Beranda > Manhaj > Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin

Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin


Berlebaran bersama Pemerintah, Syiar Persatuan Kaum Muslimin

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Setiap kali memasuki bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah, kita selalu dihantui dengan kegelisahan dan keresahan dengan perbedaan puasa dan lebaran. Ini disebabkan karena sebagian masyarakat merasa tidak puas dengan penentuan dan isbat hari raya yang dilakukan oleh Pemerintah.

Ijtihad Penguasa

Mereka yang berpuasa dan berlebaran dengan keadaan menyelisihi pemerintah dan mayoritas masyarakat rata-rata berdalilkan bahwa masing-masing kaum muslimin yang sudah memiliki ilmu Ad-Dien yang cukup matang diperbolehkan untuk melakukan ijtihad meskipun harus berbeda dengan ijtihad penguasa.

Akan tetapi yang patut disayangkan adalah mereka juga masih belum mengerti tentang wilayah ijtihad.  Mana  yang menjadi hak ijtihad pemerintah dan negara, dan mana yang menjadi  hak ijtihad individu atau golongan.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri (ulama generasi tabi’in) menjelaskan hak-hak ijtihad pemerintah:

هم يلون من أمورنا خمسا الجمعة والجماعة والعيد والثغور والحدود والله ما يستقيم الدين إلا بهم وإن جاروا أو ظلموا

“Mereka mengurusi dari urusan kita 5 perkara: shalat Jum’at, shalat jamaah, hari raya, perbatasan negara, dan hukum hadd. Demi Allah! Agama ini tidak akan tegak kecuali dengan mereka walaupun mereka itu melampaui batas atau berbuat zalim.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 262).

Al-Allamah Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata:

ولذا أدار الفقهاء حكم ثبوت الهلال على قضاء القاضي ، وأما ما يذكر في كتب الفقه من أن القضاء لا يجري إلا في المعاملات ولا يدخل في العبادات فأقول : لا أجده كلية فإنا نجد قضاء القاضي دخيلة في العبادات فإن الجمعة والعيدين والكسوف موكولة إلى الإمام ، وأما الصلاة الخمسة فكان نصب الإمام في السلف من جانب أمير المؤمنين والخليفة، وفي الزكاة أن الإمام جبر الناس على أن يرفعوا الزكاة إلى بيت المال، وأما في الحج فكان أمير الموسم مقتدى الناس، وكذلك الصيام موكول إلى رأي القاضي فإنه إن حكم القاضي بالصوم على رؤية رجل يوم الغيم يجب الصوم، الخ

“Oleh karena itu para fuqaha’ mengkaitkan hukum tetapnya Hilal berdasarkan keputusan (baca: ijtihad) seorang qadhi (hakim negara). Adapun yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih bahwa keputusan qadhi hanyalah berlaku dalam urusan Mu’amalah dan tidak berlaku dalam urusan Ibadah, maka saya katakan: “Tidak semuanya demikian. Kami mendapati keputusan qadhi bisa berlaku dalam urusan Ibadah. Maka perkara Jum’at, 2 hari raya dan shalat gerhana diserahkan pada ijtihad penguasa. Adapun shalat 5 waktu, maka penetapan imam rawatib pada masa As-Salaf adalah berdasar ijtihad Amirul Mukminin dan para khalifah. Dalam urusan zakat, penguasa berhak memaksa rakyatnya untuk menyerahkan zakat mereka ke baitul mal. Adapun dalam urusan haji, maka Amirul Hajj menjadi panutan manusia. Demikian pula, urusan puasa diserahkan kepada ijtihad qadhi. Sehingga ketika qadhi menetapkan berlakunya puasa berdasarkan rukyat seseorang pada hari mendung maka wajiblah berpuasa (bagi masyarakatnya, pen)…dst.” (Al-Urfusy Syadzi: 2/225).

Maka ucapan sebagian tokoh masyarakat bahwa pemerintah tidak usah mengatur urusan puasa, lebaran dan kurban dsb adalah ucapan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Penetapan  Hari Raya adalah Ijitihad Penguasa bukan Ijtihad Individu atau Golongan

Tentang hak pemerintah untuk menentukan hari raya dalam rangka menyatukan umatnya, Rasulullah r bersabda:

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

“Hari Idul Fitri adalah pada hari orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul Adlha adalah pada hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 731 dari Aisyah RA, beliau berkata: hadits shahih gharib. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Munawi dalam At-Taisir: 2/351. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4287).

Rasulullah SAW juga bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa adalah pada hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah pada hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah pada hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 633, Ibnu Majah: 1650 dari Abu Hurairah RA dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 224)

Al-Imam At-Tirmidzi berkata:

وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس

“Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin) dan mayoritas manusia.” (Tuhfatul Ahwadzi: 2/235).

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:

أي الفطر هو اليوم الذي يجمعون على الفطر فيه ، هبه صادف الصحة أو لا ويوم الأضحى هو الذي يجمعون على التضحية فيه

“Maksudnya bahwa Idul Fitri adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk berbuka padanya, baik dengan ijtihad yang benar maupun ijtihad yang salah. Dan Idul Adha adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk menyembelih kurban padanya.” (Faidlul Qadir: 4/608).

Al-Allamah Al-Amir Ash-Shan’ani berkata:

فيه دليل على أنه يعتبر في ثبوت العيد الموافقة للناس وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa yang dianggap dalam penetapan hari raya adalah kesesuaiannya dengan masyarakat banyak. Dan orang yang bersendirian dalam mengetahui hari raya wajib untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat banyak. Wajib baginya melaksanakan hukum yang berlaku dalam masyarakat tentang shalat (ied), lebaran dan kurban.” (Subulus Salam: 3/432).

Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi Al-Hindi berkata:

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ

“Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. Dan dengan dasar ini jika ada seseorang melihat hilal sendirian dan kemudian penguasa menolak persaksiannya maka seyogyanya ia tidak meng-itsbat (menetapkan puasa atau lebaran) untuk dirinya. Tetapi wajib baginya untuk mengikuti masyarakat dan pemerintahnya dalam perkara tersebut.” (Hasyiyah Ibni Majah As-Sindi:3/431).

Teladan dari Generasi As-Salaf

Keteladanan mereka telah mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah r. Beliau bersabda:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (Sahabat), kemudian generasi setelahnya (Tabi’in), kemudian generasi setelahnya (Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Al-Bukhari: 3377, Muslim: 4003, At-Tirmidzi: 2147, An-Nasa’i: 3749 dari Imran bin Hushain t).

Mereka adalah teladan kita dalam menjaga kekompakan dan kebersamaan lebaran dan puasa bersama pemerintah.

Contoh pertama: Teladan dari Khalifah Umar bin Al-Khaththab t. Al-Imam Abu Qilabah (seorang ulama tabi’in) bercerita:

أن رجلين رأيا الهلال، وهما بطريق مكة، فتعجلا، فقدما المدينة، فإذا الناس صيام، فأتيا عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، فأخبراه أنهما قد رأيا الهلال، فقال لأحدهما: « أصائم أنت أم مفطر؟ »، فقال: مفطر، قال: «وما حملك على ذلك ؟» ، قال : إني لم أكن لأصوم وقد رأيت الهلال ، فسأل الآخر فقال : أنا صائم ، قال : « ولم ؟ » ، قال: رأيت الناس صياما، فلم أكن لأخالف عليهم ، فقال عمر: «لولا هذا لأوجعت لك رأسك»، ثم أمر الناس، فخرجوا بعدما ارتفع الضحى

“Bahwa ada 2 orang telah melihat hilal (Syawwal). Keduanya melalui jalan Makkah kemudian bercepat-cepat menuju Madinah. Sesampainya di Madinah keduanya menjumpai manusia sedang berpuasa. Maka keduanya mendatangi Khalifah Umar bin Al-Khaththab t dan melaporkan kepada beliau bahwa keduanya telah melihat hilal Syawwal. Maka beliau bertanya kepada salah seorang pelapor: “Kamu berpuasa ataukah berbuka (berlebaran)?” Ia menjawab: “Saya berbuka.” Beliau bertanya lagi: “Apakah alasanmu atas demikian?” Ia menjawab: “Saya tidaklah berpuasa dalam keadaan sudah melihat hilal Syawwal.” Kemudian beliau bertanya kepada pelapor yang lain dengan pertanyaan yang sama maka si pelapor menjawab: “Saya masih berpuasa dan aku tidak akan menyelisihi manusia yang sedang berpuasa.” Maka Umar berkata kepada pelapor yang sudah berbuka: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal Syawwal maka kepalamu akan aku keplaki (baca: pukuli).” Maka beliau memerintahkan kaum muslimin agar membatalkan puasa mereka. Maka mereka keluar menuju shalat ied setelah matahari dzuha meninggi.” (Atsar riwayat Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 7338, Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar: 2319, isnadnya shahih hanya saja Abu Qilabah tidak pernah bertemu Umar).

Bahkan Umar berbicara dengan tegas kepada rakyatnya:

لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا مِنْ شَعْبَانَ، أَوْ يُفْطِرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ، فإِنْ تَقَدَّمَ قَبْلَ النَّاسِ، فَلْيُفْطِرْ إذَا أَفْطَرَ النَّاسُ.

“Hendaknya salah seorang di antara kalian merasa takut untuk berpuasa sehari dari bulan Sya’ban atau berbuka sehari dari bulan Ramadlan! Kalau ia mendahului (melihat hilal Syawal) sebelum manusia maka hendaknya ia berlebaran ketika manusia berlebaran!” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Musnadnya: 9600 (3/73) dan isnadnya adalah shahih. Lihat tahqiq kitab Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 30).

Contoh kedua: Teladan dari Aisyah t. Al-Imam Masruq (ulama tabi’in) bercerita:

دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَقَالَتِ اسْقُوا مَسْرُوقًا سَوِيقًا وَأَكْثِرُوا حَلْوَاهُ. قَالَ فَقُلْتُ : إِنِّى لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَصُومَ الْيَوْمَ إِلاَّ أَنِّى خِفْتُ أَنْ يَكُونَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ : النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

“Aku memasuki rumah Ibunda Aisyah t (istri Rasulullah r) pada hari Arafah. Aisyah berkata (kepada pelayannya): “Berilah Masruq minuman As-Sawiq (sejenis bubur gandum) dan perbanyak manisannya!” Masruq berkata: “Tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini kecuali aku khawatir bahwa hari ini adalah hari Iedul Adha.” Maka Aisyah berkata: “Hari Iedul Adha adalah pada hari yang mana masyarakat menyembelih kurban dan hari Iedul Fitri adalah pada hari yang mana masyarakat berbuka.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 8468 (4/525) dan Abu Yusuf dalam Al-Atsar: 809 (2/339). Isnadnya di-jayyid-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 224).

Kekhawatiran Masruq ditolak oleh Ibunda Aisyah karena ia menyelisihi masyarakat Madinah yang sedang berpuasa Arafah.

Contoh ketiga: Teladan dari Anas bin Malik t Pelayan Rasulullah r. Yahya bin Abi Ishaq bercerita:

رأيت هلال الفطر إما عند الظهر أو قريبا منها، فأفطر ناس من الناس، فأتينا أنس بن مالك، فأخبرناه برؤية الهلال وبإفطار من أفطر من الناس فقال: هذا اليوم يكمل لي أحد وثلاثين يوما وذاك أن الحكم بن أيوب أرسل إلي قبل صيام الناس: إني صائم غدا، فكرهت الخلاف عليه فصمت، وأنا متم يومي هذا إلى الليل

“Aku melihat hilal Idul Fitri pada waktu dhuhur atau mendekatinya. Maka sebagian orang membatalkan puasanya. Kemudian kami mendatangi Anas bin Malik t (sahabat Nabi r) dan mengabarkan kepadanya tentang terlihatnya hilal Syawwal dan berbukanya sebagian orang. Maka beliau berkata: “Pada hari ini saya telah sempurna berpuasa 31 hari. Ini karena Al-Hakam bin Ayyub Ats-Tsaqafi (Gubernur Bashrah) telah berkirim surat kepadaku sebelum manusia berpuasa bahwa beliau berpuasa (duluan, pen) besok hari. Maka aku tidak suka menyelisihinya sehingga aku tetap berpuasa. Dan aku tetap menyempurnakan puasa hari ini (hari ke-31) sampai nanti malam.” (Atsar riwayat Abu Bakar Asy-Syafi’i dalam Al-Ghailaniyyat: 187 (1/190), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 9542 (3/65) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 5/15).

Al-Imam Ibnu Qudamah menyikapi perbuatan Umar dan Aisyah y di atas dalam ucapannya:

وَلَمْ يُعْرَفْ لَهُمَا مُخَالِفٌ فِي عَصْرِهِمَا، فَكَانَ إجْمَاعًا

“Dan tidak diketahui ada sahabat Nabi yang menyelisihi pendapat beliau berdua di masa keduanya (generasi Sahabat) maka jadilah ini sebuah ijma’ (shahabat).” (Al-Mughni: 6/171).

Itulah teladan dari para Shahabat Nabi r dan diikuti oleh generasi Tabi’in. Di antara para tabi’in yang mencontoh mereka adalah Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i. Abul Aizar berkata:

أَتَيْتُ إبْرَاهِيمَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ، فَقَالَ: لَعَلَّك صَائِمٌ، لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ الْجَمَاعَةِ.

“Aku mendatangi Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i pada hari Syakk (tanggal 30 Sya’ban).” Maka beliau berkata: “Mungkin kamu sedang berpuasa. Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama Al-Jamaah (kaum muslimin dan pemerintahnya, pen).” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9591 (3/72)).

Begitu pula Al-Imam Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi juga berkata:

لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ جَمَاعَةِ النَّاسِ

“Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama masyarakat.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9588 (3/71)).

Beliau juga berkata:

لاَ تَصُومَنَّ إِلاَّ مَعَ الإِمَامِ ، فَإِنَّمَا كَانَتْ أَوَّلُ الْفُرْقَةِ فِي مِثْلِ هَذَا.

“Janganlah berpuasa kecuali bersama pemerintah! Karena awal perpecahan adalah di dalam perkara seperti ini.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9588 (3/72)).

Demikianlah beberapa contoh dari As-Salaf yang mengharuskan kita berpuasa dan berlebaran sesuai dengan penetapan pemerintah dan masyarakatnya.

Atas dasar inilah Al-Imam Ahmad bin Hanbal membuat kaidah umum dengan pernyataannya:

أَنَّ النَّاسَ تَبَعٌ لِلْإِمَامِ، فَإِنْ صَامَ صَامُوا، وَإِنْ أَفْطَرَ أَفْطَرُوا.

“Sesungguhnya masyarakat itu mengikuti pemerintah. Jika pemerintah berpuasa maka mereka ikut berpuasa dan jika mereka berlebaran maka mereka pun ikut berlebaran.” (Al-Mughni: 6/37).

Siapakah Waliyyul Amr itu?

Waliyyul Amr yang berhak ditaati dan menetapkan hari raya dan puasa adalah waliyyul amr yang maujud, yang nyata, yang dikenal, yang memiliki kekuasaan (seperti perangkat kekuasaan dan aparatnya, pen) dan kekuatan untuk mengurusi kemaslahatan rakyatnya.

Allah U berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59).

Rasulullah r bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barangsiapa menaatiku maka ia telah menaati Allah. Barangsiapa berbuat durhaka kepadaku maka ia telah berbuat durhaka kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin maka ia telah menaatiku dan barangsiapa berbuat durhaka kepada pemimpin maka ia telah berbuat durhaka kepadaku.” (HR. Al-Bukhari: 2737, Muslim: 3417 dari Abu Hurairah t).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بطاعة الأئمة الموجودين المعلومين الذين لهم سلطان يقدرون به على سياسة الناس لا بطاعة معدوم ولا مجهول ولا من ليس له سلطان ولا قدرة على شيء أصلا

“Sesungguhnya Nabi r memerintahkan untuk menaati para pemerintah atau pemimpin yang nyata, yang dikenal, yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur kemaslahatan manusia. Nabi r tidaklah memerintahkan untuk menaati pemimpin yang tidak nyata, atau tidak dikenal dan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan sedikit pun.” (Minhajus Sunnah: 1/61).

Yang dimaksud pemimpin yang nyata adalah Pemerintah Republik Indonesia ini yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengatur kemaslahatan rakyatnya. Sedangkan pemimpin yang tidak nyata seperti pemimpin gerakan bawah tanah semisal NII dan JI, pemimpin ormas Islam, pemimpin gerakan dakwah seperti HTI, pemimpin parpol, guru atau mursyid thareqat, kyai dan pemimpin abstrak lainnya. Maka yang kedua ini tidak boleh menetapkan hari lebaran, puasa dan sebagainya.

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdus Salam Barjis berkata: “Argumentasi pendapat ini adalah bahwa tujuan kepemimpinan yang dibawa oleh syariat ini –yang berupa keadilan di antara manusia, menampakkan syiar-syiar Allah (puasa, hari raya, haji dan jihad) , menegakkan hukum hadd bagi para pelanggar pidana dan sebagainya- tidak akan tegak dengan pemimpin yang tidak nyata (abstrak) atau yang tidak dikenal.

Yang dapat menegakkannya hanyalah pemimpin yang nyata, yang diakui, baik oleh ulama mereka, ataupun orang awam mereka, diakui oleh pemuda ataupun  orang tua mereka, diakui oleh laki-laki ataupun wanita mereka, pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk melaksanakan tujuan kepemimpinan….dst.” (Mu’amalatul Hukkam fi Dlau’il Kitab was Sunnah: 39).

Hari Raya yang Diakui oleh Syariat

Ketika muncul beberapa kelompok kecil masyarakat yang merayakan lebaran dengan hari yang berbeda dengan hari lebaran mayoritas masyarakat dan pemerintah dalam lingkup suatu negara, seringkali timbul pertanyaan; hari lebaran manakah yang diakui oleh syariat ini? Hari lebaran versi pemerintah dan mayoritas masyarakat ataukah lebaran versi sebagian ormas atau kelompok kecil masyarakat lainnya?

Jawabannya adalah bahwa hari lebaran versi pemerintah dan mayoritas masyarakat inilah yang diakui oleh syariat, dengan alasan:

Pertama: Sabda Rasulullah r sebagaimana dalam khutbah Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t:

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْيَوْمُ الْآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

“Ini adalah 2 hari yang dilarang oleh Rasulullah r untuk berpuasa pada keduanya. Pertama; adalah hari berbukanya kalian dari puasa kalian, Hari yang lainnya; adalah hari dimana kalian memakan sebagian daging kurban kalian.” (HR. Al-Bukhari: 1854, Muslim: 1920).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ هُوَ الْيَوْمَ الَّذِي يُفْطِرُهُ الْمُسْلِمُونَ وَيَنْسُكُ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ. وَهَذَا يَظْهَرُ بِالْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ فَإِنَّهُ لَوْ انْفَرَدَ بِرُؤْيَةِ ذِي الْحِجَّةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَقِفَ قَبْلَ النَّاسِ فِي الْيَوْمِ الَّذِي هُوَ فِي الظَّاهِرِ الثَّامِنُ وَإِنْ كَانَ بِحَسَبِ رُؤْيَتِهِ هُوَ التَّاسِعَ

“Maka hari yang dilarang oleh Rasulullah r untuk berpuasa padanya adalah hari yang mana kaum muslimin berbuka padanya dan hari yang mana kaum muslimin berkurban padanya. Dan ini menjadi jelas dengan permasalahan yang kedua. Maka jika ada seseorang berhasil melihat hilal Dzulhijjah sendirian, maka tidak diperbolehkan baginya untuk melakukan wukuf sendirian sebelum manusia yang lainnya pada hari yang secara dhahir (nyata) adalah tanggal 8 Dzulhijjah meskipun menurut rukyatnya itu adalah 9 Dzulhijjah.” (Majmu’ul Fatawa: 25/205).

Kedua: Merujuk pengertian kata ‘Hilal’ dan ‘Syahr’ (bulan hijriyah) secara bahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَالْهِلَالُ اسْمٌ لِمَا يُسْتَهَلُّ بِهِ : أَيْ يُعْلَنُ بِهِ وَيُجْهَرُ بِهِ فَإِذَا طَلَعَ فِي السَّمَاءِ وَلَمْ يَعْرِفْهُ النَّاسُ وَيَسْتَهِلُّوا لَمْ يَكُنْ هِلَالًا . وَكَذَا الشَّهْرُ مَأْخُوذٌ مِنْ الشُّهْرَةِ فَإِنْ لَمْ يَشْتَهِرْ بَيْنَ النَّاسِ لَمْ يَكُنْ الشَّهْرُ قَدْ دَخَلَ وَإِنَّمَا يَغْلَطُ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ؟ لِظَنِّهِمْ أَنَّهُ إذَا طَلَعَ فِي السَّمَاءِ كَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةُ أَوَّلَ الشَّهْرِ سَوَاءٌ ظَهَرَ ذَلِكَ لِلنَّاسِ وَاسْتَهَلُّوا بِهِ أَوْ لَا. وَلَيْسَ كَذَلِكَ؛ بَلْ ظُهُورُهُ لِلنَّاسِ وَاسْتِهْلَالُهُمْ بِهِ لَا بُدَّ مِنْهُ؛ وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْم تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْم تُضَحُّونَ} أَيْ هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَعْلَمُونَ أَنَّهُ وَقْتُ الصَّوْمِ وَالْفِطْرِ وَالْأَضْحَى . فَإِذَا لَمْ تَعْلَمُوهُ لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ حُكْمٌ .

Hilal adalah sebuah nama untuk sesuatu yang di-istihlalkan, yaitu sesuatu yang diumumkan dan dikeraskan suara dengannya. Jika bulan baru telah terbit di langit tetapi belum diketahui dan belum diumumkan oleh masyarakat maka belum (boleh) disebut ‘Hilal’. Demikian pula kata ‘Asy-Syahr’ diambil dari kata ‘syuhrah’ (yang berarti terkenal, pen). Maka jika awal bulan belum terkenal di kalangan masyarakat maka berarti bulan baru Hijriyah belum masuk. Kebanyakan manusia telah salah dalam permasalahan ini karena persangkaan mereka bahwa jika anak bulan telah wujud di langit maka malam itu adalah awal bulan hijriyah, tidak dibedakan apakah sudah jelas dan diumumkan untuk masyarakat ataupun belum. Dan tidaklah demikian, bahkan tampaknya anak bulan dan diumumkannya di kalangan masyarakat adalah suatu keharusan. Oleh karena itu Rasulullah r bersabda: “Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa dan idul fitri kalian adalah hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha kalian adalah hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” Maksud sabda beliau adalah bahwa hari-hari tersebut adalah hari yang kalian semua mengetahuinya sebagai waktu puasa, berbuka dan berkurban. Maka jika kalian tidak mengetahuinya (meskipun sudah terbit di langit, pen), maka tidak berlaku hukum-hukum tersebut.” (Majmu’ul Fatawa: 25/203).

Ketiga: Dimaafkannya kesalahan mayoritas masyarakat  ketika mereka salah menentukan puasa, lebaran dan haji. Karena yang dinilai oleh Allah adalah kekompakan mereka dalam berlebaran meskipun keliru, bukan ijtihad perorangan atau sebagian kelompok meskipun benar.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata:

قد أجمعوا على أن الجماعة لو أخطأت الهلال في ذي الحجة فوقفت بعرفة في اليوم العاشر إن ذلك يجزئها فكذلك الفطر والأضحى والله أعلم

“Para ulama telah ber-ijma’ (bersepakat) bahwa Al-Jamaah (pemerintah dan masyarakatnya) jika salah dalam menetapkan hilal Dzulhijjah sehingga mereka mengadakan wuquf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka sesungguhnya perkara itu telah mencukupi mereka. Demikian pula kesalahan dalam penentuan Iedul Fitri dan Iedul Adha. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 14/356).

Demikian pula Al-Allamah Abu Bakar Al-Kasani Al-Hanafi berkata:

وَلَوْ اشْتَبَهَ عَلَى النَّاسِ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَوَقَفُوا بِعَرَفَةَ بَعْدَ أَنْ أَكْمَلُوا عِدَّةَ ذِي الْقَعْدَةِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ شَهِدَ الشُّهُودُ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ يَوْمَ كَذَا، وَتَبَيَّنَ أَنَّ ذَلِكَ الْيَوْمَ كَانَ يَوْمَ النَّحْرِ فَوُقُوفُهُمْ صَحِيحٌ،

“Dan seandainya masyarakat merasa samar terhadap hilal Dzulhijjah sehingga mereka melakukan wukuf di Arafah setelah menggenapkan bulan Dzulqa’dah 30 hari kemudian ternyata ada beberapa saksi yang bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal (Dzulqa’dah) pada hari demikian dan jelaslah bahwa ternyata hari wukufnya mereka adalah hari Iedul Adha, maka wukuf mereka adalah sah (menurut syariat, pen).” (Bada’iush Shana’i: 4/374).

Kemudian meskipun wukufnya pemerintah dan mayoritas manusia diterima secara syar’i, apakah wukufnya mereka itu jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah ataukah 10 Dzulhijjah menurut syariat?

Jawabannya adalah bahwa hari itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah menurut syariat meskipun hari itu merupakan tanggal 10 Dzulhijjah menurut persaksian atau menurut ilmu astronomi.

Al-Allamah Ibnul Hammam Al-Hanafi berkata:

ثَانِيَهَا: أَنَّ شَهَادَتَهُمْ مَقْبُولَةٌ لِمَا ذَكَرْنَا، لَكِنْ لَا يَسْتَلْزِمُ عَدَمَ صِحَّةِ الْوُقُوفِ لِعَدَمِ وُقُوعِهِ فِي وَقْتِهِ بَلْ قَدْ وَقَعَ فِي وَقْتِهِ شَرْعًا، وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي وَقَفَ فِيهِ النَّاسُ عَلَى اعْتِقَادِهِمْ أَنَّهُ التَّاسِعُ لِمَا رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ {صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَعَرَفَتُكُمْ يَوْمَ تَعْرِفُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ} أَيْ أَنَّ وَقْتَ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى الْيَوْمُ الَّذِي يَقِفُ فِيهِ النَّاسُ عَنْ اجْتِهَادٍ وَرَأَى أَنَّهُ يَوْمُ عَرَفَةَ .

“Arah kedua (dari istihsan) adalah bahwa persaksian mereka (orang-orang adil) tetap diterima dengan alasan yang telah kami sebutkan. Tetapi persaksian tersebut tidaklah menyebabkan tidak sahnya wukuf karena tidak dilakukan pada waktunya. Tetapi  itulah waktu yang syar’i yaitu waktu wukufnya masyarakat dan pemerintahnya secara kompak dengan keyakinan itulah tanggal 9 Dzulhijjah. Ini karena ada hadits dari Rasulullah r: “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, Fitri kalian adalah pada hari kalian berlebaran dan Adha kalian adalah pada hari kalian menyembelih kurban.” (HR. Abu Dawud: 1979, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 6519 (3/317) dan Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 7304 (4/156) dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 2013). Maksudnya adalah bahwa waktu wukuf di Arafah menurut Allah adalah pada hari masyarakat melakukan wukuf berdasar ijtihad dan keyakinan bahwa itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah.” (Fathul Qadir: 6/209).

Dan yang paling aneh adalah apa yang dilakukan oleh Al-Imam Salim bin Abdullah bin Umar –salah seorang dari 7 fuqaha tabi’in kota Madinah- dan ini termasuk ketergelinciran ulama. Umar bin Muhammad berkata:

شهد نفر أنهم رأوا هلال ذي الحجة فذهب بهم سالم إلى والي الحاج هو ابن هشام ، فأبى أن يجيز شهادتهم ، فوقف سالم بعرفة لوقت شهادتهم ، فلما كان اليوم الثاني وقف مع الناس.

“Sebagian orang bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal Dzulhijjah. Maka Salim membawa mereka ke Waliyyul Haji (semacam menteri urusan haji, pen) yaitu Ibnu Hisyam. Ibnu Hisyam menolak persaksian mereka. Maka Salim melakukan wukuf di Arafah di hari versi persaksian dan besoknya ia melakukan wukuf lagi bersama masyarakat.” (Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 33).

Penulis berkata: Apa yang dilakukan oleh Al-Imam Salim di atas tidak boleh kita ikuti karena beberapa alasan”

Pertama: Menyelisihi petunjuk Rasulullah r yang melarang seseorang menyendiri dalam berpuasa, berlebaran dan berhaji sebagaimana telah lalu keterangannya.

Kedua: Menyelisihi kesepakatan para Sahabat Nabi r sebelumnya, sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Ibnu Qudamah.

Ketiga: Banyak ulama tabi’in yang menyelisihi pendapat beliau sebagaimana telah lalu.

Keempat: Tidak adanya contoh dari Rasulullah r dan para Sahabat beliau yang melakukan wukuf 2 kali. Bahkan Al-Imam Atha’ –seorang ulama tabi’in- pernah ditanya oleh Al-Imam Ibnu Juraij:

رَجُلٌ حَجَّ أَوَّلَ مَا حَجَّ فَأَخْطَأَ النَّاسُ بِيَوْمِ النَّحْرِ أَيَجْزِئُ عَنْهُ قَالَ: نَعَمْ إِى لَعَمْرِى إِنَّهَا لَتَجْزِئُ عَنْهُ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ ». وَأُرَاهُ قَالَ:« وَعَرَفَةُ يَوْمَ تَعَرِّفُونَ »

“Seseorang naik haji pada awalnya. Kemudian masyarakat keliru menentukan (hari Arafah) dengan hari Idul Adha apakah hajinya (yang dilakukan bersama masyarakat itu) sah?” Maka beliau (Atha’) menjawab: “Ya, demi Allah. Hajinya sah.” Ibnu Juraij berkata: “Aku kira Atha’ berkata: “Rasulullah r bersabda: “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, Fitri kalian adalah pada hari kalian berlebaran dan Adha kalian adalah pada hari kalian menyembelih kurban.” Aku kira beliau menambahkan: “Dan hari Arafah adalah pada hari kalian melakukan wukuf.” (HR. Al-Baihaqi: 10113 (5/176)).

Dialog antara Al-Imam Abu Yusuf dengan Al-Imam Al-Qadli Syarik

Muhammad bin Ibrahim Maula Bani Hasyim berkata:

دخل شريك على هارون الرشيد في يوم الشك، والفقهاء عنده، فلم يزالوا جلوساً إِلَى أن زالت الشمس فرفع الخبر إِلَى هارون إن الهلال لم يره أحد وبين يديه تفاح فطرح إِلَى كل رجل منهم تفاحة فأكلوا، وطرح إِلَى شريك فلم يأكل، فَقَالَ أَبُو يوسف: يا أمير المؤمنين، إنه يخالفك وقد أبى أن يأكل، قال: يا أمير المؤمنين هو والله خالفك و أصحابه، إنما أنت إمام ونحن رعية، وإذا أفطرت أنت أفطرنا، وليس لنا أن نتقدمك، قال: صدق شريك ثم أكل هارون وأكل شريك.

“Syarik (Al-Qadli) memasuki tempat Raja Harun Ar-Rasyid pada hari Syakk (tanggal 30 Sya’ban). Para ulama ahli fiqih ada di sisi raja. Mereka terus-menerus duduk di tempat tersebut hingga tergelincirnya matahari. Kemudian dilaporkan kepada beliau bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil melihat hilal Ramadlan. Di hadapan beliau terdapat beberapa buah apel. Kemudian beliau melemparkan apel-apel itu kepada masing-masing orang yang hadir. Maka mereka memakannya. Beliau juga melemparkan apel kepada Qadli Syarik dan ia belum memakannya. Maka Abu Yusuf (Sahabat Abu Hanifah) berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya ia (Syarik) menyelisihimu dan ia enggan memakan apel tersebut.” Maka Qadli Syarik berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Justru ia (Abu Yusuf) –demi Allah- yang menyelisihimu dan para sahabatnya (ulama madzhab Hanafi, pen). Engkau adalah pemimpin (raja) dan kami adalah rakyat. Jika engkau berbuka maka kami pun ikut berbuka dan kami tidak akan mendahuluimu.” Raja berkata: “Benarlah ucapan Syarik.” Kemudian Raja Harun Ar-Rasyid memakan apel dan Syarik juga ikut memakan apel.” (Akhbarul Qudlah: 3/174).

Persaksian yang Ditolak oleh Penguasa

Jika ada seseorang mengaku melihat hilal sendirian kemudian persaksiannya ditolak oleh penguasa maka Syaikhul Islam membawakan 3 pendapat ulama:

Pendapat pertama: Ia berpuasa secara sembunyi-sembunyi dan berbuka secara sembunyi-sembunyi. Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i.

Pendapat kedua: Ia berpuasa secara sembunyi-sembunyi jika telah melihat hilal Ramadhan sendirian. Untuk hilal Syawal, ia harus berlebaran bersama pemerintah dan masyarakatnya. Ini pendapat yang terkenal dari Al-Imam Ahmad, Al-Imam Malik dan Al-Imam Abu Hanifah.

Pendapat ketiga: Ia berpuasa dan berlebaran bersama pemerintah dan masyarakatnya. Ini adalah pendapat para ulama tabi’in seperti Al-Imam Hasan Al-Bashri, Al-Imam Atha’  dan Al-Imam Ibnu Sirin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menguatkan pendapat ketiga karena pendapat tersebut bersesuaian dengan dalil-dalil yang telah dipaparkan oleh beliau sendiri di atas. (Al-Fatawa Al-Kubra: 2/458).

Dan ketiga pendapat di atas bersepakat dan bersatu pada larangan mengumumkan dan menyebarluaskan rukyat yang telah ditolak oleh pemerintah. (Ad-Durarus Sunniyyah: 6/335).

Yang mana di antara ketiga pendapat di atas yang paling kuat?

Dalil-dalil pendapat ketiga ini sangatlah kuat, yaitu:

Pertama: Hadits-hadits tentang perintah berpuasa dan berlebaran bersama pemerintah dan mayoritas masyarakat sebagaimana telah dibahas oleh Penulis di atas. Dan di dalam teks-teks hadits tersebut tidaklah dibedakan antara Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah.

Kedua: Contoh-contoh dari As-Salaf seperti Umar bin Al-Khaththab, Aisyah dan Anas bin Malik radliyallahu anhum.

Ketiga: Pengertian kata ‘hilal’ dan ‘syahr’ secara bahasa Arab.

Keempat: Tidak dijumpainya pendapat Sahabat Nabi yang menyelisihi Umar, Aisyah dan Anas bin Malik. Dan ini disebut ijma’ Sahabat secara implisit sebagaimana penjelasan Al-Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: 6/171 dan juga penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafatih: 6/429.

Bantahan bagi Pendapat Pertama

Alasan pendapat pertama yang memperbolehkan perukyat (yang ditolak oleh pemerintah, pen) tersebut berpuasa dan berlebaran sendirian secara sembunyi-sembunyi adalah karena ia berpuasa dan berbuka secara yaqin menurut rukyatnya meskipun tidak diakui oleh negara. (Al-Mughni: 6/171).

Bantahan pertama: Alasan ini telah dibantah oleh Al-Imam Ibnu Qudamah bahwa keyakinan yang disangkakan oleh orang tersebut belumlah tegak karena tidak dianggap meyakinkan oleh hakim dan bisa jadi merupakan khayalan saja. Beliau membawakan riwayat dalam Al-Mughni:

أَنَّ رَجُلًا فِي زَمَنِ عُمَرَ، قَالَ: لَقَدْ رَأَيْت الْهِلَالَ. فَقَالَ لَهُ: امْسَحْ عَيْنَك. فَمَسَحَهَا، ثُمَّ قَالَ لَهُ: تَرَاهُ ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: لَعَلَّ شَعْرَةً مِنْ حَاجِبِك تَقَوَّسَتْ عَلَى عَيْنِك، فَظَنَنْتهَا هِلَالًا أَوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ

“Bahwa seseorang di masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab berkata: “Aku telah melihat hilal.” Maka Umar berkata kepadanya: “Usaplah matamu!” Maka ia mengusap matanya. Kemudian Umar bertanya lagi: “Coba lihat lagi, apakah terlihat hilalnya?” Ia menjawab: “Tidak melihatnya.” Maka Umar berkata: “Barangkali rambut alismu membentuk busur di atas matamu sehingga kamu menyangkanya sebagai hilal.” (Al-Mughni: 6/171).

Sehingga ketika sebuah rukyat itu ditolak oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat dan tidak meyakinkan, maka pemerintah harus bersikap tegas di dalam menegur orang-orang yang berbuka dan berpuasa berdasar rukyat tersebut.

Di sini ada contoh kisah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memberikan surat teguran kepada Muhammad bin Suwaid sebagai bawahan beliau (gubernur Damaskus) yang berani menetapkan persaksian Hilal yang tidak memenuhi syarat sehingga ia berlebaran kurban sendirian mendahului mayoritas kaum muslimin. Amr bin Muhajir berkata:

عن عمر بن عبد العزيز أنه كان لا يجيز على رؤية الهلال إلا رجلين عدلين كان بلغه أن محمد بن سويد الفهري ضحى بدمشق قبل الناس بيوم فكتب إليه عمر ما حملك أن خالفت المسلمين فكتب إليه محمد بن سويد يذكر إنما فعلته من اجل حرام بن حكيم شهد عندي بذلك فكتب إليه عمر حرام بن حكيم اذو اليدين هو انكارا يعني أن تجاز شهادته وحده دون أن يكونا رجلين

“Dari Umar bin Abdul Aziz bahwa beliau tidak mau menerima rukyatul Hilal kecuali dengan persaksian 2 orang yang adil. Dan telah sampai kepada beliau bahwa Muhammad bin Suwaid Al-Fihri berlebaran kurban di Damaskus sebelum masyarakat berhari raya. Maka beliau berkirim surat kepadanya: “Apakah yang mendorongmu untuk menyelisihi kaum muslimin (dalam berlebaran, pen)?” Maka Muhammad bin Suwaid membalas surat beliau: “Aku berlebaran karena Haram bin Hakim bersaksi di depanku tentang rukyatul Hilal.” Maka beliau membalas suratnya: “Haram bin Hakim? Apakah ia mempunyai 2 tangan?” sebagai bentuk pengingkaran dari beliau untuk menetapkan lebaran hanya dengan seorang saksi.” (Atsar riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq: 12/307).

Bantahan kedua: Alasan pendapat pertama juga telah dibantah oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan ucapannya:

وأما على المأخذ الثاني وهو الاختلاف على الإمام ، وتشتيت الكلمة ، فيتوجه الأمر بصيام هذا اليوم مع الناس ، لأن فطره يؤدي إلى أن يفطر أكثر الناس يوم عرفة مع اعتيادهم لصيامه في سائر الأعوام . وهذا فيه تفريق للكلمة، وافتيات على الإمام .

“Adapun pengambilan kedua: yaitu menyelisihi Pemerintah dan memecah belah barisan kaum muslimin. Maka berpuasa pada hari ini (Arafah) bersama kaum muslimin lebih dikuatkan karena berbukanya orang ini (meskipun secara sembunyi-sembunyi) akan memicu orang lain untuk ikut berbuka  dengannya padahal banyak orang yang membiasakan puasa Arafah pada tahun-tahun lain. Ini adalah memecah belah kalimat persatuan dan memberontak pemerintah.” (Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah: 36).

Maka sebagai peringatan bagi kaum muslimin, jika pendapat yang memperbolehkan berpuasa dan berbuka dengan sembunyi-sembunyi saja telah dibantah oleh para ulama maka berpuasa dan berlebaran secara terang-terangan dalam keadaan menyelisihi pemerintah dan mayoritas masyarakat lebih terlarang lagi. Wallahu a’lam.

Menolak Persaksian karena Alasan Politis

Terkadang orang-orang yang menentukan lebaran sendiri beralasan bahwa Pemerintah sering menolak rukyat seorang adil karena perbedaan kriteria, perbedaan madzhab, alasan politis atau alasan permusuhan lainnya yang tidak sesuai dengan syariat. Dengan dalih ini mereka berani menetapkan hari raya dan puasa yang berbeda dengan penetapan pemerintah.

Alasan ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam penjelasannya:

مَا يَثْبُتُ مِنْ الْحُكْمِ لَا يَخْتَلِفُ الْحَالُ فِيهِ بَيْنَ الَّذِي يُؤْتَمُّ بِهِ فِي رُؤْيَةِ الْهِلَالِ مُجْتَهِدًا مُصِيبًا كَانَ أَوْ مُخْطِئًا أَوْ مُفَرِّطًا فَإِنَّهُ إذَا لَمْ يَظْهَرْ الْهِلَالُ وَيَشْتَهِرُ بِحَيْثُ يَتَحَرَّى النَّاسُ فِيهِ . وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فِي الْأَئِمَّةِ: {يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ}. فَخَطَؤُهُ وَتَفْرِيطُهُ عَلَيْهِ لَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ لَمْ يُفَرِّطُوا وَلَمْ يُخْطِئُوا .

“Hukum (puasa, lebaran dan haji) yang ditetapkan oleh Pemerintah yang menjadi pemimpin dalam rukyatul hilal tidak akan berbeda keadaannya, apakah pemerintah itu berstatus mujtahid (ahli ijtihad) yang benar, ataukah mujtahid yang keliru ataukah mujtahid yang melampaui batas. Padahal masyarakat sudah bersusah payah merukyat hilal dan ternyata tidak diakui dan tidak diumumkan oleh pemerintah. Dan telah shahih sabda Nabi r tentang para penguasa: ”Mereka melakukan shalat untuk kalian. Jika (hasil ijtihad) mereka tepat maka pahalanya untuk kalian dan mereka. Dan jika mereka keliru maka pahalanya untuk kalian dan dosanya atas mereka.” (HR. Al-Bukhari: 653, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 5113 (3/126)).

Maka dosa dari kesalahan dan perbuatan pemerintah yang melampaui batas akan ditimpakan kepada pemerintah itu sendiri bukan kepada kaum muslimin yang tidak berbuat salah dan tidak melampau batas.” (Majmu’ul Fatawa: 25/206).

Dan sebelum berprasangka buruk kepada pemerintah dengan tuduhan politis, permusuhan dan perbedaan madzhab, kaum muslimin hendaknya mempunyai pikiran positif terhadap mereka. Al-Imam Ahmad memberikan contoh kepada kita dengan pernyataan beliau:

السلطان أحوط في هذا، وأنظر للمسلمين، وأشد تفقدا، ويد الله على الجماعة .

“Sultan (pemerintah) itu lebih berhati-hati dalam permasalahan ini (penetapan lebaran), lebih melihat kepada kemaslahatan kaum muslimin, lebih merasa kehilangan. Dan tangan Allah bersama Al-Jamaah (yaitu kaum muslimin dan penguasanya, pen).” (Syarh Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khurqi: 1/414).

Tiap Negara Bisa Berbeda

Sunnah Rasulullah r menjelaskan bahwa rukyatul hilal dan persaksiannya di suatu daerah atau negara bisa berlaku di daerah lain, jika ditetapkan dan diakui oleh pemerintah setempat. Semisal rukyat Malaysia, Saudi, India dan sebagainya bisa berlaku di Indonesia jika pemerintah Indonesia mengakui dan menetapkannya.

Dari Umair bin Anas bahwa para pamannya dari kalangan Sahabat Anshar y berkata:

أُغْمِيَ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا وَأَنْ يَخْرُجُوا إِلَى عِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

“Kami (para Sahabat Nabi r) terhalang (sehingga tidak bisa merukyat) Hilal Syawwal. Maka keesokan paginya kami masih berpuasa. Kemudian datanglah rombongan kafilah pada waktu sore hari dan mereka bersaksi di hadapan Nabi r bahwa mereka telah melihat hilal kemarin malam. Maka Rasulullah r memerintahkan mereka untuk berbuka dan keluar menuju shalat Ied pada keesokan harinya.” (HR. Abu Dawud: 977, Ibnu Majah: 1643, Ahmad: 19675, Ad-Darquthni: 14 (2/170). Hadits ini di-shahih-kan oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Sakan, Al-Khaththabi dan Ibnu Hajar sebagaimana penukilan Aunul Ma’bud: 4/14 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 1340).

Hadits di atas memiliki beberapa faedah:

Pertama: Penatapan Iedul Fitri di sebuah daerah atau negara dapat merujuk rukyat daerah atau negara lain karena kata “Kafilah” digunakan untuk orang-orang yang bermusafir. Bisa jadi mereka melihat hilal ketika masih berada di luar kota Madinah seperti: Syam, Yaman, Iraq dan sebagainya kemudian rukyat mereka dijadikan acuan oleh Rasulullah r untuk menetapkan Iedul Fitri di Madinah.

Kedua: Jika tanggal 1 Syawwal ditetapkan oleh pemerintah setelah dzuhur karena suatu sebab seperti keterlambatan berita dll, maka hari itu adalah tanggal 1 Syawwal dan shalat Ied dilaksanakan pada keesokan harinya (tanggal 2 Syawwal).

Ketiga: Orang-orang yang bersaksi merukyat hilal Syawwal tidak diperkenankan berlebaran duluan sebelum ditetapkan oleh pemerintah. Para kafilah tersebut meskipun telah melihat hilal duluan, mereka belum berbuka dan melakukan shalat Ied sampai persaksian mereka ditetapkan oleh Rasulullah r. Demikian pula untuk Ramadlan dan Dzulhijjah, maka seseorang yang telah melihat hilal dilarang berpuasa mendahului masyarakat sebelum persaksian mereka ditetapkan oleh penguasa.

Hadits di atas menjadi dalil bagi Al-Imam Al-Laits dan sebagian Sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i bahwa jika seseorang di suatu negeri telah melihat hilal maka rukyatnya harus digunakan oleh negeri-negeri lain. Demikian penjelasan Al-Imam Ibnu Qudamah. (Al-Mughni: 6/35)

Sedangkan menurut  Ikrimah, Qasim bin Muhammad dan  Salim bin Abdillah dari kalangan ulama Tabi’in bahwa tiap-tiap negeri mempunyai rukyat sendiri-sendiri (tidak mengacu rukyat negeri lain, pen). (Al-Mughni: 6/35, Al-Istidzkar: 3/282).  Mereka berdalil pada hadits Kuraib:

أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Ummul Fadhl bintul Harits mengutusnya kepada Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata: “Maka aku tiba di Syam dan menunaikan hajatnya (Ummul Fadhl) dan Hilal Ramadhan diumumkan sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat kemudian aku tiba di Madinah di akhir bulan (Ramadhan). Kemudian Ibnu Abbas bertanya kepadaku perihal hilal dan berkata: “Kapan kalian melihat hilal?” Maka aku jawab: “Kami melihatnya pada malam Jumat.” Beliau bertanya: “Kamu melihatnya?” Maka aku jawab: “Iya, dan orang-orang juga melihatnya dan berpuasa dan Mu’awiyah juga ikut berpuasa.” Maka beliau berkata: “Tetapi kami (penduduk Madinah, pen) melihatnya pada malam Sabtu maka kami berpuasa sampai menggenapkan 30 hari.” Maka aku (Kuraib) bertanya: “Tidak cukupkah kalian dengan rukyat Mu’awiyah dan puasanya?” Beliau menjawab: “Tidak cukup, demikianlah Rasulullah r memerintahkan kami.” (HR. Muslim: 1819, An-Nasa’i: 2084 dan At-Tirmidzi: 629).

Maka untuk mengompromikan antara hadits Umair bin Anas yang menjelaskan rukyat global dan hadits Kuraib yang menjelaskan rukyat masing-masing negara, kita perlu merujuk kepada penjelasan Al-Imam Ibnu Majisyun yang mengembalikan perkara penetapan puasa dan lebaran kepada keputusan pemerintah setempat.

Al-Imam Ibnu Majisyun berkata:

ان الرؤية لا تلزم غير أهل البلد الذي وقعت فيه إلا أن يكون الإمام يحمل الناس على ذلك

“Sesungguhnya rukyat di suatu negara tidak wajib digunakan sebagai acuan untuk negara lain kecuali jika pemerintah setempat menganjurkan rakyatnya untuk melaksanakannya.” (Al-Istidzkar: 3/282).

Sehingga masing-masing masyarakat suatu negara harus mengikuti penetapan pemerintahnya baik pemerintahnya itu menggunakan rukyat global ataupun lokal. Maka kaum muslimin Indonesia harus berpuasa dan berlebaran sesuai dengan keputusan pemerintah Indonesia dan tidak perlu memperhatikan apakah penetapan pemerintah Indonesia itu sama ataukah berbeda dengan penetapan pemerintah Malaysia, Saudi dan sebagainya.

Dan perbedaan kriteria rukyat yang digunakan oleh masing-masing negara ini sudah berlangsung lama. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ Saudi Arabia –yang ditandatangani oleh Syaikh Bin Baaz (ketua), Syaikh Abdurrazzaq Afifi (wk ketua), Syaikh Abdullah Ghudayyan (anggota) dan Syaikh Abdullah Qu’ud (anggota)-  berkata:

وقد اختلف أهل العلم في هذه المسألة على قولين: فمنهم من رأى اعتبار اختلاف المطالع، ومنهم من لم ير اعتباره، واستدل كل فريق منهما بأدلة من الكتاب والسنة، وربما استدل الفريقان بالنص الواحد، كاشتراكهما في الاستدلال بقوله تعالى: { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ } وبقوله صلى الله عليه وسلم: « صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته » الحديث. وذلك لاختلاف الفهم في النص وسلوك كل منهما طريقا في الاستدلال به. ونظرا لاعتبارات رأتها الهيئة وقدرتها ونظرا إلى أن الاختلاف في هذه المسألة ليست له آثار تخشى عواقبها فقد مضى على ظهور هذا الدين أربعة عشر قرنا، لا نعلم فيها فترة جرى فيها توحيد الأمة الإسلامية على رؤية واحدة، فإن أعضاء مجلس كبار العلماء يرون بقاء الأمر على ما كان عليه، وعدم إثارة هذا الموضوع، وأن يكون لكل دولة إسلامية حق اختيار ما تراه بواسطة علمائها من الرأيين المشار إليهما في المسألة، إذ لكل منهما أدلته ومستنداته

“Dan para ulama telah berselisih dalam permasalahan ini atas 2 pendapat; Di antara mereka ada yang menganggap perbedaan matla’ (rukyat suatu negara tidak berlaku untuk negara lain, pen), dan di antara mereka ada yang tidak menganggapnya (yaitu rukyat dapat berlaku global, pen). Masing-masing kelompok ulama berdalil dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan bahkan bisa jadi masing-masing berdalil dengan teks-teks yang sama seperti sama-sama berdalil dengan firman Allah U: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji;” (QS. Al-Baqarah: 189). Mereka juga sama-sama berdalil dengan hadits Nabi r: “Berpuasalah karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihatnya.” (HR. Al-Bukhari: 1810, Muslim: 1081 dll). Ini terjadi karena perbedaan pemahaman mereka terhadap teks-teks (Al-Quran dan Al-Hadits) dan masing-masing mereka telah menempuh jalan untuk memahaminya. Dan atas pandangan dan kemampuan Majelis Kibar Ulama dan melihat efeknya bahwa perbedaan ini tidak perlu dikhawatirkan lagi akibatnya dan sudah berlangsung selama 14 abad yang lalu sejak munculnya agama Islam ini. Dan tidak dijumpai suatu masa pun (dari generasi Sahabat Nabi r sampai dengan masa sekarang, pen) yang mana kaum muslimin bersatu pada satu rukyat. Maka Anggota Majelis Kibar Ulama Saudi Arabia berpendapat dibiarkannya keadaan ini seperti apa adanya dan tidak memperuncing pembahasan ini. Dan masing-masing negara memiliki hak untuk menetapkan dan memilih pendapat yang sesuai dengan penjelasan ulama dan para pakarnya dalam masalah ini (rukyat, pen). Karena masing-masing mempunyai sandaran sendiri-sendiri.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’ah Al-Ula nomer: 1657 (10/109-112)).

Sehingga masing-masing rakyat harus mengikuti keputusan pemerintah negaranya.

Para Pelancong antar Negara

Al-Allamah Al-Faqih Ibnu Utsaimin berkata:

إذا سافر الرجل من بلد إلى بلد اختلف مطلع الهلال فيهما، فالقاعدة أن يكون صيامه وإفطاره حسب البلد الذي هو فيه حين ثبوت الشهر، لكن إن نقصت أيام صيامه عن تسعة وعشرين يوماً، وجب عليه إكمال تسعة وعشرين يوماً لأن الشهر الهلالي لا يمكن أن ينقص عن تسعة وعشرين يوماً، وهذه القاعدة مأخوذة من قول النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا» وقوله: «إنما الشهر تسع وعشرون، فلا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه». ومن حديث كريب…الخ

“Jika seseorang bepergian dari suatu negara ke negara lain yang tempat terbit hilalnya saling berlainan, maka kaidahnya adalah bahwa puasa dan berbukanya adalah menurut negara yang sedang ia tempati ketika tetapnya bulan Ramadhan. Tetapi jika puasanya kurang dari 29 hari, maka ia wajib  menyempurnakan 29 hari. Karena bulan qamariyyah tidak mungkin kurang dari 29 hari. Kaidah ini diambil dari hadits Nabi r: “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya maka berbukalah!” dan sabda beliau: “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari. Maka janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya!” dan juga dari hadits Kuraib (telah dijelaskan di atas)…dst.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin: 19/46).

Kemudian beliau membuat beberapa contoh:

Pertama: jika ia bepergian dari negara yang mulai berpuasa pada hari Ahad (semisal Indonesia) menuju negara yang memulai puasa pada hari Sabtu (semisal Saudi) dan negara tersebut berlebaran hari Ahad setelah berpuasa 29 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu dan meng-qadha’ 1 hari (setelah lebaran).

Kedua: jika ia bepergian dari negara yang memulai puasa pada hari Ahad (semisal Saudi) menuju negara yang memulai puasa pada hari Senin (semisal Indonesia) dan negara tersebut berlebaran hari Rabu setelah berpuasa 30 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu meskipun ia telah berpuasa 31 hari.

Ketiga: jika ia bepergian dari negara yang memulai puasa pada hari Ahad (semisal Saudi) menuju negara yang memulai puasa pada hari Senin (semisal Indonesia) dan negara tersebut berlebaran pada hari Selasa setelah berpuasa 29 hari, maka ia harus berlebaran bersama negara itu. Maka puasa negara tersebut adalah 29 hari sedangkan puasanya secara pribadi adalah 30 hari.

Demikian kurang lebihnya fatwa beliau. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni Utsaimin: 19/46-47).

Penutup

Tulisan ini disusun dengan harapan dan doa agar Allah menjadikan  negeri kita Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya dapat bersatu berpuasa dan berlebaran bersama pemerintahnya. Amien. Wallahu a’lam.

  1. M. Abdullah Habib
    November 12, 2011 pukul 6:33 pm

    Saya senang dengan artikel ini. Semoga bermanfaat untuk semua

  2. Juli 19, 2012 pukul 9:04 pm

    saya suaka artikel artikel yang anda buat DOK trimakasih karna dengan membaca artikel yang anda buat saya lebih mengerti (DIDIK)

  3. nanang
    Agustus 5, 2013 pukul 10:50 am

    terima kasih atas pencerahannya…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: