Beranda > Manhaj > Inovasi dalam Agama, Bolehkah?

Inovasi dalam Agama, Bolehkah?


Inovasi dalam Agama, Bolehkah?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Seiring perkembangan jaman terdapat banyak inovasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan duniawi seperti kedokteran, arsitektur, pertanian dan sebagainya.

Tetapi yang sangat disayangkan adalah bahwa bidang agama seperti aqidah dan ibadah juga mengalami banyak inovasi (baca: bid’ah). Para pengembangnya mengadakan bid’ah dengan analogi bolehnya inovasi dalam bidang teknologi. Benarkah demikian?

Ternyata inovasi atau bid’ah dalam agama ini menyebabkan kaum muslimin terpuruk semakin jauh dari ajaran Islam yang murni yang dibawa oleh Rasulullah r.

Pengertian Bid’ah

Secara lughawi (bahasa) Bid’ah berarti Al-Ikhtira’ (mengada-ada) atau Al-Insya’ (memunculkan sesuatu yang belum pernah ada). (Amtsilah li Bida’il Aqa’id wal Ibadat: 2).

Termasuk pengertian bid’ah secara lughawi (bahasa) adalah firman Allah U:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Allah Pencipta (Pembuat bid’ah, pen) langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117).

Ibnu Manzhur menyatakan:

والبِدْعةُ الحَدَث وما ابْتُدِعَ من الدِّينِ بعد الإِكمال

“Bid’ah adalah perkara baru dan yang diada-adakan dalam Ad-Dien setelah disempurnakannya.” (Lisanul Arab: 8/6).

Secara syar’i bid’ah memiliki banyak definisi. Al-Imam Asy-Syathibi mendefinisikan:

فالبدعة إذن عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

“Bid’ah kalau begitu adalah ungkapan tentang sebuah jalan dalam Ad-Dien yang diada-adakan yang menyerupai jalan syar’I yang dilakukan dengan tujuan menyangatkan dalam beribadah kepada Allah U.” (Kitabul I’tisham: 1/21).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ .

“Bid’ah adalah segala keyakinan dan ibadah yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah atau ijma’ dari Salaful Ummah.” (Majmu’ul Fatawa: 18/346).

Dalam kesempatan lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan:

أَنَّ الْبِدْعَةَ فِي الدِّينِ هِيَ مَا لَمْ يَشْرَعْهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَهُوَ مَا لَمْ يَأْمُرْ بِهِ أَمْرَ إيجَابٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ

“Bahwa bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu perkara yang tidak diperintahkan atasnya baik perintah wajib atau perintah anjuran.” (Majmu’ul Fatawa: 4/107-108).

Hukum Asal dari Ibadah

Hukum asal dari perkara ibadah adalah haram sampai ada landasan syari’at yang mendasarinya. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu landasan yang dipegang oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan para fuqaha’ hadits adalah bahwa asal dari perkara ibadah adalah tauqifiyah (sesuai dalil), maka tidak boleh menjadikan syariat kecuali dengan perkara yang disyariatkan oleh Allah U. Kalau tidak maka akan termasuk makna ayat “Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21).” (Al-Fatawa Al-Kubra: 4/13).

Beliau juga menambahkan: “Perkara kebiasaan (duniawi) pada asalnya adalah boleh (ma’fu). Maka tidak boleh diharamkam dari perkara tersebut kecuali yang diharamkan oleh Allah U. Kalau tidak maka akan termasuk dalam makna firman Allah:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (QS. Yunus: 59). (Al-Fatawa Al-Kubra: 4/13).

Contoh perkara duniawi adalah masalah  makan, minum dan sebagainya.

Semua Bid’ah adalah Sesat dan Tidak Ada Bid’ah Hasanah

Semua bid’ah adalah sesat sebagaimana sabda Rasulullah r:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud: 3991, At-Tirmidzi: 2600 dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.”, Ibnu Majah: 45, Ad-Darimi: 95, Ahmad: 16521, di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 9/582).

Abdullah bin Umar t berkata:

كل بدعة ضلالة ، وإن رآها الناس حسنة

“Setiap bid’ah adalah sesat meskipun dianggap baik (hasanah) oleh manusia.” (HR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal: 139 (1/141), Al-Lalika’I dalam Syarh Ushulil I’tiqad: 111 (1/134)).

Mu’adz bin Jabal t berkata:

فإياكم وما ابتدع فإن كل ما ابتدع ضلالة

“Maka hati-hatilah kalian dari perkara yang bid’ah karena setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’: 58 (62), Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal: 686 (2/207), Al-Lalika’i dalam Syarh Ushulil I’tiqad: 103 (1/126)).

Ibnu Majisyun berkata: “Aku mendengar Al-Imam Malik berkata:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمداً صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لأن الله يقول : ” اليوم أكملت لكم دينكم ” فما لم يكن يومئذ ديناً ، فلا يكون اليوم ديناً

“Barangsiapa membuat bid’ah dalam Al-Islam dengan sebuah bid’ah yang ia anggap baik (bid’ah hasanah) maka ia telah menuduh bahwa Muhammad r mengkhianati risalah (ada risalah yang disembunyikan, pen). Karena Allah U berfirman: “Hari ini Aku telah sempurnakan agama kalian untuk kalian..” (QS. Al-Ma’idah: 3). Maka sesuatu yang pada hari itu (ketika diturunkannya firman itu) bukan termasuk agama maka pada hari ini pun bukan termasuk agama.” (Al-I’tisham lisy Syathibi: 1/29).

Orang-orang yang menganggap ada bid’ah hasanah berdalil dengan ucapan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t ketika mengumpulkan jamaah shalat tarawih pada seorang imam –yakni Ubay bin Ka’ab t- yaitu:

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Ini (shalat tarawih berjamaah) adalah sebaik-baik bid’ah.” (HR. Al-Bukhari: 1871).

Untuk menjawab syubhat ini kita perlu memahami bahasa yang dipakai oleh Salafush Shalih dari kalangan sahabat, tabi’in dan setelah mereka. Al-Hafizh Ibnu Rajab pernah menjelaskan bahwa kalau ditemukan dalam ucapan sebagian Salaf tentang anggapan bid’ah hasanah pada sebagian amal ibadah maka itu harus difahami sebagai bid’ah secara lughawi (bahasa), bukan bid’ah secara syar’i.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 266). Yang demikian itu karena memang mereka sangat jauh dari sifat menentang “ucapan Rasulullah r bahwa setiap bid’ah adalah sesat”.

Dan ketika mengucapkan: “Ini (shalat tarawih berjamaah) adalah sebaik-baik bid’ah “Umar t tidak memaksudkan adanya bid’ah hasanah dalam agama tapi untuk membantah jika ada yang menyatakan bahwa shalat tarawih berjamaah hukumnya bid’ah. Dalam riwayat Al-Furyabi Umar t berkata:

إن كانت هذه بدعة لنعمت البدعة

“Kalau ini (shalat tarawih berjamaah) dianggap bid’ah maka ini adalah sebaik-baik bid’ah.” (HR. Al-Furyabi dalam Ash-Shiyam: 154 (163), Al-Marwazi dalam Qiyam Ramadlan: 38, Al-Bukhari dalam Khalqu Af’alil Ibad: 1/69, Al-Albani berkata: “Para perawinya adalah orang-orang tsiqat kecuali Naufal bin Iyas, ia adalah maqbul (diterima) ketika ada mutaba’ah jika tidak ada mutaba’ah maka ia lemah”. Lihat Shalat At-Tarawih: 49).

Dan sudah dimaklumi bahwa shalat tarawih berjamaah tidaklah bid’ah tetapi sunnah qauliyah dan fi’liyah Rasulullah r. Hanya saja beliau tidak merutinkannya karena takut shalat tarawih menjadi wajib. Beliau bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Aku melihat apa yang kalian perbuat (yaitu menunggu jamaah tarawih bersama beliau, pen). Dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar bersama kalian kecuali karena aku takut shalat jamaah tarawih menjadi fardlu atas kalian.” (HR. Al-Bukhari: 872, 1061, Muslim: 1270, 1271, Abu Dawud: 1166).

Efek Buruk dari Perbuatan Bid’ah

Di antara akibat jelek dari perbuatan bid’ah adalah:

  • Amalan bid’ah akan ditolak oleh Allah. Setiap amal ibadah atau aqidah yang tidak di atas petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah r. Beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengadakan di dalam perkara (syariat) kami sesuatu yang tidak termasuk di dalamnya maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2499, Muslim: 3242, Abu Dawud: 3990, Ibnu Majah: 14). Dalam riwayat lain beliau bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk perkara (syariat) kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim: 3243).

Al-Hafizh As-Suyuthi berkata: “Makna dari kata ‘tertolak’ adalah (amalannya) batal  dan tidak dianggap.” (Ad-Dibaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj: 4/321).

Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata: “Makna hadits adalah bahwa orang yang mengadakan sebuah pendapat di dalam Al-Islam tanpa sandaran dari Al-Quran ataupun As-Sunnah baik dengan sandaran zhahir atapun samar, baik secara eksplisit ataupun implicit (melalui istinbath), maka pendapatnya tertolak. Maksudnya adalah wajib ditolak dan manusia wajib menolaknya serta tidak boleh bagi seseorang untuk mengikutinya dan bertaqlid padanya.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 1/236).

  • Pelaku bid’ah merasa lebih alim dari pada Allah. Dengan perbuatan bid’ahnya seolah-olah ia mengajari dan membuat usulan kepada Allah U. Allah U berfirman:

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Katakanlah: “Apakah kalian akan mengajari Allah tentang agama kalian, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS. Al-Hujurat: 16).

Al-Allamah Al-Walid Abdul Aziz bin Baz menyatakan: “Melafalkan niat (shalat) adalah bid’ah, menjaharkan (mengeraskan suara niat) lebih berat dalam dosanya, dan yang sesuai dengan As-Sunnah adalah meniatkan dalam hati karena Allah U mengetahui yang tersembunyi dan rahasia. Dialah yang menyatakan: “Katakanlah: “Apakah kalian akan mengajari Allah tentang agama kalian, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (Majmu’ Fatawa Ibni Baz: 10/423).

  • Allah enggan menerima taubat dari pelaku bid’ah. Dari Anas t bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ حَجَرَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah.” (HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 9010 (12/54). Al-Haitsami menisbatkan hadits ini kepada Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan berkata: “Para perawinya adalah perawi Ash-Shahih kecuali Harun bin Musa Al-Farwi, ia adalah tsiqat.” Lihat Majma’uz Zawa’id: 10/307. Al-Albani juga men-shahih-kannya dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hadits: 54)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية ؛ لأن المعصية يتاب منها ، وإن البدعة لا يتاب منها

“Perbuatan bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis dari pada perbuatan maksiat, karena perbuatan maksiat masih bisa diterima taubat pelakunya sedangkan perbuatan bid’ah tidak diterima taubat pelakunya.” (Atsar riwayat Ibnu Basyran dalam Amalinya: 708 (2/251), Al-Lalika’I dalam Syarh Ushulil I’tiqad: 208 (1/233))

Yang demikian karena pelaku kebid’ahan merasa di atas kebenaran. Ia menyangka bahwa amalan bid’ahnya bisa mendekatkan diri kepada Allah U. Ini berbeda dengan pelaku maksiat yang merasa berdosa atas perbuatannya. Allah U berfirman:

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik perbuatannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (QS. Fathir: 8).

  • Pelaku bid’ah akan mendapat kehinaan. Allah U berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang mengada-ada.” (QS. Al-A’raf: 152).

Al-Imam Sufyan bin Uyainah –ketika menjelaskan makna “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang mengada-ada”– berkata:

كل صاحب بدعة ذليل

“Setiap pelaku kebid’ahan adalah orang yang hina.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya: 9044 (6/200), Ath-Thabari dalam tafsirnya: 15151 (13/136))

Suatu ketika Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani melihat salah seorang ahli bid’ah maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat kehinaan pada wajahnya.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (QS. Al-A’raf: 152) dan berkata lagi: “Ini adalah balasan bagi setiap orang yang mengada-ada.” (Atsar riwayat Al-Lalika’I dalam Syarh Ushulil I’tiqad: 289 (1/143)).

  • Pelaku bid’ah akan terusir dari telaga Nabi. Dari Abdullah bin Mas’ud t bahwa Rasulullah r bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku mendahului kalian untuk mendatangi telaga. Dan akan diangkat beberapa orang dari kalian bersamaku kemudian mereka terpeleset dari bawahku maka aku berkata: “Wahai Rabb, mereka adalah sahabatku.” Maka dikatakan: “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu.” (HR. Al-Bukhari: 6090, Muslim: 4250, Ibnu Majah: 3048). Dalam riwayat lain:

إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ

“Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ubah-ubah (dari agama ini) setelahmu.” (HR. Al-Bukhari: 6528, Muslim: 367).

Al-Imam An-Nawawi menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr: “Setiap orang yang mengada-adakan (bid’ah) dalam agama ini adalah termasuk orang-orang terusir dari telaga (Nabi r) seperti kelompok Khawarij, Rafidlah dan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang lainnya…” (Syarh An-Nawawi ala Muslim: 3/137).

  • Perkara bid’ah menyebabkan seseorang keluar dari jalan yang lurus menuju jalan-jalan syetan. Allah U berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa ini  adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).

Al-Imam Mujahid (seorang tabiin) –ketika menjelaskan makna “jalan-jalan (yang lain)”– berkata: “Yaitu bid’ah-bid’ah, syubhat-syubhat dan kesesatan.” (Atsar riwayat Adam bin Abi Iyas dan di-shahih-kan oleh Dr. Hikmat Basyir Yasin dalam Ash-Shahihul Masbur: 2/286).

Demikian tulisan ini dan semoga kita dilindungi oleh Allah dari segala perbuatan bid’ah. Amien.

  1. A.J.I
    Februari 18, 2010 pukul 11:27 pm

    banyak sekali bid’ah yang merasuki islam jawa atau disebut islam abangan pernah mempelajarinya saat di SMA dulu

    keren nih infonya,….terimakasih bro

  2. Naruto
    Oktober 8, 2010 pukul 9:58 am
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: