Beranda > Aqidah > BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN HARI NATAL?

BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN HARI NATAL?


BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN HARI NATAL?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Di tengah-tengah seruan toleransi antar umat beragama banyak di antara orang-orang yang mengaku muslim ikut menghadiri hari raya agama lain seperti hari natal dengan alasan toleransi.

Benarkah alasan itu? Serta bagaimana petunjuk syariat ini?

Banyak ayat Al-Quran dan hadits nabi yang menjelaskan larangan bagi seorang muslim untuk menghadiri hari raya orang-orang kafir termasuk hari natal.

Di antaranya adalah firman Allah U:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zuur (kepalsuan), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72).

Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menurut para ahli tafsir tabi’in seperti Abul Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, Adl-Dlahhak, Rabi’ bin Anas, makna Az-Zuur (kepalsuan) adalah hari raya kaum musyrikin.” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/130).

Rasulullah r bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini (idul fitri) adalah hari raya kita (kaum muslimin).” (HR. Bukhari: 899, 3638, Muslim: 1479 dari Aisyah t).

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “Maka sabda rasulullah r ini akan memberikan konsekuensi atas kekhususan setiap kaum dengan hari rayanya sebagaimana firman Allah U:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan syariat (aturan) dan jalan yang terang.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Maka jika orang nashrani memiliki hari raya tersendiri, orang yahudi memiliki hari raya tersendiri yang khusus buat mereka, maka seorang muslim tidak boleh ikut merayakan hari raya mereka sebagaimana tidak boleh berserikat dengan mereka di dalam syariat dan kiblat mereka.” Demikian penjelasan Adz-Dzahabi. (Mazhahir Tasyabbuh bil Kuffar fil Ashril Hadits: 1/316).

Maka jelaslah bahwa seorang muslim tidak boleh menghadiri hari raya orang-orang kafir seperti hari natal, imlek dan sebagainya.

Islam datang untuk menghapus hari-hari raya agama sebelumnya

Dari Anas bin Malik t bahwa ketika rasulullah r datang ke kota Madinah, kaum muslimin ketika itu memiliki 2 hari raya jahiliyah. Maka rasulullah r bertanya:

ما هذان اليومان ؟ قالوا : كنا نلعب فيهما في الجاهلية ، فقال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم : ” إنَّ اللّه قد أبدلكم بهما خيرًا منهما : يوم الأضحى ، ويوم الفطر “

“Apakah 2 hari ini?” Mereka menjawab: “Kami bermain (merayakan) kedua hari ini pada masa jahiliyah.” Maka rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengganti 2 hari raya itu dengan  2 hari raya yang lebih baik dari keduanya yaitu: hari iedul adlha dan hari iedul fitri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i. Sanadnya dinilai shahih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Lihat Kitab Tahrim Musyarakatil Kuffar min Ahlil Kitab wal Musyrikin fi A’yadihim: 9).

Kekafiran orang-orang nashrani (Kristen)

Telah jelas kekafiran agama Kristen bagi seorang muslim yang berakal. Allah U berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72).

Allah U juga telah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 73).

Ucapan orang-orang Kristen sangat berat bagi Allah U

Sungguh besar di sisi Allah U kalimat yang keluar dari mulut orang-orang nashrani ketika mereka menyatakan bahwa Al-Masih adalah anak Allah.

Rasulullah r bersabda:

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

Allah berkata: “Manusia telah mendustakan-Ku padahal tidak pantas baginya untuk itu. Ia juga mencaci maki-Ku padahal tidak pantas baginya untuk itu. Adapun pendustaannya kepada-Ku maka persangkaannya bahwa Aku tidak mampu mengembalikannya seperti semula. Adapun caci makiannya kepada-Ku maka ucapannya bahwa Aku memiliki anak. Maka maha suci Aku dari menjadikan istri atau anak.” (HR. Bukhari:4122)

Selain itu alam semesta juga merasa berat dengan ucapan orang-orang kristen. Allah U berfirman:

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 90-91).

Demikian pelecehan orang-orang nashrani kepada Allah U dengan menisbatkan anak kepada-Nya.

Resiko bagi seorang muslim yang menghadiri upacara perayaan natal

Ketika menjumpai orang-orang yang sedang melecehkan dan mendustakan Allah U, kita dilarang duduk-duduk bersama mereka. Kalau tetap saja duduk-duduk dalam acara mereka maka kita akan disamakan dengan mereka meskipun kita tidak ikut melecehkan Allah U.

Allah U berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa’: 140).

Umar bin Al-Khaththab t berkata:

لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تَنْزِلُ عليهم

“Janganlah kalian memasuki atas kaum musyrikin dalam gereja-gereja mereka pada hari raya mereka karena kemurkaan (Allah) akan turun atas mereka.” (HR. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra dan isnadnya dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Dzammi Khamis An-Nashara, Ibnu Qayyim dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah dan Ibnu Muflih dalam Al-Adabusy Syar’iyyah. Lihat Kitab Tahrim Musyarakatil Kuffar min Ahlil Kitab wal Musyrikin fi A’yadihim: 12).

Larangan mengucapkan selamat hari natal atau selamat imlek

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata dalam Kitab Ahkam Ahlidz Dzimmah: “Mengucapkan selamat hari raya pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus dengannya adalah haram menurut kesepakatan ulama. Seperti seseorang yang mengucapkan selamat hari raya dan ikut berpuasa pada hari raya mereka…” (Lihat Kitab Tahrim Musyarakatil Kuffar min Ahlil Kitab wal Musyrikin fi A’yadihim: 14).

Dan Al-Allamah Ibnul Qasim Al-Maliki membenci seseorang yang saling memberikan hadiah kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka dan menganggap perbuatan tersebut termasuk mengagungkan mereka dan membantu mereka atas kekufuran mereka. Dan beliau menyatakan bahwa tidak halal bagi kaum muslimin untuk menjual kepada orang-orang nashrani segala barang untuk kemaslahatan hari raya mereka, tidak pula daging, bumbu, baju ataupun menyewakan kendaraan untuk mereka…kemudian beliau menyatakan bahwa ini adalah pendapat Al-Imam Malik dan pengikut-pengikutnya dari kalangan madzhab maliki. (Lihat Kitab Tahrim Musyarakatil Kuffar min Ahlil Kitab wal Musyrikin fi A’yadihim: 15).

Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Saudi Arabiyah (semacam MUI di Indonesia) pernah ditanya:

Tanya: “Kebanyakan pengajar-pengajar kami adalah orang-orang musyrik dan ahlul kitab. Bolehkah kami mengucapkan selamat hari raya mereka?”

Jawab: “Yang pertama, tidak boleh bersekutu dengan kaum musyrikin dalam hari raya mereka dan juga mengucapkan selamat hari raya mereka. Karena ini termasuk semacam ridla terhadap ajaran mereka, basa-basi terhadap kebatilan mereka dan membantu terhadap perbuatan dosa dan permusuhan. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

Tertanda:  Abdul Aziz bin Baz (ketua), Bakar Abu Zaid (anggota), Abdul Aziz Alu Syaikh (anggota), Shalih Al-Fauzan (anggota), Abdullah bin Ghudayyan (anggota).

(Fatwa Lajnah Daimah no: 18074 pertanyaan ke-10).

Lajnah Daimah juga pernah ditanya:

Tanya: “Bolehkah seorang muslim memakan makanan yang dipersiapkan oleh ahlul kitab dan musyrikin pada hari raya mereka? Atau menerima hadiah (parcel) dari hari raya mereka?”

Jawab: “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakan makanan yang dibuat oleh orang nashrani, yahudi, atau musyrikin untuk hari raya mereka. Tidak boleh juga menerima hadiah dari mereka karena hari raya mereka. Hal ini karena di dalamnya terdapat sikap memuliakan mereka dan membantu mereka untuk menampakkan syiar mereka, melariskan bid’ah mereka dan bersekutu dalam kegembiraan pada hari raya mereka. Dan terkadang dapat mendorong kita untuk megadopsi hari raya mereka menjadi hari raya kita……dst.”

Tertanda: Abdul Aziz bin Baz (ketua), Abdurrazzaq Afifi (wakil ketua), Abullah bin Qu’ud (anggota)

(Fatwa Lajnah Daimah no: 2882, pertanyaan ke-2)

Penutup

Tulisan ini merupakan nasehat bagi diri penulis kemudian kepada kaum muslimin secara umum tentang sikap al-wala’ wal bara’ (sikap loyalitas dan berlepas diri).

Allah U juga telah memberikan peringatan kepada kita dengan bencana tsunami di Aceh sehari setelah Aceh (yang dikenal sebagai serambi Makkah) ikut memeriahkan hari natal. Gempa Jogja juga terjadi beberapa hari setelah perayaan kenaikan  atau kebangkitan Al-Masih. Semoga ini semua menjadikan pelajaran bagi kita. Amin. Wallahu a’lam.

  1. Februari 10, 2010 pukul 8:36 am

    janganlah membuat suasana menjadi panas alis jangan menjadi provokator. Keselamatan hanya Tuhan yg menentukan mereka semua juga ciptaan Tuhan sama dengan umat islam sadarlahhh

  2. Februari 10, 2010 pukul 8:42 am

    kita semua belum tahu dimana surga dan neraka. Juga belum tahu nabi mana yg benar<jadi jangan menggangkap agama lain itu kafir dan yg suci islam….. Nabi mohhammad aja enggak mengatakan kalau agama lain itu kafir but mereka yang bikin tafsiran aja yg ngawurrrrrrrrrrrrr,bahkan melebihi Tuhan aja gayanya…. padahal mereka mau menanamkan pikiran permusuhan pada yg lain. SADARLAH….. Yang penting buktikan kalau islam saling mengasihi ciptaanNya termasuk manusia. Kalau yg kelihatan aja islam enggak bisa mengasihi,bagaimana kita bisa yakin kalau islam mengasihi Tuhan yg tidak kelihatan…… maka bisa aja kita simpulkan kalau mereka(yang mengaku islam) itu busyet mulutnya….buat apa mereka sembahyang kalau hatinya kotor dan angkuh….

    • Februari 12, 2010 pukul 6:53 am

      Bismillah, segala puji bagi Allah yang mengutus hamba-Nya dan rasul-Nya Muhammad untuk membawa agama yang benar yang menghapus agama-agama sebelumnya seperti Yahudi dan Nashrani . Allah berfirman:
      الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
      “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka (yaitu Muhammad), yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157). Pertanyaan ana: “Kalau kitab mereka (Taurat dan Injil) menyuruh mereka mengakui kebenaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan mengikuti Al-Quran, terus kamu dengan mulutmu yang najis tidak mau mengakui Nabi Muhammad dan tetap ragu nabi yang mana yang benar maka jangan-jangan kamu lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani? Keraguanmu tentang nabi mana benar menyebabkan syahadat yang kamu ucapkan menjadi batal? dan kalau kamu tetap seperti itu kamu tidak akan dishalati ketika mati karena kamu mati dalam keadaan kafir. Na’udzu billah min dzalik.
      Rasululllah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
      وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
      “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah ada seseorang dari umat ini yang mendengar tentang aku (Muhammad) baik itu orang yahudi atau nashrani kemudian ia mati dalam keadaan ia belum beriman kepadaku kecuali ia masuk ke dalam neraka.” (HR.Muslim: 218).
      Dalam hadits di atas secara tegas menunjukkan bahwa tidak ada jalan bagi orang kafir manapun setelah mendengar tentang berita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kecuali harus masuk islam, kalau tidak ia akan masuk neraka. Ana lihat kelakuan kamu kok membela orang kafir dalam urusan aqidah sehingga tidak pantas menyandang nama Mohammad Hadi karena kelakuan kamu yang bertentangan dengan Nabi Muhammad dan petunjuk (Hadi).
      Sifat kamu seperti sifat orang-orang munafik di jaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang berusaha men-jembatan-i antara Iman dan kafir, antara Tauhid dan syirik. Padahal antara keduanya saling kontradiksi. Allah berfirman:
      إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا () أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
      “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’: 150-151)
      Kamu -dengan dangkalnya pemahaman agama kamu- tidak bisa membedakan bidang aqidah dan urusan duniawi. dalam bidang aqidah Allah berfirman:
      وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85). Maka agama Islam adalah yang diterima oleh Allah sedangkan agama lain baik yahudi, nashrani, buda dsb akan ditolak oleh-Nya.
      Sedangkan dalam urusan duniawi kita boleh berhubungan baik dengan orang kafir dengan hubungan yang saling menguntungkan seperti dagang, iptek, kedokteran dsb. Allah berfirman:
      لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
      “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8). Dan orang Islam yang paling bebal pun akan menyatakan bahwa hari Natal adalah urusan aqidah. Adakah kamu mau mengambil pelajaran? Semoga Allah memberi hidayah untukmu kepada Al-Islam yang benar.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: