bolehnya meminta bantuan kepada ahli pertukangan dan ahli kekayaan untuk segala hal yang manfaatnya meliputi kaum muslimin.</em></strong> Dan orang-orang yang bersegera melakukannya adalah disyukuri usahanya.” (Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal: 2/100).</p>
<p>Sehingga meminta bantuan dan sumbangan baik berupa tenaga maupun materi untuk membangun masjid dan madrasah adalah diperbolehkan dan tidak termasuk tasawwul (mengemis).</p>
<p>Demikian pula apa yang dilakukan oleh Abu Bakar t ketika dibaiat menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah e. Beliau berpidato:</p>
<p style="text-align:right;">أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم، فإن أحسنت فأعينوني، وإن أسأت فقوموني.</p>
<p>“Amma ba’du. Wahai manusia! Sesungguhnya aku menjadi pemimpin kalian dan aku bukanlah orang yang terbaik di atara kalian. Maka jika aku benar maka <strong><span style="text-decoration:underline;">bantulah aku</span></strong>! Dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku!” (Al-Bidayah wan Nihayah: 5/269).</p>
<p>Sehingga kita diperbolehkan mengatakan: <strong>“Bantulah aku membangun masjid ini atau madrasah ini dan sebagainya!”</strong> atau meminta sumbangan kepada kaum muslimin yang mampu untuk membangun masjid, madrasah dan  sebagainya.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Saudi Arabiyyah pernah ditanya:</p>
<p style="text-align:right;">س: هل يجوز للمسلم أن يطلب المساعدة لبناء مسجد أو مدرسة من المسلم، لماذا؟</p>
<p style="text-align:right;">ج: يجوز ذلك؛ لأن هذا من التعاون على البر والتقوى، قال تعالى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ }</p>
<p style="text-align:right;">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<p style="text-align:right;">اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</p>
<p style="text-align:right;">عضو &#8230; عضو &#8230; نائب رئيس اللجنة &#8230; الرئيس</p>
<p style="text-align:right;">عبد الله بن قعود &#8230; عبد الله بن غديان &#8230; عبد الرزاق عفيفي &#8230; عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p>Tanya: “Bolehkah meminta bantuan dari seorang muslim untuk membangun masjid atau madrasah?”</p>
<p>Jawab: “Perkara tersebut diperbolehkan, karena termasuk dalam tolong-menolong di atas kebaikan dan taqwa. Allah U berfirman: <strong><em>“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”</em></strong> (QS. Al-Maidah: 2).</p>
<p>Wabillahit taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’</p>
<p>Abdul Aziz bin Baaz (ketua), Abdur Razzaq Afifi (wk ketua), Abdullah Ghudayyan (anggota) Abdullah Qu’ud (anggota) (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’atul Ula nomer: 6192(6/242)).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Seorang Tamu yang Meminta Haknya</strong></p>
<p>Jika seseorang bertamu di rumah orang lain maka ia boleh meminta haknya sebagai tamu untuk mendapatkan jamuan dari tuan rumah. Ini tidak termasuk tasawwul yang tercela.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا</p>
<p><strong><em>“Maka keduanya (Musa dan Khidlir) berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu</span></strong><strong><em>, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka,”</em></strong> (QS. Al-Kahfi: 77).</p>
<p>Al-Imam Al-Qurthubi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">ويظهر من ذلك أن الضيافة كانت عليهم واجبة، وأن الخضر وموسى إنما سألا ما وجب لهما من الضيافة، وهذا هو الأليق بحال الأنبياء، ومنصب الفضلاء والأولياء</p>
<p>“Dan tampaklah dari ayat ini bahwa menjamu tamu adalah kewajiban mereka (penduduk negeri itu). Dan bahwa <strong><em>Khidlir dan Musa hanyalah meminta hak mereka sebagai tamu yang wajib dijamu oleh tuan rumah.</em></strong> Inilah yang pantas dengan keadaan para nabi dan kedudukan orang-orang yang memiliki keutamaan dan para wali.” (Tafsir Al-Qurthubi: 11/25).</p>
<p>Al-Imam Ibnul A’rabi Al-Maliki berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وَهَذَا السُّؤَالُ مِنْ تِلْكَ الْأَقْسَامِ هُوَ سُؤَالُ الضِّيَافَةِ ، وَهِيَ فَرْضٌ أَوْ سُنَّةٌ كَمَا بَيَّنَّاهُ هُنَالِكَ ، وَسُؤَالُهَا جَائِزٌ ، فَقَدْ تَقَدَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمْ نَزَلُوا بِقَوْمٍ فَاسْتَضَافُوهُمْ ، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ ، فَلُدِغَ سَيِّدُهُمْ ، فَسَأَلُوهُمْ : هَلْ مِنْ رَاقٍ ، فَجَعَلُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ .</p>
<p>“Permintaan ini (Khidlir dan Musa) dari macam-macam permintaan yang kami bahas adalah permintaan untuk mendapat jamuan<strong><em>. Menjamu tamu adalah wajib atau sunnah sebagaimana yang telah kami jelaskan di sana. Dan meminta jamuan adalah diperbolehkan.</em></strong> Dan telah dibahas dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa mereka pernah singgah  pada sebuah kaum kemudian meminta jamuan dari mereka. Kaum itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian pemimpinnya terkena sengat dan mereka menanyakan orang yang mampu meruqyah. Para sahabat kemudian mempersyaratkan beberapa ekor kambing sebagai upah.” (Ahkamul Quran li Ibnil A’rabi: 5/334).</p>
<p>Abu Sa’id Al-Khudri t berkata:</p>
<p style="text-align:right;">انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ</p>
<p>“Sebagian Sahabat Nabi e berangkat dalam suatu perjalanan sampai mereka singgah pada suatu kaum dari orang-orang Arab. Kemudian para sahabat meminta jamuan dari mereka dan mereka tidak mau menjamu…dst.” (HR. Al-Bukhari: 2115, Muslim: 4080, Abu Dawud: 2965).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Meminta Beasiswa </strong></p>
<p>Pemerintah memberikan beasiswa bagi pelajar yang berprestasi agar dapat melanjutkan proses belajar mereka. Maka jika seorang pelajar berprestasi mengajukan beasiswa kepada pemerintah maka ini termasuk <strong><em>tasawwul yang diperbolehkan</em></strong>.</p>
<p>Dari Samurah bin Jundab t bahwa Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الْمَسَائِلَ كُدُوحٌ يَكْدَحُ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ فَمَنْ شَاءَ كَدَحَ وَجْهَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ ذَا سُلْطَانٍ أَوْ شَيْئًا لَا يَجِدُ مِنْهُ بُدًّا</p>
<p>“<strong><em>Sesungguhnya meminta-minta adalah cabikan yang mana seseorang mencabik-cabik wajahnya dengan meminta-minta.</em></strong> Maka barangsiapa yang mau, maka silakan mencabik-cabik wajahnya dan barangsiapa yang mau maka silakan ia tinggalkan. <strong><em>Kecuali seseorang meminta kepada pemilik kekuasaan (pemerintah)</em></strong> atau ia meminta sesuatu yang harus dipenuhi.” (HR. An-Nasa’i: 2552, Abu Dawud: 1396, Ahmad: 19353 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6695).</p>
<p>Al-Allamah Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">)إلا أن يسأل الرجل ذا سلطان( أي ذا حكم وسلطنة بيده بيت المال فيسأل حقه فيعطيه منه إن كان مستحقا</p>
<p>“Sabda beliau (<strong><em>Kecuali seseorang meminta kepada pemilik kekuasaan</em></strong>) maksudnya adalah <strong><em>seseorang yang memiliki wewenang hukum dan kekuasaan yang memegang Baitul Mal maka ia meminta haknya dan ia diberikan haknya dari Baitul Mal kalau ia termasuk orang yang berhak.”</em></strong> (Tuhfatul Ahwadzi: 3/290).</p>
<p>Al-Allamah Abuth Thayyib Al-Azhim Abadi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وفيه دليل على جواز سؤال السلطان من الزكاة أو الخمس أو بيت المال أو نحو ذلك فيخص به عموم أدلة تحريم السؤال</p>
<p>“Di dalam hadits ini terdapat dalil <strong><em>diperbolehkannya meminta penguasa dari harta zakat atau khumus atau Baitul mal atau yang lainnya</em></strong>. Maka hadits ini mengecualikan keumuman dalil-dalil yang melarang meminta-minta.” (Aunul Ma’bud: 5/34).</p>
<p><strong>Sekarang timbul pertanyaan</strong>: Bagaimana jika pemerintah mendapatkan pemasukan dari pajak dan selainnya seperti bunga bank dan sebagainya? Apakah pemberiannya boleh kita terima? Seperti gaji PNS dan lain-lain?</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن اباحه أخذ بالأصل قال بن المنذر واحتج من رخص فيه بأن الله تعالى قال في اليهود سماعون للكذب أكالون للسحت وقد رهن الشارع درعه عند يهودي مع علمه بذلك وكذلك أخذ الجزية منهم مع العلم بأن أكثر أموالهم من ثمن الخمر والخنزير والمعاملات الفاسدة</p>
<p>“Sebagian ulama menyatakan haramnya pemberian dari pemerintah. Sebagian yang lainnya menyatakan makruhnya. Keharaman dipahami jika itu merupakan pemberian dari penguasa yang zhalim. Kemakruhan dipahami atas sikap wara’ dan inilah yang masyhur dari sikap As-Salaf. Wallahu a’lam. Tahqiq dari masalah ini adalah bahwa pemerintah yang diketahui keadaan hartanya yang halal maka pemberiannya jangan ditolak. Dan pemerintah yang diketahui keadaan hartanya yang haram maka pemberiannya haram diterima. Dan pemerintah yang diragukan hartanya maka keadaan hati-hati adalah menolaknya dan itulah sikap wara’.</p>
<p>Para ulama yang memperbolehkan menerima pemberian penguasa berpegang pada hukum asal (yaitu hadits di atas, pen). Ibnul Munzhir menyatakan: “Ulama yang memberikan rukhsah untuk meminta dan menerima pemberian penguasa berdalil dengan firman Allah bahwa orang yahudi itu banyak mendengar kedustaan dan banyak memakan harta haram.<a href="#_ftn1">[1]</a> Tetapi Rasulullah e sendiri menggadaikan baju besinya kepada orang yahudi (untuk mendapatkan gandum)<a href="#_ftn2">[2]</a> padahal beliau mengetahui praktik haram si yahudi tersebut. Demikian pula memungut Al-Jizyah dari mereka<a href="#_ftn3">[3]</a> padahal diketahui bahwa kebanyakan harta mereka adalah dari hasil penjualan khamer, babi dan muamalah yang rusak.” (Fathul Bari: 3/338).</p>
<p>Sehingga hukum asal menerima beasiswa dan gaji bagi PNS adalah halal.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sehingga seorang yang berilmu harus bisa membedakan antara mana yang disebut tasawwul dan mana yang bukan tasawwul. Mana tasawwul yang diperbolehkan dan mana tasawwul yang dilarang. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien. Wallahu a’lam.</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ</p>
<p>“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 42).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ummul Mukminin Aisyah t berkata:</p>
<p style="text-align:right;">تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ</p>
<p><strong><em>“Rasulullah </em></strong><strong><em>r</em></strong><strong><em> wafat dalam keadaan baju perangnya tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sha’ gandum.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 4107).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ</p>
<p>“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29).</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=340&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2010/10/31/antara-mengemis-dan-menggalang-dana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Maal untuk Membangun Masjid, Bolehkah?</title>
		<link>http://sulaifi.wordpress.com/2010/09/30/zakat-maal-untuk-membangun-masjid-bolehkah/</link>
		<comments>http://sulaifi.wordpress.com/2010/09/30/zakat-maal-untuk-membangun-masjid-bolehkah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 23:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. M Faiq Sulaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[An Sabilillah]]></category>
		<category><![CDATA[ayat di atas]]></category>
		<category><![CDATA[ayat zakat]]></category>
		<category><![CDATA[berhutang]]></category>
		<category><![CDATA[berjihad]]></category>
		<category><![CDATA[berperang]]></category>
		<category><![CDATA[di jalan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[fakir]]></category>
		<category><![CDATA[Fi]]></category>
		<category><![CDATA[fii]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Awal]]></category>
		<category><![CDATA[hartanya]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[infaq]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[khusus]]></category>
		<category><![CDATA[konteks ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Maal]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[mal]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Membangun]]></category>
		<category><![CDATA[menegakkan kalimatnya]]></category>
		<category><![CDATA[menghalangi]]></category>
		<category><![CDATA[menyakiti]]></category>
		<category><![CDATA[menyesatkan]]></category>
		<category><![CDATA[merusak susunan]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[mu'tabar]]></category>
		<category><![CDATA[para mujahidin]]></category>
		<category><![CDATA[penafsirannya]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Sabilillah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa batasan]]></category>
		<category><![CDATA[terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>
		<category><![CDATA[wa]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulaifi.wordpress.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Zakat Maal untuk Membangun Masjid, Bolehkah? dr. M Faiq Sulaifi Sebagian kaum muslimin menyalurkan sebagian harta dari Zakat Mal untuk kepentingan membangun masjid, madrasah dan sarana yang lainnya. Mereka menafsirkan ayat “Wa fii Sabilillah “ (QS. At-Taubah:60) –yang artinya “di jalan Allah”- dengan membangun masjid, madrasah, rumah sakit dan sebagainya. Benarkah penafsirannya demikian? Lalu bagaimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=320&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Zakat Maal untuk Membangun Masjid, Bolehkah?</strong></p>
<p style="text-align:center;">dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menyalurkan sebagian harta dari Zakat Mal untuk kepentingan membangun masjid, madrasah dan sarana yang lainnya. Mereka menafsirkan ayat <strong><em>“Wa fii Sabilillah “</em></strong> (QS. At-Taubah:60) –yang artinya “<strong><em>di jalan Allah”</em></strong>- dengan membangun masjid, madrasah, rumah sakit dan sebagainya.</p>
<p>Benarkah <strong><em>penafsirannya</em></strong> demikian? Lalu bagaimana penafsiran yang benar?</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sebelum menafsirkan <strong><em>ayat di atas</em></strong> alangkah baiknya kita membahas metode tafsir yang mu’tabar yang menyelamatkan kita dari penyelewengan makna Al-Quran.</p>
<p>Al-Hafizh Al-Mufassir Ibnu Katsir –sebagaimana dikutip dalam muqaddimah tahqiq Tafsir Ibni Katsir- berkata:</p>
<p style="text-align:right;">&#8220;فَإنْ قَالَ قَائِلٌ: فمَا أحْسَنُ طُرُقِ التَّفْسِيرِ؟ فَالْجوابُ: إنَّ أصَحَّ الطُّرُقِ في ذلك أنْ يُفَسَّرَ القرآنُ بالقرآنِ، فما أُجْمِلَ في مكَانٍ فإنه قد بُسِطَ في مَوْضِعٍ آخرَ، فإن أعْياكَ فَعَلَيْكَ بالسُّنَّة؛ فإنها شَارِحةٌ للقُرْآنِ وَمُوَضِّحةٌ له، وحِينَئذٍ إذا لم نَجِدِ التفْسِيرَ فِي القُرآنِ ولا في السُّنةِ رَجَعْنا في ذلك إلى أَقْوالِ الصَّحابةِ؛ فإنهم أدْرَى بذلك لما شَاهَدُوا من القَرائِنِ والأحْوالِ التي اخْتُصُّوا بها، ولِما لهم مِنَ الفَهْمِ التَّامِ والعِلْم الصَّحِيح والعَمَلِ الصَّالِحِ، لاسيَّما عُلَماءَهُم وكُبَراءَهُمْ كالأئمَّةِ الأربعةِ الخُلَفاءِ الرّاشِدين، والأئمة المهتدِينَ الْمهدِيِّينَ، وعَبْدَ الله بن مَسْعودٍ -رضي الله عنهم أجمعين-وإذا لم تَجِدِ التفْسِيرَ في القُرآنِ ولا في السُّنةِ ولا وَجَدْتَهُ عنِ الصَّحابةِ فقد رَجَعَ كَثير من الأئمةِ في ذلك إلى أقوالِ التَّابِعينَ&#8221;.</p>
<p>“Jika seseorang bertanya: “Apakah metode tafsir yang terbaik?” Maka Jawabnya adalah: “Sesungguhnya jalan yang paling shahih dalam permasalahan tafsir adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Karena ayat-ayat yang global di suatu tempat akan diperinci pada ayat-ayat yang lain. Jika kamu masih kesulitan menafsirkannya maka tafsirkanlah Al-Quran dengan As-Sunnah karena As-Sunnah menjadi penafsir dan penjelas dari Al-Quran. Dan ketika itu jika kita masih belum menemukan tafsirnya dari Al-Quran maupun As-Sunnah maka kita kembali kepada ucapan para Sahabat Nabi y. Mereka paling mengetahui urusan tafsir karena mereka telah menyaksikan keadaan dan qarinah (turunnya ayat) yang mana mereka memiliki spesialisasi (keahlian khusus) dalam hal ini. Dan juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih dan amal shalih. Terutama ulama dan pembesarnya para sahabat seperti 4 imam khulafa’ur rasyidin, para pemimpin yang mendapat petunjuk dan juga Abdullah bin Mas’ud e. Dan jika kamu tidak mendapatkan tafsirnya dari Al-Quran, tidak pula dari As-Sunnah, tidak pula dari Sahabat maka kebanyakan para imam tafsir merujuk kepada tafsir Tabi’in.” (Tafsir Ibni Katsir: 1/8).</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align:right;">أما إذا أجمعوا على الشيء فلا يرتاب في كونه حجة، فإن اختلفوا فلا يكون بعضهم حجة على بعض، ولا على من بعدهم، ويرجع في ذلك إلى لغة القرآن أو السنة أو عموم لغة العرب، أو أقوال الصحابة في ذلك.</p>
<p>“Adapun jika mereka (para tabi’in) bersepakat atas sesuatu tafsir maka tidak diragukan lagi bahwa tafsir mereka adalah hujjah. Namun jika mereka berselisih dalam tafsir maka ucapan masing-masing dari mereka tidak dapat dijadikan hujjah atas yang lainnya. Maka dalam permasalahan ini dikembalikan kepada bahasa Al-Quran atau As-Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para Sahabat dalam hal ini.” (Tafsir Ibni Katsir: 1/10).</p>
<p>Sehingga <strong><em>metode tafsir terbaik</em></strong> adalah:</p>
<ul>
<li>Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran</li>
<li>Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah</li>
<li>Menafsirkan Al-Quran dengan ucapan ulama para Sahabat</li>
<li>Menafsirkan Al-Quran dengan kesepakatan Tabiin</li>
<li>Menafsirkan Al-Quran dengan keumuman bahasa Arab</li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong>Makna Fi Sabilillah</strong></p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu&#8217;allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”</em></strong> (QS. At-Taubah: 60).</p>
<p>Ada 3 pendapat ulama tentang pengertian “Fii Sabilillah”;</p>
<ol>
<li>Maksud “Fii Sabilillah” adalah      orang-orang yang berjihad dan berperang di jalan Allah.Ini adalah pendapat mayoritas Salafus Shalih. Di antara mereka adalah Ibnu Zaid (Tafsir Ath-Thabari: 14/319), Ibnu Abbas, Muqatil bin Hayyan dan Qatadah (Ad-Durrul Mantsur: 5/101-102). Juga merupakan pendapat kebanyakan ulama dan  fuqaha’ kecuali Abu Hanifah yang mengharuskan sifat miskin bagi orang yang berjihad. (Fathul Bari: 3/332, Mir’atul Mafatih: 6/238).</li>
<li>Maksud “Fii Sabilillah” selain      orang yang berjihad juga orang yang naik haji dan umrah. Ini adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah berdasarkan atsar Ibnu Abbas dan Ibnu Umar y. (Fathul Bari: 3/332).</li>
<li>Maksud “Fii Sabilillah” meliputi      segala bentuk kebaikan seperti menyantuni fakir miskin, yatim, membangun      masjid dan sebagainya.Ini adalah pendapat Al-Qaffal, Al-Kasani penulis Bada’ius Shana’i (Mir’atul Mafatih: 6/238) dan tokoh-tokoh muta’akhirin seperti pengarang Tafsir Al-Manar (Mir’atul Mafatih: 6/240), Abdul Majid Salim (Fatawa Al-Azhar: 1/139)</li>
</ol>
<p>Manakah di antara 3 pendapat di atas yang sesuai dengan penafsiran yang mu’tabar?<span id="more-320"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir dengan Al-Quran</strong></p>
<p>Allah U yang telah menurunkan Surat At-Taubah: 60 tentang golongan yang berhak menerima zakat pastilah lebih mengetahui tentang tafsir <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>. Dialah sendiri yang akan menjelaskan tafsirnya dalam ayat-ayat yang lain. Sehingga dengan tafsir bil Quran ini akan lebih jelas pengertian <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>.</p>
<p>Frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam Al-Quran diulang-ulang penyebutannya lebih dari 60 kali. Kadang-kadang dengan kata <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> sebagaimana dalam ayat zakat ini dan merupakan yang terbanyak dalam Al-Quran. Sisanya dengan menggunakan frase <strong><em>“An Sabilillah (dari jalan Allah)”</em></strong>, yaitu sebanyak 23 tempat. (Abhats Hai’ah Kibaril Ulama: 1/138).</p>
<p>Contoh frase <strong><em>“An Sabilillah (dari jalan Allah)”</em></strong> yang berarti<strong><span style="text-decoration:underline;"> </span><span style="text-decoration:underline;">menghalangi</span></strong> adalah firman Allah:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.”</em></strong> (QS. Al-Anfal: 36).</p>
<p>Contoh frase <strong><em>“An Sabilillah (dari jalan Allah)”</em></strong> yang berarti <strong><span style="text-decoration:underline;">menyesatkan</span></strong> adalah firman Allah:</p>
<p style="text-align:right;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.”</em></strong> (QS. Luqman: 6).</p>
<p>Sedangkan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> –dan ini merupakan penyebutan yang terbanyak dalam Al-Quran- maka dapat diartikan sebagai <strong><span style="text-decoration:underline;">infaq</span></strong> sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.”</em></strong> (QS. Al-Baqarah: 165).</p>
<p>Bisa juga berarti <strong><span style="text-decoration:underline;">hijrah</span></strong> seperti dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah.”</em></strong> (QS. Al-Hajj: 58).</p>
<p>Bisa juga diartikan dengan <strong><span style="text-decoration:underline;">jihad</span></strong> seperti dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,”</em></strong> (QS. Al-Baqarah: 218).</p>
<p>Bisa juga berarti <strong><span style="text-decoration:underline;">perang</span></strong> sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ</p>
<p><strong><em>“Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.”</em></strong> (QS. At-Taubah: 111).</p>
<p>Kemudian  jika frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dihubungkan dengan kata <strong><span style="text-decoration:underline;">“infaq”</span></strong> akan memiliki 2 pengertian:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama: Pengertian      umum</span></strong> –menurut penunjukan lafazh      aslinya- yaitu meliputi segala macam kebaikan dan ketaatan serta jalan      kebaikan. Sebagai contoh adalah firman Allah U:</p>
<p style="text-align:right;">مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</p>
<p><strong><em>“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">menafkahkan hartanya di jalan Allah</span></strong><strong><em> adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”</em></strong> (QS. Al-Baqarah: 261).</p>
<p>Contoh yang lainnya adalah firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</p>
<p><strong><em>“Orang-orang yang </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">menafkahkan hartanya di jalan Allah</span></strong><strong><em>, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”</em></strong> (QS. Al-Baqarah: 262).</p>
<p>Maka tidak ada seorang ulama pun yang membatasi pengertian <strong><span style="text-decoration:underline;">“jalan Allah”</span></strong> dalam ayat di atas hanya pada perang dan jihad saja dengan dalil adanya penyebutan kata “<strong><em>menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima)”</em></strong>. (Lihat secara lengkap Abhats Hai’ah Kibaril Ulama’: 1/141)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua: Pengertian      khusus</span></strong> dari <strong><em>“Fi Sabilillah (di      jalan Allah)”</em></strong> adalah menolong agama Allah, memerangi      musuh-musuh-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Dan yang membedakan antara      pengertian umum dan pengertian khusus       (dari <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> ) adalah <strong><em>konteks      dari kalimatnya</em></strong>. (Abhats Hai’ah Kibaril Ulama’:      1/141)</p>
<p>Sebagai contohnya adalah firman Allah U;</p>
<p style="text-align:right;">وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>“Dan </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah</span></strong><strong><em>, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”</em></strong> (QS. Al-Baqarah: 195).</p>
<p>Frase <strong><em>“jalan Allah”</em></strong> dalam ayat di atas bermakna <strong><em>jihad untuk menegakkan kalimatnya</em></strong> karena konteks ayat sebelumnya adalah permasalahan perang terhadap kaum musyrikin.</p>
<p>Contoh yang lainnya adalah firman-Nya:</p>
<p>وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ</p>
<p><strong><em>“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">kamu nafkahkan pada jalan Allah</span></strong><strong><em> niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”</em></strong> (QS. Al-Anfal: 60).</p>
<p>Frase <strong><em>“jalan Allah”</em></strong> dalam ayat di atas bermakna <strong><em>jihad untuk menegakkan kalimatnya</em></strong> karena masih dalam konteks jihad di jalan Allah.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir “Fi Sabilillah” dalam Ayat Zakat</strong></p>
<p>Allah U berfirman dalam ayat zakat:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu&#8217;allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">untuk jalan Allah</span></strong><strong><em> dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”</em></strong> (QS. At-Taubah: 60).</p>
<p>Frase <strong><em>“jalan Allah”</em></strong> dalam ayat di atas apakah ditafsirkan dengan <strong><em>pengertian umum</em></strong> –yaitu meliputi semua jalan kebaikan- ataukah ditafsirkan dengan <strong><em>pengertian khusus</em></strong> –yang membatasi hanya pada berjihad di jalan-Nya-?</p>
<p>Maka jawaban yang benar bahwa frase <strong><em>“jalan Allah”</em></strong> dalam ayat di atas harus ditafsirkan dengan pengertian khusus –yang membatasi hanya pada berjihad di jalan-Nya- saja. Kalau pengertian umum dipaksakan pada frase <strong><em>“jalan Allah”</em></strong> dalam ayat di atas maka akan <strong><em>merusak susunan dan konteks ayat</em></strong>.</p>
<p>Yang demikian karena menyantuni orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang yang mu’allaf, memberikan bantuan kepada budak untuk menebus dirinya dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori <strong><em>“Fi sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dengan <strong><span style="text-decoration:underline;">pengertian umum</span></strong>.</p>
<p>Maka –kalau begitu- <strong><span style="text-decoration:underline;">apa yang membedakan</span></strong> antara golongan fakir, miskin dengan golongan <strong><em>“Fi sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> jika golongan <strong><em>“Fi sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> ditafsirkan dengan <strong><span style="text-decoration:underline;">pengertian umum</span></strong> yang juga meliputi golongan fakir dan golongan miskin pula? Sesungguhnya firman Allah U yang memiliki nilai kedalaman bahasa itu wajib disucikan dari pengulangan yang tidak berguna. Sehingga tafsir golongan <strong><em>“Fi sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> yang paling tepat adalah pengertian khusus yaitu berjihad dan berperang di jalan-Nya dalam rangka membedakan dari kedelapan golongan yang lainnya yang berhak menerima zakat. (Abhats Hai’ah Kibaril Ulama’: 1/143).</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Walid Shalih Fauzan berkata:</p>
<p style="text-align:right;">أما الزكاة فإنها تصرف في مصارفها الشرعية التي حددها الله سبحانه وتعالى، والمراد بقوله : { وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ } [ سورة التوبة : آية 60 ] المجاهدون الذين ليس لهم مرتبات من بيت المال فيعطون من الزكاة وليس المراد من سبيل الله عموم المشاريع؛ لأنه لو كان كذلك لم يكن لعطفه على بقية الأصناف فائدة إذ كل الأصناف تكون في سبيل الله، فالحاصل أنه لابد من صرفها في مصارفها المحددة، فمن صرفها في غير أحد هذه الثمانية فإنها لا تجزيه .</p>
<p>“Adapun zakat maka ia dibagikan pada pembagiannya yang syar’i yang telah Allah U tetapkan batasnya. Dan yang dimaksud dengan firman-Nya <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> (QS. At-Taubah: 60) adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">para mujahidin</span></strong> yang tidak memiliki gaji dari Baitul Mal. Maka mereka diberikan bagiannya dari zakat. Dan yang dimaksud dengan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> <strong><span style="text-decoration:underline;">bukanlah</span></strong> <strong><em>semua jalan kebaikan</em></strong>. Karena kalau demikian maksudnya maka tidak akan ada gunanya ia (frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>) disambung dengan golongan-golongan lainnya karena setiap golongan (dari 8 golongan yang berhak menerima zakat, pen) juga termasuk frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>. Maka kesimpulannya adalah bahwa zakat haruslah dibagikan pada golongan-golongan yang sudah dibagi (oleh syariat, pen). Barangsiapa yang membagikannya kepada selain 8 golongan ini maka itu tidak mencukupinya.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan: kaset 81 hal 7).</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Pemakaian Frase </strong><strong>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)” di Masa Generasi Awal</strong></p>
<p>Para Salafus Shaleh -yaitu Rasulullah e dan para Sahabat- menggunakan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> untuk memaksudkan <strong><span style="text-decoration:underline;">berjihad dan berperang di jalan-Nya</span></strong> secara mutlak (tanpa batasan) karena seringnya penggunaan istilah ini di masa mereka. Sehingga jika ada ungkapan <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dengan <strong><em>tanpa batasan atau embel-embel</em></strong> maka yang mereka maksudkan adalah berjihad dan berperang di jalan-Nya.</p>
<p>Al-Allamah Ibnul Atsir Al-Jazari berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وسبيلُ اللّه عامٌّ يقعُ على كل عَمل خالِصٍ سُلك به طَريق التقرُّب إلى اللّه تعالى بأداءِ الفَرَائض والنَّوافل وأنْواع التَّطوعُّات وإذا أُطْلق فهو في الغالِب واقعٌ على الجهَاد حتى صارَ لكَثْرة الاسْتِعْمال كأنه مقصورٌ عليه</p>
<p>“Dan pengertian jalan Allah itu umum meliputi segala amal yang ikhlas yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengerjakan amal fardlu, amal nafilah dan berbagai anjuran ketaatan. Dan jika (jalan Allah) itu di-mutlak-kan (tanpa embel-embel apapun) maka secara keumumannya berarti jihad sampai karena seringnya pemakaian istilah (jalan Allah) menjadikan pengertiannya seolah-olah terbatas pada jihad saja.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits: 2/846).</p>
<p>Sebagai contoh adalah sabda Rasulullah e:</p>
<p style="text-align:right;">طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ</p>
<p><strong><em>“Berbahagialah bagi seorang hamba yang mengambil tali kekang kudanya </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em>, kepalanya dalam keadaan tidak tersisir dan kedua telapak kakinya dalam keadaan berdebu.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 2673, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 18279 (9/159)).</p>
<p>Dan makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits di atas hanyalah <strong><span style="text-decoration:underline;">berjihad dan berperang di jalan-Nya</span></strong>, bukan segala bentuk amal kebaikan seperti keadaan lusuh karena sibuk membangun masjid dan mengurusi anak yatim.</p>
<p>Contoh lainnya adalah sabda beliau e:</p>
<p style="text-align:right;">مَا مِنْ مَكْلُومٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكَلْمُهُ يَدْمَى اللَّوْنُ لَوْنُ دَمٍ وَالرِّيحُ رِيحُ مِسْكٍ</p>
<p><strong><em>“Tidak ada seorang terluka pun yang terluka </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em> kecuali ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengucurkan darah dan berbau kasturi.” </em></strong>(HR. Al-Bukhari: 5107, Muslim: 3486, Ahmad: 8621).</p>
<p>Makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits di atas juga hanyalah <strong><span style="text-decoration:underline;">berjihad dan berperang di jalan-Nya</span></strong>, bukan segala bentuk amal kebaikan seperti terluka ketika membangun madrasah dan sebagainya.</p>
<p>Contoh lainnya adalah sabda beliau:</p>
<p style="text-align:right;">لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</p>
<p><strong><em>“Sungguh, berangkat pagi atau sore </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em> adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 2583, Muslim: 3492, At-Tirmidzi: 1575, Ibnu Majah: 2747).</p>
<p>Al-Allamah Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">( باب في الغدو والرواح في سبيل الله ) أي الجهاد</p>
<p>“Ucapan At-Tirmidzi <strong><em>(Bab Berangkat Pagi dan Sore </em><span style="text-decoration:underline;">di Jalan Allah</span><em>)</em></strong> maksudnya adalah <strong><em>berjihad</em></strong>.” (Tuhfatul Ahwadzi: 5/235), bukan segala bentuk amal kebaikan seperti berangkat sore atau pagi untuk membangun madrasah atau menolong pasien di rumah sakit dan sebagainya.</p>
<p>Termasuk contoh yang lainnya adalah sabda Rasulullah e:</p>
<p style="text-align:right;">الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ</p>
<p><strong><em>“Terbunuh </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em> itu bisa menghapus segala kesalahan kecuali hutang.”</em></strong> (HR. Muslim: 3499, Al-Bazzar dalam Musnadnya: 2455 (1/379)).</p>
<p>Makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits di atas tentulah <strong><em>terbunuh</em></strong> <strong><em>ketika berjihad</em></strong> bukannya terbunuh ketika menyantuni fakir miskin, membangun masjid dan sebagainya.</p>
<p>Contoh lainnya adalah sabda beliau e:</p>
<p style="text-align:right;">موقف ساعة في سبيل الله خير من قيام ليلة القدر عند الحجر الأسود</p>
<p><strong><em>“Kedudukan 1 jam </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em> adalah lebih baik daripada shalat malam pada lailatul qadar di sisi hajar aswad.”</em></strong> (HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 4286 (4/40), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya: 10/463 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 11582).</p>
<p>Makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits di atas tentulah <strong><em>berjihad dan menjaga medan pertempuran</em></strong> bukan menjaga anak yatim atau pembangunan masjid dan sebagainya.</p>
<p>Contoh lainnya adalah ucapan Sa’ad bin Malik t:</p>
<p style="text-align:right;">إِنِّي أَوَّلُ رَجُلٍ مِنْ الْعَرَبِ رَمَى بِسَهْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya aku adalah laki-laki pertama dari kalangan Arab yang melempar anak panah </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">di jalan Allah</span></strong><strong><em>.”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 2289 dan di-shahih-kan olehnya, dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: 2366).</p>
<p>Makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dari hadits di atas adalah hanya dalam <strong><span style="text-decoration:underline;">urusan jihad atau perang</span></strong> bukan segala jalan kebaikan seperti memanah untuk menghibur anak-anak yatim dan sebagainya.</p>
<p>Dari hadits-hadits di atas dan yang sejenisnya menunjukkan bahwa pemakaian frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> secara mutlak (tanpa batasan) dalam bahasa Arab pada masa Salafus Shalih hanya memberikan pengertian <strong><em>berjihad atau berperang di jalan Allah</em></strong>, bukan yang lainnya.</p>
<p>Demikian pula pengertian frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> pada ayat zakat (QS. At-Taubah: 60) di atas, juga <strong><span style="text-decoration:underline;">hanya bermakna jihad dan berperang di jalan-Nya</span></strong>, bukan yang lainnya. Ini karena frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> pada ayat tersebut bersifat mutlak tanpa embel-embel.</p>
<p>Al-Imam Malik bin Anas berkata –ketika ada seseorang yang mau menyerahkan zakatnya di jalan Allah-:</p>
<p style="text-align:right;">سُبُلُ اللَّهِ كَثِيرَةٌ وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُ خِلَافًا فِي أَنَّ الْمُرَادَ بِسَبِيلِ اللَّهِ هَاهُنَا الْغَزْوُ</p>
<p><strong><em>“Jalan-jalan Allah itu sangat banyak. Akan tetapi aku tidak melihat perselisihan pendapat ulama bahwa yang dimaksud dengan </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">jalan Allah</span></strong><strong><em> di sini adalah </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">perang</span></strong><strong><em>.”</em></strong> (Ahkamul Quran li Ibnil Arabi: 4/337 dan Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’: 1/496).</p>
<p>Jadi Al-Imam Malik juga mengembalikan pengertian frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> secara mutlak dalam ayat zakat kepada pengertian <strong><span style="text-decoration:underline;">jihad dan berperang di jalan-Nya</span></strong>.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tafsir dengan As-Sunnah</strong></p>
<p>Makna yang benar dari <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">orang-orang yang berjihad di jalan Allah</span></strong> sebagaimana penafsiran dari As-Sunnah.</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri t bahwa Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِغَنِيٍّ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ فَقِيرٍ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَاهَا لِغَنِيٍّ أَوْ غَارِمٍ</p>
<p><strong><em>“Tidaklah halal harta zakat bagi orang kaya kecuali untuk 5 golongan: untuk amil (pengurus zakat), atau </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">orang yang berperang di jalan Allah</span></strong><strong><em>, atau orang kaya yang membeli harta zakat dengan uangnya, atau seorang faqir yang mendapatkan shadaqah kemudian ia hadiahkan kepada orang kaya, atau orang yang memiliki hutang.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 1393 secara mursal dan maushul, Ibnu Majah: 1831 secara maushul, Ahmad: 11555 (3/56) secara maushul, Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 7151 (4/109) secara maushul, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya: 2368 (4/69) secara maushul, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 12945 (7/15) secara mursal dan maushul dan lain-lain).</p>
<p>Maksud <strong><em>riwayat mursa</em></strong>l adalah riwayat Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar (seorang tabi’i) dari Rasulullah e. Sedangkan <strong><em>riwayat maushul</em></strong> adalah riwayat Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar (seorang tabi’i) dari Abu Sa’id Al-Khudri (seorang shahabi) dari Rasulullah e.</p>
<p>Al-Allamah Ibnul Mulaqqin berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وَجمع الْبَيْهَقِيّ طُرُقَهُ ، وفيهَا : أَن مَالِكًا ، وَابْن عُيَيْنَة (أرسلا) وَأَن معمرًا ، وَالثَّوْري (وصلا) وهما من جُلَّة الْحفاظ المعتمدين ، وَالصَّحِيح إِذن أَن الحُكم للمتصل كَمَا صرَّح بِهِ أهل هَذَا الْفَنّ والأصوليون .</p>
<p>“Al-Baihaqi telah mengumpulkan jalan-jalan hadits ini. Di dalamnya dijelaskan bahwa Al-Imam Malik dan Al-Imam Ibnu Uyainah me-mursal-kannya sedangkan Al-Imam Ma’mar dan Al-Imam Ats-Tsauri me-maushul-kannya. Kedua beliau adalah termasuk tokoh besar penghafal hadits yang dipegangi. Sehingga hukumnya adalah muttashil (bersambung dan bukan mursal) sebagaimana dijelaskan oleh para pakar hadits dan ushul fiqih.” (Al-Badrul Munir: 7/384).</p>
<p>Hadits di atas juga di-shahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 1480 (1/566), Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/328, Al-Allamah Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 3/377 dan Al-Hafizh Ibnul Qaththan Al-Fasi menukilkan penguatan hadits maushul ini dari Al-Hafizh Al-Bazzar dalam Bayanul Wahm wal Iham: 2/310. Demikian pula Al-Allamah Asy-Syaukani menguatkan ke-marfu-annya dalam Nailul Authar: 4/553.</p>
<p>Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">والحديث تفسير لقوله تعالى: {في سبيل الله} [التوبة:60] إن المراد به الغزاة، وعليه الجمهور،</p>
<p>“Hadits ini merupakan tafsir atas firman Allah <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> (QS. At-Taubah: 60). Sehingga yang dimaksud dengannya adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">orang yang berperang di jalan Allah</span></strong>. Dan ini merupakan <strong><em>pendapat jumhur (mayoritas) ulama</em></strong>.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/235-236).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وأجمع العلماء أن الصدقة المفروضة لا تحل لأحد من الأغنياء غير من ذكر في هذا الحديث من الخمسة الموصوفين فيه</p>
<p>“Para ulama bersepakat bahwa shadaqah wajib (zakat) tidak halal bagi salah seorang pun dari orang-orang kaya selain 5 orang yang disebutkan dalam hadits ini.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 5/97)</p>
<p>Sehingga dari keterangan hadits di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60) hanyalah bermakna <strong><span style="text-decoration:underline;">orang-orang berjihad atau berperang di jalan-Nya</span></strong>.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dalil Pendapat Kelompok Kedua dan Bantahannya</strong></p>
<p>Mereka berpendapat bahwa naik haji dan umrah adalah termasuk pengertian  frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat di atas sehingga layak mendapat santunan dari harta zakat mal. Ini adalah salah satu pendapat Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Imam Ishaq bin Rahuyah dan diikuti oleh sebagian Hanabilah.</p>
<p>Di antara dalil mereka adalah hadits <strong><em>Abu Las Al-Khuza’i</em></strong> t. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;">حَمَلَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِبِلٍ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ لِلْحَجِّ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا نَرَى أَنْ تَحْمِلَنَا هَذِهِ قَالَ مَا مِنْ بَعِيرٍ لَنَا إِلَّا فِي ذُرْوَتِهِ شَيْطَانٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِذَا رَكِبْتُمُوهَا كَمَا أَمَرْتُكُمْ ثُمَّ امْتَهِنُوهَا لِأَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا يَحْمِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p><strong><em>“Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> menaikkan kami di atas seekor unta dari unta shadaqah (zakat) untuk haji</em></strong>. Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, menurut kami engkau tidak perlu menaikkan kami seperti ini.” Beliau menjawab: “Tidaklah ada suatu unta pun kecuali di atas punuknya ada syetan. Maka sebutlah nama Allah ketika menaikinya sebagaimana aku perintahkan kalian kemudian pekerjakanlah unta itu untuk diri kalian. Karena yang menaikkan adalah Allah U.” (HR. Ahmad: 17259, 17260, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 10618 (5/252) dan di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: 2271 (5/270)).</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan <strong><em>hadits Ibnu Abbas</em></strong> t bahwa ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;">أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجَّ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ لِزَوْجِهَا أَحِجَّنِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَمَلِكَ فَقَالَ مَا عِنْدِي مَا أُحِجُّكِ عَلَيْهِ قَالَتْ أَحِجَّنِي عَلَى جَمَلِكَ فُلَانٍ قَالَ ذَاكَ حَبِيسٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ امْرَأَتِي تَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَرَحْمَةَ اللَّهِ وَإِنَّهَا سَأَلَتْنِي الْحَجَّ مَعَكَ قَالَتْ أَحِجَّنِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مَا عِنْدِي مَا أُحِجُّكِ عَلَيْهِ فَقَالَتْ أَحِجَّنِي عَلَى جَمَلِكَ فُلَانٍ فَقُلْتُ ذَاكَ حَبِيسٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَحْجَجْتَهَا عَلَيْهِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَإِنَّهَا أَمَرَتْنِي أَنْ أَسْأَلَكَ مَا يَعْدِلُ حَجَّةً مَعَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرِئْهَا السَّلَامَ وَرَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتِهِ وَأَخْبِرْهَا أَنَّهَا تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي يَعْنِي عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ</p>
<p>“Rasulullah e mau naik haji. Maka seseorang wanita berkata kepada suaminya: “Hajikan aku bersama Rasulullah e di atas untamu!” Maka ia berkata: “Aku tidak memiliki sesuatu yang kamu naiki untuk naik haji.” Istrinya berkata: “Hajikan aku di atas untamu (yang bernama) Fulan itu!” Ia berkata: <strong><em>“Itu adalah unta yang ditahan (diwaqafkan, pen) di jalan Allah.”</em></strong> Kemudian ia melaporkan kisahnya kepada Rasulullah e dan beliau menjawab: <strong><em>“Ingatlah! Kalau kamu memberangkatkannya haji di atas unta itu maka ia (haji) berada di jalan Allah.”</em></strong>…dst.” (HR. Abu Dawud: 1699, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya: 3077 (4/361), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 12269 (6/164) dan lain-lain dan isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 1737).</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan <strong><em>hadits Ummu Ma’qal Al-Asadiyah</em></strong> t yang berkata:</p>
<p style="text-align:right;">كَانَ أَبُو مَعْقَلٍ حَاجًّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَتْ أُمُّ مَعْقَلٍ قَدْ عَلِمْتَ أَنَّ عَلَيَّ حَجَّةً فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ حَتَّى دَخَلَا عَلَيْهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَيَّ حَجَّةً وَإِنَّ لِأَبِي مَعْقَلٍ بَكْرًا قَالَ أَبُو مَعْقَلٍ صَدَقَتْ جَعَلْتُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطِهَا فَلْتَحُجَّ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَعْطَاهَا الْبَكْرَ</p>
<p>“Adalah Abu Ma’qal naik haji bersama Rasulullah e. Maka ia datang Ummu Ma’qal berkata: “Kamu telah mengetahui bahwa aku juga memiliki kewajiban naik haji.” Maka keduanya berangkat dengan berjalan kaki sampai memasuki tempat beliau. Maka Ummu Ma’qal berkata: “Wahai Rasulullah! Aku juga wajib naik haji dan Abu Ma’qal mempunyai unta muda.” Abu Ma’qal menambahkan: “Istriku benar. Unta itu aku peruntukkan di jalan Allah.” Maka Rasulullah e bersabda: “Berikan unta itu kepadanya dan hendaknya ia naiki karena haji itu di jalan Allah.” Maka ia berikan unta muda itu kepada istrinya.” (HR. Abu Dawud: 1697, Ahmad: 25858, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya: 3075 (4/360)).</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan <strong><em>atsar dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar </em></strong><strong><em>y</em></strong> bahwa mereka berkata:</p>
<p style="text-align:right;">الْحَجُّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p><strong><em>“Haji adalah termasuk di jalan allah.”</em></strong> (Al-Mughni; 14/334).</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan fatwa Ibnu Abbas t. Beliau:</p>
<p style="text-align:right;">كان لا يرى بأسا أن يعطي الرجل من زكاة ماله في الحج ، وأن يعتق منه الرقبة</p>
<p><strong><em>“Beliau tidak menganggap keliru seseorang yang memberikan dari harta zakatnya untuk haji dan untuk memerdekakan budak.”</em></strong> (Atsar riwayat Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam Al-Amwal: 1191 (3/287).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis menyatakan:</span></strong></p>
<p>Pendalilan dengan hadits-hadits di atas untuk membolehkan memberikan zakat mal kepada orang yang naik haji dengan alasan <strong><em>“Di jalan Allah”</em></strong> perlu ditinjau lagi.</p>
<p>Bantahan bagi pendapat ini ada 2 sisi yaitu <strong><span style="text-decoration:underline;">sisi riwayat</span></strong> dan <strong><span style="text-decoration:underline;">sisi dirayat</span></strong>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dari sisi riwayat</span></strong>, dalil hadits ataupun atsar yang mendukung pendapat ini mendapat kritikan dari para ulama.</p>
<p>Meskipun hadits <strong><em>Abu Las Al-Khuza’i</em></strong> t di atas di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani, akan tetapi Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:</p>
<p style="text-align:right;">ورجاله ثقات إلا أن فيه عنعنة بن إسحاق ولهذا توقف بن المنذر في ثبوته</p>
<p>“Perawinya orang-orang tsiqat kecuali di dalamnya terdapat an’anah Ibnu Ishaq (yang mudallis, pen). Oleh karena itu Ibnul Mundzir tawaqquf (berdiam diri, pen) tentang ke-shahih-an hadits ini.” (Fathul Bari: 3/332).</p>
<p>Tentang <strong><em>hadits Ibnu Abbas</em></strong> -meskipun ia di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani-, Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">فإن حديث ابن عباس في إسناده عامر بن عبد الواحد الأحول وقد تكلم فيه أحمد والنسائي. وقال الحافظ: صدوق يخطيء. وقد روى الشيخان عن ابن عباس نحو هذه القصة وليس عندهما إنه جعل جملة حبيساً في سبيل الله ولا أن رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قال: لو احججتها عليه كان في سبيل الله.</p>
<p>“Maka sesungguhnya <strong><em>hadits Ibnu Abbas</em></strong> di dalam isnadnya terdapat <strong><em>Amir bin Abdul Wahid Al-Ahwal</em></strong>, dan ia diperbincangkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i. Dan Al-Hafizh berkata: “Ia jujur tapi sering keliru.” Dan Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas seperti kisah ini tetapi tanpa tambahan bahwa ia menjadikan unta-untanya ditahan <strong><em>di jalan Allah</em></strong>. Dan tidak ada juga tambahan kisah ucapan Rasulullah e: “<strong><em>Kalau kamu memberangkatkannya haji di atas unta itu maka ia (haji) berada di jalan Allah.”</em></strong> (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/239).</p>
<p>Adapun <strong><em>hadits Ummu Ma’qal Al-Asadiyah</em></strong> t, maka Al-Allamah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وأما حديث أم معقل ففيه اضطراب كثير واختلاف شديد في سنده ومتنه حتى تعذر الجمع والترجيح مع ما في بعض طرقه من راو ضعيف ومجهول ومدلس قد عنعن، وهذا مما يوجب التوقف فيه وذلك لا يشك فيه من ينظر في طرق هذا الحديث في مسند الإمام أحمد وفي السنن مع حديث ابن عباس عند الشيخين وأبي داود وابن أبي شيبة، ومع قصة أم طليق عند ابن السكن وابن مندة والدولابي</p>
<p>“Adapun <strong><em>hadits Ummu Ma’qal</em></strong> maka di dalamnya terdapat <strong><em>kegoncangan yang banyak dan perselisihan yang kuat baik dalam matan maupun sanadnya</em></strong> sampai-sampai terlalu berat untuk mengkompromikan dan men-tarjih salah satunya. Padahal dalam sebagian jalannya terdapat perawi yang lemah, perawi yang majhul dan perawi yang mudallis dengan keadaan sanad an’anah. Ini yang mewajibkan bersikap tawaqquf. Ini tidak diragukan bagi orang yang melihat jalan-jalan hadits ini dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dalam As-Sunan bersama hadits Ibnu Abbas dalam Ash-Shahihain, Abu Dawud dan Ibnu Abi Syaibah. Dan juga bersama hadits kisah Ummu Tholiq dalam Ibnu As-Sakan, Ibnu Mandah dan Ad-Daulabi.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/239).</p>
<p>Adapun <strong><em>atsar tentang fatwa Ibnu Abbas </em></strong><strong><em>t</em></strong>, maka Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وأما أثر ابن عباس فهو أيضاً مضطرب صرح به أحمد كما في الفتح، وقد بين اضطرابه الحافظ، ولذلك كف أحمد عن القول بالإعتاق من الزكاة تورعاً وقيل بل رجع عن هذا القول.</p>
<p>“Adapun atsar Ibnu Abbas maka ia juga <strong><em>goncang (mudltharib)</em></strong>. Al-Imam Ahmad telah menjelaskannya sebagaimana dalam Al-Fath. Dan Al-Hafizh telah menjelaskan kegoncangannya. Oleh karena itu beliau (Imam Ahmad) menahan diri dari berfatwa tentang bolehnya memerdekakan (budak) dari zakat karena sikap wara’. Dan dikatakan bahkan beliau telah rujuk (meralat) dari fatwa ini.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 6/240).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dari sisi dirayat</span></strong>, para ulama juga mengkritik dan mempermasalahkan pendapat yang memasukkan ibadah haji ke dalam salah satu golongan yang berhak menerima zakat dengan alasan <strong><em>fii Sabilillah</em></strong>.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali menanggapi pendapat di atas:</p>
<p style="text-align:right;">وَعَنْ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ رِوَايَةٌ أُخْرَى ، لَا يَصْرِفُ مِنْهَا فِي الْحَجِّ . وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ ، وَأَبُو حَنِيفَةَ ، وَالثَّوْرِيُّ ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَبُو ثَوْرٍ ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ .وَهَذَا أَصَحُّ ؛ لِأَنَّ سَبِيلَ اللَّهِ عِنْدَ الْإِطْلَاقِ إنَّمَا يَنْصَرِفُ إلَى الْجِهَادِ ، فَإِنَّ كُلَّ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ ذِكْرِ سَبِيلِ اللَّهِ .إنَّمَا أُرِيدَ بِهِ الْجِهَادُ ، إلَّا الْيَسِيرَ ، فَيَجِبُ أَنْ يُحْمَلَ مَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى ذَلِكَ ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ إرَادَتُهُ بِهِ ، وَلِأَنَّ الزَّكَاةَ إنَّمَا تُصْرَفُ إلَى أَحَدِ رَجُلَيْنِ ، مُحْتَاجٍ إلَيْهَا ، كَالْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ لِقَضَاءِ دُيُونِهِمْ ، أَوْ مَنْ يَحْتَاجُ إلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ ، كَالْعَامِلِ وَالْغَازِي وَالْمُؤَلَّفِ وَالْغَارِمِ لِإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ .</p>
<p>“Dari Ahmad –rahimahullah- juga ada riwayat lain, yaitu: <strong><em>Harta zakat tidak boleh dipergunakan untuk haji.</em></strong> Ini adalah pendapat Malik, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Dan ini adalah pendapat yang lebih tepat, karena frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam keadaan mutlak maka yang dimaksudkan adalah bahwa (harta zakat) hanyalah diserahkan untuk jihad. Karena semua yang tersebut dalam Al-Quran dari frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> yang dimaksudkan atasnya hanyalah jihad kecuali sedikit ayat yang lainnya. Maka ayat ini wajib dipahami atas demikian karena yang zhahir adalah menghendaki jihad. Dan (alasan lainnya) bahwa zakat hanyalah diberikan kepada salah satu dari 2 orang:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></strong>: orang yang membutuhkan harta zakat seperti orang fakir, miskin, budak mukatab, orang yang terlilit hutang untuk melunasi hutangnya, atau</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span></strong>: orang yang dibutuhkan oleh kaum muslimin seperti amil, pejuang jihad, muallaf, orang yang terlilit utang dalam rangka mengadakan ishlah (mendamaikan).” (Al-Mughni: 14/334).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hazm Azh-Zhahiri berkata:</p>
<p style="text-align:right;">فإن قيل: قَدْ رُوِيَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّ الْحَجَّ مِنْ سَبِيلِ اللَّهِ. وَصَحَّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنْ يُعْطَى مِنْهَا فِي الْحَجِّ.</p>
<p style="text-align:right;">قلنا: نَعَمْ, وَكُلُّ فِعْلِ خَيْرٍ فَهُوَ مِنْ سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى, إلاَّ أَنَّهُ لاَ خِلاَفَ فِي أَنَّهُ تَعَالَى لَمْ يُرِدْ كُلَّ وَجْهٍ مِنْ وُجُوهِ الْبِرِّ فِي قِسْمَةِ الصَّدَقَاتِ, فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُوضَعَ إلاَّ حَيْثُ بَيَّنَ النَّصُّ, وَهُوَ الَّذِي ذَكَرْنَا وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ.</p>
<p>“Jika dikatakan bahwa telah diriwayatkan dari Rasulullah e bahwa naik haji termasuk di jalan Allah dan telah shahih bahwa Ibnu Abbas memberikan zakat mal untuk haji.”</p>
<p>“Maka kami katakan: “Ya, demikian. Dan setiap perbuatan baik adalah di jalan Allah (tidak hanya haji saja, pen). Kecuali bahwa tidak ada perselisihan bahwa Allah tidak memaksudkan setiap arah dari arah kebaikan termasuk di dalam pembagian zakat (dari golongan Sabilillah,  pen). Maka tidak boleh meletakkan pengertian kecuali sesuai yang telah dijelaskan oleh teks ayat, yaitu apa yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.” (Al-Muhalla: 6/151).</p>
<p>Al-Allamah Kamaluddin bin Al-Hammam Al-Hanafi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">ثُمَّ فِيهِ نَظَرٌ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مَا هُوَ الْمُرَادُ بِسَبِيلِ اللَّهِ الْمَذْكُورِ فِي الْآيَةِ .وَالْمَذْكُورِ فِي الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ كَوْنُهُ إيَّاهُ لِجَوَازِ أَنَّهُ أَرَادَ الْأَمْرَ الْأَعَمَّ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ الْمُرَادُ فِي الْآيَةِ بَلْ نَوْعٌ مَخْصُوصٌ ، وَإِلَّا فَكُلُّ الْأَصْنَافِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِذَلِكَ الْمَعْنَى .</p>
<p>“Kemudian di dalamnya (memasukkan naik haji ke dalam golongan fi Sabilillah yang berhak menerima zakat, pen) perlu ditinjau lagi. Karena yang ditujukan adalah apa yang dimaksud dengan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60). Dan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits haji di atas <strong><em>tidak mengharuskan maknanya sama dengan yang ada dalam ayat zakat</em></strong>. Karena bisa jadi Rasulullah e memaksudkan frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits dengan makna lebih umum. Dan tidak demikian pada ayat zakat tetapi yang dimaksudkan adalah makna khusus (yaitu jihad, pen). Kalau tidak, maka semua golongan dari 8 golongan yang berhak menerima zakat akan dimasukkan dalam pengertian frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dengan makna umum.” (Fathul Qadir: 4/186).</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata:</p>
<p style="text-align:right;">(والجواب) عن الثاني أن الحج يسمى سبيل الله ولكن الآية محمولة علي الغزو لما ذكرناه والله تعالي اعلم</p>
<p>“Jawaban dari yang kedua adalah bahwa ibadah haji itu disebut Sabilullah akan tetapi frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60) <strong><span style="text-decoration:underline;">difahami atas perang (jihad)</span></strong> sebagaimana yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 6/212-213).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis juga mengatakan</span></strong>:</p>
<p>Hendaknya kelompok yang kedua ini konsisten dengan pendirian mereka. Kalau mereka menyantuni orang-orang yang naik haji –yang jelas-jelas kaya- dari harta zakat dengan alasan mereka (jamaah haji) adalah termasuk <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>. Maka mereka juga seharusnya membagikan zakat mal kepada para dokter, insinyur, pedagang pasar –meskipun mereka adalah orang kaya- dan orang-orang yang bekerja secara professional untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka dan orang tua mereka. Karena mereka semua juga termasuk <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong>.</p>
<p>Rasulullah e bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ الشَّيْطَانِ ».</p>
<p>“Apakah Sabilullah (jalan Allah) itu hanya orang terbunuh dalam peperangan saja? Barangsiapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka ia adalah di jalan Allah. Barangsiapa yang bekerja untuk menghidupi keluarganya maka ia adalah di jalan Allah. Barangsiapa yang bekerja untuk menjaga dirinya dari meminta-minta maka ia juga di jalan Allah. Dan barangsiapa yang bekerja untuk bermegah-megahan maka ia adalah di jalan syetan.” (HR. Al-Baihaqi: 18280 (9/25), Ath-Thabrani dalam Al-Ausath: 4214 (4/284) dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 2232).</p>
<p>Tentulah frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam hadits di atas tidak dapat dipahami sebagai frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60). Dan kalau dipaksakan maka mereka harus membagikan zakat mal -selain kepada jamaah haji dan umrah- juga kepada para profesi seperti dokter, insinyur, pedagang pasar, pengusaha dan pengrajin <strong><em><span style="text-decoration:underline;">meskipun mereka kaya</span></em></strong>. Dan ini menyalahi hikmah disyariatkannya zakat mal.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dalil Pendapat Kelompok Ketiga dan Bantahannya</strong></p>
<p>Mereka berpendapat bahwa frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60) dipahami dengan semua jalan kebaikan. Sehingga harta zakat mal dapat digunakan untuk membangun masjid, madrasah, rumah sakit dan sebagainya. Ini adalah pendapat kalangan kontemporer dan <strong><em>pendapat yang paling jauh dari kebenaran</em></strong> di antara ketiga pendapat yang ada.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadits Sahl bin Abi Hatsmah t:</p>
<p style="text-align:right;">أَنَّ نَفَرًا مِنْ قَوْمِهِ انْطَلَقُوا إِلَى خَيْبَرَ فَتَفَرَّقُوا فِيهَا وَوَجَدُوا أَحَدَهُمْ قَتِيلًا وَقَالُوا لِلَّذِي وُجِدَ فِيهِمْ قَدْ قَتَلْتُمْ صَاحِبَنَا قَالُوا مَا قَتَلْنَا وَلَا عَلِمْنَا قَاتِلًا فَانْطَلَقُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ انْطَلَقْنَا إِلَى خَيْبَرَ فَوَجَدْنَا أَحَدَنَا قَتِيلًا فَقَالَ الْكُبْرَ الْكُبْرَ فَقَالَ لَهُمْ تَأْتُونَ بِالْبَيِّنَةِ عَلَى مَنْ قَتَلَهُ قَالُوا مَا لَنَا بَيِّنَةٌ قَالَ فَيَحْلِفُونَ قَالُوا لَا نَرْضَى بِأَيْمَانِ الْيَهُودِ فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبْطِلَ دَمَهُ فَوَدَاهُ مِائَةً مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ</p>
<p>“Bahwa sekelompok orang dari kaumnya (Anshar) berangkat menuju Khaibar kemudian mereka berpencar di sana dan menemukan seseorang yang terbunuh. Mereka berkata kepada orang (yahudi) yang berada di sekitarnya: “Kalian telah membunuh temanku.” Mereka menjawab: “Kami tidak membunuhnya dan tidak mengetahui pembunuhnya.” Maka mereka (Anshar) berangkat ke Rasulullah e dan berkata: “Wahai Rasulullah e! Kami pergi ke Khaibar kemudian kami temukan sahabat kami tewas.” Maka beliau berkata: “Serahkan urusannya kepada yang tua-tua!” Kemudian beliau bertanya: “Kalian memiliki bukti tentang siapa pembunuhnya?” Mereka menjawab: “Kami tidak memiliki bukti.” Beliau bertanya: “Mereka (Yahudi) mau bersumpah?” Orang-orang Anshar berkata: “Kami tidak rela dengan sumpah orang Yahudi.” <strong><em>Maka Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> tidak suka membatalkan tebusan darah sahabat Anshar yang tewas dan menebusnya (sebagai ganti denda, pen) </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dengan 100 ekor unta shadaqah</span></strong><strong><em>.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 6389, Muslim: 3159, Abu Dawud: 3920, An-Nasa’i: 4640).</p>
<p>Dari hadits di atas –menurut mereka- dapat diambil pelajaran bahwa denda (diyat) pembunuhan bisa dibiayai dari harta zakat.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan fatwa Anas bin Malik t dan Al-Hasan Al-Bashri yang berkata:</p>
<p style="text-align:right;">مَا أَعْطَيْت فِي الْجُسُورِ وَالطُّرُقِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مَاضِيَةٌ .</p>
<p><strong><em>“Harta yang kamu pergunakan untuk membangun jembatan dan jalan-jalan adalah shadaqah yang telah lalu.”</em></strong> (Atsar riwayat Al-Qasim bin Salam dalam Al-Amwal: 1219 (3/316), Al-Mughni: 5/241)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Penulis katakan:</span></strong></p>
<p><strong><em>Adapun hadits yang dijadikan dalil oleh mereka</em></strong>, maka kita perlu mencari penjelasan lebih lanjut tentang kalimat “<strong><em>dan beliau menebusnya </em><span style="text-decoration:underline;">dengan 100 ekor unta shadaqah</span><em>”</em></strong> dari riwayat lain.</p>
<p>Ternyata dijumpai riwayat lain dari Al-Bukhari:</p>
<p style="text-align:right;">فَوَدَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عِنْدِهِ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مِائَةَ نَاقَةٍ</p>
<p>“<strong><em>Maka Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> menebusnya </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dari harta di sisi beliau</span></strong><strong><em>, kemudian beliau mengirimkan kepada mereka 100 ekor unta.”</em></strong> (HR. Al-Bukhari: 6655, Muslim: 3159, Abu Dawud: 3918, 3921, Ibnu Majah: 2667, 2668 dan An-Nasa’i: 4631).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkomentar terhadap hadits ini:</p>
<p style="text-align:right;">قوله )من إبل الصدقة( زعم بعضهم أنه غلط من سعيد بن عبيد لتصريح يحيى بن سعيد بقوله )من عنده( وجمع بعضهم بين الروايتين باحتمال أن يكون اشتراها من إبل الصدقة بمال دفعه من عنده أو المراد بقوله من عنده أي بيت المال المرصد للمصالح وأطلق عليه صدقة باعتبار الانتفاع به مجانا لما في ذلك من قطع المنازعة وإصلاح ذات البين</p>
<p>“Sabda beliau (<strong><em>dengan 100 ekor unta shadaqah)</em></strong>, sebagian ulama’ menyangka bahwa lafazh ini (<strong><em>dengan 100 ekor unta shadaqah</em></strong>, pen) adalah kesalahan periwayatan dari Sa’id bin Ubaid karena adanya riwayat Yahya bin Sa’id dengan pernyataan beliau (<strong><span style="text-decoration:underline;">dari harta di sisi beliau)</span></strong>. Sebagian ulama mengkompromikan antara kedua riwayat dengan kemungkinan bahwa beliau <strong><em>membeli 100 ekor unta shadaqah dengan uang yang diberikan dari sisi beliau</em></strong>. Atau yang dimaksud dengan sabda beliau (<strong><span style="text-decoration:underline;">dari harta di sisi beliau</span></strong>) adalah dari Baitul Mal yang dipersiapkan untuk kemaslahatan (umum). Dikatakan <strong>“shadaqah”</strong> karena dapat dimanfaatkan secara gratis untuk memutuskan persengketaan dan memperbaiki hubungan antar sesama.” (Fathul Bari: 12/235).</p>
<p>Sedangkan Al-Allamah Syamsul Haqq Azhim Abadi juga berkomentar:</p>
<p style="text-align:right;">وإنما وداه صلى الله عليه و سلم من عنده قطعا للنزاع وإصلاحا لذات البين فإن أهل القتيل لا يستحقون إلا أن يحلفوا أو يستحلفوا المدعى عليهم وقد امتنعوا من الأمرين وهم مكسورون بقتل صاحبهم فأراد صلى الله عليه وسلم جبرهم وقطع المنازعة بدفع ديته من عنده</p>
<p>“Beliau e hanyalah menebus (sebagai ganti denda pembunuhan, pen) <strong><span style="text-decoration:underline;">dari harta di sisi beliau</span></strong> dalam rangka memutuskan silang sengketa dan memperbaiki hubungan antar sesama, karena keluarga korban tewas tidaklah berhak (menerima tebusan, pen) kecuali mereka bersedia bersumpah atau meminta sumpah dari terdakwa. Dan mereka menolak kedua-duanya dan mereka merasakan hancurnya perasaan akibat terbunuhnya keluarga mereka. Maka beliau e ingin menutup kekecewaan mereka dan memutuskan silang sengketa dengan memberikan ganti denda dengan harta beliau sendiri.” (Aunul Ma’bud: 12/157).</p>
<p>Al-Allamah Ash-Shan’ani juga berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وقوله )فوداه رسول الله صلى الله عليه وسلم من عنده( وفي لفظ )إنه وداه من إبل الصدقة( فقيل المراد به أنه اقترضها منها وأنه لما تحملها صلى الله عليه وسلم للإصلاح بين الطائفتين كان حكمها حكم القضاء عن الغارم لما غرمه لإصلاح ذات البين فلم يأخذها صلى الله عليه وسلم لنفسه فإن الصدقة لا تحل له ولكن جرى إعطاء الدية منها مجرى إعطائها في الغرم لإصلاح ذات البين</p>
<p>“Hadits (<strong><em>Maka Rasulullah </em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em> menebusnya </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dari harta di sisi beliau</span></strong>) dalam lafazh lain (<strong><em>beliau menebusnya </em><span style="text-decoration:underline;">dengan 100 ekor unta shadaqah</span></strong>) maka dikatakan bahwa maksudnya adalah bahwa beliau meminjam 100 ekor unta dari shadaqah (zakat). Dan ketika beliau menanggung hutang untuk mendamaikan 2 kelompok maka hukumnya seperti hukum gharim ketika hartanya terkuras untuk mendamaikan sesama. Maka beliau tidak mengambil harta shadaqah untuk dirinya karena shadaqah tidak halal atas beliau tetapi beliau mendudukkan penebusan denda (diyat) dari shadaqah seperti kedudukan orang yang berhutang untuk mendamaikan sesama.” (Subulus Salam: 3/255).</p>
<p>Maka dari penjelasan beliau bertiga dapat kita tarik garis pemahaman:</p>
<ul>
<li>Rasulullah      e membeli unta shadaqah      tersebut dengan harta beliau</li>
<li>Atau      beliau berstatus sebagai orang yang mendamaikan kedua pihak yang      bersengketa. Dalam hal ini beliau adalah seperti gharim yang kaya yang      menanggung biaya 100 ekor unta untuk menyelesaikan sengketa</li>
<li>Kedua-duanya      dari keadaan diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan hadits tentang      <strong><em>5 orang kaya</em></strong> yang dihalalkan harta zakat atasnya.</li>
</ul>
<p>Beliau e telah bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِغَنِيٍّ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ فَقِيرٍ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَاهَا لِغَنِيٍّ أَوْ غَارِمٍ</p>
<p><strong><em>“Tidaklah halal harta zakat bagi orang kaya kecuali untuk 5 golongan: untuk amil (pengurus zakat), atau orang yang berperang di jalan Allah, atau </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">orang kaya yang membeli harta shadaqah dengan uangnya</span></strong><strong><em>, atau seorang faqir yang mendapatkan shadaqah kemudian ia hadiahkan kepada orang kaya, atau </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">orang yang memiliki hutang</span></strong><strong><em>.”</em></strong> (Takhrij sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya).</p>
<p>Sedangkan pengertian  <strong><span style="text-decoration:underline;">gharim</span></strong> (orang yang memiliki hutang) telah dijelaskan dalam sabda beliau e:</p>
<p style="text-align:right;">الْعَارِيَةُ مُؤَدَّاةٌ وَالْمِنْحَةُ مَرْدُودَةٌ وَالدَّيْنُ مَقْضِيٌّ وَالزَّعِيمُ غَارِمٌ<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>“Barang pinjaman harus dikembalikan. Tanah atau binatang ternak yang dimanfaatkan harus dikembalikan. Hutang harus dilunasi. </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">Orang yang menanggung adalah gharim (orang yang berhutang)</span></strong><strong><em>.”</em></strong> (HR. At-Tirmidzi: 2046 dan di-shahih-kan olehnya, Abu Dawud: 3094, Ahmad: 21263 dari Abu Umamah Al-Bahili t. Perawi Ahmad di-tsiqat-kan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id: 6711 (4/258). Hadits ini di-hasan-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 6/707 dan juga di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 610 (2/166)).</p>
<p>Al-Allamah Syamsul Haqq Azhim Abadi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">( والزعيم ) أي الكفيل والزعامة الكفالة ( غارم ) أي يلزم نفسه ما ضمنه</p>
<p>“Kata (za’im) maksudnya adalah orang yang menanggung (biaya). Kata <strong>“za’amah”</strong> adalah tanggungan (biaya). Kata <strong>(gharim)</strong> maksudnya adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">ia mewajibkan dirinya untuk menanggung biaya tersebut</span></strong>.” (Aunul Ma’bud: 9/347).</p>
<p>Jadi hadits di atas yang digunakan sebagai dalil oleh <strong><span style="text-decoration:underline;">pendapat kelompok ketiga</span></strong> untuk memperluas pengertian frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60) -dengan pengertian umum- adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">salah sasaran</span></strong>. Justru yang benar adalah bahwa hadits di atas menjelaskan <strong><em>golongan gharim</em></strong> yang berhak menerima zakat atau bolehnya membeli harta zakat dengan tujuan mendamaikan perselisihan manusia.</p>
<p><strong><em>Adapun fatwa Anas bin Malik dan Al-Hasan Al-Bashri</em></strong>, maka Al-Imam Ibnu Qudamah berkomentar:</p>
<p style="text-align:center;">وَلَا نَعْلَمُ خِلَافًا بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي أَنَّهُ لَا يَجُوزُ دَفْعُ الزَّكَاةِ إلَى غَيْرِ هَذِهِ الْأَصْنَافِ ، إلَّا مَا رُوِيَ عَنْ عَطَاءٍ ، وَالْحَسَنِ ، أَنَّهُمَا قَالَا : مَا أَعْطَيْت فِي الْجُسُورِ وَالطُّرُقِ ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مَاضِيَةٌ .</p>
<p style="text-align:right;">وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ : { إنَّمَا الصَّدَقَاتُ }.وَ &#8221; إنَّمَا &#8221; لِلْحَصْرِ تُثْبِتُ الْمَذْكُورَ ، وَتَنْفِي مَا عَدَاهُ ؛ لِأَنَّهَا مُرَكَّبَةٌ مِنْ حَرْفَيْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ ، فَجَرَى مَجْرَى قَوْله تَعَالَى : { إنَّمَا اللَّهُ إلَهٌ وَاحِدٌ }.أَيْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ .</p>
<p style="text-align:right;">وَقَوْلِهِ تَعَالَى : { إنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ }.أَيْ مَا أَنْتَ إلَّا نَذِيرٌ.</p>
<p>“Kami tidak menjumpai perselisihan pendapat di kalangan ulama bahwa tidak boleh memberikan zakat kepada selain 8 golongan ini kecuali yang diriwayatkan dari Atha’ dan Al-Hasan yang berfatwa: <strong><em>“Harta yang kamu pergunakan untuk membangun jembatan dan jalan-jalan adalah shadaqah yang telah lalu.”</em></strong></p>
<p>Pendapat pertama (yang melarang selain 8 golongan) adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">lebih benar (tepat)</span></strong>. Ini karena Allah berfirman: “<strong><em>Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah..”</em></strong>. Kata <strong><em>“hanyalah”</em></strong> adalah berfungsi untuk pembatasan, yaitu menetapkan yang telah disebutkan (8 golongan) dan menafikan (baca: meniadakan) golongan selainnya. Karena ia tersusun dari 2 huruf yaitu huruf nafi (peniadaan) dan huruf isbat (penetapan). Maka ini menduduki seperti firman-Nya: <strong><em>“Sesungguhnya Allah adalah ilah yang satu.”</em></strong> Maksudnya adalah <strong><em>“Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah.”</em></strong> Dan juga seperti firman-Nya: “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.” Maksudnya adalah: “Tidaklah engkau kecuali orang yang memberikan peringatan.” (Al-Mughni: 14/300).</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Makna frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat di atas (QS. At-Taubah: 60) adalah <strong><span style="text-decoration:underline;">khusus orang-orang yang berjihad atau menjaga medan peperangan</span></strong> sesuai dengan Tafsir bil Quran, Tafsir bis Sunnah dan Kemutlakan dalam Bahasa Arab.</p>
<p>Pendapat yang memperluas makna  frase <strong><em>“Fi Sabilillah (di jalan Allah)”</em></strong> dalam ayat zakat akan merusak konteks dan hikmah turunnya QS. At-Taubah: 60 serta penjelasan dari As-Sunnah.</p>
<p>Penulis mengingatkan sekali lagi untuk diri penulis sendiri dan para pembaca sekalian untuk bersikap <strong><em>menerima pembagian zakat sesuai pembagian yang dilakukan oleh Allah dan Rasul-Nya</em></strong> dan tidak meniru sikap orang-orang munafik yang tidak terima dengan system pembagian zakat ini.</p>
<p>Allah U berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ () إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</p>
<p><strong><em>“Jikalau mereka (kaum munafiqin) sungguh-sungguh ridha dengan apa yang dibagikan oleh Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: &#8220;Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,&#8221; (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu&#8217;allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”</em></strong> (QS. At-Taubah: 59-60).</p>
<p>Dan hendaknya mereka juga menerima pembagian zakat dari Rasulullah e yang bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِغَنِيٍّ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ فَقِيرٍ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَاهَا لِغَنِيٍّ أَوْ غَارِمٍ</p>
<p><strong><em>“Tidaklah halal harta zakat </em></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">bagi orang kaya</span></strong><strong><em> kecuali untuk 5 golongan: untuk amil (pengurus zakat), atau orang yang berperang di jalan Allah, atau orang kaya yang membeli harta shadaqah dengan uangnya, atau seorang faqir yang mendapatkan shadaqah kemudian ia hadiahkan kepada orang kaya, atau orang yang memiliki hutang.”</em></strong> (Takhrij sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya).</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam. Amien.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulaifi.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulaifi.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulaifi.wordpress.com&amp;blog=10993884&amp;post=320&amp;subd=sulaifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulaifi.wordpress.com/2010/09/30/zakat-maal-untuk-membangun-masjid-bolehkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf54ae0bb93061d0c47b3911b66b25d6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
