Beranda > Manhaj > Memurnikan Pemahaman Keislaman

Memurnikan Pemahaman Keislaman


Memurnikan Pemahaman Keislaman

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Mengembalikan pemahaman keislaman pada praktik Al-Islam pada generasi awal adalah mutlak dilakukan dalam rangka meraih kejayaan kaum muslimin. Al-Imam Malik bin Anas pernah menyatakan:

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

“Tidak akan memperbaiki keadaan generasi terakhir umat ini kecuali perkara yang memperbaiki generasi umat islam yang pertama.” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 59).

Berbagai penyimpangan pemahaman, tradisi dan praktik keislaman dapat kita temui dalam berbagai bidang seperti aqidah, manhaj, tafsir dan ibadah. Keadaan yang demikian ini menyebabkan umat islam semakin terpuruk ke belakang.

Manhaj Generasi Awal Islam

Manhaj berarti jalan yang ditempuh untuk mencapai kebahagiaan. (Aisarut Tafasir: 1/354). Jalan mereka disebut juga dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah r:

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ingatlah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Ahli kitab terpecah-belah menjadi 72 sekte. Dan sesungguhnya ummat ini juga akan terpecah-belah menjadi 73 sekte. 72 sekte di neraka yang satu di surga yaitu Al-Jamaah.” (HR. Abu Dawud: 3981, Ibnu Majah: 3983, Ahmad: 12022, 16329. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Bushiri dalam Mishbahuz Zujajah: 4/180, di-hasan-kan oleh Ibnul Qayyim dalam Tahdzibus Sunan: 2/330, dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ hadits: 2042).

Dan jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah jalan Rasulullah r dan para shahabat beliau y. Rasulullah r bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah-belah menjadi 72 sekte. Dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 sekte. Semuanya di neraka kecuali satu millah.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka?” Beliau menjawab: “Yaitu sesuatu (jalan) yang mana aku dan para sahabatku berada di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi: 2565 dan beliau menyatakan hadits hasan gharib, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 444 (1/218), Ath-Thabarani dalam Al-Ausath: 4886 (5/137), 7840 (8/22), Isnadnya di-jayyid-kan oleh Al-Iraqi dalam Takhrijul Ihya’: 2/885, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ hadist: 5343)

Dan sesuai hadits di atas mereka disebut juga Al-Firqatun Najiyah yaitu golongan yang selamat di antara sekte-sekte yang diancam neraka.

Mereka disebut juga dengan Ath-Thaifah Al-Manshurah yaitu kelompok yang ditolong oleh Allah baik dalam medan peperangan ataupun dalam hujjah (argumentasi). Dari Mu’awiyah t bahwa Rasulullah r bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

“Akan selalu ada satu golongan dari ummatku yang tegak dengan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka sampai datangnya urusan Allah dalam keadaan mereka menang di atas manusia lainnya.” (HR. Al-Bukhari: 6768, Muslim: 3548).

Manhaj mereka adalah manhaj As-Salafush Shalih. As-Salafush Shalih secara bahasa adalah penyebutan untuk generasi awal dari tabi’in (Lisanul Arab: 9/158). Secara istilah Manhaj As-Salafus Shalih adalah manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu manhaj nubuwah yang dipegangi oleh 3 generasi yang diutamakan yaitu generasi shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jamaah fil Asma’ was Shifat: 47) sebagaimana wasiat Al-Imam Al-Auza’i (wafat tahun 157 H):

عليك بآثار من سلف وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوها بالقول

“Wajib atasmu untuk mengikuti jejak orang-orang salaf (terdahulu) dan berhati-hatilah dari pendapat para tokoh meskipun mereka menghiasi pendapat tersebut dengan ucapan indah.” (Ahadits fi Dzammil Kalam no: 116).

Sehingga seorang yang bermanhaj salaf adalah seorang Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu manhaj generasi Islam yang pertama dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Mengapa harus mengikuti As-Salafush Shalih?

Allah U memerintahkan kita mengikuti mereka karena alasan berikut ini:

  • Keimanan mereka adalah standar dan tolok ukur untuk generasi setelah mereka. Barangsiapa yang keimanannya tidak seperti keimanan As-Salafush Shalih maka dia berada dalam kesesatan. Allah U berkata kepada kaum mukminin generasi pertama:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Maka jika mereka (Ahul Kitab) beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” (QS. Al-Baqarah: 137).

Apa saja yang diimani oleh para sahabat Nabi r? Allah U menyatakan:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 136).

Al-Imam Said bin Jubair (seorang ulama tabi’in) berkata:

ما لم يعرفه البدريون فليس من الدين

“Segala perkara (baik itu aqidah atau ibadah, pen) yang tidak dikenal oleh Al-Badriyyun (para sahabat yang ikut perang badar) maka itu bukanlah termasuk agama.” (Dzammut Ta’wil: 21).

  • Mereka adalah orang-orang yang beriman secara hakiki. Allah U berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (kaum muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin yaitu kaum anshar), mereka itulah orang-orang yang beriman secara hakiki. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74). Ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat Nabi y sangat pantas untuk dijadikan rujukan dalam agama oleh kaum muslimin sekarang karena adanya jaminan keimanan yang hakiki dan ampunan untuk mereka. Adapun tokoh-tokoh sekarang yang dijadikan rujukan oleh para ahli bid’ah seperti tokoh wali songo dan sebagainya dalam agama ini maka kita tanyakan kepada mereka apakah ada satu ayat atau hadits yang menyatakan bahwa wali songo itu adalah kaum mukminin hakiki dan mendapat ampunan dari Allah?

  • Adanya jaminan ridla Allah U dan surga bagi mereka. Allah U berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

  • Generasi mereka adalah sebaik-baik generasi. Dari Imran bin Hushain t bahwa Rasulullah r bersabda:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi sesudahnya (para tabi’in) kemudian generasi sesudahnya (tabi’ut tabi’in).” (HR. Al-Bukhari: 3377, Muslim: 4603, At-Tirmidzi: 2147, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 5988 (3/535)).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan: “Para ulama bersepakat bahwa akhir dari  generasi tabiut tabi’in yang bisa diterima pendapatnya (yaitu akhir ulama mereka) adalah mereka yang hidup sampai pada batas tahun 220 hijriyah. Pada waktu ini muncullah kebid’ahan dengan luas, sekte Mu’tazilah mulai berani meneriakkan pemikirannya, kaum filosof mulai mendongakkan kepala mereka, para ulama diuji (dan dipaksa, pen) untuk menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluk (sebuah pemahaman yang tidak pernah dikenal oleh 3 generasi pertama, pen). Keadaan semakin berubah dengan dahsyat dan perkara agama semakin berkurang sampai seperti sekarang ini.” (Fathul Bari: 7/6).

  • Ibadah mereka adalah tolok ukur dari ibadah kita. Rasulullah r pernah menceritakan kepada sahabat beliau y tentang kemunculan kelompok Khawarij (sebuah sekte yang menyimpang dari Al-Islam). Di antara sifat jelek mereka adalah bahwa mereka beribadah secara berlebih-lebihan melebihi ibadah yang diamalkan oleh para sahabat beliau. Beliau bersabda:

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan muncul di tengah-tengah kalian suatu kaum yang mana kalian akan meremehkan shalat kalian jika dibanding dengan shalat mereka, kalian akan meremehkan puasa kalian jika dibanding dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran akan tetapi Al-Quran tidak sampai pada tenggorokan mereka. Mereka lepas dari Ad-Dien sebagaimana anak panah lepas dari sasarannya.” (HR. Al-Bukhari: 4670, Ahmad: 11150, Ibnu Hibban: 6737 (15/132), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 2640 (2/537)).

Oleh karena itu sebagian ulama salaf menyatakan:

كل عبادة لم يتعبدها أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فلا تتعبدوها

“Segala ibadah yang belum pernah diamalkan oleh para sahabat Rasulullah r maka jangan kalian jadikan sebagai amal ibadah!” (At-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu: 27).

  • Mereka dipilih oleh Allah untuk menemani Rasul-Nya. Allah U berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).

Al-Imam Abdullah bin Mas’ud t (ulama sahabat) berkata:

من كان منكم مؤتسيا فليأتس بأصحاب محمد فإنهم كانوا أبر هذه الأمة قلوبا وأعمقها علما وأقلها تكلفا وأقومها هديا وأحسنها أخلاقا اختارهم الله تعالى لصحبة نبيه وإقامة دينه فاعرفوا لهم فضلهم واتبعوهم في آثارهم فإنهم كانوا على هدى مستقيم

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengambil teladan maka teladanilah para sahabat Muhammad r. Karena mereka adalah yang paling baik hatinya di antara ummat ini, yang paling dalam ilmunya, yang paling sedikit takallufnya, yang paling lurus petunjuknya, yang paling baik akhlaqnya. Allah memilih mereka untuk mendampingi Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka karena mereka di atas petunjuk yang lurus.” (HR. Abul Qasim Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah, Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi. Lihat Dzammul Kalam: 746 (4/288)).

  • Mereka adalah orang-orang yang diterima taubatnya oleh Allah U karena jasa dan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama-Nya. Allah U berfirman:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan (perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117).

Allah U juga berfirman:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (surga).” (QS. Al-Hadid: 10).

  • Mereka terutama para Khulafa’ur Rasyidin adalah tempat rujukan ketika umat berselisih dan berpecah-belah dalam agamanya. Dari Irbadl bin Sariyah t bahwa Rasullah r bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Maka barangsiapa hidup setelahku nanti maka ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka pegangilah sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Pegangilah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara baru dalam agama karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud: 3991, At-Tirmidzi: 2600 dan ia berkata: hadits hasan shahih, Ibnu Majah: 43 dan dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 9/582).

Dengan alasan-alasan di atas maka kita wajib menjadikan As-Salafush Shalih sebagai rujukan dan teladan dalam pelaksanaan agama Islam ini.

Bukti dan Bukan Pengakuan

Semua pengakuan dan angan-angan kita sebagai  Ahlus Sunnah, pengikut As-Salafush Shalih atau Salafy dan sebagainya hendaknya dibuktikan dengan amal, keyakinan dan ucapan yang sesuai dengan ajaran Ahlus  Sunnah wal Jamah. Janganlah kita mengaku dan berangan-angan sebagai Ahlus Sunnah tetapi aqidah dan amal ibadah kita masih penuh dengan bid’ah dan lain-lain.

Allah U berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا () وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisa’: 123-124).

Semoga Allah U menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang diridlai-Nya dari kalangan Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Amien. Wallahu a’lam.

  1. Belum ada komentar.
  1. Desember 24, 2012 pukul 5:36 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: