Beranda > Aqidah > Tauhidkanlah Allah, Rabb Semesta Alam, Sesembahan Yang Haq dan Pemilik Nama-nama Yang Indah

Tauhidkanlah Allah, Rabb Semesta Alam, Sesembahan Yang Haq dan Pemilik Nama-nama Yang Indah


Tauhidkanlah  Allah, Rabb Semesta Alam, Sesembahan Yang Haq dan Pemilik Nama-nama Yang Indah

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk mentauhidkan dan mengesakan Rabbnya. Allah U adalah Maha Esa dan Maha Tunggal dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya serta nama-nama dan sifat-Nya.

Tulisan ini dibuat untuk membantah kaum sufi pengikut doktrin ASWAJA (baca: Ahlus sunnah gadungan) yang menganggap bahwa pembagian tauhid menjadi 3 kategori –yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat- adalah bid’ah yang dicetuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H). (Al-Intishar li Ahlil Hadits was Sunnah: 174). Yang pertama kali memunculkan tuduhan dusta ini adalah Abu Hamid Marzuq dalam bukunya “At-Tawassul bin Nabi wa Jahalatul Wahhabiyyin”. Kemudian ucapan orang jahil ini ditaqlidi oleh orang-orang bodoh pengikut doktrin ASWAJA tanpa dicek lagi kebenarannya. (Al-Qaulus Sadid fir Radd ala Man Ankara Taqsimat Tauhid: 36).

Dan yang lebih ironis lagi adalah mereka sendiri jatuh ke dalam kebid’ahan besar yaitu membatasi sifat wajib Allah hanya 20 sifat. Bid’ah ini tidak pernah ada pada masa sahabat Nabi r, para tabiin dan tabiut tabiin. Bahkan Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri telah bertaubat dari bid’ah ini.

Asal Pembagian Tauhid

Ketiga macam tauhid ini (yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat) terkumpul dalam firman Allah U:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” (QS. Maryam: 65)

Kata “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya” menunjukkan tauhid rububiyah.

Kata “maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya” menunjukkan tauhid uluhiyah.

Kata “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” menunjukkan tauhid asma’ wash shifat.

Allah U juga berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir: 65).

Kata “Dialah Yang hidup kekal” menunjukkan tauhid asma’ wash shifat.

Kata “tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya” menunjukkan tauhid uluhiyah.

Kata “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” menunjukkan tauhid rububiyah.

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa tauhid itu ada 3 macam yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat. Metoda pembagian tauhid itu  dengan metoda istiqra’ sebagaimana penjelasan Al-Allamah Asy-Syinqithi. (Al-Qaulus Sadid: 3). Pembagian tersebut seperti pembagian “kalimat” –dalam ilmu nahwu- menjadi 3 macam yaitu isim, fi’il dan kalimat huruf.

Dari Ibnu Abbas t bahwa jika Rasulullah r ditimpa kesusahan maka beliau berdo’a:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Agung lagi Santun. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Rabb arsy yang agung. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Rabb langit dan Rabb arsy yang mulia.” (HR. Al-Bukhari: 5869, 5870, Muslim: 4909).

Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam keadaan susahpun Rasulullah r tetap mentauhidkan Allah U dalam 3 kategori: tauhid rububiyah ditunjukkan oleh sabda beliau “Rabb langit dan Rabb arsy yang mulia”; tauhid uluhiyah ditunjukkan oleh sabda beliau “Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”; tauhid asma’ wash shifat ditunjukkan oleh sabda beliau “yang Maha Agung lagi Santun”.

Demikian pula dalam ucapan para ulama salaf. Mereka membagi tauhid menjadi 3 kategori, baik secara tersurat ataupun tersirat.

Sebagai contoh adalah ucapan Al-Imam Abu Hanifah –sebagaimana nukilan Al-Imam Ath-Thahawi- yang menyatakan:

إن الله واحد لا شريك له ولا شيء مثله ولا شيء يعجزه ولا إله غيره

“Sesungguhnya Allah adalah satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatu yang menyerupainya, tidak ada sesuatu yang melemahkan-Nya, dan tidak ada Ilah (Sesembahan) selain-Nya.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah: 17).

Kata “tidak ada sesuatu yang melemahkan-Nya” menunjukkan tauhid rububiyah.

Kata “tidak ada Ilah (Sesembahan) selain-Nya” menunjukkan tauhid uluhiyah.

Kata “ tidak ada sesuatu yang menyerupainya” menunjukkan tauhid asma’ wash shifat.

Al-Imam Al-Qadli Abu Yusuf (murid Abu Hanifah, wafat 182 H) berkata:

تعلم أن هذه الأشياء لها ربٌّ يقلبها ويبديها ويعيدها وأنك مكون ولك من كونك. وإنما دل الله عز وجل خلقه بخلقه ليعرفوا أنَّ لهم رباً يعبدوه ويطيعوه ويوحدوه، ليعلموا أنه مكونهم، لا هم كانوا، ثم تسمى فقال: أنا الرحمن وأنا الرحيم وأنا الخالق وأنا القادر وأنا المالك، أي: هذا الذي كونكم يسمى المالك القادر الله الرحمن الرحيم بها يوصف

“Ketahuilah bahwa ini semuanya (langit dan bumi beserta isinya) memiliki Rabb yang membolak-balikkannya, memulainya (dalam penciptaan) dan mengembalikannya (ketika hari kiamat). Dan sesungguhnya kamu adalah sesuatu yang diciptakan dan ada yang menciptakanmu. Allah U hanyalah menunjukkan kepada makhluknya tentang penciptaannya agar mereka mengenal bahwa mereka memiliki Rabb yang mereka ibadahi, mereka taati dan mereka esakan agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Pencipta mereka bukan mereka ada dengan sendirinya. Kemudian Ia diberi nama sehingga Allah berfirman: “Akulah Ar-Rahman, Akulah Ar-Rahim, Akulah Sang Pencipta, Akulah Sang Penguasa dan Akulah Raja.” Yakni: “Inilah yang menciptakan kalian dinamai Al-Malik, Al-Qadir, Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang mana dengannya Ia disifati.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah: 1/123).

Kata “memiliki Rabb yang membolak-balikkannya, memulainya (dalam penciptaan) dan mengembalikannya (ketika hari kiamat)” menunjukkan pada tauhid rububiyah.

Kata “memiliki Rabb yang mereka ibadahi, mereka taati dan mereka esakan” menunjukkan pada tauhid uluhiyah.

Kata “dinamai Al-Malik, Al-Qadir, Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim” menunjukkan tauhid asma’ wash shifat.

Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari (wafat 387 H) berkata:

وذلك أنَّ أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء:

أحدها: أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مبايناً لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعاً.

والثاني: أن يعتقد وحدانيته ليكون مبايناً بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره.

والثالث: أن يعتقده موصوفاً بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفاً بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه.

إذ قد علمنا أنَّ كثيراً ممن يقر به ويوحده بالقول المطلق قد يلحد في صفاته فيكون إلحاده في صفاته قادحاً في توحيده.

ولأنَّا نجد الله تعالى قد خاطب عباده بدعائهم إلى اعتقاد كل واحدة من هذه الثلاث والإيمان بها.

“Yang demikian oleh karena pokok-pokok keimanan kepada Allah yang wajib diyakini oleh makhluk dalam menetapkan keimanan kepada-Nya ada 3 perkara:

Pertama: seorang hamba meyakini rububiyah-Nya agar ia terhindar dari madzhab orang atheis yang tidak mau menetapkan adanya pencipta.

Kedua: ia meyakini keesaan-Nya (dalam uluhiyah) sehingga ia terhindar dari madzhab orang-orang musyrik yang mengakui adanya Pencipta akan tetapi tetap berbuat syirik dalam ibadah kepada-Nya.

Ketiga: ia meyakini bahwa Allah disifati dengan sifat-sifat yang mana Allah pasti disifati dengannya seperti sifat ilmu, kuasa, hikmah dan semua sifat yang mana Ia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.

Karena kami telah mengetahui bahwa kebanyakan orang-orang yang mengakui dan mengesakan-Nya secara mutlak kadang-kadang telah menyimpang dalam sifat-sifat-Nya. Sehingga penyimpangannya dalam permasalahan sifat-sifat Allah mencederai tauhidnya.

Dan karena kami menjumpai bahwa Allah U berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan mengajak mereka untuk menyakini ketiga tauhid ini dan mengimaninya.” (Al-Ibanah li Ibni Baththah, manuskrip: 693-694. Lihat Al-Qaulus Sadid ala Man Ankara Taqsimat Tauhid: 32).

Demikianlah Al-Quran, As-Sunnah dan ucapan ulama salaf -secara tersurat dan tersirat– membagi tauhid menjadi 3 kategori yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash shifat.

Penjelasan tentang pembagian ini dapat dilihat dalam kitab Al-Qaulus Sadid ala Man Ankara Taqsimat Tauhid karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad.

Tauhid Rububiyah

Secara bahasa ‘rububiyah’ adalah masdar dari kata rabb. Maka rububiyah merupakan sifat Allah karena diambil dari kata Ar-Rabb.

Secara istilahtauhid rubibiyah” adalah mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya. Termasuk dari rububiyah adalah menciptakan, memberi rejeki, memimpin, memberi nikmat,  menguasai, membentuk rupa makhluk-Nya, memberikan manfaat dan madlarat dan lain sebagainya. (Ushulul Iman fi Dlauil Kitab was Sunnah: 15).

Di antara dalil atas rububiyah Allah U adalah firman-Nya:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54).

Juga firman Allah U:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5).

Juga firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan atas rububiyah Allah U adalah sangat banyak.

Orang-orang yang mengingkari rububiyah Allah adalah orang-orang atheis atau aliran Dahriyah atau paham materialistik yang menyatakan bahwa alam raya ini ada dengan sendirinya tanpa adanya pencipta seperti Darwin, Karl Max dan lain sebagainya. Allah U berfirman tentang mereka:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Dan di antara orang-orang yang jatuh pada syirik dalam rububiyah adalah sebagian pengikut thariqat sufiyah yang memiliki keyakinan bahwa para wali-wali ghauts atau wali qutub atau abdal memiliki kemampuan untuk menolong mereka dari kesusahan dan kesulitan. Sehingga ketika sebagian mereka ditimpa kesulitan maka mereka berkata: “Wahai Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tolonglah aku!” Ini adalah termasuk syirik akbar. Allah U berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am: 17).

Allah U berfirman:

قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah wali-walimu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38).

Orang yang telah bertauhid dalam rububiyah belum cukup untuk menyelamatkannya dari api neraka karena orang-orang kafir Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab cs  telah mentauhidkan Allah U dalam rububiyah akan tetapi mereka tetap dianggap kafir karena belum mentauhidkan Allah dalam uluhiyah atau ibadah. Allah U berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Luqman: 25).

Allah U juga berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?” (QS. Az-Zuhruf: 87).

Tauhid Uluhiyah

Makna tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah U dalam ibadah –ini selain mengesakan-Nya dalam penciptaan, pengaturan alam dan sebagainya- akan tetapi mentauhidkan-Nya dalam ibadah. Seseorang tidaklah beribadah kecuali hanya kepada-Nya, tidaklah mengerjakan shalat, menyembelih kurban, berdo’a, bernadzar, berhaji, berumrah dan lain sebagainya kecuali hanya untuk Allah U. Ia beribadah hanya mengharap wajah Allah U. Demikian penjelasan Asy-Syaikh Shalih Fauzan. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid: 1/20).

Para rasul u diutus oleh Allah U untuk mengajak umat mereka mentauhidkan-Nya dalam uluhiyah. Allah U berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl: 36).

Allah U juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al-Anbiya’: 25).

Dan tauhid uluhiyah merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah. Artinya bahwa ketika seorang manusia telah mengesakan Allah U dalam penciptaan alam raya dan pembagian rejeki maka wajib baginya untuk mengesakan-Nya dalam ibadah. Allah U berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ () الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22).

Dan tauhid uluhiyah inilah yang menjadi alasan permusuhan antara para rasul u dengan orang-orang kafir dari kaumnya. Permusuhan antara Nabi Nuh u dengan kaumnya yang menjadikan orang-orang shalih yang telah mati seperti Wadd, Yaghuts dan lain-lain sebagai perantara dalam ibadah kepada Allah U. Allah U berfirman:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan  Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.” (QS. Nuh: 23).

Permusuhan antara Nabi Ilyas u dengan kaumnya yang menyembah Ba’al (nama orang shalih yang dikeramatkan). Allah U berfirman:

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ () إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ () أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ () اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian tidak bertakwa? Patutkah kalian menyembah Ba’al dan kalian tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhan kalian dan Tuhan bapak-bapak kalian  yang terdahulu?” (QS. Ash-Shaffat: 123-126).

Permusuhan antara Rasulullah r dengan orang-orang kafir Quraisy yang menjadikan Latta, Uzza, Manata dan lain-lain –nama-nama orang shalih yang sudah mati kemudian dijadikan berhala- sebagai perantara dalam ibadah. Allah U berfirman:

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ () أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 4-5).

Dan juga permusuhan antara dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan kaum quburiyyun (pengkeramat kuburan) yang mengkeramatkan orang-orang shalih dan wali-wali yang sudah mati.

Tauhid Asma’ wash Shifat

Makna tauhid asma’ wash shifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah U tetapkan untuk diri-Nya dan  yang ditetapkan oleh Rasulullah r untuk-Nya serta meniadakan nama-nama dan sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah U dari diri-Nya dan yang ditiadakan oleh Rasulullah r dari diri-Nya, serta meyakini makna dari nama-nama dan sifat-Nya, meyakini penunjukannya, pengaruhnya serta konsekuensinya pada makhluk. (Ushulul Iman fi Dlauil Kitab was Sunnah: 98).

Kaidah mentauhidkan Allah U dalam asma’ wash shifat –sebagaimana penjelasan Al-Allamah Asy-Syinqithi dalam Ayat Al-Asma’ wash Shifat halaman: 44- adalah:

Pertama: Sucikan Allah U dari penyerupaan dengan makhluk-makhluk-Nya. Allah U berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Allah U juga berfirman:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu mengadakan permisalan-permisalan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 74).

Semua sifat Allah U yang ditetapkan dalam Al-Quran ataupun As-Sunnah adalah sifat-sifat yang sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya dan tidak menyerupai sifat-sifat makhluk-Nya sedikitpun. Sebagai contoh adalah sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’. Allah U berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).

Manusia juga memiliki sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’. Allah U berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2).

Akan tetapi sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ milik Allah U adalah tidak sama sedikitpun dengan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ milik manusia.

Begitu pula dengan sifat-sifat Allah U yang lainnya –seperti: ilmu, hikmah, kedua tangan Allah, bersemayam-Nya di atas Arsy, turun-Nya ke langit dunia pada akhir malam dan sebagainya- tidak ada yang serupa sedikitpun dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Kedua: Imanilah dan tetapkan segala sifat dan nama-nama Allah U yang ditetapkan dalam Al-Quran dan hadits-hadits yang shahih beserta maknanya dan tidak berusaha untuk menolaknya (baik secara langsung ataupun dengan menafsiri dengan makna lain).

Al-Imam Al-Auza’i (wafat 157 H) berkata:

كنا والتابعون متوافرون نقول : إِن اللَّه سبحانه على عرشه ونؤمن بما ورد في السنة من الصفات

“Kami dalam keadaan para tabi’in masih banyak, berpendapat: “Sesungguhnya Allah U di atas arsy-Nya dan kami beriman terhadap sifat-sifat Allah yang diterangkan oleh As-Sunnah.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash Shifat: 834 (2/408), Ushulul Iman: 43).

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

نثبت هذه الصفات التي جاء بها القرآن ووردت بها السنة، وننفي التشبيه عنه كما نفي عن نفسه، فقال: (ليس كمثله شئ)

“Kami menetapkan sifat-sifat ini yang mana Al-Quran dan As-Sunnah datang menerangkannya. Dan kami meniadakan penyerupaan dari-Nya (terhadap makhluk-Nya) sebagaimana Dia meniadakan dari diri-Nya (atas penyerupaan dengan makhluk-Nya). Allah berfirman: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 20/341).

Ahmad bin Nashr bertanya kepada Al-Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) tentang hadits “Sesungguhnya Allah menahan langit dengan satu jari.” (HR. Al-Bukhari: 6865), hadits “Sesungguhnya hati-hati hamba ada di antara 2 jari dari jemari Ar-Rahman.” (HR. Muslim: 2654), dan hadits “Sesungguhnya Allah sangat kagum atau tertawa terhadap Fulan dan Fulanah.” (HR. Al-Bukhari: 4510)?” Maka beliau menjawab:

هي كما جاءت نقر بها ونحدث بها بلا كيف

“Sifat-sifat tersebut kita tetapkan sebagaimana datangnya dan kami menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat tersebut tanpa membahas tata caranya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 8/467).

Dan di antara ucapan Al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (wafat 324 H) adalah:

ونصدق بجميع الروايات التي يثبتها أهل النقل عن النزول إلى سماء الدنيا وأن الرب عز و جل يقول : ( هل من سائل هل من مستغفر ) وسائر ما نقلوه و أثبتوه خلافا لما قاله أهل الزيغ والتضليل

“Dan kami membenarkan semua riwayat yang dishahihkan oleh Ahlul Hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia dan Dia berkata: “Siapa yang meminta kepada-Ku?” (maka akan Aku kabulkan), “Siapa yang meminta ampun kepada-Ku?” (maka akan Aku ampuni) dan juga riwayat-riwayat lainnya yang diriwayatkan dan dishahihkan oleh Ahlul Hadits (seperti: kedua tangan Allah, jari-jari tangan-Nya, tertawa-Nya dan sebagainya, pen) dalam rangka menyelisihi pendapat orang-orang yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ibanah an Ushulid Diyanah: 20).

Ketiga: Putuskanlah harapanmu dari berusaha mengetahui hakikat dan kaifiyat (tata cara) sifat dan nama-nama Allah U tersebut.

Allah U berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaha: 110).

Kata “tidak dapat meliputi” adalah fi’il mudlari’ yang menunjukkan waktu dan mashdar. Waktu yang ditunjukkan adalah waktu sekarang dan yang akan datang. Sedangkan mashdarnya adalah Al-Ihathah yaitu meliputi. Artinya segala sifat yang Allah U beritakan kepada kita, maka pengetahuan tentang kaifiyat (tata cara) dan hakikatnya tidak akan dapat kita ketahui kecuali atas kehendak Allah U. Allah U berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255).

Al-Imam Malik bin Anas –ketika ditanya tentang bersemayamnya Allah U di atas arsy- berkata:

الاستواء معلوم ، والكيف مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة

“Bersemayamnya Allah U di atas arsy adalah sesuatu yang diketahui. Kaifiyat (tata cara nya) adalah tidak diketahui. Mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.” (I’tiqadu Ahlis Sunnah Syarh Ash-habil Hadits: 22).

Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:

قد سئلنا أتقولون إن لله يدين ؟

قيل : نقول ذلك بلا كيف وقد دل عليه قوله تعالى : (يد الله فوق أيديهم) وقوله تعالى : (لما خلقت بيدي)

“Kami pernah ditanya: “Apakah kalian berpendapat bahwa Allah memiliki 2 tangan?”

Maka jawabannya: “Kami berpendapat seperti itu tanpa membahas kaifiyat (tata caranya) dan ini telah ditunjukkan oleh firman AllahU: “Tangan Allah ada di atas tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10) dan firman-Nya: “Terhadap sesuatu yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shad: 75). (Al-Ibanah an Ushulid Diyanah: 125).

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi (wafat 388 H) –ketika menjelaskan hadits tentang turunnya Allah U- berkata:

هذا الحديث وما أشبهه من الأحاديث في الصفات كان مذهب السلف فيها الإيمان بها ، وإجراءها على ظاهرها ونفي الكيفية عنها

“Hadits ini dan semisalnya dari hadits-hadits tentang sifat Allah maka madzhab Salaf dalam permasalahan ini adalah mengimaninya dan menjalankan atas zhahirnya serta meniadakan kaifiyat (tata caranya).” (riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash Shifat: 905 (2/486)).

Demikian kaidah Salaf dalam Tauhid asma’ wash shifat.

Termasuk contoh nama-nama Allah U yang indah adalah yang tercantum dalam firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ () هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ () هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 22-24).

Dan jumlah nama Allah U  tidak dapat dibatasi oleh bilangan namun hanya Allah saja yang mengetahui jumlah nama-nama-Nya. Di antara isi do’a Rasulullah r adalah:

أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك

“Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama milik-Mu yang mana Engkau menamai diri-Mu dengannya, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau nama yang mana Engkau sendiri yang mengetahuinya dalam ilmu gaib di sisi-Mu…” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabrani dan Al-Bazzar dari Ibnu Mas’ud t. Al-Haitsami berkata: “Perawi Ahmad dan Abu Ya’la adalah perawi Ash-Shahih kecuali Abu Salmah Al-Juhani, ia ditsiqatkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Majma’uz Zawaid: 10/299 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah nomer: 199).

Di antara orang-orang yang menyimpang dalam tauhid asma’ wash shifat adalah sekte Jahmiyah. Mereka adalah kelompok sesat yang menolak sifat Allah U dan mengosongkan nama-nama Allah U dari maknanya. Mereka menyatakan bahwa nama-nama Allah itu tidak ada artinya. Jika dikatakan ada ayat: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Maka mereka menyatakan bahwa Allah tidak memiliki pendengaran dan tidak juga pengelihatan. (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad: 137). Bahkan di antara mereka ada yang menolak seluruh nama dan sifat Allah U dan hanya menetapkan sifat wujud saja. (Ithafus Sa’il bima fith Thahawiyah minal Masail: 41/14). Dan banyak ulama salaf yang mengkafirkan sekte Jahmiyah. (Ashlus Sunnah wa I’tiqaduddin sebagaimana dinukil oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah: 1/178). Yang demikian karena ucapan mereka adalah seperti ucapan orang atheis yang tidak mempercayai adanya Allah.

Adapun sekte Mu’tazilah maka mereka menolak semua sifat Allah U kecuali 3 sifat dan menta’wil selain 3 sifat tersebut. Adapun sekte Kullabiyah maka mereka hanya menetapkan 7 sifat Allah U yang mereka istilahkan sifat salbiyah kemudian ditambah lagi  oleh sekte Asy’ariyah (pemahaman yang dianut oleh doktrin ala ASWAJA, pen) dengan 13 sifat lagi sehingga menjadi 20 sifat dan mereka menta’wilkan selainnya. (Lihat secara panjang lebar penjelasan ini dalam Ithafus Sa’il bima fith Thahawiyah minal Masail: 43/3).

Sehingga ketika orang-orang yang mengikuti doktrin ASWAJA ini menghadapi ayat ataupun hadits tentang wajah Allah, kedua tangan-Nya, turun-Nya ke langit dunia dan telapak kaki-Nya maka mereka akan berusaha menta’wilkan hadits tersebut dengan makna yang tidak sesuai dengan zhahirnya. (Ta’liqat Asy-Syaikh Barrak: 23). Tangan Allah U mereka ta’wilkan dengan kekuasaan-Nya, turun-Nya mereka ta’wilkan dengan turunnya rahmat-Nya, bersemayam-Nya di arsy mereka ta’wilkan dengan menguasai arsy.

Perbuatan mereka menta’wilkan ayat dan hadits dengan makna yang tidak sesuai dengan makna zhahirnya adalah menyerupai perbuatan Ahlul Kitab yang men-tahrif ayat-ayat Allah U. Allah berfirman:

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka men-tahrif (mengubahnya) setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. Al-Baqarah: 75).

Al-Imam Al-Bukhari berkata:

{ يُحَرِّفُونَ } يُزِيلُونَ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُزِيلُ لَفْظَ كِتَابٍ مِنْ كُتُبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنَّهُمْ يُحَرِّفُونَهُ يَتَأَوَّلُونَهُ عَلَى غَيْرِ تَأْوِيلِهِ

“Makna ‘men-tahrif’ adalah menghilangkan. Dan tidak ada seseorang pun yang menghilangkan suatu lafazh kitab dari kitab-kitab Allah U. Akan tetapi mereka men-tahrifnya yaitu menta’wilkannya dengan sesuatu yang bukan ta’wilnya.” (Shahihul Bukhari: Kitabut Tauhid Bab Qaulillah “Bal Huwa Qur’anun Majiid”).

Kenapa mereka menta’wilkannya?

Karena mereka mempunyai zhann (dugaan) bahwa menetapkan sifat tangan, wajah, bersemayam bagi Allah memiliki konsekuensi menyerupakan Allah U dengan makhluk-Nya. Ini adalah persangkaan yang tidak ada dasarnya. Allah U berfirman:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm: 23).

Padahal telah datang petunjuk Allah U bagi mereka bahwa semua sifat Allah U yang tercantum dalam Al-Quran dan As-Sunnah tidak ada satupun yang serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Allah U berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Dan sudah diketahui bahwa Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri sudah bertaubat dan ruju’ dari pemikiran sekte Asy’ariyah ini dan kembali kepada pemahaman Salaf. Ini ditunjukkan oleh tulisan beliau yang terakhir yaitu ‘Al-Ibanah an Ushulid Diyanah’.

Penutup

Seseorang Salafi Ahlus Sunnah wal Jamaah haruslah mentauhidkan Allah U dalam rububiyah, uluhiyah dan asma’ wah shifat.

Semoga Allah U tetap menjadikan kita ber-istiqamah di atas jalan Salafus Shalih. Amien. Wallahu a’lam.

  1. Imam Hanafi
    Agustus 18, 2014 pukul 2:45 pm

    Bismillah. Mohon ijin copas untuk dibaca dan dipelajari secara offline. Jazakalloh…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: