Beranda > Aqidah > ASYURA, DI ANTARA KEDUA SIKAP EKSTRIM

ASYURA, DI ANTARA KEDUA SIKAP EKSTRIM


ASYURA, DI ANTARA KEDUA SIKAP EKSTRIM

oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Agama islam adalah agama yang tengah-tengah di antara agama yang ada. Ahlus sunnah adalah ajaran yang tengah- tengah di antara berbagai sekte yang ada. Allah U berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang tengah-tegah (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa makna “tengah-tengah” adalah adil atau keadilan.  Sehingga maknanya adalah bahwa umat Islam itu adalah umat yang adil. (Fathul Qadir: 1/192, Tafsir Al-Qurthubi: 2/153, Tafsir Al-Baghawi: 1/158). Bahkan penafsiran ini langsung berasal dari lisan Rasulullah r sendiri seperti apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri t dalam shahihnya hadits: 3091,  4127 dan  6803).

Demikian pula di dalam menyikapi amal-amal ibadah, kita hendaknya menghindari kedua sisi ekstrim atau ghuluw. Yaitu: tafrith yang berarti mengurang-kurangi dan ifrath yang berarti berlebih-lebihan. Rasulullah r bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia! Berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw (ekstrim) dalam agama. Karena sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ibnu Majah: 3020, Ibnu Khuzaimah: 2867 (4/274), Ahmad: 3248 (5/298), Al-Hakim: 1711 (1/637). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari jalan Abul Aliyah.” Lihat Fathul Bari: 13/278).

Termasuk dalam hal ini adalah menyikapi peristiwa ASYURA. Posisi ahlussunnah wal jamaah adalah adil berada di antara kedua sisi ekstem yaitu Syiah atau Rafidlah di satu sisi dan Nashibah[1] di sisi lain.

Petunjuk Rasulullah r dalam Asyura

Ahlussunah mengikuti Rasulullah r dalam permasalahan Asyura. Ketika pulang dari  haji Muawiyah bin Abi Sufyan t berkhutbah di atas mimbar dan berkata:

يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَيْنَ عُلَمَاؤُكُمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ

“Wahai Penduduk Madinah! Di mana ulama kalian? Aku telah mendengarkan Rasulullah r bersabda: “Ini adalah hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Dan Allah  tidak mewajibkan atas kalian untuk berpuasa hari ini. Sedangkan aku (Rasulullah) tetap berpuasa. Barangsiapa yang mau maka silakan berpuasa dan yang mau silakan berbuka.” (HR. Bukhari: 1864, Muslim: 1909, An-Nasa’i dalam Al-Kubra: 2855 (2/161), Asy-Syafii dalam Musnadnya: 781 (1/161)).

Dari Abdullah bin Abbas t berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Rasulullah r datang ke Madinah kemudian menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Maka beliau bertanya: “Ini apa?”  Mereka menjawab: “Ini hari baik. Ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka kemudian Musa u.” Maka beliau bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa dari pada kalian.” Kemudian beliau berpuasa hari Asyura dan memerintahkan (kaum muslimin) untuk berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari: 1865)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari t berkata:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصُومُوهُ أَنْتُمْ

“Adalah hari Asyura (10 Muharram) dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai hari raya. Maka Rasulullah r bersabda: “Maka berpuasalah kalian (kaum muslimin)!” (HR. Bukhari: 1866).

Dari Abdullah bin Abbas t berkata:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ketika Rasulullah r berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan kaum muslimin untuk ikut berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah r! Itu adalah hari yang diagungkan oleh umat Yahudi dan Nashara.” Maka Rasulullah r bersabda: “Jika pada tahun depan maka insya Allah aku akan berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a).” Maka belum sampai tahun depan keburu Rasulullah r meninggal dunia.” (HR. Muslim: 1916).

Dari Abi Qatadah Al-Anshari t berkata:

وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Dan Rasulullah r ditanya tentang (keutamaan) puasa hari Asyura maka beliau menjawab: “(Puasa Asyura’) dapat menghapus kesalahan pada tahun yang lalu.” (HR. Muslim: 1977, Ahmad: 21479, Abdurrazzaq: 7831 (4/285), Ibnu Abi Syaibah: 9469 (3/58), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 3503 (5/326))

Al-Imam An-Nawawi berkata:

قال الشافعي وأصحابه وأحمد واسحاق وآخرون يستحب صوم التاسع والعاشر جميعا لأن النبي صلى الله عليه و سلم صام العاشر ونوى صيام التاسع

Telah berkata Al-Imam Asy-Syafii dan para pengikutnya, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Ishaq bin Rahuyah dan ulama-ulama lain: “Dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram semuanya karena Nabi r telah berpuasa pada tanggal 10 Muharram dan berniat untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram.” (Syarh An-Nawawi ala Shahih Muslim: 8/12).

Demikianlah Ahlussunnah wal Jamaah memperingati Asyura hanya dengan berpuasa seperti perbuatan Rasulullah r dan para sahabat beliau y.

Sikap ekstrim sekte Syi’ah atau Rafidlah

Adapun kaum Syiah Rafidlah maka mereka menambah bid’ah-bid’ah yang baru dalam hari Asyura’. Mereka menganjurkan untuk menampakkan kesedihan, meratap, dan menangis meraung-raung pada hari Asyura atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib t cucu Rasulullah r.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dan disebutkan bahwa Husein bin Ali t terbunuh dengan keadaan syahid pada hari Asyura’ tahun 61 Hijriyah dan orang-orang Rafidlah menjadikan hari itu (Asyura) sebagai hari berkabung, meratap meraung-raung, dan memukul-pukul wajah mereka…..” (Mauqif Syaikhul Islam Ibni Taimiyah minar Rafidlah: 1/449).

Untuk melariskan bid’ah ini mereka tidak malu-malu membikin khurafat (baca: mitos/dongeng) dan hadits-hadits palsu diantaranya:

من زار الحسين عليه السلام يوم عاشوراء حتى يظل عنده باكيًا لقي الله عز وجل يوم القيامة بثواب ألفي ألف حجة، وألفي ألف عمرة، وألفي ألف غزوة، وثواب كل حجة وعمرة وغزوة كثواب من حج واعتمر وغزا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع الأئمة الراشدين صلوات الله عليهم

“Barangsiapa yang berziarah kepada Husein alaihis salam pada hari Asyura’ sehingga bernaung di kuburnya dengan keadaan menangis maka ia akan bertemu dengan Allah U pada hari kiamat dengan pahala 2 juta kali haji, 2 juta kali umrah, 2 juta kali perang. Dan pahala setiap haji, umrah dan perang adalah seperti pahala orang yang berhaji, berumrah dan berperang bersama Rasulullah r dan bersama para imam-imam yng mendapat petunjuk alaihimus salam.” (Biharul Anwar: 101/290, Kamiluz Ziyarat: 176).

Alangkah pandai orang-orang Syi’ah dalam hal berdusta.

Al-Imam Asy-Syafii berkata: “Aku belum pernah melihat sebuah kaum yang pandai bersaksi palsu selain sekte Rafidlah.” (Alu Rasulillah r wa Auliya’uh: 108).

Al-Imam Yazid bin Harun berkata: “Kami tulis hadits dari setiap ahli bid’ah selagi mereka tidak mengajak pada bid’ahnya kecuali sekte Rafidlah karena mereka (selalu) berdusta.” (Alu Rasulillah r wa Auliya’uh: 108)

Al-Imam Malik pernah ditanya tentang sekte Rafidlah maka menjawab: “Jangan ajak mereka bicara dan jangan  meriwayatkan hadits dari mereka karena mereka (suka) berdusta.” (Alu Rasulillah r wa Auliya’uh: 107)

Sungguh perbuatan mereka telah melenceng dari ajaran Rasulullah r.

Rasulullah r bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golonganku orang yang memukul-pukul pipi dan merobek-robek baju (karena meratap) dan memanggil-panggil dengan seruan jahiliyah.” (HR. Bukhari: 1212, Ahmad: 4131, Abu Ya’la: 5201, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 6909)

Dari Anas t bahwa Rasulullah r bersabda:

ثلاث لا يزلن في أمتي حتى تقوم الساعة : النياحة والمفاخرة في الأنساب والأنواء

“Ada 3 perkara jahiliyah yang selalu ada pada umatku sampai hari kiamat: Meratapi orang mati, Berbangga-bangga dengan nasab, dan Percaya pada bintang (astrologi).” (HR. Abu Ya’la. Al-Haitsami berkata: “Para perawinya orang-orang tsiqat. Lihat Majma’uz Zawaid: 3/98, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 3037).

Demikian bid’ah berkabung pada hari Asyura’ yang diada-adakan oleh sekte Syiah atau Rafidlah.

Sikap ekstrem sekte Nashibah

Sekte Nashibah membuat bid’ah tandingan untuk menandingi kaum Rafidlah. Mereka menjadikan hari Asyura’ sebagai hari raya, hari bersenang-senang, membikin makanan dan berpakaian seperti hari raya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sekelompok kaum (Nashibah, pen) menandingi mereka (Syi’ah), mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari raya dan suka cita.” (Mauqif Syaikhul Islam Ibni Taimiyah minar Rafidlah: 1/449)

Mereka juga membuat hadits dusta tentang permasalahan ini. Sebagai contoh:

من وسع على أهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

“Barangsiapa yang membikin keluasan pada keluarganya pada hari Asyura’ maka Allah akan meluaskannya (dalam rejeki) setahun penuh.”

Al-Harb Al-Karmani bertanya kepada Al-Imam Ahmad tentang hadits ini. Maka beliau menjawab: “(Hadits ini) tidak ada asalnya.” (Ahaditsul Qashshash: 99)

Al-Allamah Abdul Hayy Al-Lucknawi menjelaskan contoh-contoh hadits-hadits palsu yang dikarang berkaitan dengan hari Asyura seperti hadits panjang tentang diselamatkannya Ibrahim u dari api, diangkatnya Idris u ke tempat yang tinggi, dikeluarkannya Yunus u dari perut ikan, dikeluarkannya Yusuf u dari penjara, turunnya Nuh u dari bahtera, dll pada hari Asyura…kemudian anjuran menjenguk orang sakit, bershadaqah, mandi dan mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura…….dan seterusnya dalam redaksi yang panjang. Kemudian Al-Lucknawi mengutip pernyataan Al-Hafizh Ibnul Jauzi tentang hadits tersebut bahwa orang-orang belakangan yang memalsu dan menyusun sanad hadits itu. (Al-Atsarul Marfu’ah fil Akhbaril Maudlu’ah: 96-97).

Termasuk contoh hadits palsu dalam permasalahan ini:

من اكتحل بالإثمد يوم عاشوراء لم يرمد أبدا

“Barangsiapa yang bercelak dengan itsmid pada hari Asyura’ maka ia tidak akan kena sakit mata selama-lamanya.”

Di dalam sanadnya ada Juwaibir.

Al-Hakim berkata: “Aku berlepas diri dari Juwaibir (perawi hadits di atas).” An-Nasa’i, Ad-Daraquthni dan lain-lain menyatakan bahwa Juwaibir adalah matrukul hadits. (Al-Atsarul Marfu’ah fil Akhbaril Maudlu’ah: 97-98)

Dalam kesimpulan risalah magisternya Syaikh Abdullah At-Tuwaijiri menyatakan: “Sesungguhnya bergembira pada hari Asyura’, meluaskan nafkah untuk keluarga, bercelak, berhenna’ pada hari Asyura’ adalah termasuk bid’ah yang diharamkan.” (Al-Bida’ Al-Hauliyah Risalah Majister: 444).

Dan yang memprihatinkan bahwa bid’ah ini diadopsi oleh berbagai thariqat shufiyah. Di antaranya adalah thariqat tijaniyah. Muhammad At-Tijani (pemimpin thariqat tijaniyah) berkata: “Kami mengadakan acara pesta pada hari Asyura sebagai hari ied yang termasuk hari-hari raya islam. Pada hari itu dikeluarkan zakat harta, berbagai jenis masakan dimasak untuk hari itu. Dan anak-anak berkeliling kepada orang-orang tua agar diberikan sebagian uang untuk membeli manisan dan mainan.” (Kasyful Jani Muhammad At-Tijani: 24).

Penutup

Jalan Rasulullah r dan para sahabatnya adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Sedangkan mengadakan acara berkabung dan bersedih pada hari itu termasuk bid’ah dari Syiah Rafidlah. Begitu juga bersenang-senang pada hari itu termasuk bid’ah Nashibiyah. Kedua kelompok ekstrem tersebut diancam oleh Allah U dalam firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menyelisihi  Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu  dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115).

Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah U  ke jalan yang lurus dan dihindarkan dari  kedua sikap ekstrem tersebut. Amien. Wallahu a’lam.


[1] Nashibah artinya membentangkan. Maksudnya adalah membentangkan permusuhan kepada keluarga Nabi r.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: