Beranda > Al-Hadits > BENARKAH ALI BIN ABI THALIB t PINTUNYA ILMU?

BENARKAH ALI BIN ABI THALIB t PINTUNYA ILMU?


BENARKAH ALI BIN ABI THALIB t PINTUNYA ILMU?

(KRITIK HADITS)

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Sudah beredar di tengah masyarakat muslimin sebuah hadits yang artinya: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya…..” Benarkah ada hadits ini?

Mari kita kupas:

  • قال الحاكم: حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا محمد بن عبد الرحميم الهروي بالرملة ثنا أبو الصلت عبد السلام بن صالح ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أنا مدينة العلم و علي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب
  • Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak: 4637 (3/137), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 11083 (11/65), Abu Ja’far Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar: 1415 (4/124))
  • o قال ابن عدي: حدثنا عبد الرحمن بن سليمان بن موسى بن عدي الجرجاني بمكة حدثنا احمد بن سلمة أبو عمرو الجرجاني حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد
  • عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد العلم فليأتها من قبل بابها
  • Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya.” (HR. Ibnu Adi: 1/189-190).

o قال الخطيب البغدادي: احمد بن فاذويه بن عزرة أبو بكر الطحان حدث عن احمد بن محمد بن يزيد بن سليم روى عنه محمد بن المظفر وأبو القاسم بن الثلاج أخبرني احمد بن محمد العتيقي حدثنا عبد الله بن محمد بن عبد الله الشاهد حدثنا أبو بكر احمد بن فاذويه بن عزرة الطحان حدثنا أبو عبد الله احمد بن محمد بن يزيد بن سليم حدثني رجاء بن سلمة حدثنا أبو معاوية الضرير عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم انا مدينة العلم وعلى بابها فمن أراد العلم فليأت الباب

  • Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya.”(Tarikh Baghdad: 4/348).
  • o قال الحاكم: حدثني أبو بكر محمد بن علي الفقيه الإمام الشاشي القفال ببخارى و أنا سألته حدثني النعمان بن الهارون البلدي ببلد من أصل كتابه ثنا أحمد بن عبد الله بن يزيد الحراني ثنا عبد الرزاق ثنا سفيان الثوري عن عبد الله بن عثمان بن خثيم عن عبد الرحمن بن عثمان التيمي قال : سمعت جابر بن عبد الله يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : أنا مدينة العلم و علي بابها فمن أراد العلم فليأت الباب
  • Dari Jabir bin Abdillah t berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak: 4639 (3/138) dan Ibnul Muqri’ dalam mu’jamnya: 175)
  • o قال الترمذي: حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الرُّومِيِّ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا دَارُ الْحِكْمَةِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
  • Dari Ali t bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah rumah Al-Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya.” (HR. At-Tirmidzi: 3657, Abu Ja’far Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar: 1414 (4/123), Al-Ajurri dalam Asy-Syariah: 1506 (4/209))

قال أبو نعيم: حدثنا أبو أحمد محمد بن أحمد الجرجاني ثنا الحسن بن سفيان ثنا عبدالحميد بن بحر ثنا شريك عن سلمة بن كهيل عن الصنابحي عن علي بن أبي طالب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا دار الحكمة وعلي بابها

  • Dari Ali t bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah rumah Al-Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah: 1/64).

Tentang Perawi Hadits

ü  Pada hadist pertama terdapat Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih Al-Harawi. Al-Imam An-Nasa’I berkata: “Ia seorang rofidloh khabits (jelek).” (Tasmiyatus Syuyukh: 73). Ketika Al-Imam Ad-Daraquthni ditanya tentang Abush Shalt maka belaiu menjawab: “Ia seorang rofidli jelek.” (Tarikh Baghdad: 11/51). Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ia seorang Syi’ah yang sangat lemah dan haditsnya ditinggalkan meskipun shalih.” (Al-Kasyif: 1/653). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Abush Shalt tertuduh (memalsu hadits).” (Lisanul Mizan: 6/127). Ia juga dilemahkan oleh Al-Imam Abu Zur’ah dan Al-Imam Abu Hatim. (Mizanul I’tidal: 2/616). Menurut Al-Hakim, An-Naqqasy dan Abu Nu’aim ia banyak meriwayatkan hadits munkar. (Tahdzibut Tahdzib: 6/286).

ü  Dalam hadits kedua terdapat Raja’ bin Salamah. Al-Imam Ibnul Jauzi berkata: “Ia tertuduh mencuri hadits.” (Lisanul Mizan: 2/456).

ü  Sedangkan dalam hadits ketiga terdapat Ahmad bin Salamah Abu Amr Al-Jurjani. Al-Imam Ibnu Adi berkata: “Ia mengada-adakan hadits dari orang-orang terpercaya (tsiqat) dengan hadits-hadits batil. Ia juga mencuri (baca: menjiplak) hadits.” (Al-Kamil: 1/189). Menurut Al-Imam Ibnu Adi –sebagamana penjelasan Al-Hafizh Ibnu katsir- hadits kedua ini ia jiplak dari redaksi milik Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih Al-Harawi dalam hadits pertama. (Al-Bidayah wan Nihayah: 7/396).

ü  Sedangkan dalam hadits yang keempat terdapat Ahmad bin Abdullah bin Yazid Al-Harrani Abu Ja’far. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah dajjal pendusta.” (Talkhishul Mustadrak: 3/137). Al-Imam Ibnu Adi berkata: “Ia di Samira memalsu hadits.” (Mizanul I’tidal: 1/249).

ü  Dalam hadits yang kelima terdapat Muhammad bin Umar bin Ar-Rumi. Al-Imam Abu Zur’ah berkata: “Di dalamnya ada kelemahan.” Abu Dawud berkata: “Ia dhoif.” Dan setelah Al-Imam Adz-Dzahabi membawakan haditsnya (yaitu “Aku adalah rumah Al-Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya”) beliau berkata: “Aku tidak tahu siapa yang telah memalsukannya.” (Mizanul I’tidal: 6/279).

ü  Di dalam hadits yang keenam terdapat Abdul Hamid bin Bahr Al-Kufi. Al-Imam Ibnul Jauzi mengutip ucapan Al-Imam Ibnu Hibban: “Ia mencuri hadits, meriwayatkan hadits orang-orang tsiqat dengan bukan  hadits mereka (baca: memalsu hadits atas nama orang-orang tsiqat) dan tidak halal berhujjah dengan orang ini.” (Adl-Dlu’afa’ wal Matrukin: 2/84).

Status Hadits

Dari keadaan perawi-perawinya, maka hadits “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya” adalah DLOIF JIDDAN (SANGAT LEMAH).

Mereka-mereka yang menghasankan hadits ini

Di antara para ulama yang menghasankan hadits ini adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-Hafizh As-Suyuthi, Al-Allamah Asy-Syaukani dan lain-lain. Alasan peng-hasanan hadits ini adalah karena hadits ini memiliki banyak jalan. Jalan yang memperkuat adalah dari Muhammad bin Ja’far Al-Faidi dari Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Mujahid dst..(Al-Fawa’idul Majmu’ah: 349).

Para Ulama yang Mendloifkan hadits ini

Tentang hadits “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya” para ulama berkomentar.

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hadits ini (Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya) adalah dloif (lemah) bahkan maudlu’ (palsu). At-Tirmidzi dan lainnya juga meriwayatkan hadits ini dan keadaan hadits ini adalah dusta.” (Ahaditsul Qashshash: 78).
  • Al-Imam Al-Bukhari mengingkari hadits ini sedangkan Yahya bin Ma’in menyatakan bahwa hadits ini tidak ada asalnya. (Al-Fawa’idul Majmu’ah: 94)
  • Al-Hafizh Al-Iraqi (guru Al-Hafizh Ibnu Hajar) mengutip pernyataan Ibnu Hibban dan Ibnu Thohir bahwa hadits ini palsu dan tidak ada asalnya. (Takhrijul Ihya’: 3/89).
  • Al-Imam At-Tirmidzi –dalam mengomentari hadits “Aku adalah rumah Al-Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya” – berkata: “Ini adalah hadits gharib lagi mungkar.” (Sunan At-Tirmidzi: 12/186).
  • Al-Imam An-Nawawi berkata: “Hadits yang diriwayatkan oleh Ash-Shunabihi dari Ali t dari Rasulullah r yang berbunyi: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya” dalam riwayat lain: “Aku adalah rumah Al-Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya”, ini adalah hadits batil (palsu). Beliau juga menyatakan bahwa keutamaan dan kebakan Ali bin Abi Thalib sudah sangat terkenal (sehingga tidak perlu ngarang hadits, pen). (Tahdzibul Asma’ wal Lughat: 1/490).

Kritikan bagi orang-orang yang menghasankan hadits

Mereka menghasankan hadits ini karena ada jalan lain yang memperkuat sesuai penjelasan Al-Imam Yahya bin Main.

قال الخطيب أخبرني محمد بن علي المقرىء أنا محمد بن عبد الله النيسابوري قال سمعت أبا العباس محمد بن يعقوب يقول سمعت العباس بن محمد الدوري يقول سمعت يحيى بن معين يوثق أبا الصلت فقلت أو قيل له إنه حدث عن أبي معاوية عن الأعمش أنا مدينة العلم وعلي بابها فقال ماتريدون من هذا المسكين أليس قد حدث به محمد بن جعفر الفيدي عن أبي معاوية هذا أونحوه

Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri berkata: “Aku mendengar bahwa Yahya bin Ma’in men-tsiqat-kan Abush Shalt (maksudnya adalah Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih Al-Harawi, pen).” Maka aku bertanya kepadanya: “(Bukankah) ia telah meriwayatkan hadits dari Abu Mu’awiyah dari Al-A’masy “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya”?” Maka beliau menjawab: “Apa yang kalian kehendaki dari orang miskin ini (Abush Shalt)? Bukankah hadits ini atau semisalnya juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ja’far Al-Faidi dari Abu Mu’awiyah?” (Tarikh Baghdad: 11/50, Tarikh Damsyiq: 42/381)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia (Muhammad bin Ja’far Al-Faidi Al-Allaf) maqbul.” (Taqribut Tahdzib: 833). Maksudnya adalah ia diterima haditsnya kalau ada mutaba’ah atau syahid (jalan orang lain yang serupa) dan kalau tidak ada maka ia adalah lemah haditsnya.

Penjelasan Yahya bin Ma’in inilah yang menjadikan dasar bagi Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-Hafizh As-Suyuthi dan lain-lain (semoga Allah merahmati mereka) untuk menghasankan hadits ini.

Benarkah demikian?

Mari kita kupas hadits yang dikuatkan oleh Al-Imam Yahya bin Ma’in.

قال الحاكم: حدثنا بصحة ما ذكرناه الإمام أبو زكريا ثنا يحيى بن معين ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا مدينة العلم و علي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah r bersabda: “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa yang menghendaki kota itu maka hendaknya ia mendatangi pintunya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 4638 (3/137).

  • Ternyata di dalamnya terdapat Al-Husain bin Fahm. Al-Imam Ad-Daraquthni berkata: “Ia bukan orang kuat (dalam hadits).” (Tadzkiratul Huffazh wa Dzuyulih: 2/183, Lisanul Mizan: 2/308).
  • Di dalamnya juga terdapat Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al-Khayyath Al-Qanthari. Muhammad bin Abil Fawaris berkata: “Di dalamnya (Abul Husain) terdapat kelemahan.” (Tarikh Baghdad: 1/283, Dzail Mizanil I’tidal: 178).
  • Di dalamnya juga terdapat Muhammad bin Yahya bin Adl-Dlaris Al-Faidi. Ibnu Makula berkata: “Ia mungkarul hadits.” (Ikmalul Kamal: 6/331-2). Sedangkan menurut Al-Imam Abu Hatim ia adalah shoduq (jujur). (Al-Jarhu wat Ta’dil: 8/124). Untuk perlu diketahui bahwa ‘shaduq’ menurut istilah Abu Hatim dan Abu Zur’ah berbeda dengan ‘shaduq’ menurut Ibnu Hajar. Kalau shaduq menurut Ibnu Hajar adalah hasan haditsnya, sedangkan menurut istilah Abu Hatim dan Abu Zur’ah adalah lemah haditsnya tetapi haditsnya tetap ditulis untuk i’tibar. (Darajatu Hadits Ash-Shaduq waman fi Martabatih: 3).
  • Dengan adanya 3 orang perawi yang lemah ini maka hadits di atas (yang dijadikan sebagai penguat) adalah sangat lemah dan tidak bisa dijadikan penguat dan tidak bias dikuatkan. Wallahu a’lam.

Bersendiriannya Al-Imam Yahya bin Ma’in

Di dalam menyikapi Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih Al-Harawi, Yahya bin Ma’in bersendirian di dalam memuji dan men-tsiqat-kannya. Sedangkan para ulama selain beliau bersepakat untuk mencelananya.

  1. Al-Imam Abu Ishaq Al-Jauzajani berkata tentang Abush Shalt: “Ia telah menyimpang dari kebenaran, telah menyimpang dari jalan yang lurus. Aku telah mendengar sebagian orang yang menceritakan dari para imam bahwa ia (Abush Shalt) lebih pendusta dari pada kotoran keledainya dajjal. Dan ia dulu telah berlumuran dengan kotoran (aqidah, pen).” (Ahwalur Rijal: 205)
  2. Al-Imam Abu Hatim berkata: “Ia bukan orang yang jujur, ia orang yang dloif (lemah) dan aku tidak mengambil hadits darinya.” (Al-Jarhu wat Ta’dil: 6/48)
  3. Al-Imam Abu Zur’ah berkata: “Aku tidak mengambil hadits darinya dan tidak meridlainya.” Dan beliau memerintahkan untuk membuang haditsnya.” (Al-Jarhu wat Ta’dil: 6/48)
  4. Al-Imam Al-Ashbahani berkata: “Ia meriwayatkan dari Hammad bin Zaid, Abu Mu’awiyah, Ibad bin Al-Awwam dan lainnya banyak hadist mungkar.” (Adl-Dlu’afa’ lil Ashbahani: 108)
  5. Al-Imam Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan dari Hammad bin Zaid dan orang-orang Iraq beberapa riwayat yang aneh tentang keutamaan Ali dan keluarganya. Tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian.” Ketika membahas hadits “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya” beliau berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya, bukan haditsnya Ibnu Abbas, bukan Mujahid, bukan pula Al-A’masy, dan bukan pula Abu Shalih. Dan setiap orang yang meriwayatkan redaksi matan ini (“Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya”) maka ia telah mencuri (menjiplak) hadits ini dari Abush Shalt.” (Al-Majruhin: 2/152)
  6. Al-Imam Ibnu Adi berkata: “Ia meriwayatkan dari Abdurrazzaq hadits-hadits mungkar tentang keutamaan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Dan ia sendiri yang tertuduh memalsu hadits-hadits ini.” (Al-Kamil fidl Dlu’afa: 5/332)
  7. Al-Imam Al-Uqaili berkata: “Ia adalah rofidli (syi’ah) yang jelek.” (Adl-Dlu’afa wal Matrukin: 2/106)
  8. Al-Imam An-Nasa’i berkata: “Ia adalah rofidli jelek, tidak tsiqat dan tidak bisa dipercaya.” (Tasmiyatusy Syuyukh: 73).
  9. Al-Imam Ad-Daraquthni berkata: “Ia tertuduh memalsu hadits.” (Dzail Mizanil I’tidal: 108).

Sedangkan Al-Imam Yahya bin Ma’in menyatakan: “Ia (Abush Shalt) bukan termasuk orang yang berdusta. Ia adalah orang kaya dan mencari hadits ini. Dan ia suka memuliakan para syaikh sehingga mereka membacakan hadits ini kepadanya.” (Tahdzibut Tahdzib: 6/286). Hanya Ibnu Ma’in saja yang men-tsiqat-kan Abush Shalt. Ia telah menyelisihi kebanyakan ahli al-jarh wat ta’dil.

Dan Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari sikap Al-Imam Yahya bin Ma’in ini: “Benar saja hati-hati manusia dibuat cenderung kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Dan orang ini (Abush Shalt) telah berbuat baik kepada Yahya (bin Main). Kami tetap mendengarkan Yahya selamanya. Kami juga berhujjah kepadanya dalam masalah keadaan perawi hadits selagi belum jelas bagi kami tentang kelemahan orang ia kuatkan sendirian atau kuatnya orang yang ia lemahkan.” (Siyar A’lamin Nubala: 11/447).

Ketidakkonsistenan Al-Hafizh Ibnu Hajar –semoga Allah merahmati beliau

Rupanya Al-Hafizh Ibnu Hajar terpengaruh oleh  Al-Imam Ibnu Ma’in dalam menilai Abush Shalt Abdus Salam bin Shalih Al-Harawi. Dalam Lisanul Mizan beliau menyatakan tentang hadits Ath-Thair (burung): “Ini adalah hadits palsu. Yang tertuduh (memalsukan) adalah Abush-Shalt Al-Harawi.” (Lisanul Mizan: 3/80).  Akan tetapi beliau berkata lain dalam Taqribut Tahdzib. Beliau berkata: “Ia shaduq (jujur) memiliki beberapa hadits mungkar. Dan adalah dia tasyayyu’ (bermanhaj Syi’ah). Al-Uqaili berlebihan menilainya bahwa ia pendusta.” (Taqribut Tahdzib: 608).

Mestinya Al-Hafizh menggunakan kaidah dalam kitab beliau sendiri yaitu Nukhbatul Fikr:

وَالْجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ إِنْ صَدَرَ مُبَيِنًا مِنْ عَارِفٍ بِأْسْبَابِهِ

“Mencela perawi lebih didahulukan daripada men-tsiqat-kannya jika pencelaanya dijelaskan oleh orang yang mengetahui sebab-sebab pencelaannya.” (Nukhbatul Fikr: 232). Dan jarh (celaan) terhadap Abush Shalt bersifat mubayyan (terperinci). Maka harus didahulukan dari pen-tsiqat-an oleh Ibnu Ma’in.

Juga beliau seharusnya berpegang pada kaidah:

يقبل من لم يكن داعية إلى بدعته في الأصح ، إلا إن روى ما يقوي بدعته فيرد على المختار

“Diterima haditsnya ahli bid’ah yang tidak megajak kepada bid’ahnya menurut pendapat yang paling benar. Kecuali jika ia meriwayatkan hadits yang menguatkan bid’ahnya. Maka haditsnya ditolak menurut pendapat yang terpilih.” (Nukhbatul Fikr: 230)

Dan Abush Shalt adalah bermanhaj Syi’ah rofidloh. Hadits ini (“Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya”) menguatkan bid’ah rofidloh maka sangat tepat untuk melemahkan hadits ini.

Kesimpulan

Apapun keadaannya hadits ini tetap lemah (dloif) dan tidak bisa diperkuat.

Ilmu Para Shahabat Nabi y

Ilmu para sahabat nabi tidaklah mengumpul pada Ali bin Abi Thalib t saja, akan tetapi masing-masing sahabat Nabi memiliki kelebihan sendiri-sendiri.

Dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah r bersabda:

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam perintah Allah adalah Umar, yang paling jujur sifat pemalunya adalah Utsman, yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling mengerti ilmu fara’idl (waris) adalah Zaid bin Tsabit, yang paling mengerti Al-Quran adalah Ubay bin Ka’ab dan setiap umat memiliki kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. At-Tirmidzi: 3724, An-Nasa’i dalam Al-Kubra: 8242 (5/67), Ibnu Majah: 151, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 11966 (6/210), Ibnu Hibban: 7131 (16/74) dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Hibban dan dikuatkan ke-mursal-annya oleh Ad-Daraquthni. Lihat Talkhishul Habir: 3/180-1).

Dalam riwayat lain ada tambahan:

وَأَقْضَاهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

“Dan yang paling pandai memutuskan perkara (menjadi qadli) adalah Ali bin Abi Thalib.” (HR. Ibnu Majah: 151, Abu Ya’la: 5763 (10/141), Aburrazzaq dalam al-Mushannaf: 20387 (11/225)).

Tidak semua ilmu agama dikuasai oleh Ali bin Abi Thalib t

Dari Ikrimah, ia berkata:

أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Ketika orang-orang zindiq didatangkan ke hadapan Ali t maka beliau membakar mereka. Kemudian berita ini sampai kepada Ibnu Abbas maka beliau berkata (kepada Ali): “Seandainya aku menjadi engkau (khalifah, pen) maka aku tidak akan membakar mereka karena larangan Rasulullah r: “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (dengan membakar, pen).” Akan tetapi aku cukup membunuhnya saja karena sabda Rasulullah r: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia.” (HR. Bukhari: 6411).

Ini menunjukkan bahwa ada beberapa hadits  yang belum dikuasai oleh Ali bin Abi Thalib t. Wallahu a’lam.

  1. ade
    Mei 26, 2010 pukul 8:58 pm

    subhanaulaahhh

  2. September 3, 2010 pukul 2:26 am

    Terima kasih infonya mas, sebelumnya saya belum tahu status dari hadits tersebut. Dan setelah sya membuka tiap halaman dari kitab2 yang dituliskan diatas, memang benar adanya.
    Pelajaran yang didapat oleh saya saat ini adalah, agar kita lebih objektif dalam menilai suatu perkara, dalam konteks disini, adalah hadits.

  3. Oktober 15, 2012 pukul 1:31 pm

    Maksud huruf “t” setelah nama Ali Bin Abi Thalib Rodhiyalloohu’anhu apa yah?
    Trims

  4. Aprilla
    Desember 29, 2012 pukul 12:34 pm

    Mengenai Hadits ““Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia.” (HR. Bukhari: 6411). Siapa yg meriwayatkan?? Bukankah dalam Islam tidak ada paksaan untuk agama? (QS Al Baqarah 256) “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Betul sekali banyak hadits yg dhoif. Oleh karena itu kita harus lebih obyektif dan selektif. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang2 yang berlaku adil. Amiin.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: