Beranda > Fiqih > Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah?

Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah?


Gigi Emas untuk Laki-laki, Bolehkah?

Oleh: dr. M Faiq Sulaifi

Hukum asal menggunakan perhiasan emas bagi kaum laki-laki adalah haram atau dilarang. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –radliyallahu anhu- berkata:

إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي

“Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- pernah mengambil sutra kemudian beliau meletakkannya pada tangan kanan beliau. Beliau juga mengambil emas kemudian beliau meletakkannya pada tangan kiri beliau. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua benda ini (emas dan sutra) diharamkan untuk laki-laki dari umatku.” (HR. An-Nasa’i: 5053, Abu Dawud: 3535, Ibnu Majah: 3585 dan Ahmad: 891. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil peng-hasan-an hadits ini dari Ibnu Madini dalam Talkhishul Habir: 1/212 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 2274).

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi Asy-Syafi’i berkata:

وفيه حجة لقول الجمهور إن الذهب والحرير محرمان على الرجال دون النساء

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bagi mayoritas ulama bahwa emas dan sutra itu diharamkan atas kaum laki-laki bukan perempuan.” (Faidlul Qadir: 3/502).

Antara Darurat dan Hajat (Kebutuhan)

Tingkat kebutuhan (urgenisitas) manusia terhadap suatu perkara itu bertingkat-tingkat. Al-Allamah As-Suyuthi –rahimahullah- berkata –mengutip ucapan Al-Ala’i-:

إن المصالح المعتبرة إما في محل الضرورات أو في محل الحاجات أو في محل التتمات وإما مستغنى عنها

“Sesungguhnya kemaslahatan yang dianggap itu bisa jadi menempati kedudukan darurat, bisa jadi hanya merupakan hajat (kebutuhan), bisa jadi merupakan pelengkap atau bisa jadi merupakan sesuatu yang tidak dibutuhkan.” (Al-Asybah wan Nazhair lis Suyuthi: 386).

Jadi urutan urgenisitas tersebut adalah: darurat (terpaksa), kemudian hajat (kebutuhan), kemudian pelengkap dan kemudian sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Kemudian perlu diketahui bahwa semua perkara haram dapat menjadi halal karena adanya keadaan darurat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian, kecuali apa yang terpaksa kalian memakannya.” (QS. Al-An’am: 119).

Al-Allamah Asy-Syinqithi –rahimahullah- menjelaskan batasan darurat (terpaksa):

الضرورة عند العلماء بالمصطلح الخاص: هي خوف فوات النفس، فإذا خاف الإنسان أنه إذا لم يفعل هذا الشيء فإنه سيموت، فهو مضطر، مثل من جاع ولم يجد طعاماً إلا ميتاً، فإنه إذا بقي على حكم الشرع بالتحريم فإنه سيموت، وحينئذٍ يرخص له بأكل الميتة اضطراراً لا اختياراً؛ لأنه لو لم يأكلها لهلكت نفسه.

“Batasan darurat (keadaan terpaksa) menurut ulama dengan istilah khusus adalah takut kehilangan nyawa. Jika seorang manusia merasa takut –jika ia tidak melakukan sesuatu, maka ia akan mati- maka ia dalam keadaan terpaksa. Seperti seseorang yang lapar dan tidak menemukan makanan kecuali bangkai. Maka jika ia terus-menerus di atas hukum pengharaman bangkai, maka ia akan binasa. Maka ketika itu ia diberi keringanan untuk memakan bangkai karena terpaksa bukan karena sukarela. Karena jika ia tidak makan maka nyawanya akan binasa.” (Syarh Zadil Mustaqni’: 352/20).

Adapun perkara berobat, maka sudah tidak termasuk dalam perkara darurat tetapi hanya perkara hajat. Sehingga seseorang diharamkan berobat dengan bangkai dan khamer.

Wa’il Al-Hadlrami –radliyallahu anhu- berkata:

أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهَا فَقَالَ إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

“Bahwa Thariq bin Suwaid Al-Ju’fi –radliyallahu anhu- bertanya kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- tentang khamer. Maka beliau melarangnya dan membeci pembuatannya. Thariq bertanya: “Aku membuatnya hanya untuk pengobatan.” Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- menjawab: “Sesungguhnya ia (khamer) bukanlah obat, tetapi penyakit.” (HR. Muslim: 3670, Ahmad: 18107).

Perbedaan antara Khamer dan Sutra

Dari sisi syariat, pengharaman khamer lebih berat daripada pengharaman sutra dan emas bagi kaum laki-laki. Khamer hanya dihalalkan oleh keadaan darurat (terpaksa) sedangkan sutra dapat dihalalkan bagi kaum laki-laki dalam keadaan hajat seperti pengobatan. Ini karena khamer diharamkan secara dzatnya sedangkan sutra diharamkan dengan pengharaman wasilah.

Al-Allamah Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata:

إذ القاعدة المعروفة عند أهل العلم أن ما حرم تحريم الوسائل أباحته الحاجة وما حرم تحريماً ذاتياً تحريم المقاصد فإنه لا يبيحه إلا الضرورة

“Karena terdapat kaedah yang sudah dikenal di kalangan para ulama bahwa segala perkara yang diharamkan dengan pengharaman wasilah, maka ia dapat dihalalkan oleh keadaan hajat.” Sedangkan sesuatu yang diharamkan secara dzatnya sebagi tujuan, maka ia tidak dapat dihalalkan kecuali oleh perkara darurat.” (Fatawa Nur alad Darb: 194/14).

Contoh pengharaman wasilah adalah pengharaman sutra dan emas bagi laki-laki. Contoh pengharaman secara dzatnya adalah pengharaman khamer, bangkai dan darah. Khamer, bangkai dan darah diharamkan karena mereka termasuk perkara khaba’its dan rijs (kotor). Adapun emas dan sutra, maka secara asal keduanya bukan perkara khaba’its dan rijs. Keduanya diharamkan karena dapat menjadi wasilah kepada gaya hidup mewah dan tasyabbuh dengan kaum wanita yang keduanya dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memberikan keringanan memakai sutra dan emas bagi laki-laki dalam keadaan hajat (membutuhkan). Anas bin Malik –radliyallahu anhu- berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصٍ مِنْ حَرِيرٍ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَ

“Bahwa Nabi –shallallahu alaihi wasallam- memberikan rukhsah (keringanan) kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-Awwam untuk memakai gamis dari sutra karena penyakit gatal (semacam kudis) yang menimpa mereka.” (HR. Al-Bukhari: 2703, Muslim: 3869, Abu Dawud: 3534 dan An-Nasa’i: 5215).

Dan sudah diketahui bahwa penyakit gatal atau kudis tidak termasuk keadaan darurat -karena tidak ditakutkan dapat menyebabkan hilangnya nyawa-, tetapi hanya perkara hajat saja. Wallahu a’lam.

Al-Allamah Hamd bin Abdullah Al-Hamd berkata:

ولبس الحرير للحكة من الحاجات وليس الضروريات

“Dan memakai sutra karena penyakit gatal adalah termasuk urusan hajat bukan darurat.” (Syarh Zadul Mustaqni’ lil Hamd: 4/75).

Memakai Gigi Emas adalah Hajat

Demikian pula memasang gigi emas pada laki-laki, ia tidak termasuk darurat tetapi hanya hajat saja yaitu sebagai terapi dan pengobatan. Oleh karena itu Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memperbolehkannya. Arfajah bin As’ad –radliyallahu anhu- berkata:

أُصِيبَ أَنْفِي يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاتَّخَذْتُ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيَّ فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ

“Hidungku terluka (patah tulang) ketika perang Kulab pada masa jahiliyah. Maka aku memasang hidung buatan (prostese) dari perak kemudian hidungku membusuk. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memerintahkanku untuk memasang hidung dari emas.” (HR. At-Tirmidzi: 1692 dan di-hasan-kan olehnya, An-Nasa’i: 5070, Abu Dawud: 3696 dan Ahmad: 18235. Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud: 4232).

Abdullah bin Abdullah bin Ubay –radliyallahu anhu- berkata:

اندقت ثنيتي  يوم أحد، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم  فأمرني أن أتخذ ثنية من ذهب

Gigi seriku pecah ketika perang Uhud. Kemudian aku mendatangi Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-. Maka beliau memerintahkanku untuk memasang gigi seri dari emas.” (HR. Ibnu Qani’ dalam Mu’jamush Shahabah: 881 (3/461), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatis Shahabah: 3765 (12/106). Al-Haitsami berkata: “HR. Al-Bazzar dan perawinya adalah perawi Ash-Shahih selain Bisyr bin Mu’adz, ia adalah tsiqat tetapi Urwah bin Az-Zubair belum pernah bertemu Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Lihat Majma’uz Zawaid: 8713 (5/267)).

Penulis berkata: Yang demikian karena Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul (seorang sahabat kibar putra tokoh munafikin)  –radliyallahu anhu- mati syahid pada perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq –radliyallahu anhu- sedangkan Urwah bin Az-Zubair lahir pada masa Khalifah Utsman bin Affan –radliyallahu anhu-. (Lihat Siyar A’lamin Nubala’: 1/322).

Dan apa yang dinyatakan oleh Al-Haitsami bahwa sanad hadits ini terputus –karena Urwah bin Az-Zubair tidak bertemu dengan Abdullah bin Abdullah bin Ubay- adalah sebuah ketergelinciran seorang ulama –semoga Allah merahmati beliau. Ini karena dalam sanad Abu Nu’aim, Urwah bin Az-Zubair meriwayatkannya dari Aisyah Ummul Mukminin dari Abdullah bin Abdullah bin Ubay –radliyallahu anhuma-.

Oleh karena itu Al-Imam Adz-Dzahabi –rahimahullah- menegaskan:

والاشبه في ذلك ما روي عن عائشة، عن عبد الله بن عبد الله بن أبي أنه قال: ندرت ثنيتي فأمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتخذ ثنية من ذهب

“Yang lebih mendekati kebenaran dalam periwayatan ini adalah kisah yang diriwayatkan (oleh Urwah bin Az-Zubair, pen) dari Aisyah dari Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Beliau berkata: “Gigi seriku copot maka Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memerintahkanku untuk memasang gigi seri dari emas.” (Siyar A’lamin Nubala: 1/322). Sehingga hadits ini benar adanya walhamdulillah.

Thu’mah bin Amr Al-Ja’fari –rahimahullah- berkata:

رَأَيْتُ مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ قَدْ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِالذَّهَبِ.

“Aku melihat Al-Imam Musa bin Thalhah bin Ubaidillah (ulama tabi’in) –rahimahullah- mengencangkan gigi-gigi beliau dengan emas.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25769 (8/310) dari Waki’ bin Al-Jarrah dari Thu’mah Al-Ja’fari. Mereka semua orang-orang tsiqat)

Tsabit bin Qais Maula Al-Ghifari –rahimahullah- berkata:

رَأَيْتُ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ مَرْبُوطَةً أَسْنَانُهُ بِخُرْصَانِ الذَهَب.

“Aku melihat Al-Imam Nafi’ bin Jubair (ulama tabi’in) gigi-gigi beliau diikat dengan ring (kawat) dari emas.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25770 (8/310) dari Ma’an bin Isa dari Tsabit bin Qais. Mereka semua orang-orang tsiqat)

Hammad bin Abi Sulaiman Al-Kufi –rahimahullah- berkata:

رَأَيْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَدْ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِالذَّهَبِ فَذُكِرَ مِثْلَ ذَلِكَ لِإِبْرَاهِيمَ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ

“Aku melihat Al-Mughirah bin Abdillah (seorang tabi’in) mengikat gigi-giginya dengan emas. Maka perkara ini diceritakan kepada Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i (seorang ulama tabi’in), maka beliau berkata: “Tidak apa-apa.” (Atsar riwayat Ahmad: 19395 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25772 (8/311). Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih.” Lihat Majma’uz Zawaid: 8716 (5/267) dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Tahqiq Al-Musnad: 5/23).

Humaid bin Hilal –rahimahullah- berkata:

أَنَّ الْحَسَنَ شَدَّ أَسْنَانَهُ بِذَهَبٍ

“Bahwa Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri (ulama tabiin) mengikat gigi-gigi beliau dengan emas.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 25771 (8/311), para perawinya orang-orang tsiqat).

Akhirnya Al-Imam At-Tirmidzi –rahimahullah- menyimpulkan:

وَقَدْ رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ شَدُّوا أَسْنَانَهُمْ بِالذَّهَبِ وَفِي الْحَدِيثِ حُجَّةٌ لَهُمْ

“Dan banyak ulama yang meriwayatkan bahwa mereka mengikat gigi-gigi mereka dengan emas. Dan di dalam hadits ini terdapat hujjah bagi mereka.” (Sunan At-Tirmidzi: 6/404).

Dan pendapat inilah yang mendekati kebenaran dan menjadi pendapat mayoritas ulama As-Salaf. Dan pendapat ini pula yang dipilih oleh para ulama Asy-Syafi’iyyah yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia.

Al-Allamah Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata:

(لَا أَنْفٌ وَأُنْمُلَةٌ) بِتَثْلِيثِ الْهَمْزَةِ وَالْمِيمِ (وَسِنٌّ) أَيْ لَا يَحْرُمُ اتِّخَاذُهَا مِنْ ذَهَبٍ عَلَى مَقْطُوعِهَا وَإِنْ أَمْكَنَ اتِّخَاذُهَا مِنْ الْفِضَّةِ الْجَائِزَةِ لِذَلِكَ بِالْأَوْلَى لِأَنَّهُ يَصْدَأُ غَالِبًا وَلَا يَفْسُدُ الْمَنْبَتُ وَلِأَنَّ {عَرْفَجَةَ بْنَ أَسْعَدَ قُطِعَ أَنْفُهُ يَوْمَ الْكُلَابِ…الخ

“Tidak (diharamkan bagi laki-laki) hidung, ruas-ruas jari (dengan tatslits huruf hamzah dan mim) dan juga gigi. Maksudnya adalah bahwa tidak haram menjadikan mereka (hidung, ruas jari dan gigi, pen) dari emas jika mereka terpotong. Walaupun masih dimungkinkan untuk menjadikan mereka dari perak yang lebih pantas untuk dibolehkan. Oleh karena emas dapat membersihkan karat dan tidak merusak tempat tumbuhnya organ dan juga karena Arfajah bin As’ad –radliyallahu anhu- terputus hidungnya ketika perang Kulab (kemudian Al-Bujairami membawakan hadits tentang kisah Arfajah)…dst.”  (Hasyiyah Al-Bujairami alal Minhaj: 5/207).

Dan yang senada dengan Al-Bujairami adalah Al-Allamah Syihabuddin Al-Qalyubi Asy-Syafi’i –rahimahullah-. Beliau membawakan keterangan yang sama dalam Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah: 5/123.

Demikianlah tulisan ini semoga memberikan tambahan ilmu dan pencerahan. Amien. Wallahu a’lam.

  1. sunnysalafy
    Februari 12, 2012 pukul 9:30 pm

    baarokalloohufiikum…

  2. arip gresik
    Juli 27, 2012 pukul 10:31 pm

    aslmwrwb
    ustadz, sekarang telah muncul yang namanya rokok herbal. terbuat dari madu jintan hitam dll. bagaimanakah hukumnya dan bagaimanakah kita menyikapinya?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: